Perjalanan Berjilbab

Loji, Bogor

Sepuluh tahun lalu, saya memutuskan untuk menggunakan jilbab. Tulisan kali ini, berisi kilas balik sebelum dan setelah berjilbab.

Disclaimer : Tulisan ini tidak membahas dari sisi perjalanan religi. Jadi, sebelum membaca sampai selesai lalu kecewa tidak ada bahasan religinya, saya tuliskan catatan dulu di awal.

  • LATAR BELAKANG KELUARGA

Orangtua saya biasa saja pengetahuan agamanya. Menjalankan kehidupan beragama juga sewajarnya, tidak yang ketat sekali juga tidak yang longgar. Sesuai porsinya lah kalau saya menyebut. Ibuk saya baru bisa mengaji beberapa tahun sebelum naik haji. Kalau Bapak bisa mengaji sejak kecil karena memang di desa Beliau, mengaji di langgar itu wajib setelah sholat Maghrib.

Setelah Bapak dan Ibuk naik haji sekitar 9 tahun lalu, mereka juga tetap biasa – biasa saja. Tidak lantas menjadi orang yang merasa lebih dari tetangga-tetangga. Tidak juga lantas menjadi paling mulia atau paling alim. Tidak minta ditinggikan kedudukannya juga. Para tetangga juga biasa saja, tidak lantas yang memanggil Bu Hajjah atau Pak Haji ke Bapak dan Ibuk. Kepada anak-anaknya, mereka tidak lantas yang memaksa untuk berjilbab misalkan (Adik saya belum berjilbab waktu itu). Santai saja mereka. Tetap ikut tahlilan, sholawatan. Jaman dulu tidak ada yang sibuk bid’ah-bid’ah, setidaknya di kota saya tumbuh besar. Kehidupan beragama menjadi urusan masing-masing.

Yang berbeda adalah intensitas beribadah. Ibu dan Bapak menjalankan ibadah semakin khusyuk. Tetap menjalankan yang wajib dan menambah dengan amalan yang sunnah. Adakalanya Ibuk kasak kusuk sih memberi tahu saya kok kayaknya si A ga sholat ya, atau si B ga puasa Ramadhan ya. Lalu saya ingatkan, “wes Buk, ayok kembali ke rel semula. Ga usah ngurusi agama orang lain. Kita fokus saja dengan urusan masing-masing. Beragama dan melaksanakan ibadah itu sudah masuk ke area pribadi. Ga perlu ikut campur.”

  • MASA SD

Meskipun orangtua santai dalam urusan beragama, namun mereka menginginkan anak-anaknya punya bekal yang cukup dalam agama. Saya dan adik-adik dimasukkan madrasah dan diikutkan mengaji setelah Maghrib. Saya Madrasah Ibtidaiyah sampai lulus. Jadi kalau pagi sekolah SD Negri, sorenya di Madrasah Ibtidaiyah. Jadi saya punya dua ijazah. Setelah sholat Maghrib, saya pergi ke rumah  tetangga untuk belajar mengaji dengan anak-anak tetangga lainnya. Tidak lama, hanya setengah jam seingat saya. Sebelum Isya, saya sudah di rumah lagi, lanjut belajar atau kalau tidak ada PR ya main-main di halaman dengan anak-anak tetangga. Yang saya ingat, sewaktu madrasah sangat menyenangkan. Saya bisa belajar tentang sejarah Islam, Fiqih, membaca huruf gundul, ikut lomba Qiro’ah, bahkan menang lomba kaligrafi tingkat kecamatan. Senang saya ikut lomba-lomba sewaktu di Madrasah. Sementara di SD Negri, saya juga sering dikirim lomba misalkan cerdas cermat, murid teladan, sampai lomba bidang studi. Kayaknya masa SD saya isinya dari lomba satu ke lomba yang lain.

Saat sekolah Madrasah, murid – murid lainnya menggunakan jilbab. Saya tidak mau. Saya menggunakan kerudung yang hanya mau saya pakai saat di kelas saja. Di luar kelas, saya buka kerudung, gerah. Kota pesisir sis, panas. Guru-guru tidak ada yang mempermasalahkan. Tidak ada paksaan. Saat mengaji malam pun saya tidak pernah mau berjilbab. Cuma pakai mukena. Untuk informasi, saya tinggal di kota kecil yang terdapat dua organisasi Islam yang kuat, yaitu NU dan Muhammadiyah. Tapi seingat saya NU lebih kuat di sana. Saya sekolah Madrasah di Muhammadiyah, tapi guru ngaji di rumah orang NU. Jadilah dalam tubuh saya ini berjiwa campuran haha. Keluarga saya juga tidak fanatik ke kubu tertentu. Biasa saja. Dulu kalau ada yang bertanya, saya NU atau Muhammadiyah? Saya menjawab : saya Islam.

  • MASA SMP

Sewaktu di SMP, saya mulai tertarik menggunakan Jilbab. Melihat beberapa teman kok rasanya kece kalau memakai jilbab. Yang menggunakan jilbab waktu itu cuma beberapa gelintir manusia saja dan kok ya semuanya parasnya cantik. Memang alasan saya waktu SMP ingin berjilbab secetek itu sih, biar nampak kece haha. Saya lalu mengutarakan ke orangtua tentang keinginan untuk berjilbab. Sudah bisa saya duga, tidak diijinkan. Bapak Ibu memang tidak mau kalau keputusan berjilbab hanya untuk ikut-ikutan teman, supaya nampak kece, ataupun ingin menutupi suatu kekurangan. Bapak bilang, “Berjilbab itu keputusan besar. Kamu harus punya alasan kuat, punya pijakan agama yang sudah kokoh, dan harus datang dari diri sendiri. Bukan karena disuruh, bukan karena ikutan tren, dan bukan karena alasan manusia lainnya. Cukup agama saja yang kami turunkan. Berjilbab, kamu harus memutuskan kalau sudah siap. Kalau belum, ya tidak usah terburu-buru. Kamu masih muda. Banyak waktu. Nikmati saja semuanya dulu.”  Saya disuruh menemukan alasan kuat dulu.

Seiring berjalannya waktu, saya lalu lupa keinginan berjilbab. Waktu SMP saya pernah masuk pondok pesantren, sebentar. Sewaktu libur panjang sekolah. Nah, di pesantren memang jilbab diwajibkan. Walhasil saya pakai jilbab hanya kalau ada kegiatan di luar saja. Jilbab yang asal ditali kebelakang. Selebihnya, saya copot. Ga koaatt akuuhh. Sumuk Men! Panasnya kotaku rasanya tak ada duanya. Intinya, saya lupa keinginan berjilbab.

  • MASA KULIAH

Saya loncat cerita ke masa kuliah. Sewaktu SMA, saya tidak terpikir sama sekali dengan jilbab. Sedang menikmati hidup penuh kebebasan karena tinggal ngekos jauh dari orangtua (mulai ngekos sejak umur 15 tahun). Bebas dalam artian, ya bebas haha. Masa-masa nakal lah saya menyebutnya. Nakal tapi saya tidak menyesal pernah melakukan kenakalan-kenakalan masa SMA.

Awal masuk kuliah, untuk yang muslim, diwajibkan ikut kegiatan mentoring. Ini saya agak samar-samar ingat sebenarnya apa ya waktu itu kegiatan mentoring. Saya banyak mbolos haha. Kalau tidak salah kajian Al-Qur’an dan pembahasan Fiqih. Tidak patut dibanggakan karena mbolos tapi saya punya alasan kuat kenapa sering mbolos. Saya sering disindir oleh mbak mentor kenapa tidak pakai jilbab. Saya seringnya pakai kerudung kan, lalu sering disindir. Walhasil saya pakai mukena saja, sekalian sholat Ashar di Masjid kampus.

Jaman kuliah, ini masa di mana saya haus sekali belajar agama. Saya sering ikut kajian-kajian. Inginnya bisa masuk ke komunitas-komunitas tertentu. Intinya saya ingin banyak belajar tentang Islam. Tapi, saya terkecewakan oleh : seringnya ditolak secara tidak terang-terangan karena saya tidak berjilbab, “Maaf lebih baik ditutup dulu auratnya baru bisa bergabung dengan kajian kami.” Coy! saya kan ga pakai bikini ke kampus. Masa sih sampai segitunya. Sungguh, saya kecewa sekali. Sempat mutung kenapa ya ada yang ingin belajar agama Islam secara serius tapi kok malah ditutup jalannya hanya karena saya tidak berjilbab. Dan yang menutup jalan justru dari mereka yang paham agama. Ga jalan logika saya dibagian itu. Mereka seperti mengeksklusifkan diri. Saya sempat agak dendam kalau melihat perempuan dengan jilbab yang menjuntai lebar. Jilbab taplak dulu saya menyebutnya karena saking lebarnya kayak ukuran taplak. Dan sejak itu, saya merasa antipati dengan yang namanya kajian agama Islam atau belajar Islam oleh komunitas tertentu. Bagaimana mau merangkul kalau sudah mengeksklusifkan diri. Saya lalu belajar sendiri dan mencoba mencari sumber-sumber belajar lainnya. Masa kelam dalam hal belajar tentang Islam pada saat kuliah itu.

Loji, Bogor
Loji, Bogor
  • MASA KERJA

Setelah lulus kuliah, saya bekerja 9 bulan di Surabaya. Lalu pindah ke Jakarta dan bekerja di sana selama 7 tahun. Di dua perusahaan tersebut, karyawan yang beragama Islam sedikit sekali jumlahnya, minoritas. Ya tidak masalah juga karena perusahaan tidak pernah menganggap beda, yang penting berprestasi dan hasil dari pekerjaan yang baik.

Saya sampai lupa perihal berjilbab, sibuk bekerja. Cemerlanglah karir saya selama total 8 tahun itu walaupun ada saja cobaan hidup. Meskipun tidak terpikir tentang Jilbab, tapi belajar agama tetap jalan terus. Saya selalu ikut ceramah agama yang diadakan di Musholla kantor, seminggu sekali. Saya menjalani kehidupan sehari-hari ya seperti biasa. Mencoba menyeimbangkan urusan kantor dan pribadi.

Sampai suatu ketika, setelah acara liburan kantor ke Bali, saya mendadak terpikir tentang ingin menggunakan Jilbab. Di malam itu, di kamar kos, saya berpikir dan merasa terpanggil. Saat itu, saya sudah punya alasan kuat  dan sudah lebih mantab. Saya sudah bisa memutuskan sendiri dan pasti bisa bertanggungjawab dengan keputusan yang dibuat. Saya telepon Bapak, menyampaikan niat tersebut. Kali ini, Bapak dan Ibuk menyerahkan semuanya pada saya. Waktu itu, Ibuk belum berjilbab. Jadi, Ibuk tidak bisa berkomentar banyak tentang keputusan yang saya ambil.

Waktu itu, saya tidak tahu kapan akan mulai berjilbab. Saya tidak punya jilbab, bahkan baju lengan panjang saja hanya punya satu pasang. Celana dan kaos. Selebihnya, rok pendek dan kemeja lengan pendek. Nah, beberapa hari kemudian, saya ditugaskan ke Surabaya. Lalu saya ingat, punya teman sekelas waktu SMA yang berjilbab. Saya hubungi dia, bisa tidak mengajarkan saya bagaimana cara menggunakan jilbab. Ya, sampai menggunakan Jilbab saja saya tidak tahu caranya. Teman yang sangat berjasa pada awal mula saya berjilbab itu bernama Halimatuz. Saya panggil Tuz. Dia sekarang tukang rias terkemuka di seantero Surabaya (dan Jatim kayaknya). Akun IG nya @RiasJilbab (bukan testimoni berbayar ini).

Saat itu, dia masih bekerja di bank. Kami janjian malam hari di McD Basrah, Surabaya. Dia diantar oleh suami, datang dengan anaknya. Saya ditemani adik. Di sana, saya diajari cara menggunakan Jilbab yang rapi, masang peniti, bagaimana cara melipatnya, bagaimana membuatnya rapi. Dia yang bawa jilbabnya, karena saya tidak punya Jilbab. Lalu dia memberi saya dua jilbab dan penitinya. The Best lah Halimatuz ini. Suwun ya, Wes 10 tahun lalu Tuz.

Singkat cerita, akhirnya saya berjilbab tepat dihari ulangtahun yang ke 29. Ya ini memang saya sengaja, biar gampang mengingatnya haha. Wah, heboh satu ruangan, semua langsung datang ke kubikel. Bukan untuk menyelamati, tapi terbengong rasa tidak percaya bagaimana bisa seorang Deny kok jadi berjilbab. Bagaimana bisa. Seharian itu, ruangan yang isinya 25 orang jadi gaduh. Bahkan saya dipanggil bos besar, bukan ditegur. Beliau menanyakan apakah saya punya masalah. Saya bilang tidak, baik-baik saja semua. Beliau bertanya seperti itu karena sebelum ke Surabaya selama seminggu, saya menangis di ruangan karena stress dengan urusan budget kantor yang ruwet. Dipikirnya saya berjilbab karena stress haha. Lha menghilang seminggu, lalu balik ke kantor sudah beda tampilan.

Setelah berjilbab, perlahan saya mulai menghilangkan foto-foto yang diunggah ke media sosial saat belum berjilbab. Saya berpikir, setelah berkomitmen berjilbab, seharusnya saya tidak perlu lagi menampilkan foto-foto tanpa Jilbab. Membuka lembaran baru, tutup yang lama. Walaupun apa yang diunggah ke Internet akan selamanya ada, setidaknya saya berusaha menghapus yang di halaman media sosial. Makanya sekarang saya sangat berhati-hati dalam mengunggah foto diri.

Beruntung saat itu saya berjilbab karena keputusan yang datang dari diri sendiri, dari kemauan sendiri, dan tidak dalam keadaan terpaksa.

  • SETELAH 10 TAHUN BERJILBAB

10 tahun kemudian, saya tetap berjilbab, tetap haus dengan ilmu agama, dan tetap belajar sebanyak mungkin tentang Islam. Semakin saya banyak belajar, semakin saya merasa saya ini tidak ada apa-apanya. Tidak ada yang berubah sama sekali dari saya. Tidak lalu tiba-tiba menjadi tukang dakwah, tidak lantas menyuruh teman atau sahabat untuk berjilbab. Saya masih tetap dengan apa yang orangtua ajarkan : Agama dan beribadah itu urusan masing-masing. Sudahlah tak perlu ikut campur. Saya tidak lantas merasa lebih dari mereka yang tidak berjilbab atau memandang sebelah mata yang memutuskan melepaskan Jilbab. Sama sekali tidak.  Setiap orang punya pergulatan hati masing-masing, sayapun demikian. Saya tidak memandang berbeda mereka yang berjilbab berdasarkan lebar atau kecilnya jilbab. Tidak ada yang beda buat saya.

Perjalanan berjilbab selama 10 tahun ini juga tidak selalu riang gembira. Sewaktu di Indonesia, sering dipandang sebelah mata oleh mereka yang jilbabnya lebar sedangkan jilbab saya ya cukupan lebarnya, yang penting terjulur sampai dada. Belum lagi di Belanda, ada saja ujiannya. Dari yang pernah jilbab dijambak, dikatain kalau saya ini bawa kuman penyakit dengan menggunakan jilbab, sampai diteriakin saya harus kembali ke negara asal karena dia benci lihat perempuan berjilbab, dan masih ada beberapa cerita lainnya. Di mana-mana, ada saja ujiannya. Cerita senangnya, untungnya lebih banyak. Salah satunya tentang keluarga suami. Sejak berkenalan, keluarga di sini tidak mempermasalahkan tentang jilbab yang saya kenakan. Malah Mama mertua memberikan saya dua Jilbab sebagai hadiah waktu berkunjung pertama kali ke Belanda. Saya berbeda di keluarga, tapi mereka memperlakukan saya dengan sangat baik.

Saat pasang pohon Natal di rumah lalu saya unggah fotonya di media sosial, seorang mantan sahabat bertanya,“Kamu masih pakai Jilbab, Den?” Lalu saya jawab, “Kalau memang kita pernah bersahabat, kamu tidak akan menanyakan hal ini.

Saya ingat betul pernah berbincang seperti ini dengan Bapak,“Pak, nanti kalau misalkan saya lepas jilbab atau pindah agama, bagaimana menurut Bapak?” Lalu Bapak menjawab,“Apa yang sudah kamu putuskan, pasti sudah kamu pikirkan masak-masak. Bapak sebagai orangtua hanya sebatas memberikan pandangan. Selebihnya, apapun itu, jadi tanggungjawabmu sendiri.” Beruntung sekali saya mempunyai Bapak yang tidak memaksakan apapun pada anak-anaknya, sampai urusan agamapun. Bapak memang berbeda dengan Ibuk tentang penyikapan.

Begitulah kisah panjang saya tentang perjalanan berjilbab. Setiap orang punya perjalanan religi dan spiritual masing-masing. Begitupun saya yang sampai saat ini masih meraba dan tertatih untuk semakin baik dari hari ke hari.

-16 Februari 2020-

Ujian Teori Mengemudi Mobil di Belanda

Buku yang saya gunakan. Sampai lecek karena tiga kali saya baca tuntas sampai hafal titik komanya :))

Awalnya tulisan ini akan diunggah saat sudah selesai dan lulus ujian praktek menyetir. Jadwal selesai les masih beberapa minggu lagi, jadi diunggah sekarang saja. Mumpung masih hangat.

Jadi, minggu lalu saya LULUS ujian teori mengemudi mobil dalam bahasa Belanda. Rasa tidak percaya saat melihat layar komputer dan ada tulisan Geslaagd. Saya sampai terdiam sesaat dan mata berkaca-kaca. Bukan lebay tapi ujian teori ini memang tricky. Banyak yang mengulang ujian teori 2-3 kali baru lulus. Jadi, rasanya tidak berlebihan kalau saya bangga sama diri sendiri begitu pertama kali ujian lalu langsung lulus, terlebih saya ujiannya memilih dalam bahasa Belanda. Ok, saya akan mulai cerita awal mula kenapa saya memutuskan untuk les menyetir.

Saya itu orang yang sangat takut berkendara, meskipun hanya duduk manis di kursi penumpang. Saya lebih menikmati naik kendaraan umum dibandingkan kendaraan pribadi. Di Indonesia, saya pernah punya SIM C, yang sampai kadaluarsa cuma dipakai beberapa kali. Sejak cedera karena kecelakaan tunggal saat saya naik sepeda motor, setelahnya saya seperti bersumpah tidak akan lagi nyetir motor. Menyetir mobil? tidak pernah terpikirkan sama sekali. Sesuatu yang sudah diluar jangkauan.

Di Belanda, kami tinggal di kampung yang terletak diantara 3 kota besar, disebut sebagai randstad. Jadi kendaraan umum sangatlah gampang. Menyewa mobil pun lokasinya di pojokan rumah dengan harga terjangkau. Itulah kenapa kami memilih tidak mempunyai mobil selama 5 tahun ini. Sewaktu masih punya mobil, seringkali tidak terpakai karena kami lebih memilih naik sepeda atau kendaraan umum jika bepergian agak jauh. Setelah dipikir-pikir, kok ga ada manfaatnya waktu itu punya mobil, sangat jarang dipakai, akhirnya kami jual.

Dulu saya pernah bilang ke suami, tidak akan pernah mau belajar nyetir mobil selama rumah masih gampang akses dengan transportasi umum. Alasannya ya karena saya merasa takut nyetir, takut nabrak dan tabrakan. Never say never. Sampai pada bulan Oktober tahun lalu, kok ya mak bedundug tiba-tiba saya dapat hidayah. Saya ingin belajar menyetir mobil. Meskipun kami tidak ada mobil dan tidak berencana punya mobil dalam waktu dekat, tapi kok saya merasa kalau menyetir itu jadi semacam kebutuhan buat saya. Salah satu cara supaya saya tidak tergantung sama suami, mandiri. Jadi kalau misalkan ada perlu, tanpa bergantung ke suami saya bisa menyetir mobil sewaan. Lebih jauh lagi, menyetir itu semacam skill. Jadi, ya saya ingin punya skill menyetir. Jadi kalau suatu hari nanti kami beli mobil karena sudah butuh, saya sudah bisa menyetir sendiri. Alasan terakhir, karena saya ingin menantang diri sendiri, apakah bisa mengalahkan rasa takut yang selama ini ada. Apakah bisa keluar dari zona nyaman.

Berbekal niat yang sudah bulat, saya utarakan rencana tersebut ke suami. Tentu saja dia syok haha. Lha wong duduk di sebelah dia saat menyetir saja saya bisa ketakutan kalau dia menyalip kendaraan lain, ini kok pakai ide mau belajar menyetir. Tapi dia tahu saya, kalau sudah ada niat, akan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dimulailah petualangan  dalam belajar menyetir mobil. Saya harus melewati ujian teori dulu sebelum menuju ujian praktek.

Ini beberapa hal yang saya lakukan saat mencari sekolah menyetir :

  • Wajib belajar menyetir di sekolah. Untuk mendapatkan SIM, wajib belajar menyetir dulu di sekolah, meskipun sebelumnya sudah bisa menyetir. Saya mencari beberapa informasi sekolah menyetir di area tempat tinggal. Ada beberapa kandidat, lalu saya membandingkan dengan mencari beberapa variabel yang menurut saya penting yaitu tingkat kelulusan, testimoni tentang instruktur, harga, dan fasilitasnya.

 

  • Pembayaran. Setelahnya, mengerucut satu sekolah. Saya membaca semua informasi di website mereka, terutama tentang pembayaran. Tentang berapa biaya yang harus dikeluarkan, ini penting buat saya karena sekolah menyetir sampai lulus di Belanda itu sangatlah tidak murah. Saya cek dulu tabungan, apakah ada cukup dana untuk membayar sampai lulus dan dana jaga-jaga siapa tahu saya harus mengulang ujian. Saya membayar sendiri karena biasanya kalau dibayari jadi menggampangkan dan kurang bertanggungjawab. Kalau bayar sendiri, saya jadi lebih bertanggungjawab dan bersungguh-sungguh belajar supaya bisa dan lulus. Perkara nanti dibelakang uangnya akan diganti suami, ya saya terima *lah ngarep mbaknya. Beruntungnya, di sekolah menyetir ini pembayaran bisa dicicil. Beberapa sekolah menyetir yang saya tahu, pembayaran bisa dicicil (tanpa bunga), sehingga tidak memberatkan di depan. Saya bersyukur sekali ada sistem menyicil ini. Membuat tabungan saya tidak mendadak kering keronta :))

 

  • Proefles. Setelah yakin ada uangnya, saya lalu menghubungi sekolah tersebut menanyakan bagaimana prosedur mendaftar. Saya bilang juga kalau tidak ada pengalaman menyetir, nul puthul. Mereka menyarankan untuk melakukan proefles, jadi semacam cek ombak sejauh mana saya bisa diarahkan saat pertama kali dibelakang kemudi. Ini tidak wajib ya, hanya disarankan. Karena dari hasil proefles akan direkomendasikan berapa jam yang harus diambil saat les menyetir. Wah, saya yang benar-benar pertama kali duduk di belakang setir, tidak tahu mana gas mana rem haha. Wes pokok e kacau beliau. Magic lah saya tiba-tiba berani menyetir, meskipun di sebelah ada instruktur yang mendampingi dan mengarahkan. Setelah proefles, mereka menyarankan jumlah jam les yang musti dilakukan dan rekomendasi tipe kendaraannya. Setelahnya saya mulai komunikasi intensif dengan mereka berhubungan dengan jadwal les, informasi rencana liburan, jadwal ujian, pendaftaran ujian, sampai perkara membayar yang bisa dicicil.

 

  • Bahasa. Dari awal dikomunikasikan ke pihak sekolah, akan menggunakan bahasa apa selama les berlangsung (dan juga tesnya). Saya memilih bahasa Belanda. Bukan karena bahasa Belanda saya sudah canggih, tapi karena dalam keseharian lebih banyak menggunakan bahasa Belanda daripada bahasa Inggris, jadi saya merasa nyaman untuk keseluruhan rangkaian les mengemudi ini komunikasinya dalam bahasa Belanda, termasuk tes teori dan tes praktek. Kalau merasa nyamannya menggunakan bahasa Inggris, ditanyakan apakah sekolahnya menyediakan instruktur yang bisa menggunakan bahasa Inggris dengan baik.

 

  • Instruktur. Instruktur merupakan faktor yang penting dalam kelancaran les. Kalau kita tidak nyaman, dipastikan les menyetir akan seperti medan perang, tegang, yang berakibat kita akan lama bisanya. Saya mendapatkan tiga instruktur dengan satu instruktur utama. Dua lainnya pengganti kalau yang utama sedang tidak bertugas. Beruntungnya saya, ketiganya sabar dan tegas. Jadi membuat situasi dalam mobil tidak tegang. Apalagi instruktur utama saya, sudahlah ganteng (penting banget ini disebutkan haha), sabar, tapi juga tegas. Tidak banyak bicara selama les kecuali yang berhubungan dengan mengemudi. Sesekali juga kami saling bersenda gurau. Supaya tidak tegang. Selebihnya, ya fokus pada materi menyetir. Jika ternyata tidak cocok dengan instruktur, lebih baik minta ganti sejak awal, komunikasikan dengan pihak sekolah. Hal ini sudah biasa, minta ganti instruktur jika dirasa tidak cocok.

 

  • Theorie CursusSetelah mendaftar, pihak sekolah menyarankan untuk segera mempelajari teori dari buku yang mereka gunakan. Nah, sekolah ini juga menyediakan kursusnya, itu termasuk dalam harga satu paketnya. Ya jelas saya manfaatkan. Kursus berlangsung sekali seminggu selama 4 kali dan setiap pertemuan selama 2.5 jam. Ini salah satu dari dua kursus yang saya ikuti bulan lalu. Di kursus, saya banyak sekali mendapatkan tips dan trik membaca dan mempelajari soal-soal ujian yang lumayan tricky. Satu kelas, isinya orang Belanda semua. Saya satu-satunya yang imigran dan yang paling tua haha. Semuanya masih kisaran usia belasan sampai 25 tahun. Tapi saya tidak berkecil hati karena selama evaluasi, saya selalu lulus. Buku, selalu cari yang edisi terbaru ya karena peraturan beberapa yang bisa jadi berubah. Misalkan, per maret nanti, kecepatan maksimal di autosnelweg jadi 100km/u di jam normal. Kalau sekarang masih 130km/u.
Buku yang saya gunakan. Sampai lecek karena tiga kali saya baca tuntas sampai hafal titik komanya :))
Buku yang saya gunakan. Sampai lecek karena tiga kali saya baca tuntas sampai hafal titik komanya :))

 

  • Puas. Sampai detik ini, saya puas dengan sekolah mengemudi ini. Semua hal dengan cepat mereka informasikan melalui email ataupun telefon. Van Buuren, mereka ada cabang di beberapa kota. Ini bukan testimoni berbayar. Siapa tahu ada yang sedang mencari info sekolah menyetir.

 

Oh ya, saat mulai memantabkan niat, saya juga bertanya-tanya perkara menyetir di Belanda kepada mereka yang sudah lulus dan sudah punya SIM. Saya bertanya ke Anis, Yayang, Ratih. Wes pokoknya bawel nanya terus. Setelahnya saya nanya ke Mbak Dede, lalu Maya yang saya kenal lewat twitter. Selain itu saya juga rajin mencari informasi pengalaman orang lain dalam mendapatkan SIM di Belanda, saat ujian teori maupun ujian prakteknya. SIM dalam bahasa Belanda adalah Rijbewijs. Kalau untuk kendaraan pribadi, Rijbewijs tipe B.

 

Beberapa hal di bawah ini berkaitan dengan ujian teori mengemudi berdasarkan pengalaman saya :

  • Pararel antara les menyetir dan belajar teori. Jika memungkinkan, belajar teori dilakukan pararel dengan les menyetir jadi feelnya lebih dapat. Hal ini juga memudahkan saat ujian teori, sudah ada gambaran di lapangan seperti apa. Saat ujian teori, les menyetir saya sudah berlangsung selama 8 kali.

 

  • Tidak Sistem Kebut Semalam. Tahu diri dengan kemampuan menghapal yang sangat jauh dibawah kemampuan dalam menurunkan rumus dan menghitung -terutama dosa para mantan-, jadi saya memulai belajar dua bulan sebelum ujian. Bulan Desember, buku sudah ada di tangan. Saya mulai membaca dan perlahan menerjemahkan beberapa kata yang tidak saya pahami. Bahasa Belanda yang digunakan lumayan agak tinggi, mungkin sekelas B2. Jadi saya agak tertatih-tatih pahamnya. Bulan Desember sibuk dengan acara ini itu, jadi tidak terlalu intensif belajar. Mulai belajar intensif itu dari awal Januari. Saya harus konsisten satu hari minimal 3 jam belajar. Waktu saya belajar siang hari selama 2 jam dan malam hari sebelum tidur sekitar 2 jam (kalau sedang tidak ada jadwal kursus satunya). Saya sempat bertanya juga ke Geraldine yang langsung lulus ujian teori, berapa jam per hari belajarnya. Dia bilang 3 jam. Wah aman berarti. Saya makin PD.
Salah satu halaman buku yang penuh coretan.
Salah satu halaman buku yang penuh coretan.

 

  • Belajar dari sumber lain. Selain belajar dari buku, saya juga banyak berlatih soal dari website Theorieexamen.nl. Bagi yang sedang belajar dan berencana ujian, saya sangat merekomendasikan website ini. Sekitar 80% soal ujian, mirip soal-soal yang ada di sini. Saya menggunakan yang layanan berbayar dalam satu bulan. Jadi makin banyak variasi soal yang bisa dijadikan latihan. Terima kasih buat Mbak Dede dan Maya yang memberitahukan website ini. Di website ini juga diperlihatkan progress kita setiap mengerjakan soal. Kalau progressnya sudah mencapai 90% atau lebih, yakin bisa lulus. Saya sampai sebelum ujian, progress 93%.

 

  • Santai sebelum ujian. Ini kebiasaan yang selalu saya lakukan : satu hari sebelum ujian (apapun), saya sudah tidak mau membuka buku. Belajar sudah selesai. Biasanya saya akan jalan-jalan atau keluar rumah melakukan kegiatan apapun untuk menenangkan pikiran supaya saat ujian pikiran lebih segar dan otak tidak lelah.

 

  • Datang lebih awal. Awalnya tempat ujian saya di Rijswijk. Lalu CBR yang di Rijswijk menurut informasi yang saya dapat, terbakar. Penyebab kebakaran simpang siur. Tapi katanya dilempar peledak oleh salah satu peserta ujian praktek yang tidak lulus sampai 7x (duh jangan sampai ngulang sampai 7x). Lalu, ujian dipindah ke Barendrecht di Rotterdam. Perjalanan selama 1 jam. Saya datang setengah jam dari jadwal ujian. Lumayan bisa mengenali medan sebelum berperang.

 

  • Het zorgvuldig lezen en het goed begrijpen. Saat mengerjakan soal, baca dan pahami dengan baik pertanyaan dan jawabannya. Lumayan banyak pertanyaan yang menjebak. Meskipun harus hati-hati dalam membaca soal, jangan lupa dipertimbangkan masalah waktu. Ada batas waktu setiap bagiannya. Hafalkan dan pahami semua yang ada di buku juga soal-soal latihan. Angka-angka sampai komanya. Penting karena kita tidak tahu bagian mana dari materi yang keluar di ujian.

 

  • Konsumsi Coklat sebelum Ujian. Dari yang saya baca, coklat bersifat menenangkan. Jadi sebelum ujian, saya minum Chocomel haha. Ya lumayanlah bisa mensugesti diri sendiri supaya tenang.

 

  • Ujian teori ada 3 bagian :Gevaarherkenning: 25 vragen waarvan je er ten minste 13 goed moet beantwoorden. Di bagian ini, hanya boleh salah maksimal 12 pertanyaan. Saya salah 6.
    • Kennis: 12 vragen waarvan je er ten minste 10 goed moet beantwoorden. Bagian ini, boleh salah maksimal 2. Saya salah 1.
    • Inzicht: 28 vragen waarvan je er ten minste 25 goed moet beantwoorden. Bagian ini boleh salah maksimal 3. Saya salah 1.

 

  • Sertifikat kelulusan ujian teori berlaku selama 1.5 tahun. Artinya jika dalam waktu 1.5 tahun tidak lulus ujian praktek, maka harus mengulang ujian teori.

 

Saking bahagianya saya sekali ujian langsung lulus, begitu selesai langsung mengabarkan ke suami. Berita langsung beredar di keluarga. Saya mendapatkan ucapan bertubi dari seluruh keluarga. Mungkin berasa ajaib saya langsung lulus haha. Ponakan yang sedang belajar menyetir, lulus teori saat ujian kedua kali. Padahal saya lulus bukan karena keberuntungan tapi belajar penuh perjuangan. Dua intsruktur saya juga nggumun, karena murid-murid mereka biasanya setelah paling tidak 2-3 kali ujian teori baru lulus. Tetangga saya pun mengucapkan selamat dan mengirimkan bunga.

Bunga ucapan selamat dari suami dan tetangga
Bunga ucapan selamat dari suami dan tetangga

 

Berat ya perjalanan mendapatkan SIM di Belanda. Berat dan mahal. Ujian teori telah terlewati. Saatnya saya melanjutkan perjuangan menuju ujian praktek. Saya mencoba tidak menjadikan beban. Yang penting berusaha semakin baik setiap les. Semoga nanti ujian praktek juga bisa sekali lulus mengikuti jejak Yayang, Ratih, dan Anis. Doakan saya ya.

Semoga tulisan super panjang ini bisa bermanfaat buat yang akan ujian teori menyetir di Belanda dan semoga sukses ujiannya. Heel veel succes!

-9 Februari 2020-

Lima Tahun di Belanda

Akhir bulan Januari ini, tepat lima tahun saya tinggal di Belanda. Masih ingat dengan jelas, lima tahun lalu saat suami menjemput di Schiphol, saya sampai lupa wajahnya seperti apa sampai dia memanggil beberapa kali haha. Maklum, setelah menikah kami tinggal terpisah dan selama 6 bulan tidak pernah sekalipun video call-an. Jadi wajah suami agak samar di ingatan dikepruk bojoku :))). Lima tahun lalu, badan saya masih singset mungil –koyok wong ga doyan mangan– Memang saya susah naik Berat Badan….. duluuu. Dua tahun terakhir ini, badan saya sukses mengembang kayak diguyur fermipan. Entah naik berapa puluh kilo. Tak mengapa, memang sengaja dibuat membesar, supaya tidak gampang diterbangkan kerasnya angin di Belanda dan angin kehidupan *krikk kriikk.

Saya tanya suami, apa perbedaan saya lima tahun lalu dan lima tahun kemudian. Inilah jawaban dari dia :

  • Makin Dewasa dan Lebih Jinak

Bagian makin dewasanya saya tidak bisa komentar ya karena ukuran dewasa itu banyak variabelnya. Jadi saya menyebutnya, relatif. Saya mau komentar bagian lebih jinak. Ini maksudnya lebih ke arah emosi. Saya akui, selama 5 tahun ini memang cara saya mengatur emosi lebih stabil. Dulu kan senggol bacok. Seiring berjalannya waktu, lebih banyak pelajaran kehidupan, dan tertular suami yang panjang urat sabarnya, saya pun jadi lebih panjang sumbu sabarnya. Saya makin santai menghadapi apapun, dalam segala suasana. Lebih bisa memilih dan memilah mana yang harus disikapi. Lebih bisa berpikir panjang sebelum bertindak atau bereaksi. Intinya, saya yang dulu senggol bacok, sekarang lebih zen. Dulu yang reaktif, sekarang lebih santai dalam bereaksi. Tidak gampang tersulut, tidak gampang meledak. Pegangan saya cuma satu : tidak semua hal perlu saya urusi dan  ada hal-hal di luar kuasa yang tidak bisa saya kendalikan. Belajar dari kesalahan – kesalahan yang pernah terjadi, saya ingin menjadi jiwa yang lebih baik. Mengendalikan emosi salah satunya. Sekarang, sudah jauh lebih baik. Banyak hal-hal baik dari suami yang saya serap, salah satunya ya bagian emosi ini. Dari dia lah saya belajar untuk lebih santai dan tidak reaktif.

  • Lebih Belanda Dari Orang Belanda

Saya dari dulu kalau ngomong, ceplas ceplos, apa adanya. Awalnya suami kaget pas kenal saya. Berasa bicara sama orang Belanda katanya haha mirip. Kalau di Belanda, disebutnya direct. Jadi ngomong ya apa adanya, tanpa basa basi. Walaupun tingkat direct saya lebih tinggi dibandingkan lingkungan saya di Indonesia, tapi pas tahun pertama menikah, duh ada saja yang bikin perang dunia. Salah paham terus dengan suami perkara dia lebih direct (ya iyalah, dia dari orok di sini). Lama-lama makin paham, lalu sekarang kata suami terkadang saya lebih direct dari orang Belanda asli.

Yang kedua, tentang waktu. Sejak di Indonesia, saya memang paling tidak suka telat dan nelat. Janjian pasti lebih awal dari jam yang disepakati. Lebih baik menunggu daripada ditunggu. Jadi begitu pindah Belanda, saya tidak ada masalah dengan perkara janjian. Suami, tipe yang on time. Jadi benar-benar pas waktunya. Sedangkan saya lebih awal dari waktu janjian. Makanya dia bilang saya lebih Belanda dari orang Belanda.

Yang terakhir tentang uang. Biasa ngirit kan ya karena 13 tahun jadi anak kos. Selain itu juga hasil ajaran orangtua : jika membeli sesuatu, yang seperlunya saja. Walhasil menancaplah ajaran itu sampai akar. Konon katanya, orang Belanda terkenal pelit. Kalau menurut saya, bukan pelit, tapi memperhitungkan segala sesuatunya. Jadi kalau tidak penting-penting amat, tidak akan berfoya-foya. Seperlunya saja. Suami dan keluarganya, termasuk orang yang dalam mengeluarkan uang, seperlunya. Tapi mereka sangat menikmati hidup justru dengan prinsip itu. Menabung kencang, pos-pos untuk hiburan juga diisi kencang. Jadi kalau saatnya travelling, ya menikmatinya dengan maksimal. Makan di tempat yang ok, nginep di hotel yang ok, tidak terlalu memikirkan harus mengirit ini dan itu karena memang sudah memperhitungkan sesuai yang ditabung. Nah, saya lebih perhitungan lagi dari mereka haha. Entah, antara perhitungan sama pelit memang tipis kalau diterapkan pada saya. Suami pernah komen : Kupikir aku ini sudah ngirit, eh kamu kok lebih ngirit dari aku :)))

Itulah dua poin utama dari kacamata suami tentang perubahan saya selama lima tahun numpang tinggal di negara orang. Nah kalau dari saya, ada beberapa hal yang saya masih belum bisa lepas dari hal-hal yang berbau Indonesia dan juga beberapa perkembangan yang saya dapat selama di sini :

  • Masih Takut Hantu

Ini bagian yang agak kocak. Saya ini suka nonton film horor dan sudah terpapar film horor sejak balita mungkin haha. Ya generasi Suzanna lah pokoknya. Jadinya, otak saya itu suka kreatif menciptakan sosok-sosok hantu yang entah ada atau nggak. Apalagi pas kuliah, doyan banget nonton film horor Jepang macam Sadako. Belum lagi horor Thailand kan ngerinya ga main-main. Walhasil, saya jadi orang yang takut akan hantu (yang entah ada apa tidak *ga minta dilihatin juga). Selama di Belanda, saya tidak terlalu merasa horor lagi. Padahal katanya hantu Belanda di Indonesia itu menyeramkan ya. Yang pasti, lingkungan di Belanda tidak terasa horor. Pulang malam jam 10 saya masih berani sepedahan. Tapi, kalau lewat hutan dengan penerangan yang minimal, saya langsung merinding. Membayangkan kalau tiba-tiba ada bayangan putih melesat di depan mata, atau tiba-tiba boncengan sepeda berat trus saya nengok tiba-tiba ada mbak-mbak rambut panjang sudah duduk dengan menyeringai ke arah saya. Itu khayalan saya ya, yang nyatanya memang tidak terjadi. Harusnya saya lebih takut dengan penjahat kalau lewat hutan seperti itu. Nyatanya, bayangan hantu lebih membuat saya takut. Padahal kata suami, kalau di Belanda yang paling ngeri itu cuma satu : dapat surat cinta dari kantor pajak haha.

Beberapa waktu lalu, saya merasa ada hal aneh terjadi di rumah. Lalu saya menyimpulkan kalau ada setan di rumah. Saya cerita ke suami dengan menggebu. Suami ambil Hp, googling, lalu memaparkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi termasuk aspek psikologis. Tidak ada dalam paparannya kemungkinan ada setan. Ya beginilah salah satu perbedaan saya dan suami. Beda antara yang dibesarkan dengan ilmu pengetahuan dan logika, dengan yang dibesarkan oleh film-film Suzanna.

  • Nyebrang Jalan Masih Ragu-Ragu

Terbiasa di Indonesia sebagai pejalan kaki selalu terkalahkan oleh kendaraan bermotor, akhirnya mental itu terbawa sampai sini. Setiap kali lewat zebra cross, saya selalu menunggu mobil lewat dulu. Padahal jelas-jelas kalau menyeberang lewat zebra cross, mobil akan berhenti menunggu pejalan kaki  menyeberang. Tapi entah, sampai saat ini saya masih otomatis berhenti dan menunggu mobil lewat dulu. Sudah lumayan berkurang, tapi masih ada rasa takut kena serempet mobil.

  • Denda Sepeda

Ini yang agak aib. Akhirnya selama 5 tahun sepedahan di Belanda, awal Januari  kena denda. Duh memalukan sekali. Padahal sepedahan sampai 90km  lintas kota Den Haag-Leiden, baik-baik saja. Eh ini mau ke klinik dokter yang jaraknya cuma 10 menit dari rumah, kena denda. Salah saya memang. Karena terburu-buru, saya lupa menyalakan lampu belakang sepeda. Waktu itu jam 8 pagi. Saya pikir, sudah agak terang, jadi lupa saya menyalakan lampu belakang sepeda. Lha kok pas banget ada polisi patroli dengan mobil. Walhasil, saya dihentikan, ditanya kartu identitas, lalu beberapa hari kemudian surat denda datang ke rumah. €65 melayang gara-gara lampu belakang.

  • Pemahaman Bahasa Belanda Semakin Membaik

Ada satu kursus yang saya ikuti saat ini pesertanya semua orang Belanda, bahasa pengantar kursusnya juga bahasa Belanda. Saya satu-satunya imigran di sana. Pertama kali masuk, pulang-pulang kliyengan kepala saya. Kursusnya selama 3 jam. Walaupun saya paham dengan yang disampaikan oleh pemateri, tapi saat diskusi, peserta lainnya kalau ngomong dengan aksen yang berbeda-beda. Kebanyakan ga nangkep jadinya apa yang mereka sampaikan. Kadang malah saya dengarnya kayak kumur-kumur atau krusek krusek kayak nyari gelombang radio. Tapi, ya sesama orang Belanda paham mereka meskipun di telinga saya seperti sedang sakit gigi pas ngomong. Ya sejauh ini, setiap evaluasi setidaknya saya selalu mendapatkan nilai bagus. Masih jadi 3 terbaik di kelas dari 20 peserta. Sampai yang lainnya sempat bertanya apa saya pernah mengikuti kursus ini sebelumnya. Saya bilang tidak. Tapi di rumah, saya memang selalu belajar. Intinya, sebagai imigran, saya sadar diri kemampuan bahasa Belanda saya masih 75%, jadi saya harus inisiatif belajar sendiri di rumah, menyiapkan materi sebelum kelas mulai. Jadi ketika di kelas, saya sudah lumayan tahu apa yang akan disampaikan. Sebagai imigran, dalam hal apapun, saya harus berusaha 10 kali lipat dibandingkan orang Belanda, supaya kemampuan tidak dianggap sebelah mata.

Itulah beberapa hal yang bisa saya tuliskan. Tadi pagi, sebelum berangkat kerja, ucluk-ucluk suami bawa tas dari gudang belakang. Dia memberikan hadiah buat saya. Ya ampun, saya yang rembes dengan rambut masih awut-awutan merasa senang dikasih kado. Merasa suami kok sweet sekali *sekali-kali muji suami nang blog lak ga haram tho. Lalu jam 9 pagi saya mulai berkreasi, masak maksudnya. Saya membuat martabak telor dengan kulit bikin sendiri. Lalu masak mie ayam jamur dengan bahan seadanya di kulkas. Saya pakai ayam sisa soto ayam minggu lalu. Lalu karena tak ada sawi, jadi pakai sayur salad. Dan tak punya cabe merah, jadi pakai cabe buat martabak.

Martabak telor dengan kulit buat sendiri
Martabak telor dengan kulit buat sendiri
Mie ayam jamur
Mie ayam jamur

Ini kali kedua saya membuat martabak telor dalam dua bulan terakhir. Resepnya saya nyontek dari blog Mbak Yoyen. Gampil sih, cuma yang agak akrobatik pas naruh di penggorengan. Debus pun kalah. Tapi hasil akhirnya tak mengecewakan. Semua suka, tandas sekejap mata.

Ini martabak telor yang saya buat bulan lalu. Makan pake nasi haha.
Ini martabak telor yang saya buat bulan lalu. Makan pake nasi haha.

Suami mengajak makan malam di Sushi restoran. Merayakan 5 tahun saya di Belanda. Lima tahun lalu saya tiba di sini. Meninggalkan Indonesia, memulai semua dari awal, tidak menengok lagi yang dibelakang. Lima tahun mengenal negara ini, jatuh bangun dijalani, suka duka dilewati bersama keluarga kecil kami. Semoga saya berjodoh lama dengan negara ini, berjodoh lama dengan suami, dan bisa bersama menjalani pernikahan ini sampai berpuluh tahun lamanya. Sekali lagi, selamat 5 tahun untuk diri sendiri, selamat sudah sampai sejauh ini. Semoga tahun-tahun mendatang tetap menjalani hari dan mencapai yang dicitakan dengan langkah penuh kebahagiaan.

IMG_2509

-30 Januari 2020-

Delapan Tahun Berlalu

Nasi Goreng Hijau

Semakin bisa mengikhlaskan, semakin bisa berdamai dengan waktu, dan semakin bisa memeluk rasa kehilangan yang teramat sangat. Luka karena kesedihan yang mendalam semakin membaik. Airmata masih saja menetes jika mengingat kenangan yang pernah ada, tapi perih di hati semakin bisa teratasi.

Siang ini saya makan nasi goreng favorit kami semua, saya dan adik-adik, sejak kecil sampai kami hidup terpisah. Salah satu dari sekian masakan yang akan selalu kami rindukan. Ketika kami sudah tidak tinggal bersama di rumah, pulang menjadi sangat berarti. Selain bisa mengobrol apa saja sampai tengah malam, kami juga bisa menyantap nasi goreng super pedas yang rasanya tidak akan pernah kami temukan selain di rumah. Bahkan sampai beratus kali saya membuat sendiri, rasanya tak akan pernah menyamai aslinya.

Nasi goreng hijau, kami menamainya. Warna hijau di dapat dari ulekan cabe rawit hijau, bawang putih, daun jeruk, dan garam. Diuleknya tidak terlalu halus, lalu dioseng dengan sedikit minyak sampai bumbu agak mengering supaya tidak langu. Setelahnya nasi dimasukkan dan digoreng sampai tanak. Biasanya kami akan tambahkan lauk seperti telor ceplok atau dimakan tanpa lauk pun sudah sangat enak.

Tadi, saya makan nasi goreng hijau ini sambil mengenang jika kami makan bersama. Duduk bersila di depan TV dengan piring masing-masing. Sembari ngobrol dan sesekali menengguk air minum karena rasa nasi goreng yang super pedas. Bahkan saking pedasnya, seringkali telinga menjadi berdenging. Mungkin karena sejak kecil sudah makan nasi goreng pedas ini, kami tumbuh jadi anak-anak yang doyan pedas.

Nasi Goreng Hijau
Nasi Goreng Hijau

Saat sudah bekerja di Jakarta, saya sering mendengar candaan yang terlontar saat berbincang di telefon, “Nanti kalau kamu sudah bertemu dengan jodohmu dan kalian sudah punya anak, jangan lupa untuk liburan ke rumah. Bapak akan sangat senang bermain dengan cucu-cucu. Nanti Bapak ajak berkebun. Nanti Bapak dipanggil Mbah Kakung saja. Mbah Kakung akan cerita pada cucu-cucu kalau Ibunya dulu paling senang duduk di pangkuan Mbah Kakung saat Mbah Kakung makan sepulang kerja.”

Tadi pagi saat berjalan-jalan, saya melihat seorang Opa menggandeng cucunya sambil mendorong stroller cucu yang satunya. Mata saya berembun, ada rasa sesak dan perih melihat pemandangan tersebut. Selalu perasaan yang sama muncul saat melihat Opa bersama cucunya, bersenda gurau dan bercengkrama. “Insya Allah, tahun ini kami semua akan datang dan liburan ke rumah, Pak. Berziarah dan menunjukkan pada mereka kuburan Mbah Kakungnya. Seorang Mbah Kakung  yang tak pernah mereka temui tapi akan selalu menemani lewat cerita dari Ibunya.” Waktu memang tidak lagi bisa diajak berandai-andai. Saya selalu yakin, Bapak tidak pernah pergi. Beliau ada di sekitar kami, tersenyum melihat hidup saya sekarang, sejauh ini.

Bapak, satu-satunya orang di keluarga yang selalu mendukung apapun keputusan yang saya ambil, “asal kamu mampu bertanggungjawab dengan apapun konsekuensinya,”. Bapak, satu-satunya yang percaya setiap mimpi dan keinginan saya yang nampak mustahil buat orang lain, tapi selalu mengatakan tak ada yang tidak mungkin di dunia. Bapak, satu-satunya orang yang tidak pernah bosan mengatakan bahwa saya harus bersekolah setinggi mungkin. Bapak, satu-satunya yang tidak pernah menyuruh saya cepat-cepat menikah, apalagi punya anak, “Nikmati hidupmu dulu, berkarier dan sekolah dulu setinggi-tingginya. melihat dunia sejauh-jauhnya. Nanti jodoh akan datang sendiri pada saatnya.” Bapak, yang selalu mengusahakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Bapak, yang selalu merasa cukup berapapun dan apapun yang dipunya. Tidak pernah ngoyo mencari diluar kemampuan, tidak pernah hidup berlebihan.

Sudah delapan tahun berlalu, tepat tanggal ini, saya selalu melangkah diselimuti kerinduan. Kenangan baik yang selalu akan teringat bersama doa-doa yang terlantun.

-6 Januari 2020-

Kilas Balik 2019 dan Rencana 2020

SELAMAT TAHUN BARU 2020

Semoga kebahagiaan dan kesehatan senantiasa menyertai kita semua sepanjang tahun, juga diberikan umur panjang yang barakah. Semoga segala rencana dan doa yang terpanjat mendapatkan jalan kelancaran untuk mencapainya. Semoga semakin rendah hati, dikuatkan iman, melakukan hal – hal yang semakin baik setiap hari. Apapun itu, semoga yang terbaik.

Sebelum masuk ke tulisan utama, saya akan bercerita singkat tentang malam tahun baru dan hari pertama di tahun 2020. Malam tahun baru, seperti biasa tidak ada acara yang spesial. Setelah makan malam, saya mulai menggoreng pisang, ubi, dan singkong. Di luar rumah, terdengar suara petasan dan kembang api saling bersahutan, tapi tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Seperti tradisi di Belanda pada umumnya, tidak lengkap rasanya jika malam tahun baru tidak ada camilan Oliebollen. Akhirnya camilan yang ada di rumah perpaduan dari dua negara. Kearifan lokal : Oliebollen, Berliner bollen, Appleflap. Bersanding dengan kearifan Internasional : Pisang goreng, Ubi goreng, Singkong goreng.

Kami tidur jam 9 malam (maklum pasangan jompo ya begini, tidak kuat melek terlalu malam haha), jam setengah 12 saya terbangun, lalu jam 12 saya membangunkan suami mengucapkan selamat tahun baru dan mengucap beberapa doa dan harapan, setelahnya saya bergegas ke loteng untuk melihat kembang api. Tidak berapa lama, saya turun dan membuka korden kamar. Melihat kembang api dari kamar sambil twitteran haha mulia sekali hidup saya ini. Kembang api mulai berkurang, saya kembali tidur jam 2.

Kearifan lokal : Oliebollen, Berliner bollen, Appleflap. Bersanding dengan kearifan Internasional : Pisang goreng, Ubi goreng, Singkong goreng.
Kearifan lokal : Oliebollen, Berliner bollen, Appleflap. Bersanding dengan kearifan Internasional : Pisang goreng, Ubi goreng, Singkong goreng.

Paginya kami bangun seperti biasa, sarapan, lalu saya mulai masak. Rencananya, saya akan membuat tumpeng. Sudah menjadi kebiasaan sejak di Belanda, setiap tahun baru saya membuat tumpengan lalu menghantarkan nasi kuning ke para tetangga.

Jam 11 sudah selesai semua, saya mulai menyusun tumpeng dan printilannya. Seperti biasa, karena tidak punya cetakan tumpeng, saya menggunakan kertas karton dibentuk kerucut. Tumpeng kali ini isinya : mie goreng, sambel goreng kentang pete, tempe orek, ayam kalasan, dadar telor, perkedel, dan urap sayur. Setelah berdoa bersama dan mengucapkan beberapa harapan, kami menyantap tumpeng dengan antusias. Maklum, sudah sangat lapar.

Tumpeng Nasi Kuning Tahun Baru 2020
Tumpeng Nasi Kuning Tahun Baru 2020

Setelah makan, saya ke para tetangga untuk memberikan kotak nasi kuning. Setiap tahun baru memang seperti ini. Senang rasanya bisa lebih memperkenalkan makanan Indonesia. Sorenya, kami ke tetangga sebelah rumah. Setiap tahun baru  kami juga selalu mendapatkan undangan untuk sekedar ngobrol sambil makan camilan (salah satunya Oliebollen lagi hahaha mabok Oliebollen).

Nasi kuning untuk para tetangga
Nasi kuning untuk para tetangga

Seperti itulah cerita malam tahun baru dan hari pertama tahun 2020. Sekarang menuju tulisan utama yang mungkin akan sangat panjang. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.

KILAS BALIK 2019

Cerita tahun 2019, saya sambil mengintip tulisan tentang rencana tahun 2019 yang saya tulis awal 2019. Jadi saya tahu apa saja yang sudah terlaksanakan, apa saja yang masih menjadi PR.

KEHIDUPAN PRIBADI

  • Diploma Kelulusan Ujian Integrasi

Akhirnya saya menerima Diploma kelulusan ujian integrasi. Sah sudah saya memenuhi kewajiban lulus semua ujian integrasi. Dengan begitu, saya bisa mengajukan proses menjadi permanen residen. Akhir tahun sudah diproses.

  • Batal Menonton Beberapa Konser

Tahun 2018, saya membeli tiga tiket konser yaitu BSB, Maroon 5, dan Bon Jovi. Dua diantaranya memang konser yang saya tunggu-tunggu selama ini. Konser impianlah ceritanya. Padahal saya sudah tahu saat membeli tiket kalau tahun 2019 tidak akan bisa menonton konser. Dengan membeli tiket saja sudah senang haha. Akhirnya saya jual tiket-tiket tersebut, lumayan ada untungnya (calo haha).

  • Mengikuti Dua Kursus

Sewaktu awal tahun 2019 menuliskan ingin mengikuti kursus, sebenarnya belum terbayangkan kursus apa yang ingin saya ikuti. Ternyata menjelang akhir tahun, saya ada ide mau ikut kursus apa. Salah satunya kursus bahasa Belanda gratisan dari pemerintah kampung saya. Jadi kursus ini diadakan buat mereka yang sudah lulus ujian integrasi dan ingin mengikuti ujian level lebih tinggi. Saya sudah lulus ujian B1, rencananya tahun depan ingin mengambil ujian bahasa Belanda level B2. Ya mumpung ada kursus gratisan di perpustakaan dekat rumah, saya tidak mau menyiakan kesempatan. Waktunya malam, jadi pas dengan kondisi saya.

  • Menyelesaikan Target Membaca 50 Buku Dalam Satu Tahun

Ini adalah salah satu prestasi yang saya banggakan tahun ini, tuntas menyelesaikan target membaca 50 buku. Akhirnya yaa, setelah 4 tahun berturut memasang target 50 buku, tahun ini bisa juga capai target. Ternyata tidak ada yang mustahil di dunia ini, asal konsisten dan disiplin.

Selalu pasang target 50 buku sejak tahun 2016
Selalu pasang target 50 buku sejak tahun 2016

Saya ikut challenge seperti ini supaya disiplin saja. Sejauh mana saya konsisten dan disiplin menuju target yang saya tetapkan di awal. Sama halnya seperti membuat catatan rencana di awal tahun. Sejauh mana rencana sudah mendekati tujuan. Sama halnya dengan membaca Al-Qur’an, sebenarnya kalau mau khataman setiap tahun, sangat bisa. Mau pilih cara harian atau cara sebulan sewaktu Ramadan. Misalnya Ramadan, satu juz satu hari. Sebelum Idul Fitri sudah khataman. Begitu juga dengan cara harian, misalkan 5 lembar setiap hari. Bisa setiap selesai sholat satu lembar atau langsung satu waktu 5 lembar. Akhir tahun akan khataman Al-Qur’an. Seperti itu gambarannya.

Yihaa!! Akhirnya capai target.
Yihaa!! Akhirnya capai target.

Tentang buku-buku apa saja yang saya baca tahun 2019, nanti akan saya buatkan tulisan khusus. Saya membaca lumayan banyak buku yang menarik, beberapa tentang parenting.

  • BERTEMU DENGAN KAWAN-KAWAN BARU, PARA BLOGGER

Beberapa kali saya mengikuti potluck dengan grup yang sama. Pertemanan makan saya menyebutnya haha. Selain dengan orang-orang yang sama, tahun 2019 beberapa kali juga bertemu dengan orang-orang baru.

Rasanya tahun 2019 saya bertemu lumayan banyak orang-orang baru. Mereka ini saya kenal lewat twitter maupun lewat blog, ada juga yang dari komunitas. Bulan November saya mengundang makan siang beberapa orang yang saya kenal lewat twitter. Beberapa sudah pernah ketemu sebelumnya. Wah, seru sih obrolan kami. Waktu 4 jam cekikikan membahas dari yang serius sampai yang santai, tidak terasa. Sambil ngobrol sambil nyamil.

Akhir tahun, mendapat pesan dari Dita, salah satu blogger panutan saya dalam hal membaca buku. Dita yang tinggal di NYC, berencana akhir tahun liburan di Belanda dan mengajak saya serta Crystal untuk kopdaran. Akhir tahun 2018 sebenarnya Dita juga liburan di Belanda dan kamipun sudah janjian kopdaran. Apadaya, kalau belum berjodoh memang ada saja hambatannya. Tidak akan terpikir bakal ada kesempatan bertemu Dita dalam waktu dekat. Eh, ternyata kali ini bisa ketemu juga. Semakin percaya konsep Jodoh Pasti Bertemu *TerAfgan.

Sudah kenal Dita dari Blog sekitar 4 tahunan ini. Dita ini unik menurut saya. Banyak hal-hal yang saya suka dari apa yang dia ceritakan di blog. Tidak semuanya tentu saja ya, tapi secara keseluruhan, menarik. Salah satunya, selera musik Dita, yang saya tidak mengerti sama sekali hahaha. Maklum, generasi Afgan saya ini (bukan umurnya ya, selera musiknya *harus diperjelas). Karena sering komen-komenan, begitu pertama ketemu di Den Haag, kami sudah tidak ada canggung-canggungnya. Ngobrol seperti teman lama. Nyambung satu sama lain dengan Crystal juga. Saya yang penasaran tentang NYC, banyak bertanya seperti apa NYC. Dibayangan saya, pasti benar-benar megah, besar, dan meriah. Selain itu, topik obrolan kami juga unik sih, sampai ngobrolin Capres masing-masing periode haha Diaspora yang rasan-rasan Indonesia. Senang bertemu Dita secara langsung. Semoga lain waktu bisa bertemu Dita lagi, di NYC mungkin. Ada amin lagi? *minta amin mulu haha.

  • PEMILU INDONESIA DI BELANDA

Akhirnya bisa merasakan juga mengikuti Pemilu Indonesia di Belanda. Wah ini sih pengalaman tidak akan terlupa. Bukan hanya prosesnya (yang agak ruwet) tapi juga lebih karena saya sangat antusias.

  • SEPUPU TINGGAL 3 BULAN DI RUMAH

Akhir Februari, sepupu dekat datang ke Belanda dan tinggal di rumah selama 3 bulan. Rasanya menyenangkan punya teman ngobrol berbahasa Indonesia selama 3 bulan dan memberikan informasi terkini kabar di keluarga besar. Maklum, sejak di sini saya jadi kurang tahu kabar terkini di keluarga besar. Saya tidak ikut satupun WhatsApp grup keluarga.

  • KONSISTEN MENULIS DI BLOG 

Ini juga jadi salah satu prestasi yang saya banggakan tahun ini, tetap konsisten menulis di blog diantara hingar bingar kegiatan sehari-hari. Lumayan, tahun ini saya bisa menulis sebanyak 48 judul. Jadi rata-rata 1 tulisan per minggu. Tahun 2018, saya menulis sebanyak 48 judul juga. Lumayanlah, masih rajin diantara keseruan saya mantengin (dan meramaikan) republik twitter.

  • HEATWAVE

Tahun 2019 panasnya ga ketulungan. Super panas, sampai 40 derajat sewaktu kami sedang di Kroasia. Belanda pun tak kalah panasnya. Kami sampai harus ke UGD karena ada yang nyaris kena dehidrasi. Salah satu pengalaman tak terlupakan, malam-malam harus ke UGD.

JALAN-JALAN

Jalan-jalan tahun ini tidak terlalu banyak, hanya tiga kali. Satu mengunjungi negara baru, yaitu Kroasia. Dua kali ke Jerman yaitu ke Cochem dan Nurnberg. Selebihnya, jalan-jalan di sekitar Belanda saja.

KELUARGA

Cerita bahagia dan sedih datang silih berganti di keluarga inti maupun keluarga besar kami. Banyak berita bahagia salah satunya adalah kelahiran, beberapa juga berita duka. Saya menerima kabar beberapa saudara meninggal dunia. Yang paling menyedihkan dari perantau yang jauh dari tanah air selain kangen makanan adalah saat ada kabar gembira, tidak berada di sana. Saat mendengar kabar duka, pun tidak bisa ada di sana.

Kabar duka yang datang di keluarga inti kami semakin menguatkan hubungan. Suka duka dijalani bersama, saling menopang, saling menguatkan.

MAKIN MELEK DUNIA MAYA

Semakin lama bergelut dengan dunia maya, semakin bisa mengendalikan diri. Tidak gampang terpancing dan tidak ingin berkomentar semua hal. Semakin bisa memilih dan memilah mana saja yang layak dikomentari. Kuncinya satu sih supaya tetap waras bermedia sosial : jangan terlalu diambil hati dan tidak perlu semua hal dikomentari. Kalau sudah menggebu ingin berkomentar, tarik napas dulu lalu tinggalkan. Kalau satu hari berlalu masih kepikiran, ya silahkan berkomentar. Menjadi pengamat lebih menyenangkan buat saya. Sembari mengamati, sembari menganalisa (lalu dijadikan bahan tulisan kalau kata Dita haha). Kritis boleh, lebih baik kurang-kurangi nyinyir. Mau cari apa sih. Tapi hari pertama 2020 sudah lumayan kepancing dengan pembahasan ASI di twitter. Akhirnya ya saya kasih data saja.

Selain itu, saya semakin berhati-hati membagikan hal-hal yang berhubungan denga n pribadi dan keluarga. Pamer hal-hal yang umum saja seperti masakan atau buku atau apapun itu. Saya juga semakin jarang membagikan foto diri, berpikir akan berakhir di mana foto yang saya taruh di internet. Ngeri juga kalau berpikir sejauh itu.

Beberapa pelajaran berharga yang saya dapat dari tahun 2019 :

  1. Mengikhlaskan kehilangan, seberapapun sakitnya. Meskipun butuh waktu, perlahan untuk melepaskan yang memang dititipkan hanya sementara. Mengingat memang hanya sampai waktu tertentu saja berjodoh untuk merasakan kehadirannya.
  2. Merawat sebaik mungkin apa yang sudah ada : kesehatan, pertemanan, keluarga, dan pernikahan
  3. Bahwa kebahagiaan dalam pernikahan itu butuh diperjuangkan bersama. Tidak harus selalu bahagia setiap saat, tapi masing-masing bisa saling menopang

Begitulah catatan tahun 2018. Sekarang saatnya saya menuliskan rencana tahun 2020.

RENCANA 2020

  • MUDIK

Liburan ke Indonesia ini semacam rencana tahunan sejak tahun 2016 yang entah kapan bisa terealisasi haha. Ya sudahlah tidak apa, tiap tahun dibuat rencana. Siapa tahu 2020 bisa mudik beneran. Ada sumbangan amin?

  • KURSUS

Menyelesaikan kursus yang sudah berjalan sekarang, semoga langsung lulus ujian tidak sampai mengulang karena harganya sangatlah mahal. Selain kursus tersebut, kursus bahasa Belanda gratisan dari pemerintah juga semoga selesai tahun ini dan bisa ke langkah selanjutnya yaitu ujian bahasa Belanda level B2. Ada lagi kursus yang ingin saya ikuti berhubungan dengan pendidikan anak-anak, juga satu kursus lagi berhubungan dengan New Product Development. Kok rasanya antara kursus satu dan lainnya ga nyambung ya haha ya sudahlah tak mengapa. Tahun 2020 saya belum tahu sudah bisa mulai cari pekerjaan atau belum, jadi ingin memaksimalkan ambil kursus saja dulu.

  • BACA BUKU

Baca buku seperti biasa, ikut Reading Challenge di Goodreads. Tahun 2019 sudah lunas menyelesaikan target 50 buku, jadi 2020 mau santai, cukup target 20 buku.

  • NULIS BLOG

Nulis blog semoga masih jalan terus. Minimal seminggu sekali. Kalau tidak menulis blog rasanya ada yang hampa *tsaahh!

  • TURUN BERAT BADAN (BB) 25KG

Sebenarnya saya tidak tahu pasti sih selama dua tahun terakhir berapa kenaikan BB, setahun belakang memang sengaja tidak menimbang. Saya tulis 25kg sebagai perkiraan, bisa lebih bisa kurang. Karena 2020 sudah tidak ada alasan untuk berginuk-ginuk ria, jadi saatnya mulai atur pola makan dan makin kencang olahraga. Syukur-syukur kalau tahun ini bisa ikut Half Marathon. Cukuplah dua tahun punya badan melar haha mari kembali ke badan singset seperti sedia kala…. ini dengan catatan kalau saya ga kebanyakan rebahan ya haha.

  • JALAN-JALAN

Seperti biasa, target tidak muluk-muluk, minimal bisa mendatangi satu negara baru. Sudah ada di daftar, mudah-mudahan terlaksana. Selebihnya, ya paling mendatangi negara-negara tetangga tapi ke kota yang baru.

  • KELUARGA

Tidak ada rencana khusus di keluarga kami. Doa dari tahun ke tahun tetap sama. Semoga semuanya diberikan kesehatan yang baik, ikatan dalam keluarga selalu baik dan semakin baik, bahagia semuanya, hidup saling berdampingan dalam suka duka sampai akhir hayat.

  • TEGAK IBADAH DAN BERUSAHA BERMANFAAT

Tahun bertambah, umur berkurang, harusnya makin kencang ibadah. Tidak tahu sampai kapan diberikan kesempatan hidup, jadi lebih baik berusaha bermanfaat untuk diri sendiri, Sang Maha Pencipta dan orang-orang sekitar. Semakin berusaha keras mengendalikan nafsu merusak baik dari segi perkataan maupun perbuatan. Harus semakin kencang melakukan hal-hal yang berguna. Hidup di dunia tidak abadi.

Sejauh ini baru itu rencana saya untuk tahun 2020. Rencana-rencana lainnya akan muncul sambil jalan. Jadi, jalani saja dulu.

Cheers untuk 2020!

5CC5F1A1-D199-4D72-9EFF-6CC08BB46AA0

-2 Januari 2020-

 

 

 

 

Makan Malam Natal 2019

Salmon panggang, roti, acar timun, daun dili

Bangun terlalu pagi, serumah masih tidur semua. Daripada nganggur, nulis blog saja *tsahh biar nampak rajin. Nulis cepet-cepetan saja ya, yang baru tadi malam terjadi. Makan malam Natal 2019. Di Belanda biasanya makan malam Natal itu pas malam tanggal 24, kumpul keluarga atau teman-teman. Tapi banyak juga pas tanggal 25 malam. Kami yang kedua. Jadi kami mengundang beberapa keluarga dekat (tidak semua) untuk makan malam di rumah, pas Natal hari pertama. Natal hari kedua, seluruh keluarga besar (yang tidak terlalu besar) kumpul makan di restoran. Saya pernah menuliskan makan Malam Natal tahun 2016 di sini. Nah, menu makan malam kali ini, saya pilih yang gampang-gampang saja. Dengan kekuatan Oven, cringg!! Matang. Semua menu ini, saya baru pertama mencoba resepnya. Jadi harap maklum ada yang diluar ekspektasi (agak gagal haha). Semua resepnya, saya intip dari majalah Aller Hande (Majalah supermarket Albert Heijn. Bisa cek juga di websitenya. Ada tutorial videonya juga.) dan saya modifikasi sedikit-sedikit sesuai situasi dan kondisi.

Makan malam, Natal 2019
Makan malam, Natal 2019

Pembuka: Roti dan salmon asap. Knolselderijsoep (sup umbi seledri)

Utama: Beef Wellington (saus nyontek Jamie Oliver), Potato gratin, Chicken roulade, Brussel Sprouts Kol Wortel panggang pake Mint.

Penutup: Chocolademousse (yg agak gagal haha)

img_1879

Saya bahas satu persatu ya resepnya (tanpa takaran).

 

A. MAKANAN PEMBUKA :

  • Camilan : Roti dan Salmon asap

Sebagai teman ngobrol sebelum masuk ke menu makanan. Hanya Salmon asap ditaruh diantara roti, diberi acar timun dan daun Dili.

Salmon panggang, roti, acar timun, daun dili
Salmon panggang, roti, acar timun, daun dili

 

  • Knolselderijsoep

Makanan pembukanya saya buat Knolselderijsoep : Sup umbi seledri (silahkan gugling bentuknya). Masaknya gampang. Knolselderij potong2. Masukkan ke tumisan bawang bombay dan bawang putih. Oseng sebentar, lalu beri air. Beri bumbu : garam, merica, kumin, pala, kaldu sayur, potongan seledri. Masak sampai ubi empuk. Kalau sudah empuk, matikan api lalu masukkan potongan apel merah. Jika sudah agak dingin, blender. Masukkan lagi ke panci, panaskan, tambahkan krim atau santen. Sajikan hangat.

Knolselderijsoep
Knolselderijsoep

B. MAKANAN UTAMA

  • Beef Wellington

Beef setelah dikeringkan dengan tisu dapur, olesi dengan garam merica dan bumbu-bumbu bubuk sesuai selera. Panaskan di penggorengan dengan butter, daun Salie, rosemarin, bawang putih. Jika sudah kulitnya coklat, angkat. Isiannya saya pake : jamur dioseng pake peterselie, bieslook. Blender semua. Urutan pengerjaan : Kalkun bacon (resep asli pake Raw Ham, saya ganti kalkun bacon) ditata supaya nanti bisa ngewrap beefnya, lumuri pake blenderan jamur, taruh beefnya, lalu wrap sampai ketutup. Taruh di kulit pastri. Tutup semuanya. Lumuri pake kocokan telur. Panggang 200°C selama 40 menit atau tergantung mau seberapa matang beefnya. Kalau saya, temperatur beef 60°C (cek menggunakan termometer daging).

Sajikan dengan saus. Ini resep sausnya nyontek punya Jamie Oliver. Sayap ayam dipanggang 180°C 30 menit dengan Batang Seledri besar, wortel, bunga pekak, tijm, rosemarin, bawang bombay. Keluarkan dari oven, hancurkan kasar, kasih tepung terigu tergantung kekentalan saus yang diinginkan (saya, 3 sendok makan), kasih air, masak sampai aromanya keluar (saya masak pakai api kecil selama 2 jam). Jangan lupa kasih garam merica dan bumbu lainnya sesuai yang diinginkan. Jadilah saus bumbu campur.

Di bawah ini penampakannnya. Beef Wellingtonnya baru keluar dari oven. Harus diistirahatkan dulu minimal 10 menit.

Beef Wellington
Beef Wellington
  • Chicken Roulade

Ini saya beli yang sudah jadi. Tinggal panaskan di wajan pakai buter sampai kecoklatan, lalu panggang di oven 200°C selama 1 jam. Setengah jam balik permukaan. Cek suhu ayam, minimal 74ºC. Sempat bingung pas mau manasin di wajan. Saya lihat kok ada plastiknya. Musti dibuka atau tidak usah. Dari tutorial sih tidak dibuka. Tapi tetep takut mbledos. Nanya ke grup buk ibuk. Anis dan Rurie bilang tidak usah karena itu kolagen. Ternyata bener, tidak mbledos saudara-saudara. Maklum, masih amatiran ini haha.

Chicken Raulade
Chicken Raulade
  • Potato Gratin

Kentang (Vastkokende aardappelen1kg potong tipis. Masukkan ke adonan slagroom segar (krim kocok segar) yang sudah dibumbui garam merica pala bawang putih daun tijm segar. Pinggan tahan panas olesi dengan bawang putih lalu buter. Masukkan potongan kentang tadi di pinggan tahan panas, tata, lalu siram dengan sisa cairan. Tutup dengan keju parut (saya pake jenis Gruyere) dan potongan buter. Panggang 200°C selama 1 jam. 30 menit pertama, tutup dengan aluminium folie. 30 menit selanjutnya, buka aluminium folie.

Potato Gratin
Potato Gratin
  • Sayuran (Wortel, Kol, Brussel Sprouts)

Ini biasa, cuma dipanggang 180ºC selama 45 menit, balik pas 30 menit. pakai bumbu bubuk macam bawang putih, garam, merica, dan bubuk lainnya. Saya tambahkan potongan daun mint dan balsamik, di wortelnya diberi sedikit madu. Yumm enak!

img_1875

 

C. MAKANAN PENUTUP : CHOCOLADEMOUSSE

Alias Coklat Mouse. Gampil sih ini. Tidak perlu trik-trik mematikan haha. Cuma butuh mixer. Tidak perlu dipanggang. Silahkan google, resep bertebaran di mana-mana. Punya saya agak gagal, tidak terlalu terasa mouse nya, malah semacam brownie. Sepertinya agak salah pas nyampur kocokan putih telur dan adonan coklat. Kurang penghayatan dan kurang kalem haha. Masih enak kok dimakan. Ludes. Saya sajikan dengan krim kocok dan Frambozen.

Chocolademousse
Chocolademousse

 

Begitulah makan malam Natal 2019 dengan menu anti ribet-ribet tapi semua kenyang, puas, dan senang. No banyak cuci peralatan dan no encok setelahnya. Masak semua sendiri tidak berasa capek karena ya semuanya masuk oven. Jadi bisa santai. Persiapannya pun tidak lama. Beda kalau masak makanan Indonesia untuk acara, setelahnya encok haha.

Het was super gezellig! Setelah buka-buka kado, sampai jam 9 malam tamu-tamu baru pulang. Senang berbincang-bincang tertawa saling bertukar kabar.

Selamat Natal hari kedua dan selamat liburan buat semua.

-26 Desember 2019-

Pasar Natal di Nürnberg – Jerman

Nürnberger Christkindlesmarkt

Tahun ini, karena tidak bisa liburan terlalu jauh tempatnya, kami memutuskan untuk berkunjung ke Pasar Natal. Nürnberg yang ada di Jerman adalah pertama yang terlintas. Sejak tahun 2015 sebenarnya kami merencanakan ke pasar Natal di Nürnberg yang merupakan salah satu terbesar, terbaik, bahkan tertua di Dunia. Namun tahun 2015 kami berkunjung ke pasar Natal yang ada di KÖLN.

Hampir setiap akhir tahun kami memang menyempatkan diri untuk ke pasar Natal. Tahun 2015 kami ke pasar Natal di Koln – Jerman. Tahun 2016 ke Royal Christmas Fair di Den Haag (yang sebenarnya tidak terlalu terlihat sebagai pasar Natal). Lalu tahun 2017 kami tidak pergi ke mana-mana. Tahun 2018 kami ke Natalis Notabilis, pasar Natal yang ada di Malta. Kami memang sama-sama menyenangi suasana pasar Natal. Seperti benar-benar merasakan dan terasa kesyahduan bulan Desember.

Perjalanan dari tempat tinggal kami ke Nürnberg total 8 jam berkendara. Setelah melewati Frankfurt, sudah mulai terlihat di kanan dan kiri hamparan putih. Ya, salju turun sepanjang sisa perjalanan menuju Nürnberg. Tentu saja kami sudah tahu dengan melihat prediksi cuaca yang meramalkan akan turun salju di Nürnberg selama dua hari.

Nürnberg Christmas Market
Nürnberg Christmas Market

Kami sampai di hotel sudah menjelang malam, jadi kami memutuskan langsung istirahat. Keesokan paginya, baru kami menjelajah kota Nürnberg dengan tujuan utama pasar Natal. Salju benar-benar deras turun. Antara senang dan jengkel juga. Senang karena merasa : wah pas ya waktunya ke pasar Natal salju juga turun. Jadi berasa seperti di film-film berlatar belakang suasana Natal *hahaha korban film-film Hollywood. Jengkelnya jadi susah mau mengeluarkan kamera. Sayang, takut kamera basah. Akhirnya ya sesekali tetap dikeluarkan. Meskipun salju yang turun lumayan deras dan hampir sepanjang hari, tapi saljunya jenis yang basah. Jadi sesampainya di tanah langsung cair.

Seperti biasa saya tetep norak donk kalau melihat salju. Hati rasa berbunga-bunga, padahal ya sebenarnya merasa ribet karena kacamata basah (saya gampang kesal kalau kacamata basah). Tak apalah, anggap saja White (menjelang) Christmas, jadi dinikmati saja.

Pasar Natal di Nürnberg benar-benar super besar. Ada beberapa bagian yang letaknya berdekatan satu sama lain. Kami mendatangi tiga pasar Natal yaitu Pasar Natal khusus anak-anak, pasar Natal yang bekerjasama dengan beberapa Negara, dan pasar Natal umum. Saking besarnya pasar Natal yang umum ini, rasanya kami sudah berjalan lama mengikuti setiap baris stan-stan yang ada di sana, tapi kok tidak ada habisnya. Sampai kami berpikir jangan-jangan tersesat haha.

Nürnberg Christmas Market
Nürnberg Christmas Market

Nürnberger Kinderweihnacht

Pasar Natal untuk anak-anak, lokasinya tidak terlalu besar. Stan-stan yang ada juga tidak terlalu banyak. Ada dua permainan utama di lokasi ini, yaitu Carrousel dan permainan kereta api. Sewaktu kami sampai di sana, berbarengan dengan rombongan anak-anak dari berbagai macam sekolah. Jadinya ya ramai sekali dan riuh.

Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt

Nürnberger Christkindlesmarkt

Tahun ini, pasar Natal di Nürnberg diselenggarakan dari tanggal 29 November sampai 24 Desember 2019. Seperti yang saya tulis sebelumnya, pasar Natal di Nürnberg terkenal sebagai salah satu yang terbesar, terbaik, dan tertua di dunia (sudah ada sejak abad ke 16). Jika dibandingkan dengan yang ada di Koln, meskipun memang hampir sama, tetapi yang di Nürnberg jauh lebih besar dan lebih meriah.

Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt

Salah satu yang membuat kami selalu semangat untuk berkunjung ke Pasar Natal setiap akhir tahun, selain ingin merasakan suasananya, juga suami selalu mengincar Glühwein (minuman yang terbuat dari campuran anggur merah, kulit jeruk, lemon, rempah seperti kayu manis, cengkeh, adas. Glühwein disajikan dalam keadaan panas di cangkir). Kata suami : Apalah artinya pasar Natal tanpa Glühwein. Kesempatan buat dia minum Glühwein sebanyak-banyaknya.

Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt

Begitulah cerita singkat (dan lebih banyak foto-fotonya) kunjungan kami ke pasar Natal yang ada di Nürnberg, Jerman. Tahun depan semoga kesampaian ke Pasar Natal di tempat lainnya (atau di negara lainnya).

Buat teman-teman yang merayakan, saya mengucapkan Selamat Natal.

Ik wens alle vrienden en bekenden

Prettige Kerstdagen!

Mejeng di depan pohon Natal di dalam Mall di Den Haag
Mejeng di depan pohon Natal di dalam Mall di Den Haag

-22 Desember 2019-

Perjalanan Satu Dekade (2010 – 2019)

Sunset di Karimunjawa

Kalau yang lainnya mengunggah foto awal dan akhir dekade, saya menuliskan kisah perjalanan saja. Sekalian kilas balik. Lumayan ternyata, membongkar ingatan dan menata perasaan karena perjalanan selama 2010 sampai 2019 turun naik.

KARIR

Setelah hampir 8 tahun (sejak lulus kuliah) bekerja di dua perusahaan berbeda (yang terakhir yang paling lama), pada era permulaan dekade, akhirnya saya memutuskan untuk istirahat sebentar dari dunia kerja dan mencari tantangan lainnya. Alasannya, karena saya mulai bosan dengan ritme kerja yang gampang ditebak (jadi kurang tantangan) dan satu alasan lainnya. Kesempatan yang terbuka adalah melanjutkan kuliah S2. Sebenarnya waktu itu saya ragu apakah bisa otak yang biasanya dipakai untuk bekerja lalu beralih menjadi anak kuliahan lagi. Setelah membaca dan mencari jurusan apa yang sekiranya cocok dengan kondisi saya, terpilihlah satu jurusan yang berbeda dengan latar belakang S1 tetapi berhubungan dekat dengan pekerjaan sebelumnya.

Saya berhenti bekerja dengan perasaan puas karena mencapai satu posisi yang saya perjuangkan, inginkan, dan tidak mengecewakan, pada saat merintis karir dari nol. Setidaknya, saya berhenti kerja dengan penuh kebanggaan. Saat kuliah S2, sebenarnya banyak sekali hal terjadi yang berhubungan dengan dunia akademis. Namun, untuk menghindari polemik karena berhubungan dengan pihak-pihak tertentu, lebih baik tidak saya ceritakan secara detail. Intinya, setelah berpikir selama kurang lebih 3 bulan, saya mantab melepaskan kesempatan untuk berkarir di dunia akademis. Alasannya, berhubungan dengan pembahasan selanjutnya, yaitu kehidupan pribadi.

Cerita kelulusan S2, pernah saya tulis di siniLulus S2 merupakan salah satu pencapaian  besar dalam hidup saya, karena prosesnya yang cukup berliku, belum lagi LDM-an dengan suami. Syukurlah akhirnya selesai juga. Meskipun berliku, namun masa S2 adalah salah satu waktu terbaik dalam hidup saya. Bertemu dengan teman-teman baru yang rasa saudara. Menyadari bahwa sesungguhnya saya ini memang suka sekali belajar dan mempelajari ilmu baru. Yang tidak saya suka adalah bagian ujiannya.

Pindah ke Belanda, sengaja saya tidak langsung mencari kerja. Leyeh-leyeh dulu sambil serius belajar Bahasa Belanda. Selain harus menyelesaikan kewajiban lulus semua ujian integrasi, juga sebagai modal saya berkomunikasi sehari-hari di sini. Setelah lebih dari 6 bulan, saya mulai percaya diri untuk ikut beberapa kegiatan sukarelawan, sebagai sarana melatih bahasa Belanda secara langsung dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Cerita tentang kegiatan sukarewalan yang pernah saya ikuti, bisa di baca di sini dan di sini. Sebelum satu tahun, saya sudah menyelesaikan 5 ujian dari total 6 ujian. Untuk bahasa Belanda, saya lulus tingkat B1. Hal-hal yang berkaitan dengan ujian Staatsexamen I (B1) bisa dibaca di sini. Ujian yang terakhir, baru saya selesaikan akhir tahun 2018. Awal tahun ini saya sudah menerima diploma kelulusan dan akhir tahun saya sudah proses Permanen Residen.

Selain itu, berbarengan saat aktif di beberapa kegiatan sukarelawan, saya juga mulai mengirimkan lamaran pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pekerjaan sebelumnya dan pendidikan. Puluhan mendapatkan penolakan. Ada yang sedari awal sudah ditolak, ada yang setelah melalui beberapa tes lalu tidak lulus. Alasannya bermacam-macam, dari yang overqualified sampai alasan bahasa Belanda yang kurang menurut mereka. Pernah dua kali diterima sebenarnya, tapi dari saya yang tidak mau melanjutkan. Alasan saya waktu itu, satu tempat gajinya jauh lebih kecil dibandingkan tanggungjawabnya yang besar. Sedang tempat lainnya, masalah jadwal yang tidak cocok bertabrakan dengan jadwal sekolah bahasa Belanda. Benar-benar perjuangan mencari pekerjaan di negara ini.

Di tengah perjuangan nyusruk-nyusruk mencari kerja, salah satu tempat saya berkegiatan sukarelawan, membutuhkan pekerja. Saya mendapatkan tawaran untuk mengisi posisi tersebut. Wah, tentu saja saya menyambut dengan senang hati. Dari sukarelawan, lalu mendapatkan gaji. Saya tidak punya pengalaman maupun latar belakang pendidikan, karenanya saya sering dikirim training ini dan itu. Lumayan, jadi bisa belajar banyak hal baru dan mendapatkan sertifikat. Saya bekerja di Panti Jompo (Verpleeghuis) dan belajar banyak hal di sana. Bukan hanya teori, tapi juga mengenal karakter manusia selain juga menempa kesabaran. Ya bagaimana, yang diurusin Oma dan Opa.

Dua tahun di sana, saya akhirnya mengundurkan diri karena satu hal. Dua tahun yang penuh pembelajaran, sedih senang bersama para Oma Opa dan kolega-kolega. Setelah memutuskan tidak bekerja di luar, saya berkarir di rumah sejak dua tahun terakhir (sampai kondisi sudah memungkinkan untuk bekerja lagi di luar rumah). Meskipun rasanya rak uwis uwis ada saja kerjaan yang belum beres, bekerja di rumah sangat saya nikmati prosesnya, detil perubahannya, dan bahagia menjalaninya. Bekerja di rumah membuat saya belajar banyak hal baru setiap saat. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada menjalani sesuatu yang sesuai panggilan hati.

Setiap fase kehidupan, selalu saya lakukan secara maksimal. Jadi setiap keputusan yang saya ambil, apapun itu, sejauh ini tidak pernah saya keluhkan. Setiap orang punya timeline yang berbeda, karenanya saya selalu menjalani setiap fase kehidupan dengan sebaik-baiknya, secara sadar, dan tidak ada penyesalan. Saya tidak perlu membuktikan apapun pada khalayak. Untuk apa, selama saya bahagia menjalani, lalu apa yang perlu dibuktikan. Selain itu, setiap keputusan yang saya ambil, selalu mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat, termasuk suami.

KEHIDUPAN PRIBADI

Tahun 2010, awal mula saya memakai jilbab. Bukan, bukan karena saya mendadak berubah menjadi relijius. Dari awal saya tidak mentasbihkan diri sendiri sebagai seorang yang relijius ataupun menyebut ini sebagai bentuk hijrah. Jauh dari hal-hal tersebut. Saya menyebutnya sebagai bagian dari perjalanan spriritual dan beragama. Apapun yang saya lakukan berhubungan dengan dua hal tersebut, satu sebagai pegangan saya : Ibadah yang saya lakukan kepada Tuhan, seharusnya tercermin dalam keseharian saya berhubungan dengan manusia, tumbuhan, hewan, semuanya yang ada di alam ini. Menjaga hubungan vertikal dan horisontal. Jika dalam keseharian masih ada hal-hal tidak baik yang saya lakukan (secara sengaja), berarti hubungan vertikal saya pun harus saya perbaiki menjadi lebih baik. Walaupun memang pada prakteknya, banyak hal-hal tidak baik yang sengaja saya lakukan, meskipun mulai menyusut…. sedikit haha. Ya inilah proses. Hari ini harus lebih baik dari hari kemaren, bukan?

Dunia percintaan, ya seperti itulah. Sejak rentang 20an memang tidak ada cahaya terang, byar pet penuh ketidakjelasan, dengan beribu macam alasan. Dari perbedaan agama, keluarga kedua pihak yang tidak menyetujui, saya yang tiba-tiba males, sampai alasan yang kadang kalau ingat tetap membuat saya heran : katanya tidak PD karena pendidikan saya terlalu tinggi dan pengalaman kerja saya membuat pihak lelaki minder. Ya sudahlah, berarti memang mereka bukan jodoh saya.

Saat serius kuliah, ndilalah jodoh saya muncul. Meskipun berbeda benua, kalau sudah berjodoh memang dimudahkan ya jalannya. Delapan bulan sejak awal berkenalan, akhirnya kami menikah. Saya menikah umur 33 tahun. Bersyukur menikah saat umur tidak lagi muda, sudah mengerjakan hal-hal yang ingin dikerjakan saat masih single. Sudah berambisi ini dan itu. Jadi ketika sudah menikah, tidak lagi penasaran dan bisa mengerjakan hal-hal lainnya. Saat ini, kami sedang menjalani menuju tahun keenam pernikahan. Semoga kami berjodoh sampai tua dalam keadaan sehat, bahagia, dan langgeng.

Inilah yang membuat saya melepaskan kesempatan berkarir di bidang akademis, karena menikah dan pindah negara. Hidup selalu saja dihadapkan dengan pilihan. Saya memilih untuk meninggalkan Indonesia dan menetap di Belanda, bukan hanya sekedar karena rasa cinta pada suami, juga karena banyak pertimbangan lainnya salah satunya adalah ada hal yang ingin saya raih di masa depan di negara ini. Pada akhirnya, saya mantab dengan pilihan tersebut dan sampai saat ini menjalani dengan bahagia dan tanpa penyesalan.

Saat ini, hampir 5 tahun saya tinggal di Belanda. Meskipun proses adaptasi yang tidaklah mudah, saya bahagia tinggal di sini. Bagaimana tidak, keluarga saya di sini. Home is where the heart is. My heart is in The Netherlands, together with my family.

Sunset di Karimunjawa
Sunset di Karimunjawa

KEMATIAN

Salah satu sepupu terdekat saya meninggal pada awal periode dekade. Hal ini membuat saya sangat sangat terpukul. Dia meninggal diusia yang masih muda. Saya sempat sedih berkepanjangan setelahnya. Sampai kabar duka yang lain datang, Bapak meninggal tepat setahun setelahnya.

Salah satu yang menguatkan niat saya untuk berhenti bekerja dan kembali kuliah adalah meninggalnya Bapak. Saya pernah berjanji pada Bapak untuk melanjutkan kuliah minimal sampai S2. Pada akhirnya saya bisa melaksanakan janji, meskipun setelah Bapak meninggal dunia. Tahun tersebut adalah tahun terberat selama hidup saya. Bapak meninggal, Ibu kecelakaan sampai koma. Saya kembali kuliah supaya waktu lebih fleksibel untuk menemani Ibu yang dalam masa pemulihan dan saya juga harus memulihkan diri sendiri dari rasa kehilangan yang sangat besar atas meninggalnya Bapak yang mendadak tanpa ada sakit sebelumnya. Sampai saat ini (hampir 8 tahun berlalu), saya tetap dalam proses memulihkan mental (jiwa) dan mencoba berdamai dengan rasa kehilangan tersebut. Tidak mudah, tapi saat ini sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Bukan hanya kehilangan yang besar atas meninggalnya Bapak, dalam periode perkawinan, saya (dan suami tentu saja) harus kehilangan beberapa kali calon bayi kami. Saya mengalami keguguran beberapa kali dengan usia kandungan yang sudah besar. Perihal keguguran, sampai saat ini pun saya tetap dan masih belajar berdamai dengan keadaan.

Semakin banyak keluarga, teman2, kenalan yang meninggal, makin membuat saya selalu berintrospeksi. Makin membuat saya semakin menundukkan kepala tidak berpongah dalam hidup, tidak sombong pada semua yang dititipkan, dan mencoba setiap harinya berbuat baik dan lebih baik lagi bukan hanya buat diri sendiri tapi juga buat orang lain. Mau dikenang seperti apa setelah meninggal nanti. Apakah banyak yang bersenang-senang saat saya meninggal atau banyak yang menangis.

KELAHIRAN

Ada kesedihan, ada kebahagiaan. Ada kematian, ada kelahiran. Begitulah siklus kehidupan ya. Beberapa kali merasakan kesedihan yang mendalam karena kehilangan yang terdekat dalam hidup, disela-selanya, kamipun diberikan kesempatan untuk merasakan banyak kebahagiaan.

Salah satu kebahagiaan saya adalah Ibu, Adik, dan sepupu dekat bisa datang ke Belanda dalam waktu 3 tahun berturut (bergantian tentu saja) dan tinggal selama 3 bulan. Kalau adik, cuma 1 bulan. Senang di rumah ada teman ngobrol berbahasa Indonesia, nggosip-nggosip seputar kabar terkini di keluarga. Maklum, sejak pindah ke Belanda awal tahun 2015, sampai tulisan ini diunggah, saya belum pernah pulang sama sekali. Jadi, hasrat menggosip info terkini di keluarga lumayan bisa tersalurkan sewaktu mereka ke sini.

PERTEMANAN

Semakin bertambah umur, semakin tidak ngoyo perihal pertemanan. Yang ada dan seadanya saja. Apalagi sebagai perantau, sudah tidak ada waktu berdrama kumbara menyangkut hubungan sosial. Lebih baik saya menggunakan energi untuk menyetrika setumpuk baju daripada berantem hal-hal yang tak penting. Jika tidak cocok, ya sudah jangan dilanjutkan daripada mencari perkara. Yang ada dan sudah cocok saja dilanjutkan dan dipertahankan. Dihadapi saja kenyataan kalau teman datang dan pergi. Jodohnya ya segitu saja. Sejauh ini, hubungan saya dengan 3 sahabat di Indonesia yang sudah berlangsung 20 tahun, langgeng sampai sekarang dan mudah-mudahan selamanya.

Ada hal menarik selama satu dekade mengenai pertemanan ini. Meskipun tidak ngoyo perihal pertemanan, tapi saya tidak pernah menutup diri mengenal orang-orang baru. Banyak yang saya kenal lalu dari dunia blog dan akrab sampai sekarang. Banyak juga mereka yang saya kenal dari media sosial dan setelah jumpa di dunia nyata, ternyata asyik dan hubungan tetap baik sampai sekarang. Jadi, meskipun memang semakin pemilih. tapi saya tidak pernah menutup diri berkenalan dengan orang-orang baru.

TRAVELLING DAN OLAHRAGA

Pekerjaan yang terakhir di Indonesia, mengharuskan saya untuk sering melakukan perjalanan bisnis. Tentu saja, saya riang gembira menjalaninya. Karena pekerjaan itu juga, saya berkesempatan bisa berkunjung ke hampir seluruh provinsi di Indonesia. Hampir ya, masih belum semua.

Perjalanan mancanegara, sampai saat ini saya pernah mengunjungi 15 negara di dua benua. Dulu saya jalan-jalan bersama sahabat-sahabat, sekarang bersama suami. Jumlah negara tersebut masih seiprit dibandingkan total negara yang ada di dunia. Alon-alon asal kelakon, filsafat travelling saya dan suami. Semuanya disesuaikan dengan ketersediaan waktu dan dana. Kami tidak terlalu ambisi karena memang travelling bukan kebutuhan utama. Ada uang dan waktu, hayuk pergi. Kalau tidak ada, ya jalan-jalan ke danau dekat rumah saja haha. Meskipun begitu, kami tetap mempunyai impian bisa jalan-jalan keliling dunia sampai tua nanti.

Untuk olahraga, satu dekade ini saya pernah beberapa kali ikutan race lari, jarak 10km saja, belum sampai lebih dari itu. Olahraga yang saya sukai sejak dulu ya lari. Race lari yang paling berkesan adalah saat kami bulan madu lalu ikut Bromo Marathon. Saya ikut yang 10km, suami ikut yang 21km (Half Marathon). Ceritanya saya pernah tulis di sini. Selain itu, NN CPC Loop di Den Haag juga sangat berkesan buat saya. Ceritanya bisa dibaca di sini. Saat ini, saya sedang proses kembali latihan lari lagi setelah sekian lama absen. Meskipun masih turun naik niatnya, setidaknya seminggu sekali saya masih rutinkan lari. Mudah-mudahan, entah kapan, saya bisa ikut Half Marathon.

Perjalanan satu dekade yang bisa saya ceritakan hanya itu saja (yang ternyata banyak). Sengaja saya tidak cantumkan detail tahun supaya lebih terkelompok. Cerita lainnya yang lebih banyak lagi, tidak bisa saya ceritakan di sini, saya simpan untuk diri sendiri, keluarga, dan teman dekat. Meminjam istilah sekarang : saya sisakan ruang untuk privasi. Oh satu lagi yang saya rasakan perubahan selama satu dekade ini : dulu saya orangnya gaspol, dalam hal apapun : karir, emosi. Menikmati hidup dengan ambisi tinggi. Sekarang semakin lebih santai dalam menjalani hidup, terutama untuk hal-hal yang di luar kendali. Saya semakin bisa menikmati hidup dengan cara yang santai.

Menyenangkan ternyata menuliskan kilas balik seperti ini meskipun membuat campur aduk perasaan. Semoga 1 dekade kedepan, saya dan keluarga diberikan kesehatan, umur panjang, dan tetap bersama dalam suka duka.

-18 Desember 2019-

Ada yang ingin menuliskan perjalanan satu dekade juga? Saya dengan senang hati ingin membaca kisah-kisah rekan blogger lainnya.

Perkataan yang Menyakitkan

Berawal dari cuitan akun @shitlicious di twitter yang sliwar sliwer,  mempertanyakan : “perkataan apa yang menyakitkan dari orang lain tapi malah membuat bangkit?” Awalnya saya sudah mengetik jawabannya, maksudnya ikutan nimbrung. Tapi setelah diketik, lalu saya baca lagi, menjadi ragu. Akhirnya tersimpan di draft. Sehari kemudian, saya memutuskan untuk mengunggahnya. Kenapa saya sempat ragu? karena melibatkan orang dari masa lalu yang ucapannya masih teringat sampai sekarang.

Tidak disangka, dari yang hanya sekedar berbagi cerita, kok responnya dari warga twitter diluar dugaan, sampai lebih dari seribu (per tanggal tulisan ini diunggah). Saya mendapatkan banyak sekali tanggapan yang positif, juga banyak yang berbagi kisah nyaris sama dengan yang saya alami, bagian diremehkannya. Silahkan baca komen-komen dari cuitan saya (akunnya silahkan cari sendiri *haha sok misterius). Akan banyak sekali cerita-cerita yang miris. Tentang betapa orang gampang sekali melontarkan ucapan atau komentar tidak baik. Jumlah karakter di twitter terbatas, karenanya saya menuliskan secara singkat dan garis besar saja di sana. Kenyataannya lebih pilu dari yang saya tuliskan. Saya jadi ingin menuliskan secara lengkap kisah 18 tahun lalu.

IMG_1591

Alkisah, tahun 2000 saya mempunyai hubungan dengan mahasiswa S2 satu kampus tetapi berbeda jurusan. Status saya waktu itu mahasiswa D3. Kenal dia sebenarnya sejak saya masih SMA. Singkat cerita kami dipertemukan kembali oleh jalan hidup, di satu kampus lalu hubungan menjadi lebih serius. Saya tidak menceritakan secara rinci ya tentang hubungan saya dengan dia, wong sudah masa lalu. Saya hanya mau menceritakan yang berhubungan dengan apa yang tertulis di akun twitter.

Singkat cerita, Sang Ibu tidak setuju dengan hubungan kami. Ibu dia, bukan Ibu saya. Tahun 2001, terjadi sebuah percakapan antara saya dan Si Ibu, lalu ada sebuah perkataan yang tidak bakal saya lupa sejak saat itu sampai kapanpun, “Kamu kan kuliahnya D3, tidak cocok dengan anak saya yang lulusan S2. Ya minimal anak saya dapat dokter lah supaya setara dan selevel.” Saat si Ibu mengatakan tersebut, posisi anaknya memang sudah akan lulus S2. Buat saya, perkataan tersebut benar-benar menyakitkan. Seolah D3 tidak ada harganya, tidak setara, dan tidak selevel. Si Ibu juga tidak pernah menanyakan rencana ke depan saya seperti apa, seolah-olah saya tidak punya rencana untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Yang membuat saya tidak lupa adalah bagaimana Beliau meremehkan D3 saya.

Singkat cerita (haha memang sengaja ceritanya disingkat-singkat ya, karena kalau dijabarkan akan menjadi curhatan masa lalu), setelah lulus D3, bekerja sebentar lalu saya melanjutkan lagi ke S1. Lulus S1 saya bekerja di dua PMA di kota berbeda selama 8 tahun, lalu melanjutkan kuliah S2 setelah mengundurkan diri dari pekerjaan yang terakhir di Jakarta.

IMG_E9CA8831A2E9-1.jpeg

Tahun 2015 awal, saya dinyatakan lulus S2 setelah sidang tesis yang lumayan tidak terlalu rumit (tapi proses menyusun tesisnya, ampun dije sampai ingin dadah dadah ke kamera saking rumit bin ruwet). 3 minggu setelah sidang dan dinyatakan lulus, saya akan berangkat ke Belanda untuk tinggal menetap. Seminggu setelah lulus S2, karena sebuah urusan, saya pergi ke salah satu RS. Kok ya mak bedundug mak jegagik setelah 14 tahun tidak bersua, saya papasan dengan si Ibu di sana. Beliau yang menyapa saya duluan (heran kok masih ingat, padahal saya sudah berjilbab, sudah beda penampakan. Terakhir ketemu Beliau, saya pake celana jeans, kaos lengan pendek dan berambut pendek) :

Si Ibu : Mbak, Apa kabarnya? Kerja di mana sekarang?

Saya : Kabar baik Bu. Saya baru saja lulus S2.

Si Ibu : Wah, lulus S2 ya. Sambil kerja atau bagaimana?

Saya : Saya kuliah dan kerja sambilan paruh waktu, karena kuliahnya siang.

Si Ibu : Main-mainlah ke rumah, ketemu (menyebutkan nama anaknya), mungkin kalian akan berjodoh lagi.

Saya : Saya sudah menikah Bu. Suami saya juga lulusan S2.

—– hening. Si Ibu tidak berkomentar. Lalu saya lanjutkan :

Saya : Sebelum kuliah S2, saya 8 tahun bekerja di PMA. Setelah ini saya akan tinggal di Belanda mengikuti suami. Jadi, saya tidak bisa main ke tempat Ibu. Maaf Bu saya masih ada urusan. Saya duluan.

IMG_A3D4B18496A8-1

Saya lalu pamit setelah mengucapkan salam. Pertemuan yang sangat tidak disangka. Bayangkan, setelah 14 tahun lamanya setelah perkataan Beliau yang tidak mungkin akan terlupakan, seperti sudah diatur Yang Kuasa, kami dipertemukan kembali. Karena mumpung ketemu itulah saya jadi mendadak congkak hahaha. Aji mumpung kan ya, makanya saya ucapkan juga kalau suami saya lulusan S2 -yang pada kenyataannya waktu itu masih nyusun tesis dan baru sidang 6 bulan kemudian :))- Tidak lupa saya sertakan kalau akan pindah ke Belanda, jadi saya tidak bisa main ke rumahnya yang beda kota dari kota tempat kami papasan.

Saya memang tidak akan lupa apa yang Beliau ucapkan, tapi saya tidak dendam. Hanya tidak akan bisa saya lupakan. Motivasi saya kuliah S2 juga bukan karena ucapan Beliau. Saya kuliah S2 karena ingin dan ada kesempatan. Bukan karena ingin membuktikan ucapan beliau salah, wong setelah itu kami tidak ada komunikasi lagi. Kalaupun ternyata suatu hari dipertemukan kembali pada saat yang tepat, pasti memang sudah direncanakan seperti itu oleh Yang Kuasa. Semoga Beliau ingat dihari saat meremehkan D3 saya dan tahu bahwa tidak sepantasnya mengeluarkan perkataan tersebut. Yang saya ucapkan pada saat bertemu Beliau bukan dalam rangka balas dendam. Saya hanya mengatakan fakta, bahwa perempuan yang 14 tahun lalu berpendidikan D3 dan Beliau bilang tidak setara dengan anaknya yang level S2, saat bertemu kembali sudah menyelesaikan S2 dan mempunyai suami (akan) lulusan S2 -tapi bukan anaknya-.

Selama hidup, saya sering mendapatkan respon yang meremehkan. Entah karena pembawaan saya yang tidak meyakinkan untuk berprestasi atau saya yang terlalu selengekan jadinya sering disepelekan. Seiring berjalannya waktu, toh pada akhirnya saya bisa membuktikan pada diri sendiri bahwa apa yang mereka sangkakan tidaklah terbukti, bahkan bisa jauh melampaui dari apa yang mereka ucapkan. Maklum, jiwa tidak suka dipandang sebelah mata jadi muncul kalau ada yang meremehkan.

Satu tambahan cerita saat saya bekerja. Ada satu kolega yang selalu bilang kalau saya tidak akan berhasil naik jabatan karena saya nampak biasa-biasa saja dan tidak cemerlang. Ditambah lagi, menurut dia naik jabatan di kantor tersebut susah. Dia menyebutkan buktinya dia sendiri, sudah lama di sana tapi posisi tetap sama. Saya tidak mendengarkan perkataan dia meskipun ya kesel juga kok diremehkan seperti itu. Saya bekerja seperti biasa, sebaik-baiknya. Singkat cerita, selama 7 tahun di sana, yang awalnya masuk sebagai staff, setiap tahun mendapatkan promosi karena kerja keras terbaik membuahkan hasil. Sewaktu saya mengundurkan diri untuk melanjutkan kuliah, posisi saya jauh di atas dia. Hal tersebut membuktikan, dia meremehkan saya tidak bisa naik jabatan, toh nyatanya kalau bekerja sebaik-baiknya, pihak managemen akan melihat dan menilai dengan adil. Berarti ya dia sendiri yang tidak kompeten untuk bisa naik jabatan.

Yang ingin saya sampaikan dari tulisan kali ini, berhati-hatilah dalam melontarkan ucapan atau komentar. Jika tidak bisa mengucapkan yang baik-baik, lebih baik diam saja. Bisa jadi yang kita ucapkan tidak baik dan meremehkan, akan diingat sepanjang masa oleh pihak yang menerima komentar. Tahan lidah dulu dan pikirkan lagi kalau ingin berkomentar. Kalau di dunia maya, tahan jempol dulu dan pikirkan berulang sebelum diunggah, apakah kedepannya akan membawa kebaikan atau justru keburukan, ada manfaatnya atau tidak. Peristiwa yang saya alami dengan si Ibu memberi pelajaran berharga bahwa memang tidak seharusnya meremehkan orang berdasarkan status sosial, jenjang pendidikan, atau apapun itu. Intinya, jangan gampang meremehkan atau merendahkan orang lain karena menilai diri sendiri terlalu tinggi.

Kita tidak tahu takdir kedepan seperti apa. Jalan hidup orang tidak bisa tertebak. Siapa tahu yang diremehkan di masa lalu, jadi sukses di masa depan dengan jalan yang dipilihnya, meskipun tetap terngiang selalu perkataan yang terlontarkan belasan tahun lalu. Bukan menyimpan dendam, hanya tidak bisa melupakan.

Bijaksanalah menggunakan lidah dan jempol kita.

-8 Desember 2019-

Ada yang mempunyai kisah serupa dengan saya atau hampir mirip atau malah pernah menjadi pihak yang melontarkan omongan kurang menyenangkan?

 

 

Agama Suamimu Apa?

Sabtu kemaren, saya mengundang makan siang di rumah beberapa teman baru yang saya kenal dari twitter. Tidak ada acara khusus, hanya undangan makanan siang. Pembicaraan selama hampir 5 jam, sangat seru. Tidak ada putus-putusnya. Segala macam topik kami bahas. Termasuk salah satu topik yang akhir-akhir ini sangat sensitif di Indonesia, perihal agama.

Ketika mengundang mereka ke rumah, tidak terpikirpun untuk mempertanyakan latar belakang tentang agama mereka. Sejak kecil, saya tidak mempermasalahkan teman atau kenalan saya beragama apa. Siapapun boleh bertandang ke rumah kami, kecuali maling tentu saja. Orangtua saya tidak pernah mengajarkan untuk memilih-milih teman berdasarkan agama. Salah satu sahabat saya sejak 20 tahun lalu bahkan beragama Kristen. Ketika saya memutuskan berjilbab, itu tidak mengubah hubungan kami, tidak serta merta saya memutuskan yang terjalin selama in. Saya tetap bersahabat dengannya. Selama ini, kriteria utama saya dalam memilih teman bukanlah perkara agama. Melainkan kepribadiannya, budi pekertinya.

Membaca berita di Indonesia akhir-akhir ini yang mempertanyakan segala sesuatunya berdasarkan agama, membuat saya sesak dan gelisah. Hati saya berontak. Mencari kos-kosan, ditanyakan agama, jika tidak seagama dengan pemilik kos, tidak diterima. Mau mendaftar pekerjaan, dipentingkan seagama. Jika tidak, akan ditolak. Tidak menyoal apakah kemampuannya bagus atau tidak. Entahlah, sebagai orang yang sudah 5 tahun belum pulang lagi ke Indonesia, saya semakin tidak mengenal negara saya dari sisi itu. Semakin tidak saya pahami masyarakat di sana seperti apa. Sangat berbeda dengan 5 tahun lalu saat saya merantau jauh ke sini. Dulu, tanpa pertanyaan agama, semua baik-baik saja. Saat ini, rasanya semua selalu ujung-ujungnya agama. Kembali lagi, itu yang saya baca di media dan pengalaman beberapa orang.

Pertanyaan tentang agama ini, juga saya dapatkan sejak menikah. Tentu saja bukan saya yang ditanya, tetapi tentang suami. Sebelum menikahpun, ada kenalan dari kampus yang terang-terangan bertanya,”Calon suamimu agamanya apa?” saat tahu calon suami saya WNA. Setelah menikah, pertanyaan berganti menjadi,”suamimu agamanya apa?” juga sering saya dapatkan, bahkan sampai saat ini. Di Belanda, pertanyaan tersebut tentunya saya dapatkan saat papasan dengan orang Indonesia dan hanya berbincang sesaat. Kalau pembicaraan sudah mengarah ke sana, saya akan langsung jawab, “pertanyaan terlalu pribadi, saya tidak akan jawab.” Buat saya, pertanyaan tentang agama ini sangatlah pribadi, apalagi yang ditanya tentang suami saya. Bukan hak saya untuk menjawab. Sama halnya ketika banyak pertanyaan yang saya dapatkan,”suamimu sudah sunat?” Itupun sudah diluar nalar saya, bagaimana bisa orang-orang tersebut menanyakan hal yang tidak layak untuk ditanyakan. Itu bukan urusan mereka kan?. Sudah melampaui batas-batas kesopanan. Katanya orang Indonesia adalah bangsa yang punya unggah ungguh dan sopan santunnya tinggi banget, tapi segelintir orang dengan gampangnya menanyakan perihal sunat. Punya pengaruh apa suami saya sudah sunat apa belum dengan kehidupan mereka.

Tadi malam menjelang tidur, saya berbincang dengan suami perkara agama ini. Kalau hidup di Indonesia, mungkin keluarga kami sudah mendapatkan penolakan di sana sini karena kriteria agama yang tidak “layak” tinggal ditengah-tengah masyarakat. Pernikahan saya akan dipertanyakan keabsahanannya dari sisi kehidupan beragama, suami saya ke manapun melangkah akan dipertanyakan agamanya apa, bahkan tidak mungkin kedepannya keturunan kami akan dikucilkan dari pergaulan karena memilih berbeda dengan kebanyakan masyarakat di sana. Terus terang jika memikirkan hal tersebut, hati kecil saya selalu menangis, sedih. Beberapa kali saya juga mendapatkan kata kunci pencarian di blog ini tentang agama suami saya : Apa agama suami blog denald. Bahkan agama sayapun ada yang penasaran : agama Deny apa?.

Kemana keberagaman agama yang saya kenal sejak kecil, tidak mempersoalkan mau makan dengan mereka yang berbeda agama, tidak mempersoalkan berteman dengan yang berbeda keyakinan, tidak mempertanyakan agama saat ingin menolong orang yang sedang kesusahan. Pemikiran saya tentang agama masih sama sejak remaja sampai saat ini : Agama itu perkara panggilan hati, bukan paksaan apalagi didapat dari garis keturunan. Agama itu pilihan, bukan kewajiban. Ada yang memilih beragama, ada yang memilih beragama tertentu, ada yang memilih percaya pada alam semesta, semuanya hak masing-masing orang. Seharusnya itu tidak menjadi halangan ataupun sebuah penghalang terhadap apapun. Seharusnya.

Jika saya mempertanyakan agama setiap orang yang akan bertandang ke rumah atau mereka yang ingin saya undang ke rumah, sabtu kemaren saya tidak akan belajar banyak hal dari mereka karena memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda dengan saya. Dari pembicaraan selama 5 jam, saya belajar tentang kehidupan dari pengalaman mereka yang berlatarbelakang beragam. Saya belajar tentang hidup menjadi perantau, jatuh bangun, dan suka duka di negeri ini.

Harapan saya perihal agama di Indonesia, semoga semuanya kembali seperti semula. Saling guyub antara agama satu dan lainnya. Kembali paham esensi beragama. Saling hidup bersandingan tanpa harus mempertanyakan agama satu sama lain. Tahu batasan masing-masing tapi tidak terkungkung oleh batasan tersebut. Melebur dengan damai.

Semoga saat kami ada kesempatan mudik ke Indonesia, tidak ada lagi pertanyaan yang sama saat 5 tahun lalu dia berkunjung ke sana, “Agama suamimu apa?” Semoga beragama ataupun tidak beragama, tidak menjadi sebuah persoalan besar. Semoga perilaku yang baik dan punya sopan santun yang baik sudah mencukupkan. Semoga kami diterima dengan sewajarnya meskipun kami memilih berbeda dengan mereka. Memilih untuk tidak menjadi bagian atau golongan manapun. Semoga.

-2 Desember 2019-