Ramadan Ketujuh di Belanda

Maccaron. Pertama kali bikin karena punya stok putih telor banyak. Meskipun bentuknya masih belum konsisten, tapi lumayanlah untuk pemula. Rasanya juga enak ga terlalu manis

Seperti biasa, setelah pindah ke Belanda dan saat Ramadan, disempatkan menulis cerita seputar Ramadan. Biasanya akan ditulis mendekati Idul Fitri. Cerita Ramadan lainnya, bisa klik tautan Ramadan. Kali ini, saya menulis sehari menjelang Lebaran. Saya sedang menunggu jam tidur setelah selesai buka puasa jam 22.30.

Ramadan tahun 2021, bertepatan dengan musim semi. Hawanya sangat nyaman, meskipun terkadang masih sangat dingin. Tapi secara keseluruhan, menyenangkan berpuasa saat musim semi. Puasa yang durasinya 16 – 17.5 jam, jadi tidak terasa. Saya yang seperti biasa malas sahur, tahun ini pun kembali malas untuk bangun sahur. Jadi setelah berbuka puasa, sholat maghrib, sholat Isya dan Taraweh, lalu setelahnya tidur. Rata – rata tiap malam selama Ramadan tahun ini, saya tidur jam 12 malam. Paling lambat jam 00.30.

Karena cuaca dan suhunya sangat nyaman (paling sering sekitaran 15 derajat celcius), jadi berkegiatan pun tidak terlalu terasa capek. Bahkan saya masih olahraga nyaris setiap hari. Selama Ramadan, olahraga saya ganti waktunya menjadi sore hari sekitar 4 jam sebelum buka puasa.

Saya juga masih berkegiatan di dapur memasak, membuat roti dan kue, mencoba dan mengotak atik resep baking. Masuk musim semi, artinya mulai berbenah halaman depan belakang. Saya mulai menyemai beberapa benih, menanam beberapa bunga, mempercantik halaman depan belakang dengan sering menyapu. Meskipun hujan masih sering mengguyur, tapi tidak menyurutkan semangat bebenah. Saya juga sibuk mengecat bangku, kayu centelan tanaman di halaman depan belakang, dan juga kursi. Kalau puasa, entah kenapa saya seperti punya energi lebih. Jadi bisa berbenah tanpa henti.

Multigrain Sourdough bread

Seminggu lalu, saya mulai mencicil membuat kue kering. Aslinya malas sekali. Tapi karena dalam dua hari berturut saya mendapatkan kejutan berupa kiriman kue kering dari dua orang teman, jadinya saya semangat membuat untuk membuat sendiri. Dicicil, satu hari satu macam kue. Jadilah sekarang punya stok 4 jenis kue kering. Lumayanlah bisa berasa lebaran an nanti.

Kue kering kiriman dua orang teman.

Karena membuat kue kering, stok putih telur jadinya melimpah. Saya terpikir untuk membuat Maccaron. Aslinya saya belum pernah makan. Dulu waktu ke Paris, ditawari suami untuk mencicipi, tapi saya tolak karena membayangkan rasanya pasti manis sekali. Saya ini suka sekali bereksperimen dengan jajanan manis, selalu senang jika membuatnya. Tapi untuk makan, tidak terlalu suka. Lidah saya lebih suka dengan rasa yang asin.

Membuat Maccaron bahannya sederhana. Yang tidak sederhana adalah proses membuat dan mencetaknya sangat penuh trik bahkan sampai ke luar oven. Namanya juga baking ya, penuh dengan science. Tapi lumayan lah ini untuk pemula meskipun bentuknya masih tidak konsisten bentuknya. Rasanya pun tidak terlalu manis. Lidah saya bisa menerima. Selanjutnya ingin membuat lagi karena masih penasaran dengan konsistensi bentuknya. Resep Maccarons yang saya adaptasi, dari sini.

Maccaron. Pertama kali bikin karena punya stok putih telor banyak. Meskipun bentuknya masih belum konsisten, tapi lumayanlah untuk pemula. Rasanya juga enak ga terlalu manis
Maccaron. Pertama kali bikin karena punya stok putih telor banyak. Meskipun bentuknya masih belum konsisten, tapi lumayanlah untuk pemula. Rasanya juga enak ga terlalu manis

Masih punya sisa putih telur, akhirnya bikin bolu marmer. Ada 3 rasa dalam satu bolu yaitu vanilla, coklat, dan Mocca. Saya membuat sehari sebelum hari Minggu yang memang hari Ibu di Belanda. Saya olesi bolu ini dengan buttercream rasa Mocca dan taburan kacang mede dan almond. Saya bagi ke tetangga dan Mama mertua. Enak dan lembut tekstur bolu dengan menggunakan putih telur.

Hari Ibu saya mendapatkan kado sandal jepit, pas banget karena sandal jepit sudah rusak. Mau beli lupa mulu. Jadinya senang dapat kado ini. Dan juga saya menerima beberapa kado lainnya. Siang kami ke toko tanaman, saya membeli beberapa tanaman untuk ditanam di halaman depan dan belakang. Sorenya kami ke rumah Mama.

Bolu Marmer putih telur menggunakan buttercream

Kegiatan yang lainnya, seperti biasa belajar, membaca buku, jalan – jalan ke taman, hutan, danau. Kami juga sempat ke ladang tulip. Oh saya juga sudah mulai kembali les menyetir. Mohon doanya ya, ujian menyetir kali ini saya langsung lulus. Bosen juga les nyetir mulu.

Saya sudah mencicil membuat beberapa menu lebaran. Saya mengundang 2 teman pas hari lebaran, satu teman akan datang hari lebaran kedua, dan hari lebaran ketiga ada satu teman datang mau mengambil baju – baju dan beberapa perkakas bayi yang sudah tidak kami pake lagi.

Tetangga sebelah rumah, yang sudah akrab sekali dengan kami, dua kali membuatkan saya sate ayam. Suami saya merasa surprise karena mereka orang Belanda kan, tapi rasa sate yang dibuat enak. Masih ok untuk standar sate dengan bumbu Indonesia. Mereka bilang, sate ayam dibuat untuk saya berbuka puasa. Anaknya pun sekali waktu pernah membuat sushi. Katanya untuk saya berbuka puasa. Perhatian mereka membuat saya terharu. Merasa rejeki sekali mempunyai tetangga seperti mereka. Sangat dekat tapi kami tetap tahu batasan. Mereka ini sangat perhatian dan sangat gampang menawarkan bantuan atau ketika diminta bantuan.

Beberapa hari lalu, saya dan suami membahas tentang lebaran. Saya bilang, mudah – mudahan tahun depan kami bisa berlebaran di Indonesia karena terakhir saya lebaran dengan keluarga di sana, tahun 2014. Jadi sudah 7 tahun lalu. Setelahnya saya pindah ke Belanda dan sejak saat itu belum pernah mudik. Tahun lalu, sebenarnya saat membeli tiket, kami pas kan waktunya saat lebaran. Tapi tidak jadi pulang. Tahun ini pun belum kesampaian mudik karena kondisi di sana dan di sini belum kondusif. Tiket pun sudah diundur lagi masa berlakunya oleh pihak maskapai penerbangan sampai akhir tahun depan.

Sedih sebenarnya kalau ingat lebaran, menjelang lebaran atau saat lebaran. Sudah 7 tahun tidak merasakan suasana lebaran di Indonesia. Rasa kangen akan suasana Ramadan, kangen dengan suara takbir, suara adzan dari masjid, suara orang tadarusan, suara bedug dipukul, dan keriuhan lebaran beserta segala menu lebarannya. Kangen dengan seluruh keluarga saya lebih tepatnya. Saat lebaran adalah saat yang kami tunggu setiap tahun karena bisa berkumpul lengkap. Tahun lalu saya sholat idul fitri di rumah, besok lebaran pun sama. Jadi ya, bisa terbayang kan saya rindu suasana lebaran yang sebenarnya. Meskipun begitu, tidak mengurangi rasa syukur saya bahwa Ramadan kali ini banyak berkah dan rejeki yang kami dapatkan. Keluarga kami lengkap, sehat, masih diberikan rejeki yang cukup.

Zakat fitrah sudah kami bayarkan untuk sekeluarga. Selama saya di Belanda, zakat fitrah selalu kami salurkan di Indonesia. Yang ngurus kalau ga Ibu ya Adik. Saya sekalian titip sedekah untuk beberapa orang yang tidak mampu, juga untuk saudara – saudara. Bagi kami, keluarga masih nomer satu. Jadi jika ada saudara yang kekurangan, jika kami ada rejeki lebih, yang pertama dibantu adalah saudara sebelum ke orang lain. Bagaimanapun juga, apapun yang terjadi, keluarga masih nomer satu buat saya.

Semoga dipertemukan kembali dengan Ramadan tahun – tahun mendatang dalam keadaan sehat, lengkap, dan hangat bersama seluruh keluarga. Semoga siapapun yang tahun ini tidak bisa mudik karena kondisi masih belum memungkinkan, tetap diberikan suka cita dan kebahagiaan merayakan lebaran. Semoga tahun depan saat lebaran bisa merayakan bersama seluruh keluarga.

Selamat menyambut lebaran esok hari.

-11 Mei 2021-

Menerapkan Minimalisme Digital dan Manfaatnya

Sourdouh Pukis. Pertama kali membuat pukis dan berhasil

Menyambung tulisan saya perihal undur diri dari twitter dan facebook, kali ini akan membahas kupas tuntas cara saya menerapkan minimalisme digital dan manfaat yang saya dapatkan sampai saat ini. Tulisan ini akan lumayan panjang, jadi siapkan waktu lebih untuk membacanya.

Saat memutuskan untuk rehat dulu dari dua media sosial ersebut, saya tidak merencanakan apapun sebelumnya. Jadi itu adalah keputusan yang mendadak pada pagi hari. Dua atau tiga hari setelahnya, saya mulai berpikir : apa ya yang sekiranya bisa dilakukan supaya tidak hanya media sosial saja yang saya kurangi, tapi juga membuat seminim mungkin kegiatan digital yang ada pada telepon genggam. Atau singkatnya, apa yang bisa saya lakukan supaya waktu saya bersama telepon semakin berkurang, sehingga bisa lebih produktif. Sebenarnya selama ini keterikatan saya dengan telepon juga tidak terlalu kuat. Misalnya kalau ke luar rumah ponsel ketinggalan, ya saya santai saja asal sedang tidah butuh google maps atau janjian ketemuan sama orang. Sering saya ke luar rumah tanpa membawa telepon. Atau kalau di rumah, telepon juga saya pegang kalau sudah senggang. Karena itu saya terkenal kalau membalas pesan lama sampai kena protes sana sini. Pesan dibalas sesuai prioritas ya. Kalau penting sekali ya langsung saya balas. Kalau bisa ditunda, kenapa tidak *ngikik

Jadi minimalisme digital ini singkatnya adalah memilih aplikasi digital yang sekiranya penting dan bisa memberi nilai tambah untuk kehidupan dan aktifitas sehari – hari. Jika memang tidak memberi nilai tambah, ya saya buang saja. Atau memang tidak terlalu sering saya gunakan, ya saya singkirkan.

Jadi, ini beberapa langkah yang saya lakukan untuk menerapkan minimalisme digital (terutama pada telepon genggam) dan hal – hal lainnya supaya tidak terlalu lekat dengan ponsel:

  • PILIH APLIKASI YANG PENTING SAJA

Saya mulai memilih dan memilah aplikasi apa saja yang sekiranya penting untuk dipertahankan dan mana yang lebih baik dibuang dari ponsel. Yang sekiranya sering saya buka semisal aplikasi belanja online mingguan, aplikasi bank, kalkulator, jam, aplikasi prakiraan cuaca dan sebagainya, saya tetap pertahankan karena hampir setiap hari saya buka sesuai dengan tingkat kepentingan. Sedangkan aplikasi yang sekiranya bisa saya buka lewat laptop atau PC, saya hapus dari ponsel Misalnya : goodreads, wordpress, beberapa aplikasi belanja online, dan sebagainya. Kalau email, memang sejak dulu saya tidak pernah install aplikasinya di ponsel. Saya selalu membuka lewat laptop atau PC.

Tujuan bersih – bersih tersebut supaya mengurangi keterikatan saya dengan ponsel. Juga untuk mempersulit saya menjangkau segalanya lewat ponsel. Misalkan : Kalau ingin membaca tulisan blogger lainnya, ya saya harus membuka WP lewat laptop atau PC. Atau kalau ingin beli buku online, ya saya buka aplikasinya lewat laptop. Saya ini paling malas buka laptop kalau tidak sangat perlu misalkan mengecek email atau membuat draft tulisan untuk blog, atau kebutuhan online lainnya.. Selebihnya ya malas menyentuh laptop. PC di ruangan saya, seringnya saya gunakan untuk belajar. Jadi harus ke lantai paling atas, butuh usaha ekstra.

Hasil dari bersih – bersih aplikasi di ponsel ini membuat saya tidak terlalu sering bersentuhan dengan ponsel. Apalagi sejak tidak twitter- an dan FB-an lagi, ya makin tidak terlalu pegang HP. Screen Time di HP turun drastis, rata – rata paling lama cuma 2 jam per hari. Ini sudah paling lama yang saya gunakan membalas pesan. Dulu, bisa sampai 5 jam per hari. Kalau di pikir lagi, kok seperti ga ada kerjaan saya dulu bisa sampai 5 jam berkutat dengan ponsel. Padahal punya bisnis saja tidak.

  • MATIKAN NOTIFIKASI DAN NADA DERING

Kalau ini sudah saya lakukan sejak dulu kala. Kalau di rumah, saya selalu mematikan dering telepon kecuali ada janjian dengan orang yang ingin menelepon saya. Notifikasi di ponsel pun sudah tidak saya aktifkan sejak lama. Alasannya supaya saya lebih konsentrasi dengan apa yang saya kerjakan di rumah. Itulah kenapa, saya kalau membalas pesan di WhatsApp terkenal lamaaaa sampai mendapatkan protes sana sini. Kalau ini saya punya dua alasan : pertama saya membalas berdasarakan prioritas. Kalau pas saya pegang ponsel, ada pesan masuk biasanya saya lirik saja. Membacanya nanti kalau sudah benar ada waktu luang. Kecuali ada pesan dari suami atau keluarga, biasanya langsung saya baca dan balas.

Alasan kedua kenapa saya lama membalas pesan : saya membalas kalau benar – benar senggang. Biasanya malam hari. Kalau tidak senggang sekali, saya tidak akan membaca segala pesan yang masuk.

Saya pernah membaca satu penelitian tentang konsentrasi yang bisa terganggu jika mendengar nada notifikasi. Jadi jika kita sedang konsentrasi terhadap satu hal, lalu tiba – tiba mendengar nada notifikasi atau dering telepon, untuk mengembalikan konsentrasi lagi butuh waktu 20 menit. Cukup lama juga ya.

  • TEMPATKAN TELEPON GENGGAM JAUH DARI JANGKAUAN

Hal ini juga sudah saya lakukan sejak lama. Alasannya simpel karena saya tidak mau mainan ponsel di depan anak – anak. Saya mentertibkan diri sendiri supaya tidak mengutak atik ponsel di depan mereka dan supaya lebih fokus saat saya bersama mereka. Ini juga berlaku saat ada suami. Tapi dulu suka curi – curi kesempatan. Jadi saat masak di dapur, saya suka mengambil ponsel dan membuka sesaat di dapur untuk melihat kelanjutan perseteruan yang ada di twitter misalnya. Atau ingin membaca kelanjutan berita A.

Nah sekarang, saya makin memperketat keterjangkauan ponsel dari jangkauan mata dan tangan. Karena aplikasi di ponsel semakin sedikit, jadi saya tidak terlalu tertarik lagi berdekatan dengan ponsel. Apalagi sejak suami kerja dari rumah, ya saya makin tidak terlalu butuh ponsel kalau di rumah, kecuali sedang ada janji ditelepon. Seringnya saat ini, saya lupa dengan ponsel kalau di rumah. Tiba – tiba ingat sore hari kalau seharian belum ngecek ponsel lalu lupa menaruhnya di mana.

Jika sedang mengerjakan sesuatu di PC atau laptop, ponsel juga saya letakkan jauh dari jangkauan. Misalkan saat belajar di PC, ponsel tidak terlihat depan mata. Walhasil belajar lebih khusyuk. Atau saat menulis blog, jadi lebih fokus dan cepat selesai nulisnya. Atau saat membaca buku, saya tidak pernah lagi berdekatan dengan ponsel. Hasilnya membaca buku jadi lebih konsen dan paham isinya.

  • SCREEN TIME dan FITUR IDLE

Dua bulan pertama menerapkan minimalisme digital, saya memanfaatkan fitur idle di ponsel. Sebelumnya tidak pernah saya pergunakan sama sekali. Akhirnya fitur tersebut saya gunakan untuk membatasi diri supaya tidak terlalu otak atik ponsel. Jadi saya atur waktunya dari jam 10 malam sampai jam 7 pagi, ponsel dalam keadaan idle. Semua aplikasi tidak aktif kecuali panggilan. Aplikasi tersebut bisa saja saya aktifkan pada pembatasan waktu yang saya buat, tapi saya ingin mendisiplinkan diri supaya menjadi terbiasa kedepannya. Dua bulan berjalan, akhirnya fitur idle tersebut saya hilangkan, untuk melihat apakah saya sudah terbiasa. Sampai sekarang, tanpa menggunakan fitur tersebut, saya jadi terbiasa jam 10 malam sudah tidak memegang ponsel lagi, kecuali ingin membalas pesan yang penting. Secara keseluruhan, saya sudah bisa mengontrol diri sendiri. Paling lama 2 jam memanfaatkan aplikasi yang ada di ponsel, seperti membalas pesan atau berbelanja mingguan online.

  • BUKA MEDIA SOSIAL LEWAT PC ATAU LAPTOP DAN BATASI WAKTUNYA

Ini rencananya akan saya lakukan saat sudah siap medsos-an lagi. Saya akan membuka, mengunggah status atau foto dari PC atau laptop saja. Ya karena aplikasinya sudah saya hapus dari ponsel, jadi kalau membuka dari PC atau laptop butuh usaha khusus tidak semudah saat dari ponsel. Juga waktunya akan saya batasi, misalkan saat hari tertentu saja atau cukup beberapa menit saja. Supaya ada kontrol terhadap diri sendiri.

Dua bulan setelah melakukan hal – hal yang saya sebutkan di atas, saya membaca buku Digital Minimalism yang ditulis oleh Cal Newport. Ternyata beberapa langkah yang saya aplikasikan, sama dengan yang ada di buku tersebut. Bukunya bagus sekali dan makin menguatkan saya untuk disiplin menjadi digital minimalist karena membawa banyak manfaat positif terhadap hidup saya.

Buku keren dan manfaatnya banyak, yang saya putuskan untuk pertahankan di rak buku, tidak saya berikan pada orang lain
Buku keren dan manfaatnya banyak, yang saya putuskan untuk pertahankan di rak buku, tidak saya berikan pada orang lain

MANFAAT MINIMALISME DIGITAL

Sebelum membahas lebih lanjut tentang manfaat yang saya dapatkan selama 5 bulan lebih memanfaatkan minimalisme digital, saya ingin membahas secara singkat apa yang saya rasakan saat 2 minggu pertama rehat dari media sosial. Jadi selama 2 minggu pertama tersebut, hati saya merasa sedih dan pikiran jadi gamang. Merasa seperti kesepian dan tidak punya teman. Merasa tidak diperhatikan. Setelah saya telaah lagi, hal tersebut terjadi karena biasanya setiap hari saya ada interaksi di media sosial. Jadi merasa seperti banyak yang memperhatikan. Jadi begitu rehat, rasanya jadi sepi. Setelah 2 minggu, lama – lama ya terbiasa. Sekarang ya biasa saja. Mungkin selama 2 minggu tersebut efek detoksifikasi sedang bekerja.

Ok, sekarang saya akan membahas manfaat apa saja yang saya dapatkan setelah menerapkan minimalisme digital :

  • BANYAK WAKTU UNTUK BERDIALOG DENGAN DIRI SENDIRI

Sejak tidak sibuk di twitter dan FB, saya jadi punya banyak waktu luang. Pikiran jadi lebih jernih dan bisa saya gunakan untuk banyak berdialog dengan diri sendiri. Karena punya banyak waktu untuk melihat ke dalam diri sendiri, saya makin mengenal diri saya seperti apa dan maunya apa. Selama ini saya terlalu sibuk ke sana sini sampai lupa menengok dan bertanya apa kabar ke diri sendiri. Mengabaikan apa yang sebenarnya diinginkan oleh diri ini. Setelah banyak – banyak berdialog dengan diri sendiri, satu persatu saya bisa menyembuhkan apa yang selama ini seperti luka menganga. Perlahan saya bisa menemukan apa itu yang namanya damai. Saya jadi bisa tahu apa yang sebenarnya saya inginkan, apa yang sebenarnya membuat saya bahagia dan tenang. Sekarang kalau ada yang membuat resah, pertama yang saya lakukan ada melihat jauh ke dalam diri dulu. Bertanya, berdialog, membuat jernih dulu di dalam.

Lima bulan terakhir ini, saya makin senang berdialog dengan diri, Makin menengok ke dalam. Hasilnya pikiran makin tenang.

  • LEBIH SADAR

Semuanya sekarang jadi lebih sadar. Mengerjakan sesuatu semuanya jauh lebih sadar. Bahkan makan saja sekarang lebih tau rasanya seperti apa. Dulu kalau sedang makan sendiri, tangan kanan melakukan aktifitas makan, tangan kiri scroll – scroll ponsel. Yang dilihat mata bukannya makanan tapi apa yang nampak di layar ponsel. Jadinya makanan cuma sekedar lewat saja tanpa mengerti rasanya seperti apa, tidak merasakan kunyahan demi kunyahan, melewatkan rasa penuh syukur karena masih bisa makan enak dan badan masih sehat untuk mengunyah, dan sebagainya.

Sekarang saya sudah terbiasa saat makan ya yang di depan saya adalah makanan. Saya tidak lagi melakukan aktifitas lainnya saat makan. Jadi mata betul – betul melihat pada makanan dan merasakan suapan demi suapan. Hal tersebut juga berlaku dengan aktifitas lainnya. Misalkan saat memasak atau baking saya jadi lebih sadar dengan prosesnya.

  • SLOW LIVING

Karena semuanya dikerjakan dengan lebih sadar, jadi pergerakan juga lebik lambat dan tidak terburu – buru. Dulu seringnya terburu karena ingin segera punya waktu istirahat supaya saya bisa lebih cepat ada interaksi dengan ponsel. Sekarang saya lakukan dengan lebih lambat tapi hasilnya lebih maksimal. Karena pergerakan yang lebih lambat dan lebih sadar ini, entah kenapa saya justru menikmati setiap prosesnya dan hasil akhirnya lebih baik dibandingkan sebelumnya. Semua dikerjakan dan dipikirkan tidak dengan terburu waktu. Saya lebih bisa mengerjakan banyak hal dan menikmati prosesnya. Saya jadi bisa mengerjakan satu hal dalam satu waktu. Tidak lagi multitasking karena ternyata lebih cocok untuk saya.

  • BERKEGIATAN TANPA DISTRAKSI, LEBIH FOKUS DAN LEBIH PRODUKTIF

Menyenangkan sekali rasanya berkegiatan tanpa ada gangguan. Baik itu gangguan dari pikiran maupun gangguan ponsel yang gampang dijangkau tangan. Sekarang baca buku saja jadi lebih tau isinya apa. Saya jadi lebih fokus membaca tanpa harus diselingi dengan membuka ponsel. Dulu membaca buku 5 menit, scroll – scroll ponsel 30 menit. Sekarang 1 jam membaca buku, saya jadi lebih khusyuk. Hasilnya, sampai akhir bulan April ini (saat tulisan ini mulai dibuat), saya sudah menyelesaikan membaca 20 buku dan paham isinya apa.

Contoh lainnya, memasak pun saya jadi lebih fokus dan tau yang saya masak apa. Dulu sambil masak, ingin cepat – cepat selesai supaya bisa memantau lagi apa yang sedang terjadi di FB dan twitter. Pikiran tidak seutuhnya di kegiatan memasak. Terburu – buru. Sekarang saya lebih menikmati proses memasak, lebih fokus, dan lebih sadar.

Karena lebih punya banyak waktu, saya jadi bisa mengerjakan hal – hal yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Ternyata, di rumah ada banyak hal yang bisa saya lakukan. Sesederhana, saya jadi punya banyak waktu untuk olahraga di rumah. Hasilnya badan lebih sehat dan berenergi, bonusnya turun berat badan. Sesederhana saya bisa otak atik resep untuk bikin kue, cookies, atau roti. Kok tahun lalu berasa punya banyak waktu untuk rebahan dan memantau media sosial ya, padahal di kehidupan nyata ada hal – hal yang lebih bermanfaat untuk diselesaikan. Ternyata, saya tidak senganggur itu.

Sourdouh Pukis. Pertama kali membuat pukis dan berhasil
Sourdouh Pukis. Pertama kali membuat pukis dan berhasil
  • MENIKMATI JOMO (JOY OF MISSING OUT)

Istilah JOMO ini saya dapatkan dari pembicaraan pagi hari dengan Maureen. Pagi itu saat kami bercakap di aplikasi kirim pesan, dia bilang kalau ingat saya saat ada yang membahas JOMO di twitter. Saya lalu googling, JOMO itu apa. Setelah paham, saya jadi berpikir, benar juga ya saya saat ini sedang menikmati fase tidak tau banyak hal dan itu baik – baik saja. Dulu saya rasanya merasa tidak percaya diri jika tidak tau berita terkini apa. Harus tau semua berita yang ada. Dulu saya merasa jadi orang yang tertinggal jika tidak mengikuti keributan apa yang sedang ada di timeline twitter atau FB.

Sekarang saya santai saja kalau tidak tau banyak hal. Saya cukupkan informasi apa yang bisa saya akses. Misalkan berita, saya hanya menonton 1 tayangan berita di TV nasional Belanda. Itu saja sumber berita yang saya akses. Jadi saya membatasi informasi apa saja yang masuk ke otak. Jikapun saya harus mencari informasi tambahan, tidak semuanya saya cari. Secukupnya saja. Sekiranya saya rasa sudah cukup, akan saya hentikan sampai di situ saja proses mencarinya. Membatasi informasi yang saya baca, ini berimbas pada hal – hal yang akan saya bahas selanjutnya. Intinya, saya sekarang santai saja kalau tidak tahu yang terkini apa.

  • TINGKAT KECEMASAN DAN BANYAK MIKIR JAUH LEBIH BERKURANG

Berhubungan dengan hal di atas, karena saya membatasi dan sangat memfilter informasi dan berita yang saya akses, tingkat kecemasan jadi jauh berkurang. Sangat jauh berkurang. Itu saya sadari selama 5 bulan ini. Ternyata, tidak tahu semua hal itu sangat menolong jiwa saya untuk jauh lebih waras. Tahun lalu kesehatan mental saya acakadut, setelah saya evaluasi sendiri, salah satu sumbernya ya karena semua hal ingin saya ketahui. Hasilnya, itu membuat lelah mental dan pikiran jadi ke mana – mana. Kalau malam jadi lebih cemas, tidur jadi tidak berkualitas, dan pikiran jadi tidak sehat karena mikir yang tidak – tidak.

Sekarang, pikiran saya lebih jernih, jiwa lebih tenang, dan rasa cemas sangat jauh berkurang, hasil dari saya membatasi informasi yang saya akses. Secukupnya saja. Ketinggalan informasi terkini, sekarang buat saya bukan jadi masalah besar. Tak tahu semua tidak membuat saya jadi orang yang terbelakang. Yang penting jiwa sehat bahagia.

  • PIKIRAN LEBIH TENANG

Karena membatasi sumber informasi dan tidak mengikuti semua berita terkini, juga lebih selektif dengan apa yang saya baca plus sudah tidak twitter an lagi, pikiran jauh lebih tenang. Saya jadi banyak waktu untuk bengong dan ngelamun. Jadi banyak waktu memikirkan hal – hal yang menyenangkan. Jadi punya kesempatan memikirkan hal – hal yang konyol. Otak saya seperti lebih banyak kapasitasnya sekarang. Berasa tidak penuh. Itulah sebabnya saya jadi lebih bisa berpikir jernih untuk segala hal. Lebih sadar dengan apa yang terjadi.

  • HIDUP UNTUK SAAT INI, SEKARANG, DAN DI SINI

Dengan menerapkan minimalisme digital, saya hidup untuk saat ini, sekarang, dan di sini. Artinya, saya lebih bisa melihat apa yang ada di depan mata, lebih bisa merasa dan mendengar. Saya lebih terhubung dengan yang ada di sekitar, lebih bisa mencium aroma, dan lebih peka.

Misalnya : Dulu saat jalan kaki di hutan, saya suka memfoto sana sini dengan pikiran ingin membagikan di medsos saat sudah sampai di rumah. Jadi sibuk cekrak cekrek sana sini. Sekarang, saat ke hutan, saya benar – benar bisa menikmati apa yang ada di depan mata. Bisa mencium aroma hutan tanpa sibuk foto sana sini. Sesekali tetap memfoto untuk mengabadikan. Atau bahkan memvideokan. Tapi ya sudah, tidak sibuk ria semua pojok difoto.

Contoh lainnya : Sekarang saat bersama anak – anak, ya saya 100% fokus membersamai mereka, pikiran tidak bercabang ke sana sini. Dulu saat main dengan anak – anak, pikiran saya suka ke sana sini misalkan mikir tentang berita di Indonesia lah, mikir tentang perseteruan di twitter gimana lanjutannya, mikir tentang kebijakan negara Belanda dan lain sebagainya.

5 bulan terakhir, hidup saya jadi berada di saat ini dan di tempat saya berada. Pikiran saya tidak ke mana – mana dan fokus dengan apa yang di depan mata. Hasilnya, saya jadi fokus dengan apa yang saya kerjakan. Atau saya jadi lebih menjejak ke bumi. Hidup saya sekarang melewati dari hari ke hari, tidak terlalu pusing dengan apa yang ada di depan atau terlalu memikirkan apa yang sudah berlalu.

  • MEMULAI HARI PENUH ENERGI, MENGAKHIRI HARI TETAP BERENERGI

Saya pernah membaca, mood orang ditentukan dengan apa yang dilakukan dia saat pertama kali bangun. Dulu, pertama kali bangun saya ngecek medsos. Ngecek ada notifikasi apa atau ada berita terkini apa bahkan pengen tahu ada keributan terbaru apa hari ini. Walhasil, selama satu jam memandang ponsel, energi saya jadi berkurang banyak. Mood untuk menjalani satu hari kedepan pun seringnya sudah amburadul.

Sekarang, saya memulai hari lebih berenergi karena saat bangun tidur ada banyak waktu untuk ngobrol dengan diri sendiri. Memikirkan hal – hal yang baik, mengevaluasi yang terjadi sebelumnya, dan merencanakan apa yang akan saya jalani hari ini. Waktu yang dulu saya gunakan untuk membuka media sosial, sekarang saya gunakan untuk membaca buku, menulis blog, atau hal – hal yang lebih nyata lainnya. Lebih punya waktu untuk banyak bersyukur dan beribadah. Tidak terburu – buru. Dalam sehari menjalani aktifitas, karena jadi fokus terhadap satu hal saat itu, jadi yang saya kerjakan pun selesai dengan baik. Mengakhiri hari saya masih punya energi tidak ngos – ngos san seperti kehabisan nafas karena mood selama sehari terjaga dengan baik. Mengakhiri hari saya masih bisa mengevaluasi apa yang terjadi hari ini, bisa menuliskan di buku harian apa saja yang bisa disyukuri hari ini, lalu sebelum tidur kembali berdialog dengan diri sendiri.

Memulai hari penuh energi, menjalani aktifitas sepanjang hari dengan maksimal dan tanpa uring – uringan, mengakhiri hari mood tetap baik dan energi masih ada.

Selama lebih dari 5 bulan menjadi digital minimalist, saya merasakan banyak sekali manfaat positifnya. Hal tersebut juga membawa banyak perubahan baik dalam cara pandang, mengelola emosi. dan mengatur aktifitas harian. Saya jadi punya banyak waktu untuk diri sendiri juga keluarga. Saya jadi punya banyak waktu untuk menjadi diri sendiri, berdialog dengan diri, dan menengok ke dalam diri sendiri. Saya jadi lebih tenang, lebih sadar, lebih fokus, dan lebih produktif sesuai dengan ritme yang inginkan. Hal lainnya yang saya syukuri adalah saya jadi makin dekat dengan keluarga, lebih ada dan nyata untuk mereka karena mereka adalah salah satu bagian terpenting dalam hidup.

Semoga yang saya tuliskan panjang lebar di atas bisa punya manfaat untuk yang sudah meluangkan waktu membaca. Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca.

Selamat berakhir pekan.

-7 Mei 2021-

Berkunjung (Kembali) ke Ladang Tulip

Ladang Tulip di Noordwijk

Ini postingan singkat saja. Ingin mendokumentasikan dalam bentuk cerita dan foto kalau kami hari ini menyempatkan diri untuk melihat tulip langsung di ladang yang ada di sekitaran Lisse dan Noordwijk (Bollenstreek route). Awalnya, kami sudah berencana naik sepeda untuk menyusuri ladang – ladang tulip yang ada di beberapa area sekitaran Lisse, seperti yang pernah kami lakukan pada tahun 2016. Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini ya. Tapi kali ini, kami naik sepeda dari rumah, lalu naik kereta dari Den Haag Centraal turun di Leiden, dan meneruskan perjalanan naik sepeda lagi. Pulangnya juga sama.

Namun, rencana naik sepeda terpaksa dibatalkan karena beberapa hari belakang anginnya lumayan kencang dan suhu juga dibawah 10 derajat celcius, meskipun matahari nyentrong. Selain itu, ada 2 pasukan yang hidungnya agak meler. Jadi kalau naik kereta, takutnya nularin sakit ke penumpang yang lain. Jadilah kami putuskan untuk sewa mobil saja, berkunjung ke beberapa ladang tulip, tidak usah sampai blusukan.

Akhirnya, terlaksana hari ini. Agak dipaksakan karena prakiraan cuaca seminggu kedepan hujan terus setiap hari. Kalau nunggu tidak hujan, takutnya tulip sudah tak ada lagi. Biasanya pertengahan Mei itu sudah waktu maksimal Tulip mekar. Lumayan, bisa datang ke 4 lokasi. Suasana ladang tulip yang kami kunjungi sepi. Bahkan 3 lokasi cuma ada kami yang datang. Sedangkan satu lokasi lainnya, ada beberapa pengunjung lainnya. Lokasi yang saya maksud ini benar – benar ladang punya petani, bukan dibuka untuk umum, meskipun kalau mau datang ya bisa saja. Sedihnya, di lokasi yang ada beberapa pengunjung, tulipnya mulai dimusnahkan oleh traktor. Dan banyak ladang yang sudah mulai gundul. Seingat saya, akhir April begini masih banyak tulip ya. Tapi ini saya lihat ladang – ladang yang ada di sana sudah mulai gundul. Apa memang mereka tidak menanam tulip seperti biasanya. Tapi beberapa ladang lainnya, tulip malah belum mekar sempurna.

Di lokasi yang tidak ada pengunjungnya, salah satunya adalah lokasi yang sama seperti pada postingan tahun 2016. Pada foto terakhir di postingan tersebut, kami kunjungi lagi. Tapi tadi tulipnya tidak sebanyak waktu itu. Lalu saya dan suami jadi bernostalgia saat kami berdua waktu itu bisa niat sekali sepedahan dari rumah, blusukan ke ladang – ladang tulip, kembali lagi ke rumah tetep sepedahan sampai malam. Masa – masa masih berdua.

Sebenarnya saya lebih suka dengan Hyacinth karena wangi, pun warnanya kece. Begitu sampai ke salah satu ladang, aroma wanginya langsung semerbak. Bagus pula warna ungunya. Ada beberapa warna lain di sebelahnya.

Hyacinth

Tentu saja tadi kami manfaatkan dengan foto sebanyak mungkin. Tanpa rebahan dan goler – goler ya dan saya juga agak segan sampai ke tengah ladangnya. Cukup di depan saja, yang penting punya kenangan foto bersama sekeluarga. Saat melihat salah satu foto saya dari kamera ponsel suami, lalu kuterkedjoet melihat ternyata badanku kok langsing banget *ihiiyykk *pamer haha. Begini rasanya pernah punya badan segede gaban, lalu sekarang menciut *tetep pamer :)))

Mudah – mudahan tahun depan kami bisa sepedahan lagi menyusuri semua area Tulip yanga ada di sekitaran Lisse. Napak tilas. Untuk hari ini, sangat bahagia bisa melihat keindahan tulip dan hyacinth yang berwarna warni. Dan senangnya lagi, tempatnya sepi. Jadi hiburan buat kami, sejenak ke luar rumah melihat keindahan tulip langsung di ladangnya.

-28 April 2021-

Pertambahan Usia Tahun Ini

Perhatian yang saya dapatkan saat pertambahan usia tahun ini

Sangat Berkesan. Bukan hanya angkanya yang cantik, juga karena yang awalnya saya pikir akan biasa – biasa saja, ternyata saya mendapatkan banyak kejutan. Dua tahun lalu, pernah ngobrol dengan suami tentang ulangtahun ini. Kalau nanti, sampai usia saat ini saya masih hidup, ingin membuat pesta kecil di rumah untuk merayakannya. Rencananya saya akan mengundang teman – teman yang sekiranya dekat saja, lalu makanannya pesen. Kateringan gitu biar saya sebagai yang berulangtahun tidak repot sendiri mikiri makanan. Sesekali jadi tuan rumah yang duduk anteng. Atau rencana kedua, saya akan mengundang 4 teman yang memang sangat dekat untuk saya traktir di restoran all you can eat di dekat rumah, yang menunya dari beberapa benua.

Rencana hanya tinggal angan semata ya. Bukan hanya karena Corona masih bergentayangan, juga Belanda masih setengah Lockdown. Peraturan dari pemerintah Belanda pun masih lumayan ketat. Tamu yang datang ke rumah dibatasi cuma satu orang dalam sehari. Restoran pun masih belum bisa makan di tempat, hanya bawa pulang saja. Kalau restoran sudah boleh makan di tempat pun, saya yang belum punya nyali makan dalam ruangan. Kalau di terasnya, masih berani. Lagian ya, meskipun sejak beberapa minggu lalu restoran sudah boleh buka untuk melayani pembelian bawa pulang, tetep saja banyak restoran yang masih tutup.

Jadi, pas awal tahun suami mulai bertanya mau dibuat apa ulangtahun saya kali ini. Saya jawab ya biasa saja karena tidak bisa ke mana – mana juga. Biasanya memang sejak menikah, setiap saya berulangtahun jika tidak ada halangan, kami pasti jalan – jalan. Tahun lalu sudah berencana akan ke Andalusia, eh Corona datang. Jadi buyar rencana. Menyadari bahwa kondisi tidak memungkinkan ke mana – mana (karena Januari, saat suami bertanya, masih total lockdown), saya bilang kalau kami akan merayakan di rumah saja. Seperti biasa saya akan masak nasi kuning dan membuat taart.

Tapi, yang saya pikir pertambahan usia dengan angka yang spesial kali ini akan biasa saja, ternyata sangat berkesan.

KEJUTAN DARI SUAMI

Pertengahan Februari, ucluk – ucluk suami mengajak liburan, dalam rangka ulangtahun saya. Hotel dan penginapan memang buka meskipun restoran saat itu masih tutup. Tapi, sudah terdengar rumor kalau dalam 2 minggu kedepan restoran boleh buka tapi pesan bawa, tidak makan di tempat. Suami pun sudah mempersiapkan semuanya. Dari mencari penginapan, lokasi liburan, rencana selama seminggu, dan akan ke mana saja kami selama itu. Biasanya, tugas mencari penginapan dan kegiatan selama liburan, ada pada saya. Tapi kali ini, semua sudah diatur oleh suami. Saya tinggal duduk manis saja. Dia cuma mengingatkan untuk menghubungi teman dekat saya yang tinggal di Limburg karena kalau dia ada di rumah, kami akan mampir sebentar.

Jadi, kami liburan ke Zuid Limburg. Saya tidak menyangka kalau provinsi ini luar biasa cantiknya. Khususnya pedesaan di Zuid Limburg. Saya pernah ke Limburg sebelumnya dalam beberapa kali kunjungan sendiri atau bersama suami. Kota – kota yang pernah saya datangi yaitu Horst, Valkenburg, Thorn, Vaals, Sittard, Maastricht, dan Roermoend. Tapi kalau spesifik mengunjungi Zuid Limburg sampai ke pedesaannya, saya belum pernah. Baru kali ini. Kami benar terpana karena alamnya yang luar biasa cantik. Perpaduan alam Italia dan Perancis utara. Kami pernah roadtrip ke Italia dan ke Perancis Utara. Jadi selama di Zuid Limburg, kami merasa de javu. Satu wilayah, seperti Italia. Ke wilayah lain, menyerupai Perancis. Suami pun heran kalau di Belanda ada bagian yang bukan seperti Belanda. Lah, dia aja baru tahu sekarang. Nanti akan saya tuliskan terpisah ya tentang liburan kami ke Zuid Limburg. Siapa tahu bisa jadi ide liburan musim panas di Belanda.

Kastil tempat kami menginap
Kastil tempat kami menginap

Selama di sana, kami menginap di kastil. Lebih tepatnya, di bangunan sebelah kastil. Letak kastil ini di kota Valkenburg. Jadi ini rumah yang lengkap dengan perlengkapan dapur. Dalam satu lokasi, ada sekitar 10 rumah. Bangunan lama tapi bersih. Setiap bangun dan akan tidur, pemandangan dari kamar kami ya kastil ini. Liburan kami terberkati dengan cuaca yang mendadak sangat cerah saat itu. Padahal beberapa hari sebelumnya hujan terus bahkan hujan es. Pas kami berangkat dari rumah, itupun masih mendung. Keesokan harinya, langsung suhu menghangat dan cuaca cerah sekali. Bahkan selama seminggu, suhu sampai 26 derajat celcius. Nikmat sekali hiking, jalan kaki di perkebunan, kunjungan ke beberapa kastil, tanpa memakai jaket. Cuma selembar kaos tipis sudah cukup.

Hari H

Pagi hari, seperti biasa mendapatkan ucapan ulangtahun dari suami dan anak – anak. Dinyanyikan lagu ulangtahun juga. Luar biasanya, merayakan di lingkungan kastil. Kado dari mereka? sudah saya dapatkan sebulan sebelumnya. Jauh hari saya mengatakan ingin membeli beberapa barang sebagai kado ulangtahun. Kata suami, beli saja. Barangnya sampai rumah sebulan sebelum ultah. Gercep. Ada kejadian agak lucu. Jadi sehari sebelum kami berangkat liburan, ada kartu yang lumayan besar ukurannya masuk ke kotak pos di rumah. Tertujunya untuk saya. Lalu saya pikir, mungkin dari Astrid karena biasanya Astrid suka kirim kartu. Begitu dibuka, ada foto saya. Lalu saya baca isinya, ternyata dari suami dan anak – anak. Saya lalu terharu membaca kalimat yang dituliskan. Ketika suami turun untuk makan siang, saya bilang terima kasih atas kartunya. Dia lalu ngakak : Wah, saya lupa bilang, kalau ada kartu datang buat kamu, jangan dibuka dulu. Itu rencananya akan saya berikan pas hari ultahmu. Kami lalu ngakak berjamaah. Kejutan yang terlalu cepat.

Hidangan ulangtahun

Pagi hari ultah, kami sarapan dan membuka kado dari teman dekat saya. Kadonya berkesan sekali. Dia benar – benar perhatian. Siangnya kami ke Maastricht. Sorenya kami ke pusat kota Valkenburg untuk membeli makan. Restoran meskipun sudah boleh buka, tapi ternyata masih banyak yang tutup. Beruntungnya pas hari H, ada restoran Indonesia yang buka. Jadi, kami merayakan dengan makan masakan Indonesia dan membeli taart mini. Kami makan malam di bagian belakang penginapan yang pemandangannya adalah perkebunan. Makan di bangku, di bawah sinar matahari jam 6 malam. Nikmat pertambahan usia.

KEJUTAN DARI TEMAN DEKAT

Sebelum ke Kastil tempat menginap, kami mampir terlebih ke rumah teman dekat yang saya ceritakan sebelumnya. Niatnya, saya hanya mampir sebentar sekedar ingin bertemu dia karena terakhir ketemu Agustus tahun lalu. Ternyata, dia mengundang kami untuk makan siang sekalian. Wah, kami tentu saja senang. Waktu itu saya berpikir, sekalian saja saya merayakan ulangtahun di sana. Paling tidak, saya merayakan pertambahan usia yang spesial ini dengan orang yang spesial juga selain keluarga. Jadi, saya membuat tiramisu dan beberapa kue untuk dibawa ke sana sebagai oleh – oleh. Kejutan untuk dia dan suaminya karena saya akan merayakan ultah di sana tanpa pemberitahuan awal. Meskipun saat itu masih 2 hari menuju hari H.

Sampai di sana, saat duduk di ruang tamu, saya melihat di dekat meja makan ada gantungan tulisan Happy Birthday. Saya bertanya, siapa yang berulangtahun. Dia menjawab : Lho, kamu kan ultah 2 hari lagi. Makanya saya siapkan kejutan. Kan pertambahan usia yang spesial tahun ini.

Nasi bancakan yang dia siapkan

Saya lalu terbelalak tak percaya. Ternyata dia ingat ultah saya dan sengaja menyiapkan kejutan. Meskipun hubungan kami dekat, tapi untuk urusan ultah, saya pikir dia tidak akan ingat karena selama 6 tahun berteman, kami sangat jarang mengucapkan selamat ulang tahun satu sama lain. Tahun ini, saya sampai diberikan kejutan. Sangat manis. Dia memberi saya kado, menyiapkan masakan Indonesia. Nasi bancak-an. Ini menu syukuran kalau di Jawa. Kata dia, untuk mensyukuri pertambahan usia semoga semakin berkah. Saya benar – benar terharu atas perhatiannya.

KEJUTAN DARI TETANGGA, MAMA MERTUA, DAN ASTRID

Hari ke tujuh, liburan kami berakhir. Selama 2.5 jam berkendara, akhirnya kami sampai juga di rumah. Suhu masih hangat dan cuaca sangat cerah. Saya terkejut karena di meja makan sudah ada bunga, brownies, beberapa kado, dan beberapa kartu ucapan ulangtahun. Tetangga sebelah yang selalu kami titipi rumah jika kami liburan, membuatkan brownies (yang saat kami datang, masih hangat), meletakkan bunga potong segar, dan kartu ucapan. Kado dan kartu ucapan lainnya saya dapatkan dari Astrid, Mama mertua, dan tentu saja suami juga anak – anak. Sekali lagi saya terharu atas perhatian mereka. Tidak menyangka jika pertambahan usia tahun ini sangatlah berkesan dan sangat spesial.

Perhatian yang saya dapatkan saat pertambahan usia tahun ini
Perhatian yang saya dapatkan saat pertambahan usia tahun ini

Minggu depannya, saya memasak nasi uduk dan printilannya. Merayakan ulangtahun di rumah. Juga tidak lupa kue ulangtahun yang kali ini saya membuat Marble Cake disiram coklat pekat.

Marble Cake
Nasi Uduk komplit

UCAPAN ULANG TAHUN DARI PARA SAHABAT DAN KELUARGA DI INDONESIA

Hari H ulangtahun seperti biasa saya menerima ucapan selamat dari beberapa sahabat, Ibu, dan Adik. Ucapan dari beberapa sahabat : welcome to the club. Welcome to mata plus haha. Yess, ternyata mata saya sekarang sudah nambah ada plus nya. Jadi sekarang mata saya ada tiga macam kelebihan : minus, silindris, dan plus. Kayaknya yang plus sih baru sebulan terakhir ini. Welcome to kalau baca dekat kacamata harus dicopot dulu haha (masih agak denial kalau ternyata sudah ada plusnya).

HADIAH UNTUK DIRI SENDIRI

Karena pertambahan angkanya spesial, jauh hari saya sudah memikirkan apa ya yang sekiranya saya ingin berikan ke diri sendiri sebagai kado ulangtahun. Lalu saya memutuskan untuk mengambil sertifikasi HACCP (Hazard Analys Control Critical Point) untuk Horeca. Jadi, apa sih HACCP itu? Saya tuliskan pengertiannya dari Safe food alliance

Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP) is an internationally recognized method of identifying and managing food safety related risk and, when central to an active food safety program, can provide your customers, the public, and regulatory agencies assurance that a food safety program is well managed. HACCP is a management system in which food safety is addressed through the analysis and control of biological, chemical, and physical hazards from raw material production, procurement and handling, to manufacturing, distribution and consumption of the finished product. 

Nah, untuk saat ini, saya mengambil sertifikasi untuk bidang Horeca. Selanjutnya, saya ingin mengambil yang khusus Bakery. Kenapa kok saya ambil sertifikasi yang berbeda jauh dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja sebelumnya? Karena selain tertarik, juga mudah – mudahan ini adalah bidang kerja yang ingin saya jalani kedepannya.

Selain mengambil sertifikasi tersebut, ada satu hadiah lagi yang saya berikan pada diri sendiri yaitu, saya akhirnya bisa menurunkan berat badan sampai 20 kg (Pada saat ulangtahun, karena saat menulis ini, sudah turun beberapa kg lagi). Memang selama 3 tahun terakhir, berat badan saya melonjak drastis. Faktor hormon dan faktor memang doyan makan. Waktu itu saya punya alasan kuat kenapa BB bisa naik pesat. Tapi setelah saya tidak punya lagi alasan untuk punya BB yang aduhai angkanya, akhirnya saya putuskan untuk pelan – pelan kembali ke jalan yang benar. Jadi saya mengatur pola makan, olahraga, punya tidur yang berkualitas, dan pikiran yang tenang. Ini perjalanan panjang ya karena bukan sulapan cuma beberapa minggu saja. Saya sudah mulai sejak Oktober atau November tahun lalu (tepatnya lupa). Nanti saya tuliskan terpisah tentang turun berat badan ini. Saya akan tuliskan secara detail. Masih ada target 5-7kg an lagi lah ini. Tapi saya santai saja. Yang penting dijalani dengan suka cita dan bahagia untuk tetap dilakukan sampai jangka panjang. Baju ukuran S sudah bisa dipakai lagi (sebelumnya ukuran M).

Pamer turun berat badan 20kg saat hari ulangtahun di depan kastil Hoensbroek

Begitulah cerita pertambahan umur tahun ini yang sangat berkesan. Angkanya spesial, mendapatkan banyak perhatian dari orang – orang yang spesial di hati. Doa saya tidak muluk – muluk. Sehat jiwa raga, bisa membersamai suami sampai tua, membersamai dan menemani anak – anak sampai mereka besar, dan saya tetap bisa belajar dan mencoba banyak hal baru. Satu lagi, bisa lebih bermanfaat buat diri sendiri dan orang banyak. Tahun ini pada akhirnya saya bisa mendapatkan tenang yang sesungguhnya karena beberapa hal bisa saya terima dengan lapang dada. Acceptance. Saya pun sudah merasa cukup dengan apa yang ada sekarang. Lebih dari cukup sehingga yang perlu saya tingkatkan adalah rasa syukur dan berbagi kebahagiaan.

-20 April 2020-

Selamat Menjalankan Puasa Ramadan

Marble cake with dark chocolate icing

… dan rangkaian ibadahnya. Semoga sebulan kedepan selalu sehat, diberikan kekuatan untuk khusyuk beribadah, lancar semuanya. Semoga semua amalan yang kita lakukan dengan maksimal dan ikhlas, diterima oleh Allah. Semoga Ramadan tahun ini penuh dengan berkah dan segala doa diijabah.

Ramadan tahun ini di Belanda durasi diawal selama 16 jam (Subuh jam setengah empat pagi, maghrib jam setengah 9 malam). Nanti mendekati Idul Fitri menjadi 17.5 jam (Subuh jam 4 pagi, Maghrib jam setengah 10 malam). Sudah pernah merasakan Ramadan dengan durasi 19 jam saat musim panas tahun 2015, jadi kayaknya pas durasi 16 jam begini, bisa lah. Mudah – mudahan ya *ga mau congkak haha. Tahun lalu lantjar djaya.

Ramadan pas musim semi benar – benar ideal buat saya. Cuacanya afdol sekali (ya kesampingan cuaca seminggu belakangan yang amburadul), sejuk menuju semriwing dingin. Jadi tidak terlalu terasa meskipun dibuat beraktifitas yang lumayan banyak.

Marble cake with dark chocolate icing
Marble cake with dark chocolate icing

Empat bulan terakhir saya mulai latihan berpuasa supaya badan tidak kaget pas Ramadan tiba. Mulai puasa daud, puasa bayar hutang, sampai puasa senin kamis. Juga Intermitten Fasting (IF) yang awalnya saya coba 17 jam lalu saya tingkatkan jadi 20 jam. Kalau IF ini dalam rangka menurunkan berat badan sih sebenarnya. Cuma kalau IF kan masih boleh minum, sedangkan kalau puasa daud, senin kamis, dan Ramadan tidak boleh minum. Alhamdulillah dari latihan puasa dan IF, jaga pola makan, juga olahraga (nyaris) setiap hari, berat badan saya secara perlahan turun kilogramnya. Perlahan namun pasti. Alon – alon asal sehat jiwa raga.

Semangat ya semuanya. Mohon maaf untuk segala postingan yang tidak berkenan di hati.

-12 April 2021-

Empat Musim Dalam Satu Hari di Belanda

Musim semi, bunag - bunga cantik mulai bermekaran

Saat baru pindah ke Belanda, guru les bahasa Belanda saya bilang kalau mau basa basi dengan orang Belanda, gampang. Cukup obrolkan saja tentang cuaca hari ini. Mereka akan sangat bersemangat bercerita. Dan topik kedua adalah berbincang tentang rencana liburan atau mereka sudah pernah libur ke mana saja. Beberapa lama kemudian, saya membuktikan sendiri. Kalau disapa di kendaraan umum, mereka pasti ngomong tentang cuaca. Semisal : cuaca hari ini cerah ya. Atau : prakiran cuaca hari ini bilang akan turun hujan deras. Jadi saya cepat – cepat pulang ke rumah. Atau : Hey, minggu depan cuaca bagus, kamu ada rencana ke mana? Jadi buat kalian yang ada rencana liburan ke Belanda atau tinggal di Belanda, ga usah khawatir akan ditanya : Sudah punya anak? Tinggal sama siapa di sini? Kapan nambah anak? ya pertanyaan – pertanyaan lazim pas lebaran tiba. Ga usah kawatir, kalian tidak akan mendapatkan rentetan pertanyaan seperti itu (kecuali ketemunya dengan orang Indonesia yang masih berjiwa Indonesia sekali).

Saya, akhirnya ketularan kebiasaan itu. Setiap disapa orang, biar tidak terjadi situasi yang canggung, akhirnya senjata pamungkas obrolan tentang cuaca pun dikeluarkan. Sebenarnya basi sih, tapi saya jadi terikut terobsesi dengan cuaca. Bahkan menyimak analisa tentang cuaca ekstrem tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya atau tahun – tahun yang lama sudah lewat. Menurut saya, menarik menyimak analisa mendalam mereka tentang cuaca. Apalagi cuaca di Belanda ini sangat cepat berubah dalam satu hari.

Musim semi, bunga – bunga cantik mulai mekar

Dulu saya sering mendengar, cuaca di Belanda bisa berbeda dalam satu hari. Bisa merasakan 4 musim dihari yang sama, itu sudah biasa. Saya membuktikan bagian yang ini. Sering dalam satu hari : hujan es lalu tak berapa lama hujan air biasa, disusul matahari bersinar cerah dengan langit biru dan ditutup dengan angin yang super kencang. Sudah biasa seperti itu. Jadi saya sudah tidak kaget. Atau misalkan saat Belanda bersalju dan sungai serta danau serentak beku, minggu depannya langsung hangat. Seperti tidak ada sisa – sisa kenangan saat salju turun deras. Kali inipun seperti itu, malah lebih ekstrem lagi.

Bunga di halaman belakang. Semoga tidak mati kena salju.
Bunga di halaman belakang. Semoga tidak mati kena salju.

Jadi, seminggu lalu cuaca di Belanda sedang bagus. Hangat. Benar – benar nikmat untuk leyeh – leyeh di luar rumah. Suhu sampai 26 derajat celcius. Sempurna lah untuk musim semi. Cuaca seperti itu, kami nikmati nyaris selama seminggu. Pas banget selama seminggu tersebut, kami liburan ke provinsi sebelah. Ini akan saya ceritakan dipostingan terpisah. Pulang liburan, saya langsung sibuk berbenah halaman depan dan belakang karena ditinggal seminggu saja kok rumput – rumput liar sudah tumbuh dan bunga – bunga mulai mekar. Saya berencana, minggu depannya akan saya tambahi beberapa tanaman di halaman rumah kami. Jadi sebelumnya dibersihkan terlebih dahulu.

Tunas bayi pohon pisang yan mulai tumbuh. Sempat mati pas salju datang

Minggu malam, saat kami melihat siaran berita, prakiraan cuaca mengatakan kalau mulai senin salju akan turun dan suhu tidak lebih dari 4 derajat celcius. Ini sudah April lho, suhu kok ya ngedrop lagi. Wah saya kaget. Cepat – cepat saya ke luar rumah untuk menutup bayi pohon pisang yang sempat mati saat salju datang, lalu sekarang tumbuh tunas baru. Kalau terkena salju, khawatir mati suri lagi. Demi bisa melihat pohon pisang tumbuh di halaman ya kan. Tapi kekhawatiran saya bukan itu saja. Kalau salju betul akan datang, bunga – bunga yang sudah mekar ini akan bertahan atau bagaimana ini nasibnya. Lagian ini sudah April, kok ya masih saja salju turun. Rasanya capek juga bergelut dengan dingin selama berbulan lamanya.

Senin kemaren, pagi hari saya melihat hujan turun. Tak berapa lama kemudian salju lalu disusul dengan hujan es. Lalu matahari bersinar terang dan langit biru cantik. Setelahnya langit menggelap, lalu hujan es lagi. Disusul angin kencang, salju turun lagi. Matahari nongol lagi, langit kembali biru cerah. Begitu seterusnya sampai menjelang malam. Saat malam hari saya tidak terlalu memperhatikan apakah hujan es dan salju masih turun.

Hari ini, selasa, cuaca lebih ekstrem. Pagi hari saya harus ke luar rumah. Jadi selama 2 jam di luar rumah, saya langsung merasakan yang namanya hujan air, salju, hujan es, angin kencang, matahari gonjreng bersinar terang, langit biru lalu berubah jadi langit gelap. Rasa meriang ya dan butuh makan bakso plus gorengan berlimpah minyak jelantah *halah, alasan! Cuaca hari ini benar – benar cepat sekali berubah. Saya membayangkan seperti time-lapse 4 musim tapi terjadi dalam satu hari. Bahkan salju yang turun lebih tebal dari kemaren dan es yang turun pun lebih besar dibandingkan kemaren. Angin pun tidak mau kalah mau unjuk diri, sudah seperti badai saking kencangnya. Bahkan saking anehnya, hujan es dan salju beberapa kali turun dalam waktu bersamaan. Jadi dua hari ini, saya merasakan apa yang orang Belanda bilang, 4 musim terjadi dalam satu hari. Ini malah dua hari berturut. Entah esok hari masih berlanjut atau tidak.

Sebesar ini lho esnya. Sakit ini kena kepala.

Mengalami dan melihat sendiri hal tersebut, membuat saya khawatir. Ini rasanya sudah tidak biasa. Khawatir apa yang akan terjadi dengan bumi. Apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Khawatir dengan alam yang mulai berubah. Bahkan saat menulis ini dimalam hari, saya masih mendengar suara kencang hujan es turun di luar dan suara geluduk yang keras.. Ada rasa takut dan khawatir karena ini rasanya sudah tidak biasa. Salju di bulan April? rasanya sudah tidak biasa. Alam sedang dalam kondisi tidak baik, saya tahu itu.

Semoga esok hari cuaca kembali normal meskipun suhu diperkirakan kembali minus beberapa hari kedepan. Ingin rasanya kembali merasakan suhu musim semi. Bukan suhu musim dingin di musim semi. Saya rindu cuaca hangat.

Stay safe semuanya, sehat – sehat selalu dan semoga alam kembali baik – baik saja.

*saat tulisan ini siap diluncurkan, di luar lanjut salju turun lebat.

-6 April 2021-

Buah Tangan Setelah Bepergian

Museum De Valk - Leiden

Kalau ada pembicaraan tentang bagaimana terganggunya mereka yang sedang bepergian lalu diminta untuk membawakan buah tangan alias oleh – oleh saat kembali, saya tidak bisa ikut nimbrung karena tidak terlalu punya pengalaman diminta-in oleh – oleh setelah pulang bepergian. Kadang saya suka terperangah sendiri jika mendengar atau membaca yang meminta oleh – oleh seringnya tanpa sungkan sebut ini itu padahal jelas tidak ikutan nyumbang beli tiket pihak yang sedang bepergian. Kok ya ga ada rasa malu ya sampai minta sedemikian rupa, tanpa bertanya dulu yang diminta-in oleh – oleh ada uang lebih tidak, ada ruang lebih tidak untuk menaruh barang yang diminta. Meminta oleh – oleh itu kan artinya minta gratisan ya. Minta gratisan sampai menyebutkan spesifik barang yang diminta, ehmmm kok ya rasanya gimana gitu, ga nduwe isin.

Atau kalau si pihak yang bepergian memang dengan senang hati memberikan sesuatu lalu diberikan komentar oleh si penerima semacam : duh liburan ke luar negeri kok begini aja nih oleh – olehnya, coklat seperti ini sih banyak di supermarket sini. Atau komen seperti ini : Tugas kerja kan dibayarin kantor tiketnya, mbok ya oleh – olehnya jangan gantungan kunci donk, agak mahalan dikit. Atau komentar dari keluarga : liburan ke luar negeri bisa tapi kok ngasih oleh – oleh keluarga cuma tempelan kulkas, buat apaan nih. Sakit hati ya rasanya kalau sampai diberikan komentar seperti itu. Saya yang tidak pernah mengalami hanya mendengar atau membaca saja, rasanya krenyes – krenyes di hati. Kok sampai tega ngomong seperti itu padahal sudah diberikan sesuatu sebagai buah tangan. Saat membeli, orang yang bepergian pasti menyisakan budget dan waktu khusus untuk memilih yang cocok yang mana sebagai oleh – oleh. Artinya yang diberikan buah tangan, sudah ada di pikiran si pemberi. Kok ya sampai hati memberikan komentar seperti itu.

MINIM PENGALAMAN DIMINTA BUAH TANGAN

Kesukaan bepergian saya sepertinya turunan dari Ibuk yang memang suka jalan – jalan sendiri dari ke luar kota sampai luar pulau. Bapak saya tidak terlalu suka liburan jauh. Kalaupun liburan, biasanya yang bisa dijangkau oleh mobil atau kendaraan umum yang jarak tempuhnya tidak terlalu lama. Pernah sih Bapak beberapa kali ke Jakarta dari kota kami menyetir sendiri dengan seluruh keluarga. Waktu itu, bisa sampai 24 jam perjalanan diselingi beberapa kali berhenti untuk istirahat. Rasanya, itu jarak tempuh yang paling lama yang pernah Bapak lakukan. Ibuk, seingat saya kalau sudah sampai rumah dari bepergian, membawa oleh – oleh ala kadarnya. Seringnya makanan. Meskipun ala kadarnya menurut Ibuk, kami yang di rumah tentu saja senang apapun yang dibawa oleh Ibuk. Tidak membawa sesuatu pun, kami tidak pernah menanyakan.

Seingat saya, para tetangga kami pun tidak pernah ada yang menanyakan perihal oleh – oleh jika saya pulang ke rumah sejak pertama kali ngekos umur 15 tahun. Bahkan saat saya sudah mulai bekerja, mereka tetap tidak pernah meminta oleh – oleh padahal tahu pekerjaan saya isinya wira wiri lintas provinsi. Mereka lebih tertarik menanyakan kabar, mendengarkan cerita saya kalau pergi ke kota di provinsi nun jauh di sana, bahkan lebih tertarik bertanya sebenarnya pekerjaan saya itu ngapain saja.

Bagaimana dengan keluarga? Lah ya tentu saja mereka tidak peduli saya ini mau membawa oleh – oleh atau tidak. Setiap saya bepergian entah itu untuk urusan kantor atau liburan pribadi, saya selalu pamitan sama Bapak dan Ibu. Sekedar bilang kalau saya akan ke luar kota atau ke luar negeri. Mereka selalu berpesan hati – hati jaga diri dan mendoakan semoga selamat dari berangkat sampai pulang lagi. Bahkan Bapak selalu mengingatkan untuk tidak usah membawakan barang atau makanan apapun karena takut tidak bisa dimakan (karena beda selera) atau barangnya tidak cocok untuk mereka. Adik – adik saya pun sama, cuek saja perkara oleh – oleh. Dibawakan ya dimakan, tidak ada pun tidak pernah bertanya. Mereka lebih senang kalau saya pulang ke rumah lalu kami makan bersama satu keluarga, menyantap masakan Ibuk sambil mendengarkan saya bercerita seputar liburan atau tugas kantor di luar kota atau luar negeri.

Bagaimana dengan teman kantor dan teman – teman lainnya? Sama saja, mereka juga tidak pernah cerewet nitip ini dan itu. Kalau teman kantor, saya dengan senang hati selalu membawakan makanan sebagai oleh – oleh karena mereka pun berlaku yang sama jika sedang tugas kantor ke luar kota atau luar negeri. Sebagai informasi, frekuensi bepergian saya untuk urusan kantor dalam sebulan bisa sampai 3 minggu. Jadi efektif saya di kantor selama sebulan, paling lama 1,5 minggu saja. Kalau saya sudah masuk kantor, rasanya benar – benar melepas kangen dengan banyak bercerita sambil makan oleh – oleh yang saya bawakan untuk teman – teman satu ruangan. Nah, mereka tidak pernah komen : Den, loe kok cuma bawa makanan aja sih, atau Den, bawa apa gitu kek kalau dari kota A, jangan makanan mulu. Komen seperti itu tidak pernah saya dengar kalau membawakan makanan setelah dinas luar kantor. Makanan adalah pemersatu kubikel.

Teman – teman yang lainnya pun sama, rasanya saya tidak pernah ingat diminta-in oleh – oleh jika mereka tau saya ada urusan kerja di kota lain atau liburan ke negara lain. Mereka lebih tertarik mendengar pengalaman saya selama liburan atau tugas kantor.

MEMBELI BUAH TANGAN KARENA KEINGINAN SENDIRI BUKAN KARENA DIMINTA

Dari cerita yang saya sampaikan di atas, sudah ada bayangan ya selama ini saya nyaris tidak punya cerita bagaimana rasanya ditodong keluarga, teman, tetangga untuk membawakan oleh – oleh. Bersyukurnya, jika mereka tau saya akan bepergian, pasti akan berpesan untuk hati – hati dan mendoakan saya selamat dari berangkat sampai pulang lagi. Seingat saya, justru tidak pernah ada kata – kata untuk minta dibawakan oleh – oleh ini itu, atau nitip beli ini itu. Kalau saya sudah pulang, yang ditanyakan pertama ya kabar saya, sehat atau ada hal lainnya. Mereka antusias mendengarkan cerita saya.

Sewaktu Adik dan Ibuk di Belanda, saya bertanya mereka mau bawa oleh – oleh apa untuk dibawa ke Indonesia supaya bisa diberikan ke para tetangga atau teman – teman kerja Adik saya. Ibuk bilang tidak usah membeli banyak oleh – oleh, secukupnya saja. Toh tidak ada yang meminta. Malah Adik saya bilang kalau beli sedikit saja atau beli coklat saja, lebih berguna bisa dimakan. Sepupu yang tinggal dengan kami selama 3 bulan juga lebih tidak terlalu pusing memikirkan harus membawa apa saat pulang ke Indonesia. Dia bilang : beli aja dikit, buat syarat. Kalau ada yang protes kubilang aja “protes mulu loe, ngasih duit aja kagak” haha bener juga.

Museum De Valk - Leiden
Museum De Valk – Leiden

Tahun lalu saat kami sudah membeli tiket untuk mudik, saya mulai bertanya ke Ibuk dan saudara – saudara yang lain ingin dibawakan apa kalau saya mudik nanti. Ibuk bilang ga usah bawa apa – apa yang penting selamat semua sampai Indonesia. Sedangkan saudara yang lain malah malas – malasan jawab : ga usah lah dibawakan apa – apa, keju kami juga ga doyan. Ga usah repot bawa macam – macam, ketemu kamu saja kami sudah senang. Jadi tahun lalu saya pun tidak terlalu ribut mencari oleh – oleh. Dengan senang hati saya membeli seperlunya juga, semampu saya dan ya tidak memaksakan diri membawa banyak lha wong yang di Indonesia saja tidak minta. Kalau tidak diminta oleh – oleh seperti itu, saya malah dengan senang hati membelikan karena mereka akan sangat menghargai apapun yang saya beri. Buat mereka, saya sampai sana dalam keadaan selamat, itu jauh lebih penting. Oleh – olehnya sudah siap, lah mudiknya ditunda. Jadi oleh -olehnya mangkrak di rumah sampai saat ini.

Keluarga di Belanda juga begitu, khususnya Mama mertua. Kalau liburan, kami selalu bertanya ingin dibawakan apa. Mama sering bilang jangan sampai membeli apapun. Beliau lebih menantikan cerita kami selama liburan dan lebih antusias untuk melihat semua foto dan video yang kami buat. Walaupun begitu, sesekali kami masih membelikan seperti coklat sebagai buah tangan yang seringnya berujung kena omel karena sudah dibilang untuk tidak membawakan apapun, tapi kami tetap ngeyel membelikan. Tanda cinta kami buat Mama. Untuk tetangga yang kami titipi rumah selama liburan, seringnya kami berikan buah tangan. Biasanya makanan khas dari tempat yang kami datangi dan juga kiriman kartupos dari sana.

Sebenarnya saya senang memberikan satu benda sebagai buah tangan yaitu, mengirimkan kartupos. Untuk beberapa orang teman atau keluarga, kami senang mengirimkan kartupos dari tempat tujuan kami berlibur (atau tugas kerja). Mereka selalu antusias menerima kartupos yang kami kirimkan. Untuk kartupos ini, kami juga selalu mengirimkan ke alamat rumah kami sendiri. Jadi saat sampai ke rumah, seringnya kartupos sudah sampai. Jadi kami membaca sendiri kartupos tersebut. Buah tangan kami untuk kami selama liburan. Menyenangkan membacanya.

Bersyukur rasanya selama ini ternyata saya tidak pernah ada beban apapun untuk memberikan buah tangan jika sedang bepergian atau tugas kantor. Kalaupun sampai saya membawa, ya itu keinginan sendiri yang selalu mendapatkan ucapan terima kasih dan tidak pernah dikomen macam – macam (baca : dinyinyirin). Apapun yang saya bawa, pasti dengan senang hati diterima. Dititipi untuk minta dibelikan ini itu, juga rasanya tidak pernah.

Ada salah satu teman kantor dulu saat liburan ke Belanda lalu membawa oleh – oleh coklat ke kantor. Departemen sebelah ada yang komen : lah kalau coklat aja mah ada di sini, ngapain jauh – jauh ke Belanda. Dijawab oleh dia : Loe kan belum pernah ke Belanda, makan nih coklat biar tahu bedanya coklat Indonesia sama coklat Belanda tuh apa, biar loe ga kebanyakan komen macam ini. Masih untung loe gue beri.

Harusnya memang kalau ada orang komen macam – macam kalau diberi oleh – oleh, langsung aja kasih komen balik yang pedas, Atau ya tandain, kedepannya sekalian ga usah dikasih lagi. Atau kitanya sendiri yang ga usah repot – repot membelikan oleh – oleh. Orang banyak mengedepankan ga enak hati sih ya kalau tidak membawa apa – apa setelah bepergian. Padahal prinsip oleh – oleh kan sukarela. Cuma memang ada tipe orang yang kalau tidak bawa apa – apa rasanya sungkan. Padahal ya suka – suka dia aja ya mau bawa apa tidak. Toh kalau ada yang sampai komen tidak enak tinggal jawab aja apa adanya. Misal : ga ada duit lebih buat beli oleh – oleh. Atau : loe sih ga ngasih duit ke gw, jadi ya gw ga beli apa – apa buat loe. Atau ya jawab saja : males belinya. Singkat, padat, beres.

Sekali lagi, buah tangan setelah bepergian itu sifatnya sukarela. Jadi jangan sampai dijadikan beban. Liburan sampai beban mikiri oleh – oleh kok ya jadi repot sendiri. Atau mau mudik sampai repot berburu oleh – oleh sampai memaksakan diri melebihi kapasitas uang atau ruang yang ada. Memang ada yang kalau mudik membawa banyak sekali oleh – oleh untuk semua isi kampung. Salah satu kebanggaan karena satu indikator kesuksesan merantau buat dia terpenuhi, yaitu bisa membawa oleh – oleh yang banyak kalau mudik. Entah itu memang dianya sendiri yang secara sukarela membelikan aneka macam rupa buah tangan, atau sampai menabung lama asal bisa membawa barang banyak untuk penduduk desa, tak jadi soal. Yang penting bawa oleh – oleh. Ada yang sampai tidak mudik karena uang tidak cukup membeli oleh – oleh. Daripada malu tidak membawa buah tangan untuk orang kampung, lebih baik tidak mudik. Agak memusingkan memang perihal buah tangan untuk beberapa orang.

Kalau memang diri sendiri merasa senang membawakan oleh – oleh, itu lain hal. Artinya memang sukarela dan tidak merasa terbebani.

Lain orang, lain pandangan perihal oleh – oleh. Yang penting bijak menyikapi, tidak memaksakan diri, dan seperlunya saja.

-1 April 2021-

Sampai Lupa Rasa Aslinya

Pecel Pitik, sajian khas lebaran di kampung

Sudah seringkali saya singgung di blog ini tentang rencana mudik yang ada saja tertunda setiap tahunnya. Sudah beli tiket pun ya tetap tertunda. Jadi sejak pindah ke Belanda, saya belum pernah mudik sama sekali. Tahun ini, adalah tahun ke tujuh saya jadi imigran. Kangen Indonesia? ya jelas donk! Bagaimanapun juga, seburuk – buruknya Indonesia, itulah tempat saya lahir dan besar. Keluarga besar di sana, sahabat dan teman – teman dekat juga di sana, tempat saya meniti karier juga di sana, jatuh bangun dalam percintaan (halah, kok yo disebut barang), menempuh pendidikan formal dari SD sampai S2 juga di sana. Jadi, tidak mungkin kalau saya tidak rindu Indonesia. Selain keluarga besar, teman – teman dan para sahabat, yang paling saya rindukan tentu saja makanannya.

Tahun 2019 akhir, setelah kami Haqul Yakin akan mudik tahun 2020, mulailah saya mencicil untuk membuat daftar makanan apa saja yang wajib saya makan selama mudik 3 bulan. Sebenarnya 3 bulan ini saja buat saya rasanya terlalu singkat. Mana bisa waktu sesingkat itu berkunjung ke semua saudara, apalagi untuk mencicipi segala makanan. Lha wong keluarga besar saya itu sukanya menjamu saudara yang datang. Belum lagi Ibuk, tidak mungkin tidak memasak untuk anak perempuannya ini. Saya pun sudah pesan segala makanan ke Ibu untuk dimasakkan saat kami mudik. Perut cuma sebesar ini, daftar makanannya sampai beberapa bab sendiri. Ya mana muat.

Sebenarnya untuk urusan makanan Indonesia, di Belanda ini gampang sekali mencari restoran Indonesia yang rasanya benar – benar Indonesia. Belum lagi katering rumahan. Apalagi di Den Haag ya, tinggal tunjuk dan punya duit banyak saja, tiap hari bisa makan masakan Indonesia, kalau niat. Banyak sekali restoran Indonesia dan katering rumahan di sekitaran Den Haag yang rasanya masih Indonesia. Tapi, banyak juga Restoran Indonesia yang rasa masakannya sudah menyesuaikan dengan lidah orang Belanda. Jadi sudah tidak autentik lagi (dari sudut pandang orang Indonesia). Tinggal di dekat Den Haag ini sebenarnya dimanjakan sih. Segala sesuatunya gampang kalau berhubungan dengan makanan. Untungnya, saya bisa tahan diri *soale duite ga cukup. Saya jarang njajan karena ya kalau masih bisa masak sendiri, ya saya masak. Sesekali saja palingan njajannya sambil ketemu teman.

Bahan untuk memasak makanan Indonesia pun, gampang sekali dicari di sini. Jastip juga sekarang bisa membawa segala macam yang dipesan dari Indonesia. Jadi kalau benar – benar rindu dengan masakan Indonesia yang bukan kebanyakan dijual di restoran atau katering rumahan, saya bisa memasak sendiri. Misalkan masakan khas daerah tempat saya besar. Jadi istilahnya, selama ada niat (dan uang) rindu masih bisa lah terobati dengan segala makanan Indonesia yang dijual di sini. Atau ya memasak sendiri kalau lebih ingin sesuai selera lidah saya.

LUPA RASA ASLINYA

Meskipun gampang sekali untuk tetap makan hidangan asli Indonesia, baik itu memasak sendiri, ataupun membeli, ada saja beberapa masakan yang saya mulai lupa rasa aslinya. Kalau untuk urusan Bahasa Ibu, mau berapa lamapun tinggal di luar Indonesia, mustahil bagi saya untuk lupa. Lha wong saya ngobrol dengan Ibu dan saudara di sana menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa, ya ga mungkin lah mendadak lupa. Tapi, kalau rasa makanan, ternyata setelah lebih dari 6 tahun tidak mudik, bisa membuat lidah dan otak saya agak lupa ini rasa aslinya seperti apa.

Sering kali kalau bertanya resep ke Ibuk, saya pasti bertanya : ini rasa yang dominan apa ya Buk? saya kok agak lupa. Tahun lalu, pertama kali saya masak Pecel Pitik. Ini masakan khas desa tempat Mbah. Setiap lebaran, selalu ada masakan ini. Jadi, sejak saya bisa makan pedas, ya setiap tahun saya makan pecel pitik kalau lebaran. Nah, sejak di Belanda, lebaran jelaslah tidak ada pecel pitik. Selain tidak ada yang jualan, saya juga tidak terpikir untuk membuat sendiri. Karena tahun lalu kami gagal mudik, untuk mengobati kerinduan lebaran di desa, saya bertanya ke Ibuk apa resepnya dan bagaimana cara membuatnya. Kalau di desa, para Bude dan Mbah yang biasa memasak. Saya tinggal duduk manis menyantap karena biasanya Bapak dan Ibuk sampai di desa sehari sebelum lebaran. Jelas semua masakan untuk lebaran sudah matang semua. Kalaupun saya masih ada kesempatan membantu, paling banter ya cuma bagian mengulek cabe.

Pecel Pitik, sajian khas lebaran di kampung
Pecel Pitik, sajian khas lebaran di kampung

Bertanya bumbu pecel pitik ke Ibuk juga sebenarnya salah alamat. Lha wong Ibuk tidak pernah memasak hidangan ini seumur hidup Beliau. Sama seperti saya, Ibuk hanya bagian penyantap saja. Ibuk lalu bilang akan menanyakan ke Bude bumbu dan cara memasaknya seperti apa. Setelah dituliskan lengkap dan saya bertanya lebih detail, lalu pertanyaan pamungkas saya : Buk, ini rasa yang dominan apa ya selain pedas? Saya kok ingatnya hanya rasa pedas yang menyengat. Rasa dominan yang lainnya apa ya? Saya agak lupa.

Lain waktu, saat saya membeli Rujak Cingur di warung the one and only rasa rujak cingurnya paling wenaakk se Belanda, Warung Barokah di Amsterdam. Eh ternyata mereka juga menjual Tahu Campur Lamongan. Tanpa pikir panjang, saya langsung membungkus 2 porsi. Saya pikir karena rasa rujaknya tidak mengecewakan, pasti tahu campurnya pun tidak. Yang masak sekaligus pemilik warungnya asli orang Jawa Timur. Jadi pasti terpercayalah untuk rasa, begitu pikir saya. Sesampainya di rumah, tidak sabar saya mencicipi tahu campurnya. Pas merasakan, saya sampai berpikir lama. Kok seperti ini ya rasa tahu campurnya. Seingat saya, tidak seperti yang saya rasakan saat itu. Tapi saya sendiri juga agak lupa rasa aslinya nya seperti apa.

Saya lalu berkirim pesan ke grup yang isinya orang Jatim semua. Kami cuma berempat saja, hampir bersamaan pindah ke Belanda. Saya ingin mengkonfirmasi rasa dominan tahu campur itu seperti apa. Mereka lalu tertawa. Pasalnya, di grup ini juga beberapa kali sebelumya, dari anggota lainnya yang bertanya rasa atau bentuk asli dari masakan A, B, C dsb, seperti apa. Waktu kami ngobrol tentang isi pastel, satu teman malah nanya kok pastel isinya banyak banget. Dia lupa, pastel di Indonesia kan isinya aneka rupa dari bihun, wortel, kentang, ayam atau potongan telur rebus. Ya begini kalau sama – sama tidak pernah mudik setelah di Belanda. Lalu ketika saya bertanya, kok ya akhirnya giliran lupa rasa asli masakan sampai juga pada saya. Jadi bukan tahu campurnya yang tidak enak, lidah saya saja yang lupa rasa aslinya seperti apa.

Sebenarnya lupa rasa asli beberapa makanan Indonesia, tidak hanya dua dari yang saya sebutkan di atas. Masih ada beberapa masakan atau jajanan yang saya mulai samar ingat ini rasa aslinya seperti apa. Mungkin lidah saya mulai bingung. Kalau sedang malas masak tapi ingin makan masakan Indonesia, saya sesekali membeli di toko dekat rumah. Yang masak orang Indonesia asli, tapi mayoritas rasa makanan Indonesia yang dijual sudah disesuaikan dengan lidah orang lokal. Jadi bumbunya tidak terlalu medok. Kata suami : bahkan rendang yang dijual, kalah enak rasanya dengan rendang buatanmu. Ya beginilah kalau punya suami yang lidahnya sudah terhipnotis masakan istrinya. Semua rasa makanan Indonesia di luar sana pasti dibandingkan dengan masakan istrinya. Sering saya ingatkan : sesekali ga usah komen mbanding – mbandingin dengan masakanku. Sudah dinikmati saja, meskipun menurutmu ga enak. Senang sih dipuji sama suami. Tapi kan saya juga ingin menikmati makan tanpa masak sendiri.

Jadi, lidah saya mungkin bingung. Sudah tercampur dengan rasa masakan Indonesia yang masih otentik maupun yang sudah disesuaikan dengan lidah orang lokal. Belum lagi kalau saya masak sendiri, rasanya ya tentu saja sudah saya sesuaikan dengan lidah keluarga saya. Mbuh akhire bingung sing asli rasa Indonesia iku sing endhi.

Tahu Campur Lamongan, Warung Barokah Amsterdam

Lucu juga ya, makan masakan Indonesia sejak lahir, tapi begitu jadi imigran dan lama tidak pulang, jadi ada yang terlupa beberapa makanan rasa aslinya seperti apa. Apalagi untuk makanan yang tidak biasa dijual bahkan tidak dijumpai di restoran manapun bahkan katering rumahan. Entah lupa rasa asli ini terjadi pada semua imigran yang lama tidak mudik, atau hanya pada imigran yang lidahnya agak belagu, seperti saya. Sok – sok lupa rasa masakan asli, padahal tiap hari ya makan pakai sambel terasi *jaka sembung.

-25 Maret 2021-

Kangen Ngobrol dan Ketemu Langsung

Kue Lumpur Penyambung Silaturrahmi antar Tetangga

Dua bulan lalu, Anis ke rumah untuk mengembalikan panci dan toples yang saya bawa saat acara ulang tahun di rumahnya, bulan Agustus tahun lalu. Panci itu saya isi Pecel Pitik dan toplesnya saya isi cookies coklat buatan sendiri. Sewaktu Anis menghubungi saya ingin mengembalikan panci dan toples, awalnya saya tolak halus dan bertanya apa dia ada keperluan di dekat rumah dan akan mampir untuk mengembalikan barang – barang tersebut. Ternyata, dia ingin datang khusus untuk mengembalikan panci dan toples. Saya mikir, wah itu panci kan bukan dari merek terkenal, beli juga di Action, sampai lintas provinsi nyetir apa ga sayang waktu dan bensinnya. Tapi Anis bilang nggak apa, sekalian silaturrahmi katanya.

Saya lalu mengiyakan dan bertemulah kami di depan pintu pada tanggal yang disepakati. Itu pertemuan pertama kami setelah terakhir Agustus lalu. Ngobrol di depan pintu rumah, hanya sekitar 15 menit saja. Senang rasanya bisa bertanya kabar dan ditanya kabar secara langsung. Apalagi pada saat itu bulan pertama saya melipir dari Twitter dan FB. Rasanya senang diberi perhatian *haus perhatian. Saya juga menanyakan kabar dia, kabar anak – anaknya, pekerjaannya, lalu kami ngobrol yang lainnya.

Kami tidak bisa ngobrol lama karena saya dan keluarga mau jalan – jalan ke bukit dekat rumah. Setelah Anis pulang, hati saya rasanya menghangat. Ternyata, senang juga ya ketemu teman secara langsung, berasa kangen tidak bertemu lama. Sayang hanya sebentar kami berbincang dan tidak bisa masuk ke dalam rumah. Saya lalu mengirimkan pesan ke dia, terima kasih sudah berkunjung, sudah menanyakan kabar saya, sudah ngobrol secara langsung. Saya yang tidak terlalu banyak bergaul, ternyata punya rasa rindu juga untuk mengobrol lama dengan teman, berbincang ketemu muka dan mata, kangen saling bertanya kabar langsung, dan kangen bersenda gurau.

KANGEN MENGUNDANG TEMAN KE RUMAH

Meskipun intensitasnya tidak terlalu sering, saya terbilang lumayan lah dalam kurun waktu setahun beberapa kali pasti akan mengundang teman – teman dekat atau kenalan untuk kumpul – kumpul di rumah. Tidak harus ada acara khusus, ya hanya sekedar berkumpul saja. Entah itu potluck atau saya yang memasak untuk semua. Senang saja rasanya bisa ngobrol panjang lebar sambil makan dengan suasana santai. Bisa selonjoran, duduk bersila, atau segala pose, serta tidak dibatasi dengan waktu (beda kalau ketemuan di resturant ya).

Tahun lalu, meskipun pandemi, saya sempat mengundang 3 teman ke rumah, dalam waktu yang berbeda. Dua teman datang untuk bezoek dan Ananti beserta keluarganya memang saya undang untuk makan siang saat akhir pekan. Selain itu, saya pun diundang temen dekat untuk makan siang di rumahnya, dan satu kali saya berkunjung ke rumah teman yang lain untuk melayat Bapaknya meninggal. Lain waktu, saya juga menghadiri acara nikahan Crystal dan undangan ulang tahun Anis. Jadi untuk ukuran pandemi, ya saya tidak terlalu suci banget sih masih berkumpul – kumpul. Cuma kalau dibandingkan dengan situasi normal, intensitas kumpul – kumpul jauh berkurang. Berasa sih rindunya meskipun ya saya tidak terlalu keberatan juga kalau banyak berdiam diri di rumah seperti saat ini. Hanya, memang rasa kangen itu ada. Kangen mengundang secara spontan teman – teman untuk datang di rumah, kangen diundang makan – makan *ngarep banget buuukk ada yang ngundang. Kangen ngobrol, kangen bersenda gurau, kangen bercerita banyak hal, kangen bertemu langsung.

KANGEN KUMPUL KELUARGA

Setahun lalu, saat ada acara di rumah kami, itulah terakhir kalinya kami sekeluarga besar kumpul lengkap. Setelahnya, suasana dan kondisi mulai berubah. Lockdown, pandemi, segala peraturan yang cepat berubah, rasa was – was, dan segala macam mulai datang silih berganti. Sampai saat ini, setahun lamanya, kami belum pernah bertemu lagi dengan keluarga besar. Saya tidak tahu secara langsung bagaimana muka para ponakan, tidak tahu muka para ipar. Tidak tahu cerita terbaru dari mereka apa, cuma dengar kabar dari Mama mertua.

Di keluarga besar suami, acara kumpul – kumpul rutin dilakukan jika ada yang berulang tahun, makan malam Natal dan Tahun Baru. Jadi intensitas berkumpul kami dalam setahun, lumayan sering. Suasana berkumpul dengan seluruh keluarga itu, selalu menyenangkan buat saya. Jangan dibayangkan keluarga besar ini jumlahnya sangat banyak. Kalau ditotal, tidak sampai 15 orang. Ya memang cuma segini, tapi guyup.

Berkunjung ke rumah Mama mertua pun, selama setahun ini jadi berbeda. Kami tidak pernah masuk sama sekali ke dalam rumah. Hanya berdiri depan pintu, dalam jarak yang lumayan jauh. Saya kangen duduk dalam rumah itu, kangen ditanya mau minum apa dan diberi kue manis. Kangen berbincang lama dengan Mama. Kangen duduk santai di dalam rumah.
Saya kangen berkumpul dan bisa bertemu lagi dengan seluruh anggota keluarga besar.

KANGEN BERTEMU TEMAN DI RESTAURANT

Biasanya, ada beberapa teman yang mengajak bertemu di restaurant. Seringnya restaurant Indonesia. Ada juga beberapa yang memang tanpa agenda, ingin saja makan bareng. Saya, Crystal, dan Ajeng yang seringnya seperti ini. Janjian makan di restauran Indonesia mana gitu di Den Haag, gantian, dicoba satu – satu. saling bertukar kabar, ngobrol ngalur ngidul. Sampai ga kerasa, waktunya musti pulang. Sudah ada yang nunggu di rumah. Kembali lagi pada peran masing – masing. Lumayan, ngobrol begitu saja jadi bikin hati senang. Kangen bisa kembali ke situasi seperti itu. Horeca masih belum buka sampai saat ini. Sudah buka pun, ya masih bimbang kalau musti janjian di restaurant. Pada belum berani ke sana ramai – ramai.

KANGEN NGOBROL DI RUMAH TETANGGA

Tetangga nempel tembok, sangat baik pada kami. Sering kami diundang ke rumahnya tanpa ada acara khusus. Anak – anak mereka pun sudah akrab dengan anak – anak kami karena sudah terbiasa menjaga di rumah. Hubungan sudah seperti saudara lah. Sejak Pandemi, kami belum pernah lagi masuk rumah mereka, sebaliknya pun begitu. Kami ngobrol hanya depan pintu saja. Jika ada yang berulang tahun, tetap saling berkirim kado, tetap saling berkunjung, tapi sebatas depan pintu saja.

Beberapa minggu lalu, salah satu anak mereka ingin belajar membuat kue lumpur. Ceritanya, saya memberikan kue lumpur, lalu pacarnya si anak ini suka sekali dengan rasa kue lumpur buatan saya. Jadilah si gadis ini ingin belajar cara membuatnya. Saya bilang akan mengundang dia ke rumah kalau saya akan membuat lagi. Jadilah saya undang dia saat saya membuat untuk sajian tukang – tukang yang sedang kerja di rumah. Itulah pertama kalinya dia masuk lagi ke dalam rumah kami setelah satu tahun absen. Berkah kue lumpur. Kangen rasanya bisa berkunjung kembali antar rumah.

Kue Lumpur Penyambung Silaturrahmi antar Tetangga

BUKAN PENGGUNA VIDEO CALL KALAU TIDAK KEPEPET

Entahlah, sejak dulu sampai sekarang, saya tidak terlalu suka yang namanya panggilan melalui video. Saat LDM dan LDR an dengan suami selama 1 tahun, selama itu juga kami tidak pernah satu kalipun menggunakan panggilan video. Manual lewat WhatsApp atau email. Telpon pun hanya sekali setiap 2 minggu. Itu saja sudah lebih dari cukup. Pandemi seperti ini, rasanya panggilan video bisa dijadikan alternatif untuk melepas rindu ya, tapi saya toh tetap tidak terlalu suka. Entahlah, rasanya tidak suka melihat muka di layar haha, berasa aneh. Saya menggunakan panggilan video hanya untuk yang hubungannya sangat dekat, misalkan keluarga bulek di Bekasi, beberapa sahabat, dan Mama mertua. Sudah itu saja. Selebihnya, mending telponan biasa. Dengan Ibu pun saya jarang saling menggunakan panggilan video.

Saling berkirim pesan lewat aplikasi pesan pun, secukupnya saja. Saya tidak terlalu punya banyak grup di WhatsApp, cuma 2 aja yang aktif dari 4 yang saya ikuti. Yang lainnya, saya pasif. Saya lebih senang bertukar kabar secara langsung, bukan di grup. Lebih senang berkirim email, daripada menulis panjang di aplikasi pesan.

SEMOGA DUNIA KEMBALI MEMBAIK

Semoga perlahan dan pasti, keadaan kembali membaik. Meskipun definisi normal kedepannya akan jadi sangat berbeda, tapi setidaknya beberapa hal bisa kembali seperti semula. Misalkan, bisa kumpul lagi dengan teman, seluruh keluarga, roda perekonomian kembali membaik, rasa was – was semakin berkurang. Saya rindu bertemu teman secara langsung, ngobrol dan saling bertanya kabar. Rindu berkumpul dengan keluarga besar, rindu menghadiri acara tanpa rasa cemas. Rindu sesekali ke restaurant.

Saya memang selalu bersyukur karena masih diberi sehat dan berkumpul lengkap dengan keluarga di rumah, namun rasa rindu yang saya sebutkan di atas, tak terelakkan. Rindu bertatap muka selain dengan orang di rumah. Rindu yang semoga suatu hari nanti bisa terobati. Bisa bertemu dan ngobrol secara langsung.

-18 Maret 2021-

Musim Dingin Yang Beku dan Bersalju

Salju dan langit biru

Musim dingin kali ini saya tidak menaruh harapan salju lebat akan datang. Sudah terbiasa dengan prakiraan cuaca yang memporakporandakan harapan akan turunnya salju, yang ternyata hanya air saja. Seperti tahun – tahun sebelumnya, kalaupun ada salju, biasanya datang dalam bentuk basah alias kalau sudah menyentuh tanah langsung mencair. Selama saya di sini sejak awal 2015, salju yang lumayan lebat datang kalau tidak salah tahun 2017 – 2018. Saat Ibu tinggal di sini selama 3 bulan, Beliau juga sampai setiap hari ke luar rumah untuk menikmati suasana musim dingin yang bersalju. Setelah tahun tersebut, salju yang datang kebanyakan salju basah, paling tidak di sekitar tempat tinggal kami.

Musim dingin awal tahun ini, berbeda. Salju pertama datang di sekitar rumah 16 Januari 2021. Itu salju yang tipis sekali tapi sudah membuat semua orang di sekitaran rumah bahagia. Ini sekitaran rumah maksudnya para tetangga dan anak – anaknya. Saljunya datang pas akhir pekan. Langsung lah mereka dengan suka cita ke luar rumah main di bawah hujan salju. Kami pun tidak mau kalah, ikut ke luar rumah juga. Suami tidak mau berlama – lama di luar karena kata dia dinginnya sangat menususk. Saya lalu menatap dia aneh : yang lahir di sini siapaa, yang ga kuat dingin siapa. Padahal dia sudah berpakaian lengkap dengan sarung tangan saat di luar, tapi tetap dia tidak kuat dingin. Saya malah tidak pakai sarung tangan karena malas (dan sebenarnya tidak punya sarung tangan yang tebal). Saya memang paling tidak suka memakai sarung tangan dan boots, kalau cuaca tidak sangat ekstrim. Kalau cuma salju tipis, pakai sneakers saja sudah cukup. Kalau salju sudah tebal, baru mengeluarkan satu – satunya sepatu tebal yang saya punya.

Dua minggu kemudian, sudah ada kasak kusuk salju akan datang lagi. Tapi karena kami sudah terbiasa di “PHP” oleh prakiraan cuaca, jadi tetap tidak berharap banyak salju yang datang akan lebat. Sekedar informasi, tempat tinggal kami suhunya lebih hangat dibanding beberapa tempat di Belanda yang biasanya turun salju lebat karena rumah kami tidak jauh dari pantai. Beberapa hari sebelum salju datang, berita di TV terus mengatakan kalau salju kali ini akan lebih banyak dari tahun – tahun sebelumnya. Bukan hanya itu, peringatan badai salju pun sudah didengungkan. Sudah ada peringatan juga untuk tidak bepergian ke luar rumah bahkan beberapa sarana transportasi akan berhenti beroperasi jika memang ketebalan salju melebihi batas maksimalnya.

Salju dan langit biru
Salju dan langit biru

Di satu grup aplikasi pesan, kami para buk ibuk sudah heboh sendiri sekaligus tetap tidak menaruh harapan tinggi akan salju lebat. Terbiasa harapan dipatahkan oleh kenyataan.

PADA AKHIRNYA ….

Sekitar jam 5 pagi saat bangun tidur, saya membuka gordijn kamar, dan melihat tumpukan salju di luar yang lumayan tebal. Wah, saljunya beneran datang batin saya. Minggu, 7 Februari 2021, salju lebat akhirnya datang. Hari minggu kami jadi berbeda. Semua antusias untuk segera ke luar rumah bermain dengan salju, termasuk saya tentunya. Setelah suami menunaikan tugasnya dihari minggu yaitu bersih – bersih rumah dan kamar mandi, setelah makan siang kami langsung menjelajah menggunakan Slee (kereta luncur) di sekitaran kampung. Saljunya sudah lumayan tebal. Saya benar – benar terkagum bagaimana sekitar rumah kami langsung berubah suasananya dibanding sehari sebelumnya. Benar – benar berbeda seperti tidak tinggal di Belanda. Sangat sureal semuanya memutih.

Sekitaran kampung

Ada satu cerita agak kocak. Saya kan tidak punya sarung tangan tebal, tapi suhu pada hari minggu itu terlalu dingin untuk tidak memakai sarung tangan. Tercetuslah ide untuk menggunakan sarung tangan buat oven. Hari itu, saya sedang baking roti dan kue. Pas lihat sarung tangan yang saya pakai saat mengeluarkan loyang dari oven, seperti mendapatkan ide cemerlang untuk menggunakannya di luar rumah. Ternyata hangat lho, lumayan bisa meredam dingin karena tebal (bisa dipakai sampai suhu oven 300 derajat celcius).

Minggu siang saat itu, suasana benar – benar senyap. Tidak terlihat sama sekali kendaraan di jalan, hanya banyak orang berjalan kaki atau menggeret slee bersama anak – anak. Orang – orang yang jalan kakipun, outfit mereka sudah seperti di negara yang rutin datang salju. Ini juga membuat saya merasa seperti tinggal di Finlandia (kayak yang pernah ke Finlandia saja, padahal ya karena lihat di TV). Bukan hanya salju yang terus saja turun deras, anginnya pun cukup kencang. Itulah kenapa beberapa hari sebelumnya sudah ada peringatan badai salju.

Setelah puas 2 jam berjalan menyusuri kampung, pemberhentian kami selanjutnya adalah taman bermain. Di taman bermain ini ada semacam bukit kecil. Kami dan beberapa orang lainnya main seluncuran di bukit ini. Saking antusiasnya, saya pun ikut mencoba seluncuran di atas salju menggunakan slee di atas bukit kecil ini. Senangnya luar biasa. Ya beginilah kalau tumbuh besar di pesisir, bagitu lihat salju dan bisa bermain seluncuran, langsung noraknya maksimal dan memanfaatkan kesempatan semaksimal mungkin. Gembiranya luar biasa. Saya benar – benar memanfaatkan momen yang ada untuk bersenang – senang sepuasnya. Kapan lagi ya kan bisa main seluncuran, belum tentu tiap tahun salju datang. Ini tahun ke tujuh saya tinggal di Belanda, tetap saja kalau lihat salju selalu norak, riang gembira.

Sarung tangan untuk oven, penyelamat saat suhu dingin ekstrim

Setelah puas bermain di luar rumah, kami pulang. Menikmati minuman coklat hangat dan kue yang saya buat, sambil melihat hujan salju yang terus saja turun. Menikmati pemandangan orang – orang bergembira ria hilir mudik depan rumah dengan wajah ceria. Kedatangan salju kali ini, membuat orang lupa sejenak akan Corona dan Lockdown. Hati saya menghangat. Bersyukur kami berkumpul bersama dalam keadaan sehat, menikmati suasana salju dengan hangatnya coklat, kue yang baru dibuat, dan obrolan serta senda gurau.

SUNGAI DAN DANAU MEMBEKU

Selama seminggu penuh, Kami selalu ke luar rumah setiap sore. Tidak pernah absen satu haripun. Paling tidak, kami menghabiskan waktu 2 jam jalan kaki atau bermain salju di seluncuran bukit penuh salju. Suhu selama seminggu tersebut sangatlah dingin, buat saya yang lebih menyukai musim panas. Kalau tidak salah, sampai -13 derajat celcius (atau lebih ya, lupa). Tapi suhu yang dingin tidak menghalangi saya untuk tetap bersenang – senang dengan datangnya salju.

Kami mencoba membuat boneka salju di halaman belakang, tapi tidak berhasil. Saljunya terlalu halus, susah disatukan. Pada hari Rabu, sungai kecil di dekat rumah mulai beku. Kami melihat beberapa anak dan orang dewasa berjalan di atasnya. Wah, jadi ingat saat saya berjalan di atas danau yang beku tahun 2016, sewaktu membuat liputan pertama untuk Net TV. Melihat sungai yang beku saya antusias juga berjalan di atasnya, sekaligus ngeri bagaimana kalau pas di tengah esnya pecah dan kejeblos ya kan ga lucu. Sadar diri kalau badan tidak semungil saat 2016 lalu.

Setelah mencoba menapakkan kaki sambil sesekali lari ke pinggir setiap mendengar suara : kraakk kraakk seperti es mau pecah, saya akhirnya berani jalan di atas air yang membeku. Beberapa anak kecil dan orang dewasa sudah mulai ice skating an. Kami juga tidak mau kalah, menarik slee di atas air es. Wahhh itu asli saya senangnya luar biasa. Hilir mudik di atas air yang membeku. Membuat foto sana sini dan merekam tiada henti. Mendokumentasikan untuk diri sendiri. Kenang – kenangan musim dingin tahun ini.

Slee yang setia menemani selama seminggu

Hari Sabtu siang, kami pergi ke danau besar di kampung. Danau ini sangat besar. Sesampainya di sana, saya merasa suasananya semacam liburan musim dingin. Danau penuh dengan orang main ice skating. Penuh sekali. Belum lagi mereka yang menikmati suasana hanya duduk – duduk di pinggir danau sambil menikmati minuman dan makanan hangat yang mereka bawa. Nih kurang orang jualan bakso, soto ayam, dan rawon, juga gorengan – gorengan batin saya. Kami langsung mencoba jalan – jalan di atas danau yang membeku. Rasanya agak aneh karena semua orang di danau tersebut bermain ice skating sedangkan beberapa gelintir orang hanya berjalan kaki. Kami lalu jalan kaki mengelilingi pinggir danau dan melihat kemeriahan dari atas bukti.

Saya senang melihat antusias orang – orang, bersenang – senang saat salju datang dan air di danau membeku. Semua benar – benar bersuka cita. Saya sampai merasa sedang tidak dalam suasana hard lockdown. Melihat bahwa mereka benar – benar memanfaatkan dan menikmati momen yang ada.

Ada satu pemandangan yang luar biasa berbeda selama satu minggu salju lebat ini ada. Setiap pergi ke sekolah, saya selalu merasa kalau tidak tinggal di Belanda. Para orangtua mengantarkan anak – anaknya menggunakan slee dan mereka berpakaian lengkap seperti tinggal di negara yang musim dinginnya ekstrim. Sampai saya bilang ke suami mungkin ini rasanya kalau tinggal di Finlandia atau Islandia. Pemandangan seperti ini yang dilihat sehari – hari. Jadinya saya suka terbawa suasana bahagia lalu senyum – senyum sendiri. Bahagia karena melihat anak – anak ditarik slee oleh orangtuanya atau bahagia melihat mereka berpakaian lengkap di salju. I really enjoyed the moment. Kalau kata orang Belanda Genieten van karena tidak setiap tahun bisa melihat dan merasakan suasana yang seperti ini. Saya jadi tahu rasanya setiap hari geret – geret slee hampir ke mana – mana sampai urusan belanja juga.

NYARIS SEMUA ORANG BAHAGIA DAN LUPA SEJENAK TENTANG CORONA

Selama seminggu tersebut, nyaris semua orang di lingkungan kami tinggal sangat suka cita dengan adanya salju. Suasana yang tidak biasa, jadi kita secara maksimal menikmatinya. Setiap ke luar rumah, yang terlihat orang – orang berpakaian musim dingin yang super lengkap, para orangtua menarik anaknya menggunakan slee, di depan rumah anak – anak saling lempar bola salju dan membuat boneka salju, sungai yang beku jadi tempat untuk ice skating, hutan yang berbukit jadi tempat untuk seluncuran, taman bermain yang ada bukit kecilnya pun jadi sarana untuk bermain seluncuran.

Danau besar yang penuh orang piknik dan ice skating an

Melihat orang – orang bersuka cita dengan datangnya salju tebal, air sungai dan danau yang membeku, bisa bermain ice skating di udara terbuka, dan benar – benar menikmati suasana selama seminggu, itu juga bahagia yang saya rasakan. Merasa mereka melupakan dulu apa yang terjadi saat itu, menikmati suasana yang ada. Berita di TV pun menyiarkan betapa salju kali ini seperti memberikan suasana yang berbeda di tengah Corona dan hard lockdown di Belanda. Yang diwawancarai sangat antusias memanfaatkan suasana Belanda yang bersalju.

Tentu tidak semua orang merasa senang ya dengan datangnya salju karena beberapa hal juga terhambat. Tapi yang saya garis bawahi, ditengah kondisi sulit saat itu, melihat orang – orang dengan muka sumringah menikmati Belanda yang bersalju dan beku, hangatnya pun sampai ke hati. Yang sedang bersedih, lupa sejenak dengan kesedihannya. Yang sedang ditimpa masalah, bisa bersenang – senang selama seminggu bermain dengan salju. Yang sedang ada masalah, bisa mengalihkan perhatian sejenak dari masalah yang ada. Selama seminggu tersebut, semua perhatian dan hati tersedot pada salju.

Hari Senin, hujan mulai turun. Jadi kami mengucapkan selamat tinggal pada salju yang sudah memberi warna tersendiri selama satu minggu. Untung juga hujan turun cepat, jadi tidak sampai membuat salju menjadi es yang keras dan membahayakan. Hari Selasa, salju sudah mencair dan sebagian besar jalanan sudah bersih dari salju dan es yang keras.

Sungai kecil dekat rumah, yang membeku.

Seminggu yang penuh kenangan indah. Menikmati suka cita musim dingin yang bersalju dan beku di Belanda. Kami benar – benar sangat menikmatinya. Menciptakan kenangan yang tidak akan terlupa. Merasakan hangatnya hati di tengah dinginnya salju dan air sungai yang membeku. Alih – alih merasa bosan dan tidak senang dengan datangnya salju dan suhu yang dingin selama seminggu, saya lebih memilih untuk menikmati suasana yang ada, bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati salju tahun ini.

Tot volgende keer, sneeuw!

-11 Maret 2021-