Minibieb : Perpustakaan Mini di Belanda

Minibieb

Dalam bahasa Belanda, perpustakaan adalah Bibliotheek atau sering disingkat Bieb (baca : Bib). Nah jika diartikan, Minibieb adalah perpustakaan mini. Maksudnya gimana nih? Jangan dibayangkan perpustakaan mini adalah sebuah ruangan kecil yang penuh dengan buku dan kita bisa meminjam buku-buku tersebut. Perpustakaan mini di Belanda adalah sebuah lemari kecil berkaca (biasanya dua atau tiga rak atau bahkan ada yang lebih besar) yang di dalamnya berisi buku-buku (kebanyakan dalam bahasa Belanda). Lemari buku ini dibuat oleh perorangan atau komunitas atau bahkan perusahaan dan diletakkan di tempat-tempat strategis yang dilewati orang-orang, misalnya di pinggir jalan besar, depan rumah, pojokan jalan  bahkan di taman bermain luar ruangan atau tempat di ruang publik lainnya. Yang saya lihat selama ini seringnya diletakkan di depan rumah orang yang mempunyai inisiatif membuat minibieb.

Minibieb
Minibieb di depan rumah

Lemari kaca yang berisi buku-buku ini tidak dalam keadaan terkunci. Jadi siapa saja bisa meminjam dan mengembalikan kapanpun setiap saat. Bahkan, siapapun juga bisa meletakkan buku yang sekiranya sudah tidak ingin mereka simpan lagi di rumah. Karena tidak dikunci, jelas sistemnya saling percaya. Yang meminjam nanti akan mengembalikan lagi jika sudah selesai membaca, yang mempunyai minibieb percaya bahwa buku-buku yang diletakkan akan dikembalikan atau bahkan diganti dengan buku lainnya. Apakah pernah ada kejadian minibieb ini dicuri atau tiba-tiba menghilang? Yang saya tahu, tetangga dekat rumah pernah kehilangan minibiebnya. Tapi beberapa hari kemudian ditemukan di sungai dekat rumah juga. Buku-buku masih ada lengkap di dalamnya. Jadi tidak tahu sebenarnya motivasi orang yang mengambil minibieb ini apa. Mungkin kejadian ini hanya satu dari banyak yang aman karena selama ini saya tidak pernah membaca tentang pencurian minibieb.

Minibieb
Minibieb

Lemari kaca bisa dibuat sendiri maupun membeli, tergantung lebih mudahnya bagaimana. Yang saya taruh foto-fotonya di sini adalah minibieb yang ada di sekitaran rumah, jadi lemarinya tidak terlalu besar. Namun beberapa kali saya melihat minibieb yang diletakkan di pinggir jalan raya besar itu lemarinya besar, ya seperti lemari baju berkaca berisi penuh buku. Menurut saya konsep ini sangat menarik. Jadi orang-orang yang kebetulan melewati dan punya keinginan membaca buku tidak perlu jauh-jauh untuk meminjam buku ke perpustakaan. Saya sering meminjam buku di minibieb yang ada di sekitar rumah. Seringnya buku cerita anak. Meskipun jarak rumah ke perpustakaan juga tidak terlalu jauh (hanya sekitar 200 meter dan saya sering ke sana), tapi meminjam buku-buku di minibieb dekat rumah juga mengasyikkan karena ragam bukunya juga banyak.

Minibieb
Minibieb di pinggir jalan untuk sepeda

Seiring makin banyaknya minibieb, sekarang tak kurang ada 900 jumlahnya yang tersebar di seluruh Belanda. Data ini saya baca dari portal berita AD. Tidak hanya jumlahnya yang makin bertambah sejak pertama kali minibieb ada yaitu tahun 2009, namun fungsinya saat ini juga mulai meluas tidak hanya sebagai perpustakaan mini untuk buku. Beberapa lemari kaca ini selain untuk menaruh buku, juga kadang ditemukan beberapa makanan atau bunga atau camilan yang bisa diambil juga secara gratis. Atau kalau misalkan ada yang ingin menaruh makanan di lemari ini juga bisa. Makin menarik saja fungsi dari minibieb dewasa ini.

Minibieb
Minibieb

Saya pernah mengutarakan pada suami tentang keinginan untuk memiliki minibieb di depan rumah. Jadi lumayan bisa menaruh beberapa koleksi buku yang ada di rumah dan bisa dipinjam untuk dibaca oleh mereka yang melintas depan rumah kami. Mungkin tahun depan mulai direalisasikan. Informasi tentang minibieb bisa dibaca pada website resminya.

Ada yang tertarik menerapkan konsep ini di lingkungan tempat tinggalnya? atau mungkin ada yang sudah punya di rumahnya?

-Nootdorp, 10 Februari 2019-

Empat Tahun di Belanda : Tentang Perkembangan Bahasa Belanda

Jalan kaki satu jam menjelang makan siang. Lalu makan soto (di rumah, bukan abang gerobak) dilanjutkan leyeh-leyeh baca buku menuju waktu tidur siang

Saat menulis ini, persis empat tahun sejak kedatangan saya di Belanda, untuk pindah dan menetap. Empat tahun berlalu, rasanya seperti baru beberapa bulan lalu saya sampai Schiphol, membawa hampir 60kg koper dan tas dari Indonesia. Memantapkan hati memulai hidup baru di negara yang hanya pernah saya kunjungi sekali sebelumnya, sebagai turis, selama hanya dua minggu. Kedatangan empat tahun lalu berbeda, bukan lagi sebagai turis tetapi sebagai seseorang yang memutuskan meletakkan semua yang ada di Indonesia. Berniat tidak akan menoleh lagi apa yang sudah dirintis, didapat, dan apapun yang sudah dipunya. Memulai segalanya dari nol. Meminimalisir segala keluh kesah jika memang ternyata kenyataan tidak sesuai harapan karena keputusan pindah datang dari diri sendiri. Hidup dan menikmati waktu bersama suami tercinta walaupun saat itu tidak terpikir untuk membangun keluarga lengkap dengan menghadirkan anak. Tidak tercetus keinginan punya anak, pada saat itu.

Empat tahun berlalu. Apakah terasa? satu tahun pertama, sangat terasa. Bukan karena perkara jauh dari keluarga di Indonesia atau rindu akan makanan Indonesia. Saya sudah jauh dari keluarga saat merantau pertama kali sejak umur 15 tahun. Jadi jauh dari keluarga sudah biasa. Kangen dengan makanan Indonesia juga bukan permasalahan utama karena di kota tempat saya tinggal waktu itu, restoran Indonesia tinggal tunjuk jari saja asal bayar setelahnya dan menemukan bahan untuk memasak makanan Indonesia segampang menjentikkan jari tangan. Kendala utama saat itu adalah perbedaan bahasa dan cuaca yang bisa berubah 4 musim dalam satu hari.

Meskipun orang Belanda banyak yang bisa berbahasa Inggris, tapi buat saya belajar dan bisa berkomunikasi dengan bahasa Belanda adalah harus. Kenapa saya bilang harus? ya karena saya tinggal di sini, sehari-hari bertemu dan melakukan aktivitas dengan penduduk setempat (misalkan ke Supermarket, ke dokter, atau sekedar jalan-jalan ke taman kalau berpapasan saling mengucapkan salam). Selain itu, karena saya harus menyelesaikan ujian integrasi yang hanya diberi waktu 3 tahun sejak kedatangan. Dan tujuan lain kedepannya tentu saja untuk membuka kesempatan mendapatkan pekerjaan seluas mungkin.

Mempelajari bahasa di mana kita tinggal itu banyak keuntungannya. Ya paling nggak kita jadi bisa membaca koran (jadi bisa tahu berita lokal), menonton berita di TV, membaca panduan obat dari dokter, dan tentu saja untuk komunikasi sehari-hari. Itulah kenapa saya benar-benar fokus dan giat memperlancar kemampuan bahasa Belanda saya dengan menggunakan apapun medianya dalam berbagai kesempatan.

Selama sembilan bulan, saya mengikuti kursus bahasa Belanda, setiap hari di rumah berbicara dengan suami menggunakan bahasa Belanda -meskipun belum 100%- (walaupun selama dua tahun terakhir, kami di rumah menggunakan dua bahasa aktif yaitu bahasa Belanda dan bahasa Indonesia. Bahasa Inggris hanya sesekali saya gunakan kalau kepepet males mikir atau kalau lagi pengen ngomel haha), kalau ke luar rumah tidak takut memulai percakapan dengan bahasa Belanda. Setiap ada yang mengajak saya berbicara menggunakan bahasa Inggris (biasanya orang Belanda akan ganti menggunakan bahasa Inggris kalau tahu ada yang kesusahan berbicara menggunakan bahasa Belanda), saya selalu jawab : Ik kan alleen mijn moeder taal en Nederlands spreken. Ik kan niet Engels spreken. Artinya : Saya hanya bisa berbicara menggunakan bahasa Ibu dan bahasa Belanda. Saya tidak dapat berbicara menggunakan bahasa Inggris.

Kenapa saya tidak mau menggunakan bahasa Inggris meskipun saya bisa? Supaya saya tidak terlena dan lebih memacu semangat saya supaya bisa lebih lancar berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda. Selain itu, setahun pertama saya isi dengan sering mengikuti kegiatan sukarelawan yang komunikasinya menggunakan bahasa Belanda, sering mendatangi forum-forum diskusi yang menggunakan bahasa Belanda, dan memasuki tahun kedua saya diterima bekerja di tempat yang komunikasinya dengan bahasa Belanda. Dengan cara-cara yang saya sebutkan di atas, lumayan dalam waktu satu tahun saya merasa sudah lumayan berani kapanpun dan dimanapun berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda -kecuali jika berhubungan dengan tenaga medis, dua tahun pertama saya selalu memilih menggunakan bahasa Inggris untuk menghindari kesalahpahaman- dan bisa menyelesaikan ujian bahasa Belanda level B1 dan KNM. Kecuali satu ujian baru selesai tiga tahun kemudian (yaitu ONA. Perihal ujian ONA, saya pernah ceritakan di sini).

PERKEMBANGAN BAHASA BELANDA SAYA SAAT INI

Jadi apakah selama 4 tahun bahasa Belanda saya sudah sangat fasih? oh ya tentu belum haha pembaca kecewa. Bahasa Belanda itu susah kawan, setidaknya buat saya pribadi yang merasa lebih gampang mengerjakan penurunan rumus kalkulus dibandingkan mempelajari rumus tata bahasa Belanda. Bukan hanya tata bahasanya tapi juga kosakatanya yang agak tricky. Meskipun banyak juga kosakatanya yang sama atau mirip dengan kosakata bahasa Indonesia (ini bagian yang memudahkan dalam belajar bahasa Belanda), tetapi lebih banyak lagi kosakata baru yang harus dipelajari. Belajar bahasa itu memang butuh waktu, ketekunan, berkesinambungan, dan banyak praktek tentunya. Belajar bahasa tidak bisa hanya sekedar dihapal rumus tata bahasanya tapi minim praktek, percayalah itu tidak akan berhasil. Belajar bahasa butuh praktek yang banyak. Praktek, praktek, dan praktek. Dari membaca, menulis, mendengarkan, serta berbicara. Jika tidak diasah secara rutin, kapan lancarnya, ya kan?

Nah, bagaimana perkembangan bahasa Belanda saya sekarang ini? Di awal sudah saya tuliskan kalau saya sudah menggunakan bahasa Belanda nyaris di setiap lini kehidupan, kecuali jika berhubungan dengan medis. Bahasa Belanda yang saya gunakan dulu ya levelnya masih tingkatan tawar menawar di pasar, ngobrol dengan tetangga dan kolega kerja, melakukan aktivitas sehari-hari, membaca koran dan majalah dan resep dokter, menulis email, dan wawancara kerja. Tapi sejak dua tahun terakhir, sejak saya mulai sering bersinggungan dengan tenaga medis (dari pihak rumah sakit, dokter, bidan, perawat, pekerja di posyandu), secara tidak sadar saya mulai berani perlahan menggunakan bahasa Belanda. Padahal di sistem yang ada, sudah tertulis kalau saya lebih suka menggunakan bahasa Inggris. Karena itulah, dulu jika saya ada urusan dengan medis, otomatis mereka menggunakan bahasa Inggris karena sudah tertulis di sistem. Tapi sejak dua tahun terakhir, saya perlahan mulai memberanikan diri untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda ketika berhubungan dengan tenaga medis baik saat bertemu muka maupun ditelepon. Saya sudah tidak ragu dan takut lagi. Sampai suami ketika mendengar saya berbicara dengan dokter di telepon, kaget sendiri, kok mendadak jadi canggih katanya haha. Ya sebenarnya belum canggih-canggih banget. Cuma sekarang jadi berani. Kalau benar-benar ada penjelasan yang sudah berulangkali dijelaskan tapi saya tetap tidak paham dalam bahasa Belanda, baru saya minta tolong untuk dijelaskan dalam bahasa Inggris. Jadi intinya, level perkembangan bahasa Belanda saya sekarang sudah mulai merambah ke level medis. Lumayanlah buat saya, jadi makin percaya diri meskipun ya masih harus terus belajar mengasah kemampuan dengan tetap belajar dan praktek yang banyak.

Kenapa saya jadi punya keberanian? Karena saya mikirnya sederhana, kalau tidak mulai diniatkan belajar berani, ya kapan beraninya. Lagipula, tidak setiap kesempatan bertemu dengan tenaga medis suami bisa mendampingi. Dari dulu memang saya ini istri lepasan, nyaris dari awal kedatangan, urusan apapun saya urus sendiri. Ya pendeknya, kalau apapun menggantungkan ke suami, malah rugi ke diri sendiri. Jadi tidak berkembang kan kemampuannya.

Dan satu lagi, saya sudah lulus semua ujian integrasi dan sudah menerima diploma. Leganya, empat tahun sudah tanpa tanggungan ujian lagi. Saya mempunyai niat tahun depan ingin ikut ujian bahasa Belanda level B2. Semoga tahun ini bisa khusyuk belajar sehingga niat bisa terealisasikan dan bukan hanya sebatas wacana (seperti biasanya haha).

Bagaimana dengan urusan cuaca? semakin hari saya dan cuaca semakin berteman akrab. Meskipun kalau sedang musim dingin seperti sekarang, ada saja yang bikin saya agak “konslet” haha. Sepet rasanya kalau melihat langit setiap hari warnanya abu-abu. Walaupun jika sedang turun salju, ya saya masih norak lah melihatnya. Khusus hari pertama saja. Hari selanjutnya hati kembali empet karena jalanan jadi super licin. Nah, kalau musim dingin begini harus pintar-pintar memanfaatkan keadaan. Jika cuaca sedang cerah dan langit biru, pasti kami manfaatkan untuk jalan kaki meskipun suhu ya paling banter 3ºC. Satu jam jalan kaki lumayan lho bisa membuat hati gembira.

Jalan kaki satu jam menjelang makan siang. Lalu makan soto (di rumah, bukan abang gerobak) dilanjutkan leyeh-leyeh baca buku menuju waktu tidur siang
Jalan kaki satu jam menjelang makan siang. Lalu makan soto (di rumah, bukan abang gerobak) dilanjutkan leyeh-leyeh baca buku menuju waktu tidur siang
Setelah bangun tidur siang, ngemil sebentar lalu lanjut jalan sore selama satu jam. Sayang kalau cuaca cerah cuma di rumah saja, meskipun dingin.
Setelah bangun tidur siang, ngemil sebentar lalu lanjut jalan sore selama satu jam. Sayang kalau cuaca cerah cuma di rumah saja, meskipun dingin.

Diantara suka duka dengan cuaca, saya selalu bersyukur karena masih punya rumah yang hangat untuk berteduh, persediaan makanan sehat yang cukup serta keluarga yang berkumpul dalam keadaan sehat.

Empat tahun yang sebenarnya tidak sebentar tapi terasa sebentar karena saya menikmati setiap prosesnya, jatuh bangun, suka duka dan apapun yang terjadi selama ini. Empat tahun belum berkesempatan untuk bertemu kembali dengan teman-teman dan keluarga di Indonesia. Empat tahun yang penuh perjuangan dan suka cita. Tadi siang (pada tanggal saat menulis), saya memandangi salju yang turun tipis di kampung tempat saya tinggal, sambil berucap syukur atas empat tahun yang terlewati dan berdoa semoga kedepannya makin berkah dengan apa ada sekarang ini. Kesehatan yang baik, keluarga yang mudah-mudahan selalu sehat dan bahagia, dan semoga setiap langkah kedepannya selalu membawa manfaat dan hal-hal positif minimal untuk diri sendiri dan keluarga, syukur-syukur bisa untuk orang banyak.

-Nootdorp, 30 Januari 2019-

Buku-Buku Tentang Persiapan Hamil, Kehamilan, Tumbuh Kembang Stimulasi Bayi, Parenting, dan Mpasi

Fertility Diet

Judulnya panjang ya. Daripada membuat tulisan secara terpisah, saya jadikan satu saja, supaya lebih ringkas. Beberapa waktu lalu, saya baru saja melungsurkan koleksi buku-buku yang berhubungan dengan persiapan hamil, kehamilan, tumbuh kembang stimulasi bayi, parenting, dan Mpasi (dengan metode BLW) kepada seorang kenalan yang tinggal di Eropa dan saya kenal lewat twitter (kami belum pernah bertemu sama sekali). Tidak semua buku yang saya foto dibawah ini saya berikan, ada beberapa yang masih saya simpan karena kedepannya ingin saya baca-baca lagi. Beberapa lainnya saya berikan dan dia dengan senang hati mengadopsinya. Saya juga senang karena buku-buku tersebut mempunyai rumah baru sekarang dan semoga manfaatnya juga terus mengalir.

Nah, daripada mubadzir cuma saya foto-foto saja, maka saya putuskan untuk berbagi cerita di blog tentang buku-buku ini. Saya pernah menuliskan di blog cerita tentang kehamilan pertama yang pada akhirnya keguguran, beberapa tahun lalu. Pada saat keguguran itu, awalnya jelas kami sedih karena kehilangan anak pertama kami. Namun selang beberapa waktu kemudian, saya malah bersyukur bahwa saya keguguran. Pasalnya, saya belum siap memiliki anak pada saat itu. Pengetahuan saya tentang dunia hamil, bayi dan seputar parenting, nol besar. Saya tidak ada persiapan pengetahuan sama sekali. Dan buat saya pribadi, memasuki satu fase penting dalam hidup tanpa persiapan matang, apapun jenisnya, tidak bisa saya lakukan. Minimal, saya tahu gambarannya seperti apa.

Dan alasan lainnya, sebenarnya pada saat itu saya belum yakin apakah benar saya ingin mempunyai anak. Tentang keputusan memiliki anak, sudah saya bicarakan dengan suami pada saat kami belum menikah. Waktu itu, saya bilang bahwa ada kemungkinan besar setelah menikah saya tidak ingin mempunyai anak karena saya merasa tanggungjawab memilik anak itu sangat besar. Kontraknya seumur hidup dan benar-benar keputusan berdua dengan pasangan (terutama saya karena badan dan hormon saya yang akan mengalami perubahan). Suami orangnya santai. Dia menikah dengan saya bukan dengan tujuan memiliki keturunan. Jadi kalaupun akhirnya saya memutuskan tidak punya anak, dia biasa saja. Begitu juga sebaliknya.

Pernah seorang teman di sini, menitipkan bayinya dua kali (waktu itu usia 9 bulan dan 12 bulan) untuk menginap di rumah kami saat akhir pekan. Kalau di sini, sudah biasa bayi-bayi dititipkan kepada teman dengan tujuan supaya bayi-bayi itu bisa beradaptasi dengan lingkungan diluar rumah sendiri dan dengan orang diluar lingkungan keluarga. Nah, selama bayi ini ada di rumah, saya merasa biasa saja haha. Seperti tidak ada naluri keibuan. Bahkan tugas mengganti popok semua dilakukan suami. Saya memang tidak mau mengganti popok terutama untuk urusan poop, jauh-jauh deh. Jadi terhadap bayi yang dititipkan ini, perasaan saya biasa saja, datar.

Dari pengalaman tersebut, saya lalu mempertanyakan lagi ke diri sendiri apakah benar saya ingin mempunyai anak. Karena pada dasarnya saya ini mempunyai jiwa riset yang sangat tinggi, akhirnya saya memperbanyak riset dulu dari buku-buku maupun jurnal-jurnal internasional yang berhubungan dengan kehamilan dan ilmu parenting. Saya mengibaratkan, sebelum memutuskan untuk hamil (kembali), saya perlu mempelajari kisi-kisi ilmunya. Seperti saat akan kuliah, minimal saya tahu mata kuliah apa saja dalam jurusan yang akan saya ambil. Jadi ketika keputusan sudah diambil, tidak ada kata menyesal kemudian dan menikmati segala alur serta perjalannya secara sadar. Berbekal ilmu juga (sebagai salah satu cara mempersiapkan mental), saya bisa memutuskan dengan sadar bahwa saya memang benar-benar mau atau tidak mau punya anak. Jadi keputusan memiliki atau tidak memiliki anak datang dari diri sendiri (bersama pasangan), bukan hanya sekedar ingin tanpa persiapan (lahir batin), apalagi hanya untuk memenuhi standar normal kehidupan pernikahan dalam masyarakat Indonesia. Sama halnya dengan pernikahan, buat saya, memiliki anak bukanlah sebuah kewajiban tetapi pilihan hidup.

Oke, mari mulai bercerita tentang buku. Semua buku-buku dalam postingan ini saya baca dalam kurun waktu 2016-2018. The Fertility Diet adalah buku pertama yang saya baca setelah riset sana sini tentang jenis makanan apa saja yang dikonsumsi sebelum persiapan hamil. Setelah membaca keseluruhan isi bukunya, ternyata isinya sangat menarik, bukan hanya membahas tentang jenis makanan maupun jenis diet yang bisa dilakukan untuk mereka sebelum hamil, tapi  juga menjelaskan tentang jenis-jenis makanan dan kandungannya secara umum. Dalam buku ini juga dijelaskan tentang PCOS (Polycystic ovary syndrom), makanan apa saja yang bisa dikonsumsi dan juga diet apa saja yang bisa dilakukan. Buat saya, buku ini penuh penjelasan ilmiah dan penuh riset yang sangat menambah pengetahuan. Buku ini sudah saya berikan kepada seorang teman di Belanda.

 

Fertility Diet
Fertility Diet

Nah dua buku di bawah ini saya baca untuk mengetahui gambaran selama hamil dan ketika melahirkan itu seperti apa. Buat saya, gambaran melahirkan pada saat itu sangatlah menyeramkan. Entah, di kepala saya selama ini yang namanya orang melahirkan itu terbayang menyeramkan. Karenanya saya perlu membaca buku yang minimal memberikan saya pengetahuan tentang hamil, proses selama hamil, persiapan melahirkan dan melahirkan secara sadar. Dan dua buku ini cukup membuka gerbang pengetahuan dan memenuhi rasa ingin tahu saya tentang hal tersebut.

Mengerti konsep tentang hamil dan melahirkan secara sadar
Mengerti konsep tentang hamil dan melahirkan secara sadar

Mempersiapkan dan menjalani kehamilan bukan hanya tugas perempuan, dalam hal belajar dan mencari informasi. Yang namanya hamil, dibuatnya berdua, maka segala persiapan, belajar dan apapun itu juga dilakukan berdua, sampai anak lahir nantinya. Dua buku di bawah ini bukan hanya saya yang baca, tetapi suami juga.

Pengetahuan tentang kehamilan bukan hanya pihak perempuan yang aktif belajar, pasangan juga seyogyanya sama-sama belajar
Pengetahuan tentang kehamilan bukan hanya pihak perempuan yang aktif belajar, pasangan juga seyogyanya sama-sama belajar

Kalau buku What to Expect ini semacam bible nya orang hamil ya. Bukunya tebal sekali. Meskipun ada aplikasinya yang juga saya unduh, tapi bukunya lebih lengkap dibandingkan apa yang dikirimkan lewat aplikasi. Kalau buku resep masakan dari Annabel Karmel bukan hanya menyajikan resep masakan saja, tetapi juga mengupas nutrisi yang terkandung dalam jenis makanan yang bisa menunjang kehamilan sehat untuk Ibu dan bayi. Resep masakannya enak dan cepat masaknya.

Panduan selama kehamilan
Panduan selama kehamilan

Nah setelah membaca buku-buku sampai masa kehamilan, saatnya membaca buku-buku yang berhubungan dengan bayi. Buku yang sebelah kiri itu juga ada unduhan aplikasinya, tapi versi buku lebih lengkap. Sedangkan buku How Smart Is Your Baby isinya tentang stimulasi apa saja yang bisa diberikan pada bayi demi menunjang tumbuh kembangnya secara maksimal dan memaksimalkan kemampuan bayi sejak hari pertama lahir. Saya sangat merekomendasikan buku ini karena buat saya buku ini seperti membuka mata bahwa apa yang selama ini oleh orang tua (jaman dulu) tidak boleh dilakukan kepada bayi, sebenarnya bisa dilakukan karena ada dasar risetnya.

Panduan tumbuh kembang bayi dan panduan stimulasi anak
Panduan tumbuh kembang bayi dan panduan stimulasi anak

Tiga buku di bawah ini sudah masuk kepada buku parenting. Dua buku parenting yang berhubungan tentang Belanda, benar-benar memberikan banyak pengetahuan kepada saya tentang cara mendidik anak (dari lahir sampai masuk sekolah) di Belanda. Minimal saya tahu, ketika memiliki anak di Belanda, lingkungannya seperti apa, persiapannya apa saja, pendidikannya bagaimana. Apalagi saat membaca buku The Happiest Kids in The World, saya manggut-manggut. Jadi tahu kenapa anak-anak kecil di Belanda. misalnya kalau masuk sekolah selalu mukanya sumringah tanpa keterpaksaan, bagaimana orangtua di Belanda mengajarkan anak-anaknya mandiri dalam hal makan dan tidur sejak bayi dan masih banyak hal-hal menarik dalam buku ini tentang parenting di Belanda (yang dibandingkan dengan parenting di Amerika dalam beberapa aspek). Sedangkan buku The Childhood roots of adult happiness juga bagus sekali. Intinya, anak harusnya sering-sering diajak main diluar ruangan, diperkenalkan dengan alam, distimulasi sebanyak mungkin berdekatan dengan alam (misalnya main pasir dengan kaki telanjang atau sering-sering menginjak rumput, main tanah) dan seminim mungkin terpapar oleh teknologi (misalkan TV, Hp dan gadget lainnya). Saya senang sekali membaca buku ini, banyak quote-quote menarik.

Buku-buku parenting
Buku-buku parenting

Buku-buku parenting selanjutnya dalam bahasa Indonesia. Ini juga isinya bagus-bagus. Jatuh hati pada Montessori isinya berbeda dengan buku-buku montessori lainnya. Buku ini menuliskan bukan tentang teori montessori tetapi pendekatan montessori dalam mengasuh anak dan memaksimalkan kemampuan anak sejak usia dini. Saya merekomendasikan buku ini jika ingin belajar tentang pendekatan montessori dari kacamata yang berbeda. Buku Adhitya Mulya juga favorit saya. Banyak poin poin dalam ceritanya yang saya amini (karena saya mengalami sendiri), meskipun beberapa poin lainnya saya tidak sepaham. Tapi secara keseluruhan, buku ini bagus. Sedangkan dua buku lainnya, ditulis oleh pakar dan praktisi pendidikan di Indonesia, juga favorit saya.

Buku-buku parenting
Buku-buku parenting

Nah, buku ini sebenarnya bukan buku tentang parenting (menurut saya), melainkan bercerita tentang pengalaman mendidik sejak bayi seorang anak namanya Kirana. Saya tidak mempunyai IG, jadi saya tahu tentang buku ini malah dari twitter. Meskipun bukan buku parenting, tapi cerita yang dituliskan secara mengalir dan enak dibaca, bahkan ada beberapa bagian yang membuat saya menangis, banyak memberikan pelajaran berharga.

Bukan buku Parenting tapi ceritanya memberikan banyak pelajaran berharga
Bukan buku Parenting tapi ceritanya memberikan banyak pelajaran berharga

Tiga buku terakhir ini adalah buku Mpasi dengan metode BLW (Baby Led Weaning). Saya tertarik mempelajari metode ini lebih lanjut karena metode ini sebenarnya bukan metode yang baru, sudah diterapkan sejak jaman dulu (bahkan di Indonesia pun). Intinya, bayi diperkenalkan dengan makanan solid sejak awal dia mulai makan. Bayi diberikan kebebasan menentukan sendiri sebanyak apa makanan yang masuk dalam tubuhnya berdasarkan kenyang yang dia rasakan serta bayi sejak awal sudah dibiasakan makan sendiri dengan makanan dalam bentuk asli. Kalau di Belanda, bayi mulai bisa diperkenalkan dengan makanan sejak umur 4 bulan (tanpa adanya indikasi medis). Buat saya, metode BLW ini sangatlah membantu dan cocok. Membantu karena tidak perlu selalu menyuapi dan mengajarkan anak mandiri sejak awal dan jadinya tidak picky eater karena sudah diperkenalkan makanan dalam bentuk asli sejak awal dari berbagai variasi makanan, bahkan yang sekiranya menimbulkan alergi (di stop dulu untuk beberapa waktu, nanti diberikan lagi untuk melihat apakah tetap menimbulkan alergi ataukah tidak).

Buku Panduan Mpasi Metode BLW
Buku Panduan Mpasi Metode BLW

Begitulah tulisan saya kali ini yang berbagi cerita tentang beberapa buku yang sudah saya baca. Kembali lagi, buat saya pribadi, membekali diri dengan ilmu itu sangat penting, dalam hal apapun. Karena saya senang membaca, saya membekali diri dengan banyak membaca supaya referensi dan ilmu saya selalu bertambah. Meskipun pada akhirnya yang namanya mendidik anak tidak selalu sama berdasarkan teorinya karena setiap anak itu unik, tapi minimal saya punya bekal ilmu. Meskipun seringnya mendidik anak pada akhirnya berbekal insting, tapi minimal insting saya punya dasar ilmu. Sampai sekarang pun saya tetap membaca buku-buku tentang parenting karena sesungguhnya yang namanya belajar itu tidak mengenal batasan media dan waktu. Kapan-kapan akan saya bagi beberapa buku bagus tentang parenting yang sedang saya baca.

Semoga tulisan kali ini bermanfaat bagi yang sedang membutuhkan bacaan seputar persiapan hamil, kehamilan, tumbuh kembang stimulasi bayi, parenting, dan Mpasi (dengan metode BLW).

-Nootdorp, 27 Januari 2019-

Musim Dingin yang Hangat di Malta (Bagian 2-Selesai)

Pemandangan dari teras restoran

Sesampainya di Malta, badan saya langsung meriang. Bukan, bukan karena perubahan suhu tapi memang seminggu sebelum berangkat tenggorokan sudah tak nyaman dan saya merasa, pasti akan flu. Ternyata benar, selama seminggu di Malta, hidung meler terus, bersin ga selesai-selesai, badan meriang, pusing, batuk, wah lengkaplah. Tapi karena suasana liburan ya, jadi kalau pas jalan ke luar siang hari, tidak terlalu berasa. Begitu sampai hotel, langsung deh meriangnya kumat lagi. Eh, begitu  kembali ke Belanda, keesokan harinya datang salju pertama kali. Kebayang kan dari suhu 20ºC langsung ke -1ºC. Walaupun begitu, saya tetap menikmati liburan kami seminggu di sana. Sangat menikmati malah sampai-sampai trekking dan jalan kaki setiap hari 10-15 km tidak dirasa.

Baca : Musim Dingin yang Hangat di Malta (Bagian 1)

Saya teruskan ya cerita tentang Malta. Bagian pertamanya bisa dibaca pada tautan di atas. Untuk mengingatkan kembali, Saya tampilkan peta Malta, jadi terbayang kalau negara pulau ini tidak terlalu besar.

Malta_Map_-_English_Language_School__Learn_English_-_ELA_Malta (Sumber : http://www.elamalta.com/malta-map)
Malta_Map_-_English_Language_School__Learn_English_-_ELA_Malta (Sumber : http://www.elamalta.com/malta-map)
  • Hotel Yang Cihuy Lokasi dan Fasilitasnya

Hotel yang kami tempati namanya Mellieha Bay yang letaknya di kota Mellieha. Kalau dilihat di peta, letaknya di ujung utara Malta. Meskipun nampaknya jauh sekali, tapi ke mana-mana kami tidak merasakan kesulitan karena kemudahan transportasi yang ada di Malta (hotel ini letaknya dekat dengan halte bus). Yang akan saya tuliskan selanjutnya bukan postingan berbayar ya, murni opini dari konsumen yang puas.

Selama seminggu menginap di hotel ini, kami sangat puas sekali dari semua fasilitas yang ada yang kami gunakan, bahkan sampai ke para pegawai di sana yang sangat cekatan membantu dan juga sangat ramah. Saat malam terakhir kami makan di sana, saya mengucapkan terima kasih kepada manajer restoran yang selalu membantu kami di sana. Malah saya sampai dikasih bekal  pisang dua biji untuk dibawa ke Bandara keesokan paginya (karena kami dijemput jam setengah 5 pagi dari hotel, penerbangan jam setengah 8) karena tahu setiap pagi saya pasti mengambil pisang. Sampai terharu saya.

Bagian depan hotel. Rasanya pengen bawa pulang daun pisangnya, bikin pepes
Bagian depan hotel. Rasanya pengen bawa pulang daun pisangnya, bikin pepes
Pemandangan dari balkon restoran Ini salah satu kolam renangnya. Ada yang lebih besar dibagian belakang hotel
Pemandangan dari balkon restoran Ini salah satu kolam renangnya. Ada yang lebih besar dibagian belakang hotel
Pemandangan dari teras restoran
Pemandangan dari teras restoran

Di hotel ini, kami mendapatkan dua kali makan yaitu  sarapan dan makan malam. Menu sarapannya sih standar ya, tapi menu makan malamnya sungguh luar biasa mewah dan pilihannya banyak sekali. Saya tidak ada fotonya karena hampir setiap waktu makan malam di restoran tidak membawa kamera (bahkan Hp seringnya saya tinggal di kamar). Tapi percayalah, pilihan makanannya sungguh mewah sekali dan makanan penutupnya juga tidak kalah mewahnya. Sebagai gambaran, saya tiap hari pasti makan es krim dan taart sebagai makanan penutup. Kalau menu-menu utamanya setiap hari ganti-ganti tidak ada yang sama, Sistemnya Buffet. Misalkan menunya satu malam ada daging kambing, ikan bakar, ayam panggang, nasi, pasta, sayuran yang beberapa macam, duh pokoknya banyak deh. Restorannya bisa menampung 340 orang dan untuk yang punya balita jangan khawatir ada banyak high chair disediakan. Hotel ini juga Kids friendly karena banyak fasilitas yang disediakan untuk anak-anak juga.

Ada taman bermain anak-anak di ujung belakang
Ada taman bermain anak-anak di ujung belakang
Iseng motoin kucing yang selalu ngintilin kami kalau akan sarapan
Iseng motoin kucing yang selalu ngintilin kami kalau akan sarapan
Ini iseng juga motonya
Ini iseng juga motonya

Nah yang paling saya suka dari hotel ini adalah tempatnya yang pinggir pantai, tepatnya di pantai Ghadira yang merupakan pantai terbesar di Malta. Jadi setiap bangun tidur melihat dari balkon ya pantai, malamnya bisa melihat kelap kelip kota berasa romantis karena cahanya terpantul di air laut. Keren lokasinya. Fasiltas lainnya seperti tempat bermain anak-anak, kolam renang yang super besar dan ada di beberapa lokasi, gym, kotak pos, dll. Intinya hotel ini memudahkan tamunya. Letaknya juga hanya 5 menit jalan kaki dari halte bus terdekat dan tidak jauh kalau mau ke pulau Gozo atau Comino. Kalau satu selera, saya sangat merekomendasikan hotel ini jika berkunjung ke Malta.

DSC09224Pemandangan dari balkon kamar, pagi hari
DSC09224Pemandangan dari balkon kamar, pagi hari
Pemandangan dari balkon kamar, sore hari
Pemandangan dari balkon kamar, sore hari
Pemandangan dari balkon kamar, malam hari (ga paham cara seting kamera malam hari)
Pemandangan dari balkon kamar, malam hari (ga paham cara seting kamera malam hari)
  • Transportasi Mudah

Transportasi di Malta sangatlah mudah. Sewa mobil, kendaraan umum seperti bus umum atau bus wisatawan. Selama di Malta, satu minggu kami wara wiri dengan memanfaatkan bus umum. Kami membeli tiket bus yang berupa kartu, berlaku selama 7 hari dengan harga €21. Kartu transportasi ini ada tiga macamnya, yang dua lainnya terbatas hari dan tujuannya. Sedangkan yang kami gunakan ini benar-benar bisa digunakan sepuasnya selama7 hari tersebut. Jika dibandingkan dengan Belanda, harga tersebut sangatlah murah karena kami bisa melancong kemanapun di Malta bahkan ke Gozo dengan menggunakan kartu transport ini. Kalau tidak ingin membeli kartu paketan seperti ini, bisa membeli langsung tiketnya pada supir bis. Sekali jalan jauh dekat harganya kalau tidak salah sekitar €1.5.

Kartu transport yang kami gunakan selama di Malta
Kartu transport yang kami gunakan selama di Malta

Biasanya kalau kami liburan dalam waktu lama, suami lebih senang sewa mobil dan road trip. Tapi kali ini beda, karena setelah membaca di beberapa forum kalau transportasi di Malta itu gampang, akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan transportasi umum sehari-harinya. Apalagi ternyata setirnya sebelah kanan, makin males lah suami. Dia tidak terbiasa. Bus umum di Malta buat saya sangat nyaman dan tepat waktu sesuai jadwal yang tertera pada masing-masing halte. Rata-rata bus umum beroperasi sampai sekitar jam 11 malam dan beroperasi kembali pagi hari sekitar jam 5. Jangkauan rutenya pun sangatlah luas, bahkan sampai pelosok ada. Jadi kalau ke Malta dan tidak ingin menyewa kendaraan sendiri, dengan naik bus umum pun sudah sangat nyaman. Ada tempat khusus stroller dan khusus lansia serta Ibu hamil. Di dalam bis pun ada AC nya.

Jadwal bus yang tepat waktu
Jadwal bus yang tepat waktu
Ada tempat khusus stroller
Ada tempat khusus stroller
Busnya nyaman dan ber AC
Busnya nyaman dan ber AC

Tips 1: Kalau menunggu di Halte dan dari jauh bisnya sudah terlihat, acungkan tangan ya untuk memberi tanda bahwa kita akan naik. Kami waktu hari pertama tidak tahu dan berpikir kalau bus pasti akan berhenti di setiap halte jadi tidak perlu memberi tanda. Ternyata, harus memberi tanda. Maklum, kalau di Belanda saya tidak pernah memberi tanda kalau ingin naik bis haha.

Tips 2 : Jangan kaget ya kalau supir bisnya meliuk-liuk saat menyetir dan sering mengerem dadakan. Bukan karena mereka ugal-ugalan, tapi kontur jalan di Malta memang sempit, naik turun dan belokannya curam. Setelah berada di sana dan tahu bagaimana kondisi jalan di Malta, kami bersyukur tidak menyewa mobil dan menyetir sendiri, bisa stress mendadak suami. Kalau melihat gaya menyetir sopir bis di sana, mengingatkan saya akan sopir bis metromini dan kopaja di Jakarta haha.

Tips 3 : Kalau menggunakan kartu transportasi, alat tap kartunya dekat sopir. Hanya saat masuk saja, kalau keluar tidak perlu check out.

  • Harga Lebih Murah

Jika dibandingkan dengan Belanda tentu saja. Saya membandingkannya dari harga makanan dan beberapa minuman yang kami beli. Tidak terlalu murah sekali, tapi relatif lebih murah. Mata uang yang digunakan Euro.

  • Kuliner Malta

Terus terang selama di Malta kami tidak terlalu banyak mengeksplor kuliner khas Malta itu bagaimana. Berbeda dengan kebiasaan kami sebelum-sebelumnya kalau liburan, mengeksplor kuliner merupakan bagian dari agenda. Tapi untuk kali ini tidak. Hal ini ditunjang oleh makan malam kami yang disediakan hotel dan menunya yang memuaskan dan bercitarasa kuliner Malta. Dan kami juga tidak bisa sampai malam berada di luar hotel. Maksimal jam 7 malam kami sudah harus sampai di hotel lalu makan malam. Nah yang saya rasakan tentang kuliner di Malta (dari yang kami makan di hotel), lebih terasa citarasa masakan arab meskipun rasa rempahnya tidak sekuat makanan arab. Mungkin karena perpaduan dengan rasa dari Italia sehingga rasa masakan arabnya tidak terlalu dominan. Sebenarnya ada makanan khas Malta yang ingin saya coba waktu itu yaitu kelinci yang dimasak secara tradisional Malta namanya Fenek, yang merupakan makanan nasional. Tapi saya kok tidak tega makan kelinci, akhirnya saya urungkan niat tersebut.

Ada beberapa jajanan di Malta yang kami coba salah satunya seperti foto di bawah, namanya honey ring. Ini rasanya manis dan beraroma kayu manis. Buat saya, tidak terlalu masuk untuk lidah. Dasarnya saya tidak suka jajanan manis. Nah jajanan di Malta, rata-rata manis. Jarang yang asin atau gurih. Seperti halnya jajanan arab yang kebanyakan juga berasa manis.

Salah satu jajanan di Malta yang hampir setiap hari dicoba.
Salah satu jajanan di Malta yang hampir setiap hari dicoba.
  • Turis Asia Lebih Sedikit

Mungkin karena waktu kami ke sana bukan musim liburan, jadinya cukup kaget juga nyaris tidak bertemu dengan turis Asia. Selama 7 hari, rasanya kami bertemu turis Asia sewaktu di Popeye Village saja. Maklum selama ini kalau liburan kan selalu ada turis Asia terutama Jepang atau Korea. Jadinya pas ke sana sepi turis Asia berasa gimanaaa gitu rasanya. Berasa nyaman maksudnya haha karena mereka tidak mendominasi tempat-tempat tertentu dengan berfoto berlama-lama atau menjulurkan tongsis sepanjang mungkin. Jangan salah, saya juga membawa tongsis kok, tapi selalu lihat tempat. Kalau ramai, tidak saya keluarkan, daripada mengganggu orang lain.

Malah selama di sana, saya bertemu dengan orang-orang Asia terutama dari Filipina dan Thailand, bukan sebagai turis tetapi sebagai penduduk di Malta. Saya pernah bekerja di perusahaan Filipina, karenanya bahasa tagalog tidak asing buat saya. Begitu mendengar banyak orang berbicara bahasa Tagalog, saya langsung tahu. Suatu hari saat kami sedang di bis, ada seorang perempuan (dan satu temannya) menyapa saya dan menanyakan saya dari mana. Ketika mereka tahu kalau asal saya dari Indonesia, mereka lalu bercerita kalau selama ini jarang menjumpai turis dari Indonesia, bahkan saat musim liburan. Karenanya, restoran Indonesia juga jarang dijumpai. Hanya ada satu dua saja. Dari mereka juga saya tahu kalau di Malta banyak pendatang dari Filipina dan Thailand dan bekerja kebanyakan jadi pengasuh anak dan supir bis. Pantas saja, saya seringnya menjumpai sopir bis dengan wajah Asia.

 

Nah begitulah cerita saya tentang hal-hal yang saya jumpai selama di Malta. Liburan di Malta berbeda dengan liburan dalam jangka waktu lama yang selama ini kami lakukan. Karena kali ini tidak pindah-pindah hotel,jadi berasa santainya karena ada satu tempat tujuan yang sama sebagai persinggahan setiap harinya. Sama mungkin ya seperti hati, kalau ada yang dituju setiap waktu ,sama, dan tidak berpindah, rasanya nyaman *Lah, ujung-ujungnya nyambung ke masalh hati haha.

Selanjutnya akan saya tuliskan tempat-tempat yang kami kunjungi selama di Malta.

-Nootdorp, 20 Januari 2019-

 

Malam Tahun Baru dan Tahun Baru 2019

Tumpeng Syukuran nasi kuning dengan lauk pelengkapnya : orek tahu tempe, mie goreng kuning, urapan sayur, ayam panggang bumbu rujak, sambe goreng kentang pete, irisan telur dadar, dan perkedel

Masih tentang cerita seputaran tahun baru, ada cerita yang sayang kalau tidak dituliskan di blog. Bukan cerita yang fantastis, tapi sebagai dokumentasi saja.

Tradisi di Belanda kalau malam tahun baru itu makan Oliebollen. Saya menyebutnya roti goreng karena memang mirip roti goreng yang ada di Indonesia. Hanya kalau Oliebollen variasinya ada beberapa. Ada yang tanpa kismis, ada yang pakai kismis, ada yang diisi coklat dan variasi lainnya. Terus terang, sejak makan pertama kali beberapa tahun lalu, lidah saya tidak terlalu cocok dengan Oliebollen. Malah saya lebih suka makan Berlinerbollen, karena isinya Vla tapi tidak terlalu manis.

Stan yang jualan Oliebollen biasanya sudah ada sejak awal Desember. Bahkan disekitar tempat tinggal saya, sejak bulan November sudah buka. Nah, di Den Haag kota, ada satu stan besar yang katanya Oliebollennya terenak se Den Haag (atau se Belanda ya saya lupa). Saya sudah pernah beli, tapi ya menurut saya rasanya sama dengan lainnya haha. Mungkin bagi yang suka rasanya enak ya.

Nah, tanggal 31 Desember suami masih ngantor. Dia berencana beli Oliebollen dan Berlinerbollen di stan ini pas makan siang. Lah, ternyata antriannya panjang. Akhirnya dia mengurungkan niatnya beli di sini, malah beli di toko roti. Dia pulang lebih awal karena kantornya sudah tutup jam 4 sore.

Antrian di stan Oliebollen yang terkenal di Den Haag
Antrian di stan Oliebollen yang terkenal di Den Haag

Sejak sore, suara jedar jedor petasan sudah terdengar. Meskipun menurut saya tidak seramai tahun kemaren, tapi tetep juga was was kalau jalan sore trus ketemu anak-anak, lalu dilempar petasan. Tentu saja tidak kejadian ya, cuma imajinasi saya saja. Setelah bangun tidur siang, tiba-tiba saya ingin makan pisang goreng. Karena saya juga harus membeli ayam untuk dibuat ayam panggang sebagai lauk nasi kuning keesokan harinya, akhirnya kami jalan-jalan sore sekalian beli pisang khusus pisang goreng dan beberapa keperluan untuk nasi kuning.

Setelah selesai makan malam, saya mulai menggoreng pisang. Haduuh aromanya menggoda. Jadi camilan malam tahun baru kami perpaduan Belanda dan Indonesia, bercengkrama akrab di piring haha. Kami makan camilan sambil melihat kembang api yang mulai banyak terlihat dari kejauhan.

Jadi, rumah kami ini kan semacam komplek kluster, tidak langsung pinggir jalan raya. Di dalam komplek ini, kebanyakan adalah rumah dari para orang tua (Oma Opa) dan juga tidak jauh dari sini ada rumah jompo. Karenanya, suara petasan dan jedar jeder tidak terlalu nyaring terdengar dari rumah. Ditambah lagi, kami tinggal di kampung. Syukurlah, jadi seisi rumah nyenyak tidur sampai keesokan harinya tanpa ada yang terbangun (kecuali saya yang memang menunggu pertunjukan kembang api jam 12 malam). Saya dan suami sudah selimutan di kamar sejak jam setengah 10 malam. Ya seperti malam-malam sebelumnya, tidak ada bedanya apakah malam tahun baru atau tidak, jam tidur selalu sama. Kalau suami langsung tidur, saya masih menunggu jam 12 malam. Lumayan satu jam dalam satu tahun melihat pertujunjukan gratis kembang api dari dalam kamar.

Camilan malam tahun baru kami : Oliebollen, Berlinerbollen, Apelkanjer, dan pisang goreng. Yang laku malah pisang gorengnya
Camilan malam tahun baru kami : Oliebollen, Berlinerbollen, Apelkanjer, dan pisang goreng. Yang laku malah pisang gorengnya

Keesokan paginya saya mulai memasak untuk keperluan syukuran. Harusnya syukuran ini sudah dilaksanakan seminggu sebelumnya. Tapi karena saya ambeien, akhirnya diundur. Dan ya kebetulan pas sekalian awal tahun. Kali ini syukuran untuk dua hal penting yang sedang diamanahkan pada keluarga kami dan sekalian syukuran awal tahun semoga sepanjang tahun 2019 ini berkah untuk kami sekeluarga, diberikan kesehatan yang baik dan dijauhkan dari marabahaya.

Saya membuat tumpeng nasi kuning dengan lauk pelengkapnya : orek tahu tempe, mie goreng kuning, urapan sayur, ayam panggang bumbu rujak, sambe goreng kentang pete, irisan telur dadar, dan perkedel. Seperti biasa karena tidak punya cetakan tumpeng, saya memanfaatkan karton yang dibentuk tumpeng. Kalau kepepet kan bisa kreatif. Jadi kami serumah makan siang tumpeng ini. Berasa seperti syukuran betulan karena ada acara doa bersama dan potong tumpeng.

Tumpeng Syukuran nasi kuning dengan lauk pelengkapnya : orek tahu tempe, mie goreng kuning, urapan sayur, ayam panggang bumbu rujak, sambe goreng kentang pete, irisan telur dadar, dan perkedel
Tumpeng Syukuran nasi kuning dengan lauk pelengkapnya : orek tahu tempe, mie goreng kuning, urapan sayur, ayam panggang bumbu rujak, sambe goreng kentang pete, irisan telur dadar, dan perkedel

Selain dibuat tumpeng, saya juga memberikan nasi kotak ke para tetangga, saudara-saudara dan Mama mertua. Bagi-bagi rejeki dan memberi tahu mereka tentang syukuran apa yang kami lakukan. Dan kok yaa kalau diingat kembali, selama tiga tahun kebelakang, setiap hari pertama awal tahun, saya selalu membuat nasi kuning syukuran dan memberi hantaran nasi kotak. Sampai Para tetangga bertanya apa ini tradisi di Indonesia setiap awal tahun, sampai mereka hafal haha. Sebenarnya bukan tradisi ya, kebetulan saja.

Beberapa nasi kuning yang dikirim ke paratetangga, saudara-saudara, dan Mama mertua
Beberapa nasi kuning yang dikirim ke paratetangga, saudara-saudara, dan Mama mertua

Begitulah cerita awal tahun baru kami yang diawali dengan syukuran. Semoga keberkahan menyertai langkah kita semua di tahun ini.

-Nootdorp, 11 Januari 2019-

Cerita Tahun 2018 dan Rencana Tahun 2019

Lengkap satu meja - Syukuran

Selamat Tahun Baru 2019

Semoga kebahagiaan dan kesehatan selalu menyertai sepanjang tahun juga umur yang barakah. Semoga segala rencana dan doa yang terpanjatkan mendapatkan jalannya untuk terkabulkan dan dilancarkan. Semoga semakin rendah hati, dikuatkan iman, dan dikelilingi orang2 terkasih. Apapun itu, semoga yang terbaik.

Seperti biasa, awal tahun saya akan menuliskan beberapa hal yang telah terjadi ditahun 2018 (rekap singkat saja dan hasil dari rencana yang pernah ditulis awal tahun 2018) dan beberapa hal yang akan dilakukan ditahun 2019. Tulisan ini akan sangat panjang, terima kasih bagi yang sudah meluangkan waktu untuk membacanya.

 

CERITA TAHUN 2018

Untuk cerita tahun 2018, saya akan bagi menjadi beberapa bagian dan mengacu pada rencana tahun 2018 yang pernah saya tuliskan di postingan awal tahun 2018, bisa di baca di sini.

KEHIDUPAN PRIBADI

  • LULUS UJIAN INTEGRASI YANG PALING AKHIR (ONA = Oriëntatie op de Nederlandse Arbeidsmarkt).

Pada rencana tahun 2018 yang saya tuliskan di postingan awal tahun, salah satu target yang harus saya lakukan adalah lulus ujian intergrasi yang paling akhir. Sebagai informasi singkat karena yang membaca blog kami bukan hanya yang tinggal di Belanda, jadi ujian integrasi ini dibutuhkan untuk mendapatkan ijin tinggal di Belanda dalam jangka waktu lama dengan syarat dan kondisi tertentu. Ujian integrasi ini harus diselesaikan dalam waktu 3 tahun sejak awal kedatangan di Belanda. Saya sudah menyelesaikan 5 ujian integrasi (level B1 dan KNM) pada awal tahun 2016 dan masih punya tanggungan satu ujian lagi yaitu ONA. Sebenarnya saya molor sih dari waktu yang ditentukan. Tapi molornya saya ada kondisi yang diijinkan oleh DUO (lembaga pemerintahan yang mengurusi ujian integrasi). Apa sih ONA ini? singkatnya semacam interview pekerjaan dan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan yang pernah dilakukan sebelumnya dan rencana ke depan di Belanda. Ada beberapa formulir yang harus diisi dan akan ditanyakan selama interview.

Sehari setelah pulang dari liburan di Malta, saya ujian ONA. Dari jatah 40 menit interview (dalam bahasa Belanda tentu saja), saya selesai dalam waktu 15 menit saja. Lumayanlah, nyaris 4 tahun hidup di Belanda, pernah kerja juga jadi tidak mengalami kesulitan dalam proses wawancara selama ujian ONA. Pengujinya ada 2 orang. Beberapa hari kemudian, nyaris diakhir tahun, hasil ujian keluar dan saya dinyatakan lulus. Dengan begitu, tuntaslah sudah kewajiban saya untuk menyelesaikan 6 ujian dan bulan depan saya sudah bisa mengambil diploma kelulusan. Langkah selanjutnya saya bisa mengajukan ijin tinggal tanpa batas waktu di Belanda.

  • MEMBACA TUNTAS SEBANYAK 30 BUKU DALAM SETAHUN

Membaca buku sudah menjadi kebutuhan dalam hidup bagi saya. Tidak memegang Hp dan tidak aktif dengan internet, bisa saya lakukan. Tapi kalau tidak membaca buku, tidak bisa saya lakukan. Entahlah, sudah mendarah daging rasanya. Dan seperti biasa, setiap tahun saya selalu mengikuti tantangan membaca yang ada di Goodreads dan setiap tahun juga saya selalu mentargetkan membaca 50 buku yang pada kenyataannya sampai saat ini masih belum bisa. Tapi tahun 2018 ini membuat saya gembira. Diantara kesibukan yang tiada tara, saya masih bisa membaca tuntas 30 buah buku dalam setahun. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan buku yang saya baca di tahun 2017.

Buku-buku tersebut bukan hanya fiksi tapi juga non fiksi, dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Bagaimana saya bisa membagi waktu antara kesibukan sehari-hari dan membaca buku tetap berjalan dengan baik, pernah saya tuliskan cerita lengkapnya dipostingan tentang Kebiasaan Membaca Buku di Era Digital. Dan sebagai penghargaan ke diri sendiri, akhir tahun 2018 saya membeli 10 judul buku dalam bahasa Inggris dan beberapa buku yang masih dalam perjalanan ke Belanda dalam bahasa Indonesia serta beberapa judul buku dalam bahasa Belanda. Saya ingin merayakan suka cita saya bisa tetap membaca buku diantara kesibukan harian dengan memberi hadiah diri sendiri berupa buku-buku yang akan jadi bahan bacaan di tahun 2019.

  • KOPDAR DENGAN BEBERAPA BLOGGER

Salah satu rencana yang saya tuliskan pada tahun 2018 adalah bisa kopdar dengan beberapa blogger yang belum saya temui sebelumnya. Seingat saya, ada dua blogger yang kenal sudah lama tapi baru bisa ketemu tahun 2018, yaitu Astrid dan Ananti. Setelahnya, saya ketemu lagi dengan Yayang (dan Cinta Cahaya) setelah ketemu terakhir tahun 2015. Akhir tahun, nyaris saya bisa ketemu dengan Dita karena dia sedang liburan ke Belanda, tapi akhirnya tidak jadi ketemu.  Belum berjodoh, mungkin ini pertanda kami sekeluarga bisa ke NYC dan ketemuan dengan Dita di sana (Amiinnn).

  • SANGAT RAJIN MENULIS DI BLOG

Tahun 2018, saya lumayan rajin menulis blog. Ada 48 tulisan, dibandingkan tahun 2017 yang hanya 34 tulisan dalam setahun. Jadi target lebih rajin menulis di blog tahun 2018, tercapai. Tahun 2018, 41% lebih produktif dibandingkan 2017.  Lagi-lagi, saya memberikan apresiasi kepada diri sendiri karena bisa meluangkan waktu untuk melakukan hobi lainnya yaitu menulis blog selain membaca buku, ditengah kesibukan berkegiatan setiap hari.

  • RECONNECTING

Sudah saya niatkan tahun 2018 saya akan memulai memperbaiki tali silaturrahmi dengan cara menyapa teman-teman lama maupun saudara yang lama tidak terdengar kabarnya. Bersyukur ada beberapa teman lama yang akhirnya sekarang saling berkirim kabar dengan saya. Sekedar menyapa “Hai bagaimana kabar kamu sekarang?” ternyata bisa membuat yang disapa sangat senang lho dan efeknya ke saya sebagai pihak penyapa pun menjadi senang. Semoga hal ini bisa saya lakukan secara berkelanjutan.

KELUARGA

Syukur saya ucapkan keluarga kami tahun 2018 melewati hari demi hari dengan banyak belajar hal yang baru. TIdak perlu saya sebutkan di sini hal-hal baru apa, tapi semuanya semakin membuat kami semakin dekat dan menghargai waktu kebersamaan. Menyadari bahwa waktu tidak bisa diputar ulang, kami memanfaatkan waktu bersama sebaik mungkin. Salah satunya yang kami lakukan adalah mengurangi intensitas menggunakan Hp atau gadget jika di rumah. Dengan cara tersebut, kami bisa saling terhubung secara nyata tanpa harus saling sibuk sendiri.

  • SYUKURAN

Tahun ini memang kami beberapa kali mengadakan syukuran. Awal tahun kami mengadakan syukuran yang beberapa ceritanya pernah saya tulis di blog. Nah syukuran yang akan saya ceritakan ini spesial tapi belum saya tuliskan di blog. Acara syukuran kali ini kami mengundang seluruh keluarga dan tetangga serta lima orang teman dekat yang datang beserta keluarga mereka. Saya sangat bersemangat sekali dengan acara kali ini karenanya saya niat memasak beraneka jenis makanan dan camilan. Ada beberapa yang saya juga pesan karena tidak bisa membuat sendiri.

Jadi saya memasak nasi kuning, sayur urap, sate ayam, sambel, sayap ayam panggang, sayur lodeh pake balungan, sambel goreng hati kentang pete, tahu telor bumbu rujak, perkedel, acar, bumbu sate,mie goreng kuning, dan lontong. Nah itu menu utamanya. Camilannya saya membuat muffin keju lemon, martabak-martabak mini isi bihun, lumpia semarang isi rebung tahu dan wortel pakai saus tauco, menggoreng beberapa jenis kerupuk termasuk rambak sapi. Yang saya pesan ke Rurie risoles, taart, dan lupis. Sedangkan bakwan sayur dikasih oleh Fitri.

Syukuran
Syukuran
Sate Ayam - Syukuran
Sate Ayam – Syukuran
Sayap Ayam Panggang - Syukuran
Sayap Ayam Panggang – Syukuran
Tahu Telur bumbu rujak, sambel goreng hati kentang pete, mie goreng - Syukuran
Tahu Telur bumbu rujak, sambel goreng hati kentang pete, mie goreng – Syukuran
Perkedel, Acar, Sambel - Syukuran
Perkedel, Acar, Sambel – Syukuran
Nasi Kuning - Syukuran
Nasi Kuning – Syukuran
Risoles, pesen di Rurie - Syukuran
Risoles, pesen di Rurie – Syukuran
Urap Sayur - Syukuran
Urap Sayur – Syukuran

Niat banget ya masaknya sampai sebegitu banyaknya. Iya, saya memang sebegitu niatnya karena seperti yang saya sebutkan sebelumnya kalau syukuran kali ini benar-benar spesial. Tapi melihat semua yang datang benar-benar senang, rasa capek masak rasanya terbayarkan karena mereka menikmati yang kami suguhkan. Semua keluarga senang bisa berkumpul bersama, saya juga senang bisa bertemu dengan teman-teman dekat yang memang sangat jarang bertemu. Oh ya, Es Podeng Cake yang saya pesan di Rurie rasanya juara. Kalau untuk urusan buat taart, mending saya pesan saja, daripada pusing bikin sendiri.

Lengkap satu meja - Syukuran
Lengkap satu meja – Syukuran
Tukang masaknya, kelaparan - Sykuran
Tukang masaknya, kelaparan – Sykuran
  • RENCANA MUDIK KE INDONESIA

Awal tahun kami sudah merencanakan dengan matang akan mempersiapkan liburan ke Indonesia pada akhir 2018. Bahkan persiapan tersebut sudah sangat matang. Tapi ternyata kami belum berjodoh mudik tahun 2018. Kami diberikan rejeki lainnya, Alhamdulillah. Tidak apa-apa, diundur sejenak liburan ke Indonesia menjadi ke tahun 2020, yang artinya nanti pada saat kami liburan ke Indonesia, genap 5 tahun lebih saya tidak pulang. Mudah-mudahan tidak kaget dengan segala perubahan yang ada di Indonesia.

JALAN-JALAN

Setiap tahun, kami selalu mempunyai rencana untuk mengunjungi satu negara baru sebagai tujuan liburan kami. Saya pernah menuliskan bahwa tahun 2018 akan menjadi tahun yang menantang dalam hal bepergian. Dan memang hal itu terbukti tapi dalam arti yang positif. Bersyukur walaupun kami perlu melakukan penyesuaian terhadap beberapa hal berkaitan dengan pelaksanaan di lapangan, tapi bukan sesuatu yang besar. Liburan bisa berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan.

Awalnya rencana mengunjungi negara baru tahun ini hanya ke Portugal (road trip selama 10 hari mengunjungi 7 kota sekaligus liburan untuk merayakan ulang tahun saya), tapi bersyukur kami diberikan rejeki dan waktu sehingga pada bulan Desember saat musim dingin kami bisa berlibur satu minggu ke Malta. Liburan pertama tahun 2018, kami pergi ke Münster , Jerman, pada bulan Februari. Ini liburan singkat sih hanya pada akhir pekan saja. Ketika suami berulangtahun, kami merayakan dengan road trip ke wilayah Bavaria, Jerman. Road trip kali ini lumayan menantang karena jarak tempuh yang lumayan lama dari tempat tinggal kami yaitu 12 jam perjalanan. Tapi ternyata semua berjalan baik-baik saja tanpa ada kendala berarti.

KESEHATAN

Kesehatan seluruh keluarga di tahun 2018 lumayan bagus. Ada sakit tapi tidak yang serius misalkan batuk dan demam karena pergantian musim. Khusus untuk saya, bulan Desember lumayan kena hantam sakit yang agak bikin keliyengan. Saat kami liburan di Malta, saya mulai sakit pilek yang awalnya karena sinusitis kambuh. Eh ternyata keterusan demam dan batuk. Beruntungnya karena sedang liburan dan terbawa suasana senang, jadi sakit tidak terlalu saya rasakan. Tetapi begitu sampai rumah, sakitnya malah parah. Belum selesai sakit pilek dan kawan-kawannya, eh terbitlah ambeien. Seumur-umur saya belum pernah kena ambeien jadi pas dua hari kena, ampun saya tidak bisa beraktifitas sama sekali cuma tergolek di tempat tidur. Untungnya (dasar Jawa, masih saja ada untungnya), kok ya pas libur Natal jadi segala sesuatu di rumah diurusi suami meskipunsaya tidak bisa Natalan di rumah mertua. Disinyalir sakit ambeien ini karena beberapa hari sebelumnya saya meminum obat penambah zat besi (karena tubuh sedang kekurangan zat besi) yang diberi resep oleh dokter.

Nah karena saya tidak tahan dengan rasa sakit ambeien, jadi beberapa kali saya telpon dokter untuk meminta resep atau tindakan apa yang bisa membuat sakitnya minimal berkurang. Walaupun sudah diberi resep pil, salep, dan sirup, tapi kok rasanya beberapa hari itu sakitnya tidak berkurang. Tapi dokter pun tidak bisa mengambil tindakan yang lebih dari itu, untuk saat ini. Ternyata oh ternyata, setelah saya telatenin obat-obatnya, rasa sakitnya mulai berkurang. Cuma saya saja yang kurang sabar karena tidak kuat sakit. Bersyukur sekarang semua sakit itu sudah tidak ada lagi. Mudah-mudahan jangan datang lagi.

 

Begitulah rekap singkat (yang tidak terlalu singkat juga) saya tentang hal-hal penting yang terjadi di tahun 2018. Tahun yang penuh berkah, bahagia, dan penuh pembelajaran. Geweldig! kalau kata orang Belanda. Tahun yang super!

Selanjutnya saya akan menuliskan apa saja rencana yang ingin saya lakukan ditahun 2019.

RENCANA TAHUN 2019

Sejujurnya saya pribadi tidak terlalu punya banyak rencana di tahun ini. Inginnya merencanakan beberapa hal per tiga bulan saja misalnya, melihat situasi dan kondisi. Namun begitu, ada beberapa rencana yang saya pikir bisa dilakukan sepanjang tahun, seperti :

  • Tetap dengan target membaca buku, saya berencana bisa membaca 35 buku ditahun 2019 ini meskipun target di Goodreads tetap saya tulis sebanyak 50 buku. Sekitar 20 judul buku baru sudah ada di perpustakaan rumah kami yang kebanyakan adalah non fiksi. Ya, saya sedang senang membaca buku non fiksi terutama yang berhubungan dengan Parenting dan Kesehatan Mental.
  • Untuk urusan jalan-jalan, kami tetap berencana bisa mengunjungi satu negara baru tahun ini. Sudah ada gambaran negara mana yang akan kami kunjungi. Dan, tahun ini akan lebih menantang bagi kami sekeluarga untuk urusan jalan-jalan. Semoga diberikan kelancaran.
  • Tahun kemarin saya berencana ingin daftar kuliah atau kursus tapi masih belum bisa terlaksana. Nah karena ujian integrasi semua sudah saya tunaikan, maka tahun 2019 saya berencana ingin fokus kembali belajar bahasa Belanda sebagai persiapan akan kembali mencari pekerjaan ditahun 2020. Rencananya tahun 2020 saya akan mengikuti ujian bahasa Belanda level B2 sebagai bekal bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dan saya inginkan. Selain itu, saya juga mulai akan membekali dengan update informasi yang berkaitan dengan pekerjaan yang akan saya cari tahun depan.
  • Tahun 2019 ini, mudah-mudahan saya bisa kembali menonton konser karena sudah ada tiga tiket konser musik yang sudah saya beli. Tiga konser tersebut adalah Maroon 5, Backstreet Boys (BSB), dan Bon Jovi. BSB dan Bon Jovi adalah impian saya sejak dulu. Jadi ketika bisa membeli tiket konser mereka, rasanya tinggal selangkah lagi saya bisa mewujudkan impian bisa menonton konser mereka. Mudah-mudahan terlaksana ya. Kita lihat saja nanti.
  • Rencana tahun 2018 saya akan mulai ikutan race lari 10km, ternyata masih belum bisa karena kondisi belum memungkinkan. Nah, mulai pertengahan tahun 2019, saya sudah mulai bisa latihan lari karena rencananya tahun 2020 bulan Maret saya dan suami akan ikut Half Marathon (21km). Kalau bisa terlaksana, ini akan jadi HM pertama saya. Semoga saya bisa konsisten latihan
  • Untuk keluarga, semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu menyertai keluarga kami. Segala rencana (yang tidak bisa saya tuliskan di sini) bisa terlaksana dengan lancar dan diberikan kemudahan. Semoga keluarga kami selalu diberikan umur yang berkah, bermanfaat bagi semua dan tidak lupa bersyukur atas segala rejeki dan titipanNya.
  • Karena tahun 2019 kegiatan dan kesibukan akan bertambah, makan saya berencana tahun ini mengurangi kegiatan menulis blog, blogwalking maupun mengurangi eksistensi saya di dunia maya (terutama twitter). Saya akan lebih fokus pada kegiatan di dunia nyata terutama untuk keluarga. Jadi kebalikan dari tahun kemarin yang saya targetkan lebih rajin ngeblog dan berhasil, maka tahun ini saya akan mengurangi intensitas ngeblog. Prioritas saya saat ini adalah keluarga dan ingin belajar hal-hal yang menunjang kembalinya saya nanti di dunia kerja (dan mudah-mudahan bisa kuliah lagi juga).

 

Untuk Indonesia, semoga Pemilu 2019 bisa berjalan dengan lancar tanpa gontok-gontokan dan tanpa saling menjatuhkan. Pilihan Presiden bisa saja berbeda, tapi kita bisa menggunakan akal sehat supaya apa yang kita pilih memang berdasarkan yag terbaik menurut kita tanpa merusak tali pertemanan maupun persaudaraan.

Dan untuk mereka yang sedang berjuang (berikhtiar) dalam hal kesehatan, karir, keluarga atau apapun itu, saya haturkan doa semoga perjuangannya diberikan kemudahan untuk mencapainya dan kelancaran pada saat prosesnya.

-Nootdorp, 6 Januari 2019-

 

 

 

Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta

Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta

Sejak saya pindah ke Belanda, setiap Desember kami menyempatkan untuk mengunjungi Pasar Natal. Tahun 2015, kami ke Pasar Natal yang ada di Köln, Jerman. Tahun 2016, kami ke Pasar Natal yang ada di Den Haag. Sedangkan tahun 2017, kami libur dulu tidak datang ke pasar Natal karena kondisi yang tidak memungkinkan. Tahun 2018 ini, kami kembali datang ke Pasar Natal dan kali ini kami beruntung sewaktu ke Malta ternyata bertepatan dengan pasar Natal yang skalanya besar bernama Natalis Notabilis.

Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta

Natalis Notabilis adalah pasar Natal yang lokasinya berada di jalan-jalan sempit dan bersejarah di kota Rabat, Malta. Jalan sempit ini diubah menjadi seperti negeri yang bernuansakan Natal dan mengusung tema yang unik. Menampilkan kios-kios yang terbuat dari kayu dan berjejer dihiasi oleh lampu-lampu cantik adalah salah satu daya tariknya.

Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta

Natalis Notabilis tahun 2018 berlangsung dari tanggal 7-13 Desember, dari jam 6 sore sampai 11 malam dan di hari-hari tertentu dari jam 11 siang sampai jam 11 malam. Tidak hanya makanan saja yang ada di pasar Natal ini, tetapi barang-barang kerajinan tangan, pakaian, pernak pernik dekorasi rumah dan masih banyak lainnya yang juga dijual.

Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta

Makanan yang dijual pun, dari yang internasional seperti makanan khas Jerman, sampai makanan lokal yang rasanya manis seperti Qagħaq tal-għasel (Honey Ring), Qastan tal-imbuljuta (cokelat panas dengan chestnut), Imqaret (Date Pastry), dan datang ke pasar Natal tak lengkap rasanya jika tidak mencicipi Glühwein. Kami juga sempat membeli Honey Ring, cuma saya ternyata tidak cocok rasanya. Terlalu manis untuk lidah saya.

Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Ini rasanya manis, isinya seperti Vla. Namanya Cannoli - Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Ini rasanya manis, isinya seperti Vla. Namanya Cannoli – Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Honey Ring - Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Honey Ring – Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Gluhwein - Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Gluhwein – Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta

Setiap pasar Natal mempunyai keunikan dan ciri khas masing-masing. Karenanya kami selalu tertarik untuk mengunjungi pasar Natal yang berbeda setiap tahunnya, jika memungkinkan. Merasakan kehangatan suasana di bulan Desember dan melihat keceriaan yang ada di sana, kesyahduan suasana. Semoga kedepannya pasar Natal yang ada di seluruh dunia tidak lagi dinodai oleh gangguan dari pihak-pihak yang menyebabkan banyak orang menjadi meninggal dunia. Semoga dunia kembali semakin damai.

Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta

Tahun ini pertama kalinya kami tidak memasang Pohon Natal, sampai situasi dan kondisi memungkinkan, mungkin 2 tahun lagi. Namun hal tersebut tidak mengurangi semangat kami untuk merasakan dan menikmati kesyahduan Natal. Di rumah kami bahkan sudah ada Nastar dan Kue Mawar, yang jumlahnya menyusut drastis dari yang nampak difoto karena setiap hari dicamilin.

Enak banget ini
Enak banget ini

Saya mewakili kami sekeluarga mengucapkan Selamat hari raya Natal untuk teman-teman semua yang merayakan. Semoga dunia ini semakin dipenuhi dengan kehangatan dan cinta kasih, damai untuk semuanya. We Wish You A Merry Christmas and Happy Holidays.

Pohon Natal di rumah kami tahun kemaren
Pohon Natal di rumah kami tahun kemaren

-Nootdorp, 23 Desember 2018-

Musim Dingin yang Hangat di Malta (Bagian 1)

Malta

Kami baru saja beberapa hari di rumah setelah satu minggu “mengungsi” ke negara yang sepanjang tahun berlimpah sinar matahari, yaitu Malta. Anggap saja ini liburan untuk ulang tahun saya yang dipercepat beberapa bulan karena biasanya kalau saya ulang tahun, pasti kami pergi liburan. Dikarenakan pada saat ulang tahun saya nanti akan ada kesibukan yang tidak mungkin meninggalkan Belanda ataupun jalan-jalan jauh meskipun sekitar Belanda, ya jadi anggap saja ini pengganti liburan ulang tahun  (haha ini sih sebenarnya agak maksa). Aslinya sih ya ini liburan dadakan. Jadi pada suatu hari, suami tiba-tiba melontarkan ide untuk liburan akhir tahun, sekalian pertama kali ngungsi pada saat musim dingin di Belanda. Setelah mendapatkan beberapa alternatif tempat, akhirnya pilihan jatuh ke Malta, ide dari seorang teman baik di sini.

Kami baru benar-benar memutuskan akan pergi kira-kira 1.5 minggu sebelum waktu keberangkatan. Biasanya yang kebagian mencari informasi hotel dan tempat-tempat yang akan kami datangi, itu tugas saya. Tapi karena mendadak dan banyak hal yang saya urus dalam minggu tersebut, akhirnya suami yang mengurus semua hal untuk liburan kali ini. Dia bilang sudah ikutan paket Tour. Wah, saya kaget juga ya, kok kali ini mau ikutan Tour karena selama ini tidak pernah. Dia bilang paket yang ditawarkan murah. Oh ternyata setelah saya tanya lebih dalam, maksudnya paket tour ini adalah harga pesawat dan hotelnya saja. Dan memang jatuhnya murah sekali untuk ukuran satu minggu di sana. Jadi kami kali ini memanfaatkan jasa TUI. Dan testimoni dari kami, puas karena semua diurus termasuk penjemputan dari Bandara di Malta sampai ke hotel dan begitu juga saat kembali. Nah sehari-harinya, ya kami jalan sendiri, tidak ikut dengan paket tour yang mereka tawarkan, jadi lebih fleksibel.

Kami berangkat dari rumah jam setengah 9 pagi karena Air Malta, pesawat yang membawa kami ke Malta jadwalnya berangkat setengah 12. Kali ini kami hanya membawa satu koper besar dan masing-masing dari kami membawa tas punggung, semua untuk keperluan satu minggu untuk sekeluarga. Ternyata oh ternyata, sesampainya di Schiphol, membaca pengumuman, penerbangan mundur tiga jam. Haduhh kesel banget kalau ada jadwal mundur begini. Terbayang sampai Malta pasti sudah gelap karena lama penerbangan 3 jam. Singkat cerita, jam setengah tiga sore kami baru terbang dan sampai Malta jam setengah 6. Selama penerbangan, aman terkendali, hanya sedikit kendala minor saja. Kami baru sampai hotel sekitar jam 7 malam dengan keadaan yang luar biasa capek karena jadwal penerbangan yang mundur.

Air Malta
Air Malta

Kalau berbicara tentang Malta, dulu selalu saya mikirnya negara pulau ini selalu padat dengan turis, terlebih turis Eropa. Selain itu, saya juga berpikirnya yang bisa dikunjungi hanyalah pantai saja. Tetapi saya salah besar. Ada banyak hal yang baru saya ketahui sebelum berkunjung ke Malta karena sempat membaca sejarahnya dan juga saat ada di sana jadi bisa tahu secara langsung seperti apa dan bagaimana Malta itu sesungguhnya, termasuk mengamati orang-orang lokalnya. Pada tulisan kali ini, saya belum akan menuliskan tempat-tempat yang kami kunjungi, melainkan berbagi informasi tentang Malta dari pengalaman kami ke sana. Karena tulisan ini ternyata jadinya panjang, maka akan saya bagi menjadi dua bagian.

  • Sekilas Tentang Malta

Malta atau yang disebut sebagai Republik Malta adalah negara pulau. Kepulauan Maltese yang terdiri dari Malta, Comino, dan Gozo dikelilingi oleh birunya laut mediterania di selatan Sisilia. Karena letaknya juga dekat dengan Tunisia, maka pengaruh Afrika Utara juga ada di pulau ini. Malta yang tidak terlalu besar, yaitu hanya 27km panjang dan 14km lebar, menjadikan Malta termasuk 10 negara terkecil di dunia.

Malta_Map_-_English_Language_School__Learn_English_-_ELA_Malta (Sumber : http://www.elamalta.com/malta-map)
Malta_Map_-_English_Language_School__Learn_English_-_ELA_Malta (Sumber : http://www.elamalta.com/malta-map)

Bahasa resmi yang diguanakan di Malta adalah Bahasa Maltese dan Inggris. Bahasa Maltese merupakan percampuran antara bahasa Arab dan Italia. Karenanya saat pertama kali saya mendengarkan warga lokal berbicara, langsung saya mengenali aksen arabnya. Bahkan banyak jalan banyak yang masih menggunakan kosakata arab dan ada dua kota favorit para turis yang terdengar sangat Arabic, yaitu Rabat dan Mdina. Tidaklah heran karena bangsa Arab pernah memerintah negara ini selama 220 tahun sebelum akhirnya dikoloni oleh Inggris dan beberapa bangsa Eropa lainnya. Negara ini sangat bangga dengan Ksatria Malta yang legendaris, yang berjuang melawan Turki dan meluncurkan Perang Salib.

  • Musim Terbaik Mengunjungi Malta

Tidak ada waktu terbaik untuk mengunjungi Malta karena sepanjang tahun adalah waktu yang baik, matahari menyinari negara ini, bahkan saat musim dingin sekalipun. Sewaktu kami di sana, tidak sekalipun turun hujan dan suhu maksimal 20 derajat celcius. Jadi bisa dibayangkan betapa senangnya kami selama seminggu merasakan hangat matahari tanpa harus menggunakan jaket (meskipun kadang anginnya agak semriwing dingin ya), sedangkan suhu di Belanda sudah masuk ke angka minus di pagi hari. Dari beberapa artikel yang saya baca, lebih enak lagi jika mengunjungi Malta saat musim semi dan musim gugur. Jika musim panas, matahari terlalu terik dan yang pastinya penuh sesak turis juga karena musim liburan.

Matahari cerah - Dingli Cliffs
Matahari cerah – Dingli Cliffs

Karena kami ke sana bukan musim liburan, jadi berasa sekali kalau Malta itu sepi. Sepanjang minggu, yang sering kami temui adalah rombongan Oma dan Opa dan juga sebagian kecil keluarga dengan anak balita. Bahkan di hotel tempat kami menginap, lebih banyak rombongan Oma dan Opa. Kami kasak kusuk, kalau musim panas pasti hotel ini penuh dengan anak-anak muda. Syukurlah kami ke sana saat musim dingin dan bukan musim liburan jadi di mana-mana tidak penuh sesak dengan turis. Nah keuntungan lainnya, harga tiket pesawat dan hotelnya juga jadi super murah.

  • Malta Bukan Hanya Tentang Pantai

Seperti yang saya singgung sebelumnya, dulu saya mengira Malta itu hanya tentang pantai dan pantai. Ternyata saya salah. Sejarah Malta sangat menarik untuk diketahui dan banyak bangunan-bangunan bersejarah yang sangat indah. Tidak hanya tentang sejarahnya, alam Malta pun benar-benar membuat saya terpesona, indah. Selama kami di sana, terus terang tidak terlalu banyak tempat yang kami kunjungi karena liburan kali ini benar-benar santai. Kami benar-benar menikmati alam Malta dan keindahan bangunan dan sejarahnya. Menyusuri setiap sudut kota yang kami datangi, menyusuri gang-gangnya dan masuk serta duduk-duduk di depan bangunan-bangunannya yang indah.

Salah satu gang di kota Rabat
Salah satu gang di kota Rabat
Ta' Pinu, Gereja terbesar di Pulau Gozo
Ta’ Pinu, Gereja terbesar di Pulau Gozo

Karena kami tinggal di negara yang sangat datar, begitu melihat ada bukit, kaki rasa gatel juga untuk trekking. Jadilah beberapa kali kami sempat trekking juga. Lumayan juga lho kami jalan kaki dan atau trekking kalau ditotal setiap harinya bisa mencapai 10km-15km. Begitu sampai atas, rasanya terbayarkan usaha naik saat melihat pemandangan laut yang luar biasa indahnya. Mungkin karena darah saya adalah anak pesisir, jadi kalau lihat laut rasanya seperti bertemu saudara kandung, riang dan gembira luar biasa.

Malta sangat cantik!

Malta
Malta
Trekking ke Kastil Merah di Mellieha
Trekking ke Kastil Merah di Mellieha
Trekking di Dingli Cliffs
Trekking di Dingli Cliffs

Untuk bagian satu, sampai disini dulu ya. Nanti akan saya lanjutkan ke bagian kedua tentang hotel yang kami tempati yang sangat cihuyy fasilitas dan lokasinya, tentang kemudahan transportasi di Malta, Kuliner Malta, Harga yang lebih murah, dan turis-turis yang datang ke Malta. Jadi, simak bagian selanjutnya

-Nootdorp, 19 Desember 2018-

Tradisi Berkirim Kartu Ucapan di Belanda

Kartu Ucapan Natal dan Tahun Baru yang akan saya kirimkan tahun ini

Wah, masih musim nih saling berkirim kartu dijaman yang hanya sejauh satu klik jempol?

Di Belanda, berkirim kartu ucapan sudah menjadi tradisi. Saking benar-benar mengakar dengan kuat, sampai toko apapun rasanya selalu ada tempat untuk menjual kartu ucapan. Dari Supermarket, toko buku, toko anak-anak, dan toko serba ada. Bahkan di pasar pun ada toko khusus yang menjual kartu-kartu ucapan dari segala jenis. Mungkin hanya toko-toko spesifik seperti toko daging, toko ikan saja rasanya yang tidak menjual kartu ucapan. Seringkali jika sedang jalan-jalan sore lalu ke toko Buku namanya Bruna, saya sengaja mampir hanya ingin melihat-lihat saja kartu-kartu ucapan yang ada. Saking banyak yang lucu dan bagus, makanya saya senang memperhatikan dan mengamati kartu ucapan apa saja yang ada di sana.

Saya dari dulu sangat senang berkirim kartu. Kalau tidak salah ingat, sejak SD. Jadi kalau lebaran atau ada yang ulang tahun, saya selalu berkirim kartu. Tentunya kepada keluarga atau teman yang sangat dekat. Berasa senang kalau sudah mulai menuliskan di kartu dan memikirkan kata-kata apa ya yang sekiranya bisa saya goreskan di sana. Oh, saya tiba-tiba ingat, dulu juga sering saling berkirim kartu dengan sahabat pena yang kenalnya dari majalah. Wah masa-masa itu, rasanya senang kalau pak pos datang ke rumah dan tidak sabar membuka surat atau kartu ucapan yang dibawa. Sampai terakhir di Surabaya pun, saya masih setia dengan berkirim kartu. Bukan hanya kartu ucapan tapi juga kartupos kalau sedang bepergian.

Nah di Belanda ini, meskipun negaranya sudah maju begini, tapi tradisi berkirim kartu masih sangat terjaga sampai sekarang. Tentu saja hal tersebut menyenangkan buat saya karena seperti telah tersebut sebelumnya kalau berkirim kartu itu jadi salah satu kegiatan yang saya lakukan dari dulu. Rasanya beda jika menuliskan ucapan apapun lewat kartu dan mengirimkan langsung ke tempat tujuan atau lewat pos. Sentuhan personalnya lebih terasa karena saat menuliskan di kartu, kita memikirkan orang yang akan dikirimi dan memikirkan kata-kata apa yang akan dituliskan dan juga memilih kartu seperti apa yang cocok dengan situasi penerima.

Semarak berkirim kartu di Belanda makin terasa apalagi kalau menjelang hari-hari khusus semisal Natal, Tahun Baru dan Hari Ibu. Tidak hanya hari-hari khusus yang skala nasional, yang benar-benar personal pun kartunya dijual bahkan kadang yang tidak terpikirkan, misalkan kartu ucapan selamat karena bertambahnya anggota keluarga setelah mengadopsi kucing, anjing, burung atau hewan peliharaan lainnya. Kartu ucapan personal lainnya adalah kartu yang mengabarkan kelahiran (biasanya didesain sendiri, lalu dicetak dalam jumlah banyak. tidak membeli yang sudah ada di toko), kartu ucapan sudah lulus ujian sekolah, lulus ujian menyetir, kartu ulang tahun pastinya, kartu selamat atas kehamilan, kartu semoga cepat sembuh dari sakit, kartu selamat menempati rumah baru, kartu berbelasungkawa, kartu mengabarkan kematian, bahkan sekedar kartu ucapan terima kasih, dan masih banyak lagi kartu ucapan-ucapan lainnya yang sifatnya personal.

Mama mertua rajin sekali berkirim kartu. Bahkan Beliau masih menyimpan kartu ucapan yang diterima dari awal melahirkan anak pertama sampai anak terakhir, padahal itu sudah puluhan tahun lalu. Saya senang kalau ke rumah Mama dan melihat betapa rapinya dokumentasi Beliau, makanya saya jadi ikutan mencontoh. Saya mendokumentasikan hal-hal yang sifatnya personal dengan catatan di buku khusus semacam scrap book. Saya sudah punya beberapa. Menyenangkan lho menuliskan cerita perjalanan kehidupan di buku dilengkapi dengan beberapa foto dan beberapa barang lainnya. Saya bisa bercerita banyak hal di sana. Kalau dibaca lagi benar-benar membuat senyum-senyum mengingat apa yang sudah saya lewati sejauh ini.

Kembali lagi ke kartu ucapan, selama di sini saya menerima beberapa jenis kartu ucapan. Semuanya masih saya simpan dengan rapi dalam kotak dan saya bedakan sesuai kategorinya. Entah sampai kapan akan saya simpan. Jika ada momen khusus seperti ulang tahun atau melahirkan, kartu ucapannya biasanya dijejer dulu di meja khusus atau di meja dekat TV, beberapa lama kemudian baru disimpan, seperti itu gambaran orang Belanda ketika menerima kartu ucapan. Tahun ini saya menerima kartu ucapan selamat hari raya Idul Fitri, yang dikirim oleh Astrid. Selama di Belanda, baru kali ini saya menerima kartu ucapan lebaran. Jadinya terharu

Kartu ucapan lebaran dari Astrid
Kartu ucapan lebaran dari Astrid

Setiap tahun menjelang Natal dan Tahun Baru, sejak pertengahan November saya sudah sibuk mencicil menuliskan kartu ucapan Natal dan Tahun Baru. Biasanya saya akan kirimkan pertama buat teman dan saudara yang diluar Eropa. Satu atau dua minggu menjelang Natal, saya mulai berkirim yang disekitar Eropa. Nah untuk didalam Belanda, saya kirimkan seminggu atau beberapa hari menjelang Natal. Tahun lalu saya absen berkirim kartu karena tidak sempat. Tahun ini saya mulai berkirim lagi kartu ucapan Natal dan tahun Baru. Kartu-kartu yang saya kirimkan tahun ini sudah saya beli tahun kemarin dari anak tetangga yang menjual karena kegiatan sosial di sekolahnya yang dananya disalurkan untuk mendukung kegiatan anak-anak berkebutuhan khusus di Belanda. Lumayan, ada 30 kartu.

Kartu Ucapan Natal dan Tahun Baru yang akan saya kirimkan tahun ini
Kartu Ucapan Natal dan Tahun Baru yang akan saya kirimkan tahun ini

Beberapa kartu sudah saya kirimkan untuk teman-teman yang beralamat di luar Eropa. Sebagian besar lagi masih saya cicil menuliskannya. Menyenangkan lho rasanya menuliskan pesan-pesan didalamnya yang berbeda-beda disesuaikan kepada siapa yang akan dikirimi. Itulah kenapa saya suka sekali berkirim kartu ucapan apapun (dan juga kartupos saat liburan).

Kamu suka juga berkirim kartu ucapan? kapan terakhir menerima atau berkirim kartu ucapan?

-Nootdorp, 5 Desember 2018-

Oh iya, tanggal 5 Desember di Belanda merayakan hari Sinterklaas. Malam ini kami membuka kado (karena cuma satu kadonya haha). Nanti tanggal 25 Desember juga akan membuka kado-kado lagi.

Mengingat Lima Tahun Lalu

Ketemu pertama, makan di tempat makan yang banyak gazebo di Mulyorejo Surabaya. Saya mengajak sahabat saya haha jadi ini bukan kecncan

Saya bukan pengingat tanggal yang baik, tapi saya bisa mengingat momen. Untuk mengingat tanggal-tanggal penting seperti ulang tahun, bahkan tanggal ulang tahun sahabat-sahabat, saya mengandalkan pengingat di telepon genggam. Setali tiga uang, hal tersebut juga berlaku pada suami saya. Jadi kami ini pasangan yang suka dan gampang mengingat momen dibandingkan tanggal. Hanya keluarga dekat saja yang saya ingat luar kepala tanggal-tanggal pentingnya.

Beberapa hari lalu, kami baru saja melewati lima tahun, tepatnya lima tahun sejak awal perkenalan. Bukan lima tahun pernikahan ya (karena itu masih tahun depan). Bagaimana kami bisa selalu mengingatnya, karena pada saat perkenalan tersebut ada momen yang tidak kami lupa. Dan tanggal perkenalan itu juga kami jadikan salah satu bagian penting dalam pernikahan kami. Karenanya, kami selalu merayakan dua hal yang berkaitan dengan kebersamaan, yaitu tanggal pada saat kami berkenalan dan tanggal pada saat kami menikah (selain setiap bulannya kami juga selalu mengucapkan gefeliciteerd atau selamat pada tanggal pernikahan).

“Gaat snel,” begitu orang Belanda menyebutnya. Waktu begitu cepat berlalu. 5 tahun yang kami lalui dari awal berkenalan sampai saat ini benar-benar kami nikmati setiap saat. Mungkin karena itulah, jadi tidak terasa. Pertengkaran, berbeda pendapat, segala romantis yang ada, bahkan naik turun dan susah senang membawa kami bertahan sampai hari ini dan semoga sampai seterusnya. Tidak dapat dipungkiri, banyak sekali perbedaan diantara kami. Tapi sejauh ini, kami bisa membuat segala perbedaan itu tetap berjalan beriringan, bukan menyatukan. Ada banyak sekali kompromi, legowo, saling menerima kekurangan masing-masing dan saling berkomitmen dengan diri sendiri untuk selalu lebih baik setiap harinya.

Saya merasa (dan diamini oleh suami), saya yang sekarang jauh lebih baik dan lebih stabil dibandingkan saat sebelum bersama suami. Bukan, saya berubah bukan karena atau demi dia. Tapi saya berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik demi diri saya sendiri. Saya selalu mengingat bahwa seseorang akan merugi kalau hari ini tidak lebih baik dari hari sebelumnya. Karenanya, saya tidak mau menjadi orang yang merugi. Lima tahun bersama dia, dari awalnya yang saya sangat emosian dan susah mengendalikan amarah, sekarang saya jauh lebih santai dan lebih bisa mengatur emosi. Dan itu membuat jiwa saya lebih tenang dan nyaman. Saya berpikir, buat apa gampang tersulut oleh amarah. Malah membuat diri sendiri rugi dan capek sendiri. Lebih baik saya menyimpan energi dan menyalurkannya untuk hal-hal yang lebih berguna. Membicarakan secara kepala dingin setiap ada perbedaan. Saat ini saya lebih fokus dengan apa yang ada, benar-benar menikmati setiap detiknya, karena waktu tidak akan pernah berulang.

Ketemu hari pertama, malam harinya nya makan di tempat makan yang banyak gazebo di Mulyorejo Surabaya. Saya mengajak sahabat saya haha jadi ini bukan kencan. Lalu lapar lihat menu yang ada di meja
Ketemu hari pertama, malam harinya nya makan di tempat makan yang banyak gazebo di Mulyorejo Surabaya. Saya mengajak sahabat saya haha jadi ini bukan kencan. Lalu lapar lihat menu yang ada di meja

Sehari sebelum merayakan lima tahun tersebut, kami mengingat apa yang terjadi lima tahun lalu. Setiap detilnya masih kami ingat dengan baik dan itu membuat kami cekikikan dan tersenyum tak tertahankan. Betapa dari obrolan yang tidak penting, siapa sangka 8 bulan kemudian kami menikah. Kalau ada lagu yang bisa mewakili suara hati suami saat bertemu saya pertama kali, Terpesona punya Glenn Fredly mungkin yang pas. “Terpesona pada pandangan pertama …. ” *Terus mblenek dewe nulis ngene, ke PD en.

Bahkan dua sahabat saya pun sebagai saksi dari awal kami berkenalan, mengingat dengan baik apa yang terjadi setelahnya. Kalian memang the best!. Hubungan jarak jauh dari sebelum menikah bahkan setelah menikah. Perkenalan yang singkat saat saya sedang fokus menyelesaikan tesis dan tidak terpikir sama sekali tentang pernikahan. Campur nekat juga karena saya baru meng-iya-kan lamarannya setelah dua kali melamar dan tiga bulan kemudian kami menikah. Saat itu saya baru merasa yakin bahwa dia adalah orang yang terbaik untuk bersama-sama menua dan sampai akhir hayat. Semoga memang kami jodoh yang dipertemukanNya dan tertuliskan dalam rencanaNya. Lima tahun memang masih terhitung baru, kamipun sampai sekarang masih saling belajar mengenal satu sama lain. Masih ada saja kejutan yang muncul. Yang saya percayai juga, pasangan yang baik adalah yang membuat satu sama lain menjadi lebih baik.

Tidak hanya dari saya yang sekarang merasa menjadi pribadi yang lebih baik, saya juga merasa suami jauh lebih baik kondisinya daripada saat awal kami bertemu. Dia pun berubah menjadi baik bukan untuk menyenangkan saya, tapi kesadaran datang dari dirinya sendiri, agar langkah kedepannya semakin baik. Dia berproses, saya berproses, kami saling berproses bersama. Kalau saya sedang “kumat”, cara jitu untuk menjinakkan kekumatan saya yaitu mengingat lagi hal-hal manis dari awal perkenalan dan semua susah senang yang telah kami lewati bersama. Dan cara itu, ampuh buat saya. Setidaknya, setelahnya saya jinak lagi haha. Seringkali kami juga rasa tidak percaya sudah lima tahun saling mengenal, mengingat setahun awal pernikahan layaknya bom molotov (ini saya ya haha, kalau dia lempeng forever).

Ketemu kedua, makan di food court dekat kampus. Saya kaget lho tadi lihat foto ini di Hp suami. Betapa lengan sekecil itu dulu. Maklum, mahasiswa kena kejar proposal tesis. Sekarang lengannya tetap kecil sih, bagian badan yang lain yang emngembang haha. Kaos ini masih ada sampai sekarang. Nanti kalau saya sudah menyusut kembali,akan saya pakai lagi. Lalu saya lapar lihat makanan yang di foto
Ketemu kedua, makan di food court dekat kampus. Saya kaget lho tadi lihat foto ini di Hp suami. Betapa lengan sekecil itu dulu. Maklum, mahasiswa kena kejar proposal tesis. Sekarang lengannya tetap kecil sih, bagian badan yang lain yang emngembang haha. Kaos ini masih ada sampai sekarang. Nanti kalau saya sudah menyusut kembali,akan saya pakai lagi. Lalu saya lapar lihat makanan yang di foto

Suami saya ini kalemnya luar biasa, malah kalau lama tidak ada gejolak-gejolak, saya yang cari perkara. Biar rumah agak rame sedikit gitu :))) yang ada malah saya yang uring-uringan sendiri. Kata suami, saya dulu ini bagaikan permainan halilintar di Dufan, sekarang seperti sprinter (kereta jarak pendek di Belanda yang santai dan sering berhenti). Cara berpikir dia sederhana, tapi eksekusinya yang luar biasa dan sangat menikmati proses. Kalau saya, cara berpikir ndakik ndakik (ketinggian), tapi eksekusinya lebih ndakik ndakik haha. Tapi sekarang saya lebih santai. Berusaha menikmati setiap momen, setiap proses yang ada karena semua ini tidak akan terulang lagi. Karena itulah sekarang saya lebih tenang, bisa bernafas dengan sadar tidak berusaha keras menjadi sempurna. Saya banyak belajar hal-hal baik dari dia.

Kencan makan Sushi
Kencan makan Sushi

Kami merayakan lima tahun tersebut dengan kencan di restoran sushi langganan. Kencan sambil membicarakan apa yang sudah kami lewati dan apa yang kami rencanakan ke depannya, apa yang kami tunggu dalam waktu dekat maupun apapun yang akan terjadi di depan. Dua jam berlalu tidak terasa saat kencan makan malam tersebut. Kami pulang, berjalan bersisian dan dalam hati kami berharap semoga langkah kami kedepan tetap bersama, berjalan saling bersisian, saling menopang saat keadaan susah, saling tertawa saat keadaan senang, selalu bersyukur dengan segala yang sudah dititipkan pada kami saat ini dan bisa menjaga dengan sebaik mungkin yang kami miliki. Semoga.

Ada yang seperti kami jugakah, masih mengingat kapan persisnya pertama kali berkenalan dengan pasangan?

-Nootdorp, 1 Desember 2018-