Van Horster Land 2016 – Festival Kuliner dan Kultur di Horst

Horst adalah sebuah desa yang terletak di dekat lembah Groote Molenbeek, merupakan bagian dari pemerintahan Horst aan de Maas, Provinsi Limburg, Belanda. Populasi Horst aan de Maas sebanyak 41.700 orang (2015), 0.246% dari total populasi di Belanda. Horst terkenal dengan budidaya jamur skala besar dan holtikultura. Penduduk Horst mempunyai beberapa dialek saat berbicara. Ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi di Horst seperti Het Aarbeinland, Museum de Kantfabriek, Kasteelse Bossen, dan beberapa tempat lainnya. Sayangnya kunjungan saya ke Horst minggu lalu bukan untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut, melainkan untuk memeriahkan Van Horster Land dan berkunjung ke rumah seorang teman.

Van Horster Land adalah festival kuliner dan kebudayaan Horst yang diadakan di pusat kota (centrum) Horst. Acara ini baru diadakan selama dua tahun berturut. Tahun ini Van Horster Land diadakan pada tanggal 24 dan 25 September 2016. Untuk ukuran kota kecil, festival ini tergolong cukup besar karena banyak sekali stan yang ada di sana. Tidak hanya stan, panggungnya pun ada 3 yang terletak di 3 tempat berbeda. Teman saya yang tinggal di Horst ini adalah salah satu yang ikut memeriahkan acara ini, dimana dikemudian hari dia mengajak saya dan seorang teman yang tinggal di Amsterdam untuk mengisi stan yang disediakan untuk dia. Stan yang disediakan untuk dia merupakan bagian stan dari tempat kursus integrasi yang dia ikuti, namanya Siham. Jadi stan yang kami gunakan adalah stan Indonesia.

Sebulan lalu saat saya dan teman dari Horst sedang jalan-jalan sehari ke Volendam, Edam, dan Marken (ceritanya menyusul), dia mengatakan tentang acara ini pada saya. Sebenarnya saya ingin datang karena saya memang suka sekali dengan acara-acara lokal semacam ini. Tapi tergantung tiket kereta juga, apakah ada tiket kereta murah yang dijual (dagkaart), karena kalau memakai tiket kereta biasa ke Horst mahal juga mengingat jarak tempuh dari Den Haag ke Horst 2.5 jam berkereta. Bersyukurnya akhir Agustus ada dagkaart yang dijual di salah satu supermarket di Belanda. Kesampaian juga akhirnya mengunjungi Horst.

Beberapa minggu lalu, saya pernah memamerkan foto ke dia saat saya berhasil untuk pertama kalinya membuat sate lilit Bali dan sate ayam. Saat itu saya bilang kalau nanti ke Horst, saya akan membawa sate lilit untuk dimakan bersama di rumahnya bersama 3 teman lainnya. Saya tidak menyangka kalau membuat sate lilit begitu mudah. Saya pikir selama ini agak ruwet, ternyata gampang sekali dan prosesnya cepat. Hari jumat sepulang kerja, saya bilang ke dia kalau sate lilit siap diproses dan meminta dia untuk mempersiapkan sambel matah sebagai teman makan sate lilit. Ternyata dia memberikan ide, bagaimana kalau saya membuat sate lilit dengan porsi yang lebih banyak supaya bisa dijual di stan dia. Wah, dadakan sekali karena saya tidak terlalu cukup bahan juga. Tetapi sayang juga ya kalau dilewatkan. Kesempatan emas untuk memperkenalkan sate lilit kepada orang Belanda karena di Belanda yang terkenal adalah sate ayam. Akhirnya saya membuat sate lilit dengan bahan yang ada saat itu. Saat saya memberitahu suami, dia ikut antusias juga sampai membuatkan deskripsi sate lilit itu apa. Dia sampai menawarakan untuk membuatkan saya kartu nama, siapa tahu ada yang mau pesan katanya. Walah, saya sampai tidak berpikir sepanjang itu karena untuk saat ini memasak itu bagian dari hobi meskipun beberapa kali juga saya memasak pesanan dari teman-teman dekat suami dan saya.

Setelah 2.5 jam perjalanan, sampai juga saya di Stasiun Horst-Sevenum (Suami tinggal di rumah. Setiap bulan kami memang selalu ada me time sehari melakukan kegiatan sendiri-sendiri). Saya dan seorang teman dijemput lalu kami langsung menuju ke tempat acara. Teman saya bersama teman lainnya sudah ada di stan. Teman yang tinggal di Amsterdam membawa barang jualannya yaitu batik-batik. Sedangkan teman saya yang di Horst menjual lumpia lalu saya menjual sate lilit. Saya antusias sekali selain karena bertemu dengan mereka, juga pertama kali ikut dalam acara lokal seperti ini. Sebenarnya suami sudah menawarkan beberapa kali untuk ikut serta di festival kuliner yanga ada di Den Haag, tapi saya masih males-malesan menyanggupi. Suami saya ini memang selalu berapi-api kalau mendukung saya untuk usaha makanan. Tapi saya masih belum sepenuh hati, meskipun cita-cita besar saya di masa depan ingin punya restoran yang dipadukan dengan toko buku atau perpustakaan. Mudah-mudahan terwujud. Saya dan teman-teman menggunakan batik, nyambung dengan apa yang dijual di stan tersebut.

Stan kami, menjual aneka macam batik, pernak pernik dari silver, lumpia dan sate lilit. Peta Indonesia yang merah itu akhirnya saya beli, unik untuk dipasang di rumah.
Stan kami, menjual aneka macam batik, pernak pernik dari perak, lumpia dan sate lilit. Peta Indonesia yang merah itu akhirnya saya beli (menggunakan uang hasil jualan sate :D), unik untuk dipasang di rumah.
Sate Lilit
Sate Lilit buatan saya. Yang di kotak belakang itu lumpia isi sayuran dan ayam buatan teman.
Nampang depan stan. Saya memakai batik dari Jambi kalau ga salah. Ingat-ingat lupa entah ini kado kawinan atau nitip teman trus jahit model sendiri
Nampang depan stan. Saya memakai batik dari Jambi kalau ga salah. Ingat-ingat lupa entah ini kado kawinan atau nitip teman trus jahit model sendiri.

Resep sate lilit ikan ini saya menyontek dari blog Melly. Dari beberapa yang mengunjungi stan kami dan membeli makanan dan barang-barang yang kami jual, mereka belum pernah mendengar yang namanya sate lilit. Akhirnya mereka membeli dan mencoba. Menurut mereka rasanya enak sekali (dengan mengatakan “heerlijk” yang artinya lezat). Lalu mereka bertanya bagaimana cara membuatnya dan bahan-bahan yang digunakan apa. Untung saja ada deskripsi yang dibuatkan oleh suami sehingga saya tidak terlalu banyak menjelaskan. Ada yang suka rasanya, ada yang tidak suka rasa kelapanya, ada yang merasa terlalu pedas, dan ada yang bilang rasanya tidak pedas sama sekali. Yang mengejutkan, ada yang ingin pesan lumpia dan sate lilit. Mereka minta kartu nama kami untuk pemesanan. Kami lalu bilang kalau kami tidak buka katering. Saya bilang bisa saja saya membuat sate lilit lalu dikirim ke Horst dari Den Haag, kalau mereka mau. Tapi mereka bilang terlalu jauh. Lalu teman saya ditodong untuk membuat lumpia. Teman saya tidak menyanggupi karena dia bekerja penuh waktu, jadi tidak ada waktu untuk menerima pesanan. Ketika saya cerita ke suami, dia bilang “wat jammer!” (=sayang sekali!).

Beberapa saat kemudian, saya mulai berkeliling melihat stan-stan lainnya. Meskipun tidak semua stan saya kunjungi, tapi senang sekali dengan kemeriahan acara ini. Beberapa kebudayaan dari negara-negara lain seperti Afrika, Irlandia, Indonesia, Ukraina, Maroko, dan masih banyak lainnya ikut memeriahkan festival ini. Dan yang pasti, banyak sekali stan yang menawarkan makanan untuk dicicipi. Nah bagian ini yang saya suka, incip makanan gratis 😀

Paprika dan jagung
Paprika dan jagung
Radish, enak dimakan untuk salad
Radish, enak dimakan untuk salad

Camilan paprika
Camilan paprika

Aneka olahan jahe
Aneka olahan jahe
Keju dan Kacang
Keju dan Kacang
Panggung musik
Panggung musik
Air mancur dan panggung lainnya
Air mancur dan panggung lainnya

Selain stan di luar ruangan, ada juga produk pertanian yang dijual di dalam gereja.

Sayur mayur yang ada dalam Gereja
Sayur mayur yang ada dalam Gereja
Sayur mayur yang ada dalam Gereja
Sayur mayur yang ada dalam Gereja

Gereja
Gereja

Saya dan teman-teman juga berkesempatan membuat Henna. Awalnya melihat ada seorang perempuan membuat Henna untuk anak kecil. Lalu saya bertanya harus bayar berapa dan tahan berapa lama Henna tersebut. Ternyata gratis dan cuma tahan kurang lebih satu minggu. Saya lalu tertarik lalu minta dibuatkan salah satu model yang tertera di salah satu bukunya. Sambil menunggu dilukis, saya bisa mendengarkan alunan gendang (entah apa nama alat semacam gendang) yang dimainkan dari stan Afrika dan beberapa orang ikut belajar memukul gendang tersebut. Begitu sampai rumah, suami kaget ada Henna di tangan saya. Saya suka karena gambarnya tidak ramai. Sampai hari ini, Henna yang ada di tangan sudah agak memudar.

Henna
Henna
Belajar memukul gendang
Belajar memukul gendang

Selain stan-stan yang memang berjualan untuk mendapatkan uang pribadi, ada juga stan-stan yang berjualan untuk mendapatkan uang yang nantinya akan disumbangkan pada yayasan dimana mereka berada. Salah satu stan yayasan tersebut ada di depan stan kami. Yayasan ini namanya Wahyu, didirikan untuk membantu anak-anak di Bali utara. Yayasan Wahyu ini didirikan pada tahun 2008 atas prakarsa Perancis Gardingen dan Willemien van Gardingen- van den Elzen. Keduanya adalah pengusaha yang sudah pensiun. Sejak tahun 2003, mereka aktif bersama-sama dengan pemberian bantuan kepada anak-anak di wilayah Bali Utara, Indonesia. Yayasan Wahyu ingin memberikan bantuan untuk pelatihan pemuda di Bali Utara. Anak-anak ini layak mempunyai masa depan yang lebih baik dengan kesempatan untuk bersekolah di tempat yang baik, dengan atap yang tidak bocor dan fasilitas sanitasi yang memadai dan higienis karena banyak sekolah tidak memiliki irigasi dan air minum (dari website Yayasan Wahyu). Rasanya saya malu hati melihat bangsa lain mengumpulkan dana untuk membantu bangsa Indonesia. Jadi bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia. Ada kejadian yang menggelitik, stan-stan disekitar yayasan Wahyu ini kalau memanggil Meneer yang menjaga stan dengan panggilan Wahyu, padahal nama Beliau bukan Wahyu.

Yayasan Wahyu
Yayasan Wahyu
Ibu ini asalnya Irlandia, menikah dengan orang Belanda kemudian mendirikan yayasan untuk membantu masyarakat Ghana
Ibu ini asalnya Irlandia, menikah dengan orang Belanda kemudian mendirikan yayasan untuk membantu masyarakat Ghana

Van Horster Land berlangsung dari jam 12 sampai jam 5 sore. Sekitar jam setengah lima kami mulai beres-beres. Kami sudah lapar dan ingin segera makan di rumah temen. Senang sekali bisa ikut berpartisipasi di acara ini. Selain saya dan teman-teman yang tinggal di Belanda baru 1.5 tahun bisa langsung praktek menggunakan bahasa Belanda, bisa berinteraksi dengan masyarakat lokal dan orang dari beberapa negara, bisa mengetahui kebudayaan bangsa lain, bisa memperkenalkan Indonesia lewat makanan dan barang-barang khas Indonesia serta bisa menjelaskan jika ada yang bertanya tentang Indonesia. Pengalaman sangat berharga.

Setelah acara selesai, kami langsung menuju rumah teman untuk makan, berbincang dan tertawa saling bertukar cerita tentang pengalaman kami saat awal-awal tinggal di Belanda. Ternyata banyak sekali kejadian lucu yang kami alami karena saat itu kami belum bisa bahasa Belanda sama sekali, jadi banyak sekali salah paham kalau sedang berbicara dengan orang Belanda. Kami tertawa tiada henti mengenang masa-masa itu. Bersyukurnya saat ini kami sudah bisa berbicara menggunakan bahasa Belanda, meskipun tetap masih harus belajar lebih giat lagi untuk meningkatkan kemampuan bahasa Belanda kami. Terima kasih untuk teman saya yang sudah memasak dengan sangat enak dan untuk teman-teman lainnya atas segala cerita serta kebersamaan hari itu. Tot volgende keer!

Makanan Nusantara. Kreco (siput), asem-asem ikan, sambel trasi, lalapan, bakso, ikan bumbu kuning. Super Lekker!
Makanan Nusantara. Kreco (siput) masak pedas, asem-asem ikan, sambel trasi, lalapan, bakso, ikan bumbu kuning, sate lilit, tempe mendoan, kue lapis. Super Lekker!

-Den Haag, 28 September 2016-

Bieslanddagen 2016

Bieslanddagen 2016

Saya suka sekali yang namanya belanja. Maksudnya adalah belanja bahan makanan di supermarket ataupun di pasar. Berbelanja di pasar tradisional selalu mempunyai kesenangan tersendiri, salah satu cara untuk refreshing, begitu saya menyebutnya. Beruntung sekali di Den Haag pasar tradisionalnya (Haagse Markt) super lengkap dan super murah dengan kualitas barangnya bagus. Saya mengatakan super lengkap karena banyak sayur mayur ataupun buah yang ada di Indonesia juga dijual di sini. Sebut saja sukun, belimbing wuluh, kedondong dan masih banyak lainnya, bahkan ontong (jantung pisang) segar pun ada. Selain itu, kalau di pasar saya selalu mengamati interaksi antara penjual-pembeli, penjual-penjual, maupun pembeli-pembeli. Karenanya, saya tidak bisa sebentar kalau ke pasar. Minimal 2 jam di sini, selain karena pasarnya sangat besar, saya juga sambil jalan-jalan melihat barang-barang yang lain (elektronik, baju-baju, kain, perlengkapan dapur dll). Saya ke pasar setiap tiga minggu sekali. Di Haagse Markt barangnya bisa ditawar, selayaknya pasar tradisional di Indonesia. Saya sering menawar harga cabe rawit.

Ontong atau jantun pisang di Haagse Markt
Ontong atau jantun pisang di Haagse Markt

Selain ke pasar tradisional atau supermarket, saya dan suami juga senang membeli sayuran, buah, dan telur langsung ke pertanian dan peternakan. Jadi kami di sini bisa langsung petik sayuran atau buah yang ingin di beli (terkadang didampingi yang punya, terkadang bisa langsung petik sendiri) lalu ditimbang dan bayar. Membeli telur ayam juga sama, kami langsung datang ke peternakannya, ambil sendiri telur yang ada dalam kandangnya, lalu ditimbang dan bayar. Area pertanian dan peternakan yang dekat dengan rumah adalah Biesland yang terletak diantara Den Haag, Delft, dan Pijnacker. Daerah ini selalu kami lalui setiap minggunya karena hutannya (Bieslandse Bos) menjadi tempat kami olahraga lari ataupun sekedar jalan-jalan di akhir pekan. Jangan bayangkan hutannya seram dan penuh pepohonan lebat seperti di Indonesia. Hutan di sini jauh dari kesan angker. Beberapa foto di bawah ini adalah lahan pertanian yang biasanya kami datangi untuk membeli sayuran.

Buncis
Buncis
Ini tanaman apa ya, Kale kayaknya. Yang disebelahnya adalah Pre
Ini tanaman apa ya, Kale kayaknya. Yang disebelahnya adalah Pre
Seledri (dalam bahasa Belanda : Selderij)
Seledri (dalam bahasa Belanda : Selderij)

Selain di Biesland, ada dua tempat lagi tempat kami membeli sayur mayur dan buah. Kalau di dua tempat tersebut bukanlah area pertanian, melainkan rumah kecil yang di dalamnya berisi hasil pertanian. Jadi hasil pertanian tersebut sudah diberi harga, kita bisa timbang sendiri lalu memasukkan uangnya ke dalam kotak yang sudah tersedia. Kenapa memasukkan uang ke dalam kotak? Karena tidak ada yang menjaga rumah kecil ini. Jadi sistemnya adalah kepercayaan dan kejujuran. Kita membayar sesuai dengan harga yang tertera di timbangan.

Untuk metode membeli sayuran langsung di lahan pertanian, mengingatkan saya akan sistem penjualan di kebun di Ambulu dan sawah milik Mbah Putri di Nganjuk. Jadi kalau di sawah, Mbah Putri selain menanam tanaman pokok, juga ada beberapa tanaman pendamping misalkan cabe, kacang panjang, lembayung, buncis dll. Bedanya, pembeli memetik sendiri apa yang ingin membeli, lalu Mbah Putri mengira-ngira harganya. Jadi tidak memakai timbangan. Kalau di Ambulu juga sama. Ada kebun milik keluarga (namanya tegalan) yang menanam pohon kelapa, cabe, salak, rambutan, mangga dan masih banyak lainnya, juga ada peternakan ayam. Bedanya kalau di Ambulu setelah pembeli mendapatkan barangnya, bude atau Ibu lalu menimbang barang tersebut. Jadi membayarnya sesuai beratnya, tidak menggunakan ilmu perkiraan.

BIESLANDDAGEN 2016

Bieslanddagen 2016
Bieslanddagen 2016

Tanggal 3 dan 4 September 2016 ada acara di area Biesland yang namanya adalah Bieslanddagen (dagen = hari dalam bentuk jamak). Bieslanddagen 2016 sudah memasuki tahun ke empat belas. Acara ini diadakan setiap tahun pada minggu pertama bulan September. Jadi dalam dua hari tersebut diadakan acara semacam pesta pertanian dan peternakan, acaranya gratis kecuali kalau kita membeli sesuatu tentunya membayar. Kami datang pada hari sabtu, cuaca lumayan cerah tapi tidak cerah sekali. Saya antusias sekali datang ke acara ini. Saya selalu suka dengan acara yang konsepnya kembali ke alam. Setelah memarkir sepeda, kami melihat banyak sekali anak-anak kecil. Suami sempat ragu, jangan-jangan acara ini diperuntukkan untuk anak-anak kecil. Saya bilang tentu saja tidak, acara ini untuk umum, siapapun boleh datang tidak mengenal umur. Beberapa kegiatan pada Bieslanddagen ini adalah kegiatan untuk anak, stan yang menjual produk lokal, acara musik, dan membeli secara langsung buah dan sayur di kebun. Lokasi acara ini ada di sembilan tempat berbeda tetapi letaknya berdekatan. Jadi bisa ditempuh jalan kaki antara satu tempat ke tempat lainnya.

Hoeve Biesland
Hoeve Biesland

KEGIATAN ANAK

Di awal saya sudah menyebutkan kalau dalam acara ini didominasi oleh keberadaan anak-anak kecil. Rupanya banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan olah anak-anak tersebut pada acara ini. Beberapa kegiatan seperti yang terlihat pada foto-foto dibawah ini, yaitu : memberi makan sapi, memancing, ada story telling juga, bisa naik kereta secara gratis (ada beberapa kereta yang disediakan), belajar memanah, bermain bersama domba dan sapi di lapangan, belajar melukis muka, bermain hulahop, kemping, dan membuat gerabah dari tanah liat. Asyik-asyik ya semua kegiatannya.

Memberi makan sapi
Memberi makan sapi
Memancing
Memancing
Mendongeng
Mendongeng
Naik kereta
Naik kereta

Sewaktu melewati tempat belajar memanah ini saya hanya bisa memandang dengan rasa ingin ikutan juga. Suami menggoda “kalau kamu mau, ayok aku temani. Nanti aku bilang kalau usiamu baru 14 tahun.” :p Dia tahu kalau salah satu keinginan saya bisa memanah, setelah menonton The Hunger Games *korban film.

Belajar memanah
Belajar memanah
Sapinya menggemaskan
Sapinya menggemaskan
Bermain bersama kuda
Bermain bersama kuda

STAN MENJUAL PRODUK LOKAL

Nah, bagian ini yang membuat antusias. Saya selalu senang kalau melintasi stan-stan yang menjual produk lokal, maksudnya adalah sayur mayur dan buah yang dijual langsung dipetik dari kebun atau lahan pertanian. Atau bahan makanan atau minuman yang dijual juga diolah dari hasil pertanian maupun perkebunan setempat. Jadi benar-benar terasa lokal dan segarnya. Ada satu stan yang menjual sambal. Variasi sambalnya lumayan banyak, tapi tidak ada sambal terasi apalagi sambal pete. Ditengah saya mencicipi beberapa jenis sambal, ada seseorang yang menyapa. Dia bertanya apakah saya dari Indonesia (bertanya menggunakan bahasa Belanda). Setelah saya jawab iya, langsung dia berganti berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Rupanya Bapak tersebutlah yang membuat sambal-sambal ini. Bapak tersebut berasal dari Kalimantan dan sudah lama tinggal di Belanda. Suami menggoda saya “mustinya kamu juga buka stan di sini, menjual sambal buatanmu yang fenomenal itu.” Dia ini menggoda saya seperti itu karena memang beberapa kali saya pernah menjual sambal buatan saya kepada beberapa teman. Mereka minta dibuatkan tapi maunya membeli, tidak mau diberi secara cuma-cuma. Ya akhirnya saya buatkan, lumayan buat nambah tabungan.

Jual segala jenis sambel
Jual segala jenis sambel
Gemes lihat warnanya
Gemes lihat warnanya. Stan ini menjual minuman, sambal, dan beberapa kue.
Perwadah isinya bercaman sayuran, harganya 1.5 euro
Perwadah isinya bercaman sayuran, harganya 1.5 euro
Bir
Bir
Tomat segar
Tomat segar
Keju produksi Biesland
Keju produksi Biesland
Sayuran segar
Sayuran segar

Roti dan ovennya
Roti dan ovennya
Meracik minuman
Meracik minuman

ACARA MUSIK

Di Bieslanddagen ini juga ada acara musik yang terletak di beberapa tempat. Ada yang akustik, ada kelompok musik, maupun ada yang berkeliling sambil memainkan alat musik akordian ditemani oleh Oma dan Opa yang berdansa dan ikut bernyanyi. Ini ada sedikit rekamannya :

Kelompok musik Pijnacker
Kelompok musik Pijnacker
Sambil makan, menikmati nyanyian dari kelompok musik
Sambil makan, menikmati nyanyian dari kelompok musik
Bernyanyi dan menari
Bernyanyi dan menari

BERKUNJUNG KE KEBUN BUAH

Kebun buah ini letaknya di belakang sebuah rumah yang dulunya juga berfungsi sebagai kincir angin. Tapi sejak lama kincir angin tidak difungsikan lagi tetapi rumahnya masih ditempati oleh seorang Opa. Kebun buahnya sebenarnya tidak terlalu besar, tetapi lumayan banyak jenis buah yang ada di dalamnya. Ada buah pir, apel, framboesa, strawberry, dan beberapa buah lainnya yang saya tidak tahu namanya.

Rumah yang dulunya juga berfungsi sebagai kincir angin. Saat ini kincir anginnya tidak berfungsi lagi, tinggal rumahnya saja dihuni oleh seorang Opa. Rumah ini dibangun tahun 1800an
Rumah yang dulunya juga berfungsi sebagai kincir angin. Saat ini kincir anginnya tidak berfungsi lagi, tinggal rumahnya saja dihuni oleh seorang Opa. Rumah ini dibangun tahun 1800an.
Ini buah apa tidak tahu namanya.
Ini buah apa tidak tahu namanya.
Framboesa
Framboesa

Sedang memangkas tanaman yang digunakan sebagai dekorasi rumah, untuk dijual langsung kepada seorang pembeli kepada seorang pembeli.
Sedang memangkas tanaman yang digunakan sebagai dekorasi rumah, untuk dijual langsung kepada seorang pembeli.
Kebun buah
Kebun buah

Tidak terasa kami mengunjungi satu persatu semua lokasi acara dan suami kalap belanja ini itu (terutama keju), tiga jam kami berada di acara ini. Tidak berasa capek sama sekali karena memang acara ini sangat menarik, banyak stan yang menyediakan tester juga sehingga kami bisa incip-incip gratis, melihat keseruan anak-anak kecil dengan kegiatannya, mendengarkan musik yang dimainkan, maupun sekedar duduk-duduk di dalam kebun buah atau yang tidak ketinggalan juga, menikmati es krim.

Duo es krim. Satu scoop nya 1 euro.
Duo es krim. Satu scoop nya 1 euro.

Selama bulan September ini di Den Haag berlangsung banyak food festival. Kami sampai kebingungan mau datang ke acara yang mana.

Kalian punya pengalaman juga membeli sayur mayur dan buah ataupun telur langsung di peternakan atau pertanian ataupun kebun?

CERITA TAMBAHAN

Cerita tambahan ini tidak ada hubungannnya dengan Biesanddagen. Hanya ingin pamer, kalau minggu lalu akhirnya saya bisa membuat klepon untuk pertama kalinya dan setelah sekian lama akhirnya bisa makan sayur bobor. Warna kleponnya tidak cerah karena tidak punya pewarna makanan, akhirnya warna hijaunya didapat dari daun pandan yang diblender. Saya cuma makan 4 biji, sisanya suami yang tidak berhenti mulutnya mengunyah. Ternyata membuat klepon tidak sesusah yang saya bayangkan (haha sok!). Sayur bobor juga saya baru pertama buat. Rasanya nyaris mirip dengan yang biasa Ibu masak, hanya tidak ada rasa tempe bosoknya (karena memang tidak punya) yang saya ganti aromanya dari ebi.

Klepon
Klepon
Sayur bobor yang dimakan bersama singkong kukus, jagung kukus, mendol panggang, sambel trasi mentah, dan kerupuk. Makan ini berasa lagi ada di Indonesia
Sayur bobor yang dimakan bersama singkong kukus, jagung kukus, mendol panggang, sambel trasi mentah, dan kerupuk. Makan ini berasa lagi ada di Indonesia

-Den Haag,  September 2016-

Semua foto milik pribadi

Mencicipi Ragam Kuliner di Italia – Bagian I

Daging sapi diiris tipis, dibagian bawahnya sayur mayur ada kejunya juga.

Tulisan kali ini bukan ingin mengulik atau membahas satu persatu tentang kuliner Italia berdasarkan dari sejarahnya ataupun rasa yang mendetail karena saya dan suami bukanlah foodie dan kami bukanlah food blogger. Kami hanyalah pasangan yang suka mencoba makanan baru dan suka makan (meskipun untuk saya tetap pilih-pilih). Jadi didalam tulisan ini hanya akan ada dua kata untuk mendeskripsikan rasa dari masing-masing kuliner Italia yang pernah kami cicipi saat berlibur ke Italia selama 18 hari. Dua kata tersebut adalah : enak dan enak sekali *komentar amatiran haha!. Bagaimana tidak, hanya dua kata tersebut yang bisa kami ucapkan setiap selesai makan karena selama di Italia tidak ada makanan yang rasanya tidak enak. Tetapi nama makananannya kami lupa-lupa ingat, karena tidak pernah kami catat.

Setiap bepergian, saya dan suami mengusahakan untuk mencicipi makanan lokal tempat yang akan kami kunjungi, dengan catatan untuk saya makanan tersebut masuk kategori yang masih bisa saya makan. Sewaktu saya ke Ho Chi Minh, karena keterbatasan informasi tempat makanan halal, saya dan teman-teman membawa bubuk cabai. Hal tersebut kami lakukan untuk berjaga-jaga supaya nafsu makan tetap terjaga kalau susah menemukan makanan yang sesuai selera. Nyatanya selama di sana, kami hampir selalu makan di restoran India dan restoran Malaysia. Lumayanlah rasanya masih masuk ukuran lidah meskipun tetap menaburkan bubuk cabai 😀

Sejak pindah ke Belanda, saya mulai belajar untuk merasakan jenis makanan dari negara lain. Dan makanan dari beberapa negara tersebut tentunya tidak semua ada rasa pedasnya. Dengan cara seperti itu, saya menjadi tidak terikat lagi dengan namanya rasa pedas. Kalau makan di luar rumah dan makanannya tidak pedas, sekarang sudah bukan masalah lagi bagi saya. Dan selama di Belanda, saya tidak pernah membawa saus cabe dalam bentuk sachet (karena memang saya tidak terlalu suka rasanya) maupun bubuk cabai. Selain untuk merasakan rasa asli sebuah makanan, juga untuk menghormati darimana makanan itu berasal. Misalnya : kalau makan sayur asem trus dikasih kecap, rasanya jadi tidak asli sayur asem, sudah tercampur. Jadi kita tidak bisa merasakan lagi sayur asem itu rasa aslinya seperti apa. Walaupun kembali lagi, rasa adalah selera.

Nah, selama beberapa kali bepergian ke luar negeri, akhirnya saya terapkan untuk tidak terlalu memikirkan tentang makanan harus pedas. Jadinya ya saya tidak membawa bubuk cabe, sambel bajak, ataupun saus sambel. Saya ingin benar-benar merasakan makanan lokalnya seperti apa. Selama liburan di Italia tidak sedikitpun saya rewel harus makan nasi atau sambel. Iya, selama 18 hari itu saya hanya dua kali makan nasi (risotto), dan rasanya ya biasa saja tidak makan nasi selama itu. Sudah lama saya mulai menggantikan nasi dengan sumber karbohidrat yang lain (ubi, kentang, singkong, quinoa dll).

Selama di Italia, kami menginap mayoritas di Airbnb dan hanya dua kali menginap di hotel. Kami selalu bertanya kepada pemilik airbnb rekomendasi tempat makanan lokal yang patut dicoba. Dan selama di sana kami cocok dengan rekomendasi mereka. Atau kami juga mencari dari aplikasi Yelp dan Tripadvisor. Tapi kami selalu tertawa karena melihat stiker Tripadvisor hampir selalu ada disetiap tempat makan. Sedangan kalau Yelp tidak terlalu banyak. Saya bilang ke suami, mending pilih yang berstiker Yelp saja karena rekomendasinya dari orang lokal.

RAVENNA

Ravenna adalah kota yang terkenal dengan mosaic. Jadi bagi mereka yang memang suka sekali dengan mosaic, Ravenna adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi karena kita bisa melihat keindahan mosaic hampir disetiap sudut Ravenna. Ada delapan tempat di Ravenna yang masuk dalam daftar Unesco World Heritage Site. Kami menginap hanya satu malam di sebuah hotel dekat dengan pusat kota. Kami bertanya kepada petugas hotel tempat mana yang dia rekomendasikan untuk makan malam. Ternyata pihak hotel mempunyai daftarnya dan memang mereka bekerjasama dengan restoran-restoran tersebut. Jadi jika kami makan di salah satu restoran tersebut maka kami akan mendapatkan diskon. Saya sudah kasak kusuk dengan suami, jangan-jangan harga makanannya sangat mahal dan rasanya biasa-biasa saja. Karena ketika kami sampai Ravenna sudah memasuki jam makan malam, maka kami bergegas mencari tempat-tempat yang ada di daftar. Setelah memilih dan melihat-lihat beberapa tempat serta daftar makanannya akhirnya kami sepakat untuk makan disebuah restoran yang tidak terlalu besar tetapi ramai pengunjung, dan sepertinya pengunjungnya juga banyak masyarakat lokal. Asumsinya : makanan enak. Ternyata kami tidak salah pilih, pelayanannya memuaskan dan rasa makananya tidak mengecewakan. Kami makan dua jenis makanan per orang. Dua diantaranya dapat dilihat pada foto di bawah :

Daging sapi diiris tipis, dibagian bawahnya sayur mayur ada kejunya juga.
Carpaccio. Daging sapi mentah diiris tipis, disajikan bersama rucola dan dibagian bawahnya sayur mayur ada kejunya juga. Kata suami rasanya asin campur creamy, jadinya enak banget karena dia suka dengan keju.

Ini standar sih, ikan bakar haha, tapi enaakk rasanya!
Ini standar sih, ikan bakar haha, tapi enaakk rasanya! Katanya ikan khas Ravenna.

Nah kalau Spaghetti ini, saya beli sewaktu makan siang. Ada satu tempat makan nyempil, keterangannya mereka menyajikan pasta yang homemade. Kami jadi penasaran lalu mampir. Wah, rasanya luar biasa enak. Saya lupa waktu itu suami makan apa. Tapi satu yang saya ingat, sebelum makan spaghetti ini, saya mampir ke sebuah toko roti, niatnya ingin membeli roti. Lalu saya tunjuklah satu roti tanpa isi, saya kira roti biasa. Salah satu penjualnya, orang Itali, bilang bahwa saya tidak bisa makan roti tersebut karena salah satu bahan yang dipakai untuk membuatnya ada kandungan babinya. Jadi terharu karena dia sampai memberitahu hal tersebut.

Spaghetti jamur. Ini kalau di Indonesia tempat jualannya kayak semacam warung, rasanya beda dengan rasa makanan di restoran besar. Bumbunya kerasa dan jamurnya yummy
Spaghetti jamur. Ini kalau di Indonesia tempat jualannya kayak semacam warung, rasanya beda dengan rasa makanan di restoran besar. Bumbunya terasa kuatdan jamurnya yummy

Dimanapun dan kapanpun kami tetap makan gelato dan granita karena cuaca di Italia yang panas sekali (sampai 39 derajat celcius). Granita ini (dari yang saya rasakan) semacam es diserut dicampur air dan buah terus didinginkan agak beku. Seperti yang terlihat pada foto di bawah, ini granita rasa semangka yang saya makan. Cuma yang ini rasanya terlalu manis untuk saya, jadi saya tidak habis dan dihibahkan ke suami.

Jam 11 malam makan Gelato dan Granita rasa Semangka
Jam 11 malam makan Gelato dan Granita rasa Semangka

Selama di Italia, kami mengamati di setiap menu pasti ada makanan pembuka, makanan utama dan makanan penutup. Awalnya kami kaget karena porsi makanannya besar, jadi apakah kami wajib untuk membeli semua makanan tersebut. Tapi ternyata tidak. Karena memang kebiasaan makan orang Itali yang ada makanan pembuka, utama, dan penutup dimana porsinya besar. Kami makan satu jenis makanan saja sudah sangat kenyang.

FIESOLE

Saat mengunjungi Florence, kami menginap di Fiesole. Jarak antara Fiesole dan Florence hanya 10 menit naik kereta. Kami menginap di rumah yang letaknya ditengah kebun pohon zaitun. Jadi tempatnya benar-benar sepi. Tidak seberapa jauh dari Airbnb, ada sebuah restoran lokal yang selalu ramai pengunjung. Selama dua malam kami selalu makan di tempat tersebut karena memang rasa makanannya otentik. Sayangnya di restoran ini tidak ada menu ikan. Jadi selama makan di sana saya selalu memesan menu yang ada jamurnya.

Spaghetti
Spaghetti

Ini lupa antara Fettuccine atau Tagliatelle. Yang pasti sausnya jamur dan rasanya gurih pedes, aroma herbs nya kuat (lupa herbs apa namanya). Yang di sebelahnya itu jamur goreng
Ini lupa antara Fettuccine atau Tagliatelle. Yang pasti sausnya jamur dan rasanya gurih pedes, aroma herbs nya kuat (lupa herbs apa namanya). Yang di sebelahnya itu jamur goreng

Gelato di Florence
Gelato di Florence

Setelah beberapa hari di Italia, kami juga mengamati kebiasaan makan malam orang Itali. Mereka kalau makan ternyata malam sekali. Jam sembilan malam rata-rata mereka baru keluar rumah untuk makan di restoran. Jadi restoran di Italia banyak yang buka sampai jam 1 atau 2 malam. Saya jadi teringat cerita Anggi, kalau dia makan di rumah mertuanya, mereka memulai makan malam juga sekitar jam 9. Sedangkan orang Belanda kalau makan malam jam 6, jam 9 malam sudah siap-siap tidur.

SAN GIMIGNANO

Kami memutuskan untuk menginap di San Gimignano saat akan mengunjungi kota Siena karena setelahnya akan melanjutkan ke San Marino. Jadi San Gimignano ini letaknya antara Pisa dan Siena dan masuk provinsi Siena. San Gimignano ini adalah sebuah kota kecil yang unik arsitekturnya letaknya diatas bukit. Kota tuanya masuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Sewaktu di San Gimignano, kami menginap di rumah yang letaknya di tengah perkebunan anggur dan pohon zaitun. Dan rumah ini mempunyai usaha membuat wine. Jadi semacam home industry wine dan minyak zaitun. Hari pertama kami datang, pemilik rumah mengajak kami mengunjungi pabriknya yang terletak dibelakang rumah. Kami melakukan wine tour dan suami diberikan masing-masing satu gelas red wine dan white wine produksi mereka untuk dicicipi. Tercapai juga keinginanya untuk wine tasting langsung di pabriknya. Uniknya wine tersebut diambil langsung dengan membuka keran dimana wine disimpan selama berbulan-bulan. Selama di Italia, suami hampir setiap makan malam minum wine. Buat dia, mencicipi wine di negara tempat diproduksi adalah sebuah keharusan.

The best ice cream in the world di San Gimignano. Ga tau deh siapa yang menobatkan :D
The best ice cream in the world di San Gimignano. Ga tau deh siapa yang menobatkan :D

The best ice cream in the world
The best ice cream in the world

Taddaaa!! The best ice cream in the wordl di San Gimignano. Saya makan rasa mint, suami rasa mangga. Segeeerrr
Taddaaa!! The best ice cream in the wordl di San Gimignano. Saya makan rasa mint, suami rasa mangga. Segeeerrr

Kami makan di restoran rekomendasi dari pemilik Airbnb. Tidak mengecewakan dan tempatnya ada teras belakang yang letaknya ditengah kebun bunga. Romantis sekali dan kami bisa melihat matahari terbenam. Saya memilih untuk makan salad karena satu hari belum makan sayur sama sekali. Istimewanya salad ini berisi Anchovy. Saya suka sekali dengan rasa Anchovy (ini kalau dalam bahasa Indonesianya ikan teri asin mungkin  ya? soalnya rasanya asin dan bentuknya kecil tetapi direndam dalam minyak).

Spaghetti entah pakai krim apa
Spaghetti entah pakai krim apa

Wine
Wine

Pizza isinya Anchovy. Favorit saya pokoknya yang ada Anchovy nya
Pizza isinya Anchovy. Favorit saya pokoknya yang ada Anchovy nya

Salad tuna. Menu biasa sih ini ya, cuma saya suka karena pakai Anchovy.
Salad tuna. Menu biasa sih ini ya, cuma saya suka karena pakai Anchovy.

Kami juga mengamati orang Itali kalau sarapan suka makan yang manis manis. Beberapa kali menginap di Airbnb mereka selalu menyediakan kue saat sarapan. Kami yang tidak pernah makan kue saat sarapan mencoba untuk mengikuti cara orang Itali sarapan. Sampai hari terakhir kami di Italia, rasanya tetap tidak terbiasa. Mungkin karena kami berdua bukan orang yang suka makan makanan manis.

LAKE GARDA

Saat di Lake Garda, kami menginap di Sirmione. Pagi hari dari Verona, kami langsung menuju Sirmione yang ditempuh tidak sampai satu jam. Setelah sampai hotel, kami langsung membeli tiket kapal untuk mengunjungi beberapa tempat yang ada di Lake Garda. Saat itu kami mengunjungi Bardolino, Geradone, Garda dan Lazise. Pilihan dengan menggunakan kapal kami rasa sangat tepat karena bisa menikmati keindahan Lake Garda dari segala sudut. Selain itu kami memang suka sekali naik kapal. Kami makan siang di Geradone, kota yang sepi turis. Kami memilih sebuah restoran di pinggir danau persis. Saya memilih makan Pizza karena isinya Anchovy sedangkan suami makan Penne pesto. Makan sambil melihat danau, ditemani semilir angin dan awan yang biru, membuat nafsu makan meningkat 😀

Penne pesto di
Penne pesto di Geradone

Pizza Anchovy pakai bijian warna hijau rasanya asin. Ini enak banget. Satu loyang besar saya habiskan sendirian *maruk :D
Pizza Anchovy pakai bijian warna hijau rasanya asin. Ini enak banget. Satu loyang besar saya habiskan sendirian *maruk :D

Granita Mint dan Gelato kelapa
Granita Mint dan Gelato kelapa. Granitanya suegeerrr meredakan sengatan matahari 38 derajat celcius. Saya habis dua gelas

Malamnya kami makan di Sirmione. Karena Sirmione tempatnya sangat penuh turis, jadi kami harus seksama memilih tempat makan yang enak namun tidak banyak turis. Kalau banyak turis takutnya rasa makanan di tempat tersebut tidak asli lagi. Akhirnya kami hanya mengandalkan insting. Saat itu kami beruntung karena makanan yang kami pesan disebuah restoran yang letaknya jauh dari keramaian, dan disebelah kastil, rasanya sangat enak. Sampai saat menulis ini, saya masih ingat rasa saus berpadu dengan kerangnya. Makan malam sempurna sebagai penutup perjalanan 18 hari kami di Italia.

Makan malam di Sirmione. Ini isinya jenis-jenis kerang disiram saus tomat. Rasanya asin. Sausnya dicolek pakai roti. Enaak banget ini
Makan malam di Sirmione. Ini isinya jenis-jenis kerang disiram saus tomat. Rasanya asin. Sausnya dicolek pakai roti. Enaak banget ini.

Selesai menuliskan semua cerita tentang makanan tersebut, perut saya jadi kukuruyuk lapar. Kalau misalkan ada istilah atau nama makanan yang salah saya tuliskan, saya menerima masukan ataupun kritikan karena terus terang saya lupa-lupa ingat nama makanannya. Hanya mengandalkan ingatan saja. Nantikan kelanjutan cerita kuliner kami selama di Italia bagian selanjutnya, akan ada keseruan-keseruan lainnya.

Selamat hari Jumat dan selamat berakhir pekan. Pernah mencicipi makanan Italia? Apa makanan Italia favorit kamu?

-Den Haag, 1 September 2016-

Semua foto adalah dokmentasi pribadi

 

Cerita Akhir Pekan – Lari ke Hutan Jalan di Pantai

img_1207

Gimana, judulnya sudah sangat mengAADC belum 😅 -atau kuharus lari ke hutan kemudian belok ke pantai?- 😜

Akhir pekan memang kami lalui di hutan dan di pantai, selain kerjabakti berdua seperti biasa bersih-bersih rumah dan saya masak untuk persediaan beberapa hari kedepan. Akhir pekan suami dimulai hari Jumat karena dia sudah libur sedangkan saya mulai Jumat sore saat pulang kerja. Karena Jumat minggu lalu panasnya luar biasa, tidak ada angin jadi makin menambah hawa panasnya, maka sepulang saya kerja kami makan es krim. Sebenarnya makan es krim karena ingin merayakan sesuatu juga sih, jadi sekalian bersepeda ke toko es krim dekat rumah yang murah meriah dan enak, makanya rame setiap saat.

Pacaran makan es krim.
Pacaran makan es krim.

Sabtu hampir seharian dengan Mama mertua karena pagi sampai siang kami membantu Beliau belanja dan ngobrol di rumahnya. Trus siangnya Beliau mentraktir kami makan di restoran Indonesia andalan saya dan suami yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Kenapa andalan? Karena memang rasanya lebih cocok untuk lidah kami dibanding restoran-restoran Indonesia lainnya yang ada di Den Haag. Andalan saya di restoran ini adalah Tekwan, selain Pempek karena memang restoran ini terkenal dengan Pempeknya (bukan postingan berbayar, hanya testimoni dari pelanggan yang puas). Biasanya restoran ini tidak terlalu ramai kalau siang, meskipun pada saat akhir pekan. Untungnya saya sudah pesan tempat dua hari sebelumnya. Ternyata begitu kami datang, rame sekali. Beberapa orang yang datang setelah kami, tidak bisa makan karena tempat sudah penuh dan mereka memang tidak pesan tempat dulu sebelumnya (saya dengar ada yang datang dari Jerman). Hawa yang panas dan restorannya tidak mempunyai AC, akhirnya pintu dibuka agar sirkulasi udaranya lancar. Mama makan gado-gado  minumnya kopi, saya makan tekwan minum teh botol, suami makan sate kambing rames (dia selalu pesan ini kalau makan di sini) plus es campur tape. Duh senangnya ditraktir Mama, bisa bungkus juga haha mantu kemaruk. Setelahnya sampai rumah kami leyeh-leyeh, mau lanjut ke pantai tidak kuat dengan panasnya (sok banget ya ga kuat panas, padahal panasnya belum ada apa-apanya dibandingkan Situbondo dan Surabaya😅). Malamnya kami nonton film Princess Diana di TV Belgia (lupa nama salurannya). Baru tahu tentang kehidupan percintaan Lady Di setelah bercerai. Meskipun katanya film ini dibuat berdasarkan gosip saja, bukan fakta. Nonton film sambil makan rujak petis.

Rujak petis isi kangkung, kacang panjang, timun, tahu dan tempe
Rujak petis isi kangkung, kacang panjang, timun, tahu dan tempe

Minggu cuacanya tidak terlalu bagus, tidak terlalu buruk juga. Mendung seharian, tapi kadang-kadang muncul matahari. Kami bangun pagi. Suami sepedahan 50km, saya masak sambil nunggu dia pulang sepedahan. Saya masak bumbu urap, botok tempe teri, sambel tumpang, dadar jagung panggang, ubi kukus. Jadi menunya semua serba kukus, rebus, panggang, tanpa minyak. Menu tersebut selain untuk makan siang juga untuk menu makan siang kami berdua selama beberapa hari kedepan. Untuk bumbu urapnya sekalian masak banyak untuk stok di freezer. Botok dan sambel tumpangnya memakai tempe setengah busuk, karena saya memang punya persediaan.

Setelah 1.5 jam masak dan selesai semua, suami datang dari sepedahan. Lalu kami pergi ke hutan dekat rumah untuk lari. Saya selalu senang kalau lari di hutan, tidak terlalu terasa capek. 

Hutan dekat rumah
Hutan dekat rumah
Yang kiri cukup 6km saja, yang kanan 10km plus sepedahan 50km
Yang kiri cukup 6km saja, yang kanan 10km plus sepedahan 50km
 


Pulang lari, langsung santap semangka. Duuhh segernyaaa! Setelahnya kami makan siang. Selepas makan, suami bersih-bersih kamar mandi, nyapu dan cuci peralatan masak. Saya ngurusin kembang-kembang.

Segeerr!
Segeerr!
Makan siang kami : Botok (isi teri, tempe, daun kemangi, belimbing wuluh. Males bungkus pakai daun, akhirnya dikukus saja), sambel tumpang, urap sayur, Quinoa, dadar jagung panggang, ubi manis ungu dan oranye
Makan siang kami : Botok (isi teri, tempe, daun kemangi, belimbing wuluh. Males bungkus pakai daun, akhirnya dikukus saja), sambel tumpang, urap sayur, Quinoa, dadar jagung panggang, ubi manis ungu dan oranye
 

Setelah kerja bakti dan istirahat sebentar, kami lalu ke pantai yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah (antara Scheveningen dan Kijkduin). Ya karena cuacanya memang mendung mendung sendu plus angin kencang, jadinya ya tidak terlalu berharap banyak matahari akan bersinar. Tapi lumayan bisa menghirup aroma laut. Sewaktu kesana, banyak banget yang sedang olahraga apa ya namanya ga tahu saya. Semacam surfing tapi ditarik parasut gitu. Karena angin kencang dan ada ombak juga jadi pantai rame dengan mereka yang sedang olahraga ini, selain beberapa orang yang lari sore.

Mantai kami di hari Minggu
Mantai kami di hari Minggu
Olahraga seperti ini
Olahraga seperti ini




Jadi, akhir pekan kami seperti puisi dalam film AADC ya -ku lari ke hutan lalu belok ke pantai- 😅 semoga akhir pekan kalian juga berwarna bersama orang-orang tercinta.

Seminggu kedepan Den Haag kembali nyentrong panasnya☀️ Semoga minggu ini keceriaan dan keriaan selalu bersama kita semua.
-Den Haag, 29 Agustus 2016-

Semua foto dokumentasi pribadi.

Mimpi Jadi Nyata! Konser Coldplay Tahun 2016 di Amsterdam ArenA

Coldplay Live at Amsterdam ArenA

Hari ini, dua bulan lalu, tepatnya 24 Juni 2016 salah satu keinginan terbesar saya dalam dunia menonton konser akhirnya tercapai sudah. Sesuai judul tulisan ini yang memang jelas sekali, saya akhirnya bisa nonton konser Coldplay! Sejak bertahun-tahun lalu saya selalu bermimpi kapan bisa melihat konser Coldplay di Indonesia. Dulu pernah ada selentingan kabar (baca dari twitter juga) kalau mereka akan tampil di Bali. Tunggu punya tunggu ternyata hanya isapan jempol semata. Padahal waktu itu, saya yang posisinya masih kerja di Jakarta, langsung bilang ke atasan kalau memang sampai kejadian Coldplay konser di Bali, saya akan cuti tidak peduli seberapa banyak kerjaan di kantor. Bos saya cuma iya iya aja, kemudian pasrah saja selama seminggu mendengarkan lagu Coldplay yang terdengar dari laptop saya *masih ingat muka Beliau kalau lewat kubikel, muka asem :))))

Awalnya, saya bukan fans fanatik Coldplay. Sewaktu mereka mengeluarkan album pertama tahun 2000 yang berjudul Parachutes, saya malah tidak tahu, terlalu sibuk dengan praktikum kampus *pencitraan :p. Beberapa saat kemudian saya mulai terkena racun teman dekat yang setiap saat, setiap waktu selalu bernyanyi, ngomong tentang Coldplay (dan Chris Martin tentu saja). Gara-gara teman saya ini juga, awalnya yang saya tidak suka dengan Naif, akhirnya jadi suka sekali *kena tulah. Sekarang saya akhirnya berterimakasih pada dia karena sudah memperkenalkan musik Coldplay pada saya (dan saya tidak berhasil membuatnya suka pada Bon Jovi haha!). Pada saat ada rumor Coldplay akan konser di Bali, saya dan dia sudah mulai heboh sendiri, membayangkan bagaimana rasanya ketemu dengan Chris Martin (hahaha ketemu! padahal maksudnya nonton dia nyanyi), merencanakan akan pakai baju apa. Intinya berkhayal macam-macam tentang konser Coldplay yang ternyata memang hayalan semata karena tidak ada yang namanya akan konser di Indonesia (menurut berita seperti itu).

Sewaktu awal ketemu suami, begitu tahu bahwa mas Ewald ini adalah orang yang punya hobi dan serius di dunia musik, saya langsung tanya dong ya penyanyi atau band favoritnya apa. Begitu dia menyebutkan, pada saat itu juga saya tahu kalau kami tidak satu keyakinan untuk urusan musik. Bahkan waktu itu dia menyebutkan tidak suka Bon Jovi dan Coldplay. Padahal sewaktu menyebutkan itu, dia belum tanya saya sukanya mendengarkan musik siapa. Langsung menelan ludah pahitlah saya begitu tahu dia tidak suka dengan band favorit saya (kemudian ragu, apakah harus melanjutkan hubungan kami *lebayyy perkara Coldplay dan Bon Jovi aja :))). Intinya kami beda selera musik, tapi kami saling menghormati : kalau yang satunya lagi putar Coldplay, yang satunya ikutan putar David Bowie, saling menghormati tidak mau kalah maksudnya haha.

Sewaktu baca tulisan Jo tentang konser Bon Jovi, duh saya iriiiii sekali dengan Jo sekaligus senang sudah diberikan reportase tulisan dan rekaman di Instagram. Melihat konser Bon Jovi juga salah satu mimpi besar saya. Trus saya merepet tiap hari ke suami “andaikan ada di Indonesia yaa, jadi bisa nonton Bon Jovi” lalu setiap hari saya pasang lagu-lagu Bon Jovi. Suami sepertinya menahan sabar saja waktu itu dan menebalkan telinga :))) Saya komen di tulisan Jo semoga suatu saat bisa melihat konser Bon Jovi dan semoga bisa melihat konser Coldplay. Suami diam-diam mencari informasi tentang konser Bon Jovi, yang ternyata tahun ini tidak ada yang diadakan dekat Belanda. Pada saat mencari informasi konser Bon Jovi itulah suami akhirnya mendapatkan informasi kalau Coldplay akan mengadakan konser di Amsterdam. Wah, saya giraaangg bukan kepalang sewaktu suami memberitahukan hal tersebut. Setiap hari rasanya ingin tersenyum membayangkan saya bisa menonton konsernya. Tapi suami bilang kalau konser yang banyak penggemarnya semacam Coldplay pasti tiketnya akan ludes dalam hitungan menit. Disitu saya langsung merasa lemas *langsung teringat konser Maroon 5 di Jakarta

Pembelian Tiket

Sekitar satu minggu sebelum hari H pembelian tiket, saya sudah woro-woro ke beberapa teman dan kenalan, bukan hanya yang ada di Belanda tapi juga seputaran Eropa. Tujuannya tidak lain untuk mencari teman menonton konser. Kan rasanya garing kriikk kriik ya kalau menonton konser sendirian. Mengandalkan suami jelas tidak mungkin karena saya sudah mengupayakan berbagai cara mengajak dia, tetap tidak mau. Bahkan saya bilang kalau tiketnya saya yang bayar, tetep tidak mau. Beberapa yang saya hubungi tidak ada yang tertarik, ada sih yang tertarik tapi kendala jarak jadi tidak memungkinkan. Saya sampai mengajak kolega di kantor, anak-anak mudanya, tidak tertarik juga. Akhirnya pasrah, pertama kalinya dalam hidup, nonton konser sendirian.

Hari jumat tanggal 27 November 2015, hari pertarungan pembelian tiket pun tiba. Sejak jam 8 pagi saya sudah deg-degan setengah mati. Suami yang saat itu kerja dari rumah, saya minta tolong untuk membantu, dia tidak bisa karena jam 9 pagi akan pergi ke Gym. Saya pasang senjata, manyun, tapi tidak mempan. Dia itu kalau berhubungan dengan olahraga tidak bisa ditawar. Waktu pembelian tiket dimulai jam 10 pagi. Saya sudah mempersiapkan senjata : satu laptop, Hp, dan tablet. Saya memantau twitter promotornya dan membuka websitenya. Suami menawarkan komputer yang ada diruang kerjanya. Wah, saya tidak terlalu paham cara menggunakannya, terlalu canggih untuk saya. Dia bilang lebih baik pakai komputernya karena proses kerjanya cepat, tidak lelet seperti laptop saya *ya iyaa, laptop jaman-jaman kuliah tahun 2012 😀 tapi sayang banget sama laptop ini, sangat berjasa. Akhirnya saya mengiyakan untuk memakai komputernya setelah diajari singkat cara pakainya, sebelum dia berangkat ke Gym. Mana dia tidak bawa Hp, sengaja supaya saya tidak mengganggu aktivitasnya. Dia cuma bilang “good luck”

Jam 10 pas, entah kenapa saya deg-degan sekali. Tangan sampai gemetar. Saya buka websitenya menuju arah pembelian tiket Coldplay tapi lamaaa sekali tidak bisa masuk. Tanda lingkarannya tidak bisa sampai 100% dan ada perintah untuk menunggu, tidak boleh di refresh. Saya memantau twitter, ada keterangan kalau pembelian tiket sedang berlangsung. 5 menit sudah berlalu, saya mulai membuka website lewat Hp, laptop saya, dan tablet. Semuanya masih dalam posisi proses. Wah, saya mulai ada perasaan tidak enak, pasti tiketnya sudah ludes. Tapi saya tetap optimis, pasti dapat tiketnya. Setengah jam berlalu, tidak sabar, akhirnya saya refresh juga dan mulai dari awal lagi. Tapi saya membaca di twitter kalau tiket sudah habis. Wah, badan saya langsung lemes. Pupus sudah harapan bisa menonton konser Coldplay. Saya terduduk lama didepan komputer, bengong menatap nanar layar, rasanya seperti baru putus cinta. Tapi entah kenapa saya tidak beranjak dari sana, seperti menunggu datangnya keajaiban. Dan 5 menit menjelang jam 11, tiba-tiba ada keterangan nongol kalau tiket untuk tanggal 23 Juni 2016 sudah habis dan karena masih banyaknya peminat, maka akan dibuka pembelian tiket untuk konser tambahan tanggal 24 Juni 2016.

Saya yang awalnya seperti tidak punya tenaga, tiba-tiba jadi segar lagi dan langsung sigap untuk memulai langkah-langkah pembelian dari awal. Kali ini prosesnya lebih cepat. Sejak dari awal mendengar Coldplay akan konser di Amsterdam, saya sudah meniatkan akan membeli tiket untuk kelas yang duduk, maksudnya bukan yang festival berdiri. Selain karena memang sudah tidak sanggup lagi kalau berdiri terlalu lama (mending lari 10km dibanding berdiri lebih dari 2 jam), saya juga sadar diri kalau tubuh mungil ini tidak akan sanggup bersaing dengan orang Belanda yang aduhai menjulang tingginya. Saya sudah pengalaman menonton konser-konser sebelumnya, yang ada leher saya sakit karena harus mencari celah diantara tinggi mereka. Karena itulah, saya sudah tidak mempedulikan lagi tidak bisa melihat Chris Martin dari jarak dekat, yang penting leher tidak sakit. Toh masih seruangan sama dia kan, anggap aja LDR- distance nya cuma beberapa puluh meter haha! *mulai halusinasi

Coldplay Live at Amsterdam ArenA
Coldplay Live at Amsterdam ArenA

Tiket sudah ditangan, 8 bulan menuju 24 Juni 2016 *tiket 8 bulan sebelumnya sudah ludes dalam hitungan menit saja. Jadi di Amsterdam, Coldplay konser selama 2 hari. Saya kebagian yang hari ke dua. Rasanya sangat bersyukur sekali masih diberikan kesempatan untuk menonton Coldplay. Konon katanya A Head Full of Dreams adalah album mereka yang terakhir seperti yang dikatakan Chris Martin di Website Billboard It’s Planned as Coldplay’s Last Album. It’s our seventh thing, and the way we look at it, it’s like the last Harry Potter book or something like that,” Martin said. “Not to say that there might not be another thing one day, but this is the completion of something.” He added, “I have to think of it as the final thing we’re doing. Otherwise we wouldn’t put everything into it.”

Sebelum Hari H

Beberapa hari sebelum hari H, saya melihat lagi syarat dan ketentuan yang tertera pada tiketnya. Saya terkejut ketika membaca ada ketentuan tidak boleh membawa kamera professional. Saya bingung apakah mirrorless termasuk kamera professional atau bukan. Tapi saya pernah bertanya kepada Manda sewaktu dia menonton Coldplay di Manchester, dia membawa kamera mirrorless juga, dan diperbolehkan. Tapi saya masih ragu setelah membaca ketentuannya. Apalagi di twitter disebutkan kalau saat pemeriksaan tas ada yang membawa kamera professional, maka kamera tersebut tidak boleh dibawa masuk, harus dititipkan entah pada siapa karena di sana tidak disediakan tempat penitipan. Kalaupun ada, tempat penitipannya bukan di loker, hanya diberi nomer. Lha kan rawan hilang. Saya bertanya ke pihak panitia lewat twitter, jawaban mereka tidak memuaskan. Akhirnya saya memutuskan untuk membawa kamera saja. Suami saya bilang “Kamu ini mau nonton konser kok ribet kamera. Mau nonton konser apa mau meliput konser?” haha suami sewot lihat istrinya ribet sendiri.

Hari H

Jumat saya masuk kerja pagi sekali supaya bisa pulang lebih cepat. Sewaktu makan siang saya pamer ke beberapa kolega kalau malamnya akan nonton Coldplay. Mereka seperti tidak percaya saya nonton konser sendirian. Ya, walaupun berasa tidak seru kalau nonton konser sendirian, tapi daripada tidak sama sekali kan ya. Sendirianpun bukan halangan. Jam 3 sore saya sudah sampai rumah. Karena pada saat itu bulan puasa dan saya sedang tidak puasa, akhirnya saya makan dulu sebelum berangkat. Jam 4 saya sudah siap berangkat. Perjalanan naik kereta kurang lebih 1 jam. Saya belum pernah ke Amsterdam ArenA sebelumnya. Jadi untuk meminimalisir kemungkinan saya nyasar, maka lebih baik berangkat lebih awal. Suami sampai heran, Coldplay mainnya jam 20:45 saya jam 4 sore sudah berangkat. Maklumlah, namanya mau ketemu mantan calon pacar, mas Chris *huahaha delusional tiada akhir!

Sewaktu di kereta, gerbong penuh dengan orang-orang yang akan menonton konser. Bagaimana saya tahu? Karena mereka memakai kaos Coldplay. Bahkan saya mendengar di gerbong sebelah (saya duduk diantara dua gerbong), mahasiswa-mahasiswa Indonesia ngobrolnya kenceeengg banget kayak di pasar. Cekakak cekikik gitu *biasa aja woy ngobrolnya ga usah ngegas -saya sirik karena ga ada teman ngobrol

Sampai di Amsterdam ArenA tanpa ada drama nyasar. Ternyata tempatnya gampang dicari. Saya belum tenang kalau belum melewati pemeriksaan tas karena Saya membawa lensa tele. Eh, ternyata waktu diperiksa, bapaknya senyum-senyum saja dan kamera saya lolos tanpa kendala. Saya celingak celinguk mencari muka-muka Indonesia, siapa tahu duduknya berdekatan. Tidak nampak sedikitpun. Naik ke lantai 1, saya lama menatap layar TV yang ada tulisannya Coldplay. Lalu satu orang panitia, mbak bule bertanya apakah ada yang bisa dibantu. Sayapun punya ide cemerlang, minta tolong untuk difoto disana. Hahaha norak tak mengapa, asal punya kenangan kalau saya pernah menonton Coldplay.

Senyum sumringah lolos pemeriksaan kamera, difotoin sama mbak panitia
Senyum sumringah lolos pemeriksaan kamera, difotoin sama mbak panitia

Saya langsung masuk ruangan sesuai nomer kursi. Ternyata masih sepi meskipun di kelas festival sudah banyak yang datang. Ternyata tempat duduk saya paling depan, sendirian, dekat pintu masuk, dan ada balkon lebar untuk berdiri. Wah, cocok ini kalau saya ingin ambil foto. Saya perhatikan orang-orang kok memakai gelang, lha kok saya tidak melihat ada yang bagi-bagi gelang (ini seperti arloji bentuknya, disebut apa ya, saya menyebut gelang supaya lebih gampang :D). Saya keluar lagi lalu celingak celinguk. Ternyata sewaktu di lantai 2 saya melewati begitu saja orang yang bagi-bagi gelang, tidak memperhatikan. Terlalu khusyuk memikirkan Chris Martin :))))

Taddaa!! Gelang Coldplay. Pilih warna ungu karenaa... ga ada alasan khusus :D
Taddaa!! Gelang Coldplay. Pilih warna ungu karenaa… ga ada alasan khusus :D
Berasa supir duduk depan, sendirian pula
Berasa supir duduk depan, sendirian pula

Karena masih sepi, dan orang-orang mulai berdatangan, saya punya waktu untuk memperhatikan sekitar. Rasanya masih tidak percaya. It’s real! Saya benar-benar sedang berada di tempat Coldplay akan konser!!  Rasanya benar-benar deg-degan seperti akan kencan pertama *saya tidak ingat dulu kencan pertama deg-degan atau tidak. Untuk membunuh sepi, saya foto-foto saja yang sekiranya menarik perhatian.

Jual minuman di dalam ArenA
Jual minuman di dalam ArenA

Mbak berjilbab nonton konser juga. Sepertinya orang Indonesia, sewaktu masuk dia celingak celinguk gitu, seperti cari teman
Mbak berjilbab nonton konser juga. Sepertinya orang Indonesia, sewaktu masuk dia celingak celinguk gitu, semacam sedang mencari temannya.

Sekitar jam 7, Alessia Cara sebagai penyanyi pembuka mulai bernyanyi dilanjutkan oleh Lianne La Havas pada pukul setengah 8. Mereka berasal dari London. Saya belum pernah mendengar mereka sebelumnya tetapi lagu-lagu yang dibawakan oleh Lianne La Havas sangat bagus dan liriknya puitis. Karena akhir Juni sudah memasuki musim panas, jadi di dalam Amsterdam ArenA masih terang benderang sekitar jam 20.30. Bersyukurnya hari itu tidak turun hujan sama sekali. Amsterdam ArenA mulai dipadati penonton, meskipun saya lihat di kelas festival tidak terlalu penuh, masih banyak ruang kosong di bagian belakang. Tiba-tiba ada suara penyanyi seriosa. Orang-orang langsung bertepuk tangan. Saya melihat jam, wah sudah mendekati waktunya Coldplay tampil. Lalu penonton yang di tribun membuat “ombak” seruuuu! Terharuuu sekali rasanya, mata saya sampai berkaca-kaca. Terdengar berlebihan ya, tapi itu yang saya rasakan. Seperti tidak percaya setelah bertahun-tahun berharap Coldplay bisa konser di Indonesia, eh ternyata rejeki saya bisa melihat Coldplay setelah pindah negara.

Suara Chris Martin langsung terdengar menyanyikan A Head Full of Dreams, penonton langsung bersorak ramai, senang melihat idola mereka muncul. Dada saya rasanya membuncah bahagia, antara pengen nangis dan merinding mendengarkan suara calon mantan *delusional parah :))). Sempat-sempatnya saya berdoa semoga Chris Martin balikan lagi sama Gwyneth Paltrow *huahaha kok yaaa kepikiran. Setelah lagu selesai, Chris menyapa penonton, mengucapkan selamat malam dalam bahasa Belanda. ArenA serentak riuh suara tepuk tangan. Lagu favorit saya lalu berkumandang : Yellow!. Ingatan langsung melayang ke mantan pacar beneran *halah! Saat lagu ketiga Every Teardrop tiba-tiba kertas warna warni berhamburan. Merinding lihatnya karena tak terkatakan meriah dan serunya konser ini. Belum lagi pemainan lasernya, balon warna warni yang dilepaskan, gelang yang menyala dan berganti warna mengikuti musik yang dimainkan, penonton yang benar-benar totalitas ikut bernyanyi dan goyang sepanjang konser. Ini daftar lagu lengkapnya :

  1. A Head Full of Dreams
  2. Yellow
  3. Every Teardrop
  4. The Scientist
  5. Birds
  6. Paradise
  7. Always in My Head
  8. Everglow
  9. Amsterdam
  10. Clocks into Midnight
  11. Charlie Brown
  12. Hymn for The Weekend
  13. Fix You
  14. Heroes
  15. Viva La Vida
  16. AOAL
  17. Don’t Panic
  18. See You Soon
  19. Amazing Day
  20. A Sky Full of Stars
  21. Up&Up

Mereka perform tidak hanya di satu panggung saja, tetapi juga didua panggung lainnya yang letaknya di tengah dan panggung bagian kanan. Sebelum menyanyikan lagu Everglow, ada video Muhammad Ali. Suasana hening sejenak, lalu mengalunlah Everglow. Beberapa lagu favorit saya dinyanyikan yaitu Yellow, The Scientist, Hymn for The Weekend, Up&Up, Fix You. Sayang Gravity tidak dinyanyikan.

Coldplay lagu A Head Full of Dreams. Duh, lihat Chris Martin yang nampak samar-samar saja bikin deg-degan :)))
Coldplay lagu A Head Full of Dreams. Duh, lihat Chris Martin yang nampak samar-samar saja bikin deg-degan :)))

A Head full of Dreams
A Head full of Dreams

PAs balon-balon ini lagu apa ya, lupa
Pas balon-balon ini lagu apa ya, lupa

Coldplay Live at Amsterdam ArenA
Coldplay Live at Amsterdam ArenA

Daripada ga ada fotonya dari jarak dekat, akhirnya foto layar haha!
Daripada ga ada fotonya dari jarak dekat, akhirnya foto layar haha!

Chris Martin. Ganteng slurupable banget nih orang *nyebut Den!
Chris Martin. Ganteng slurupable banget nih orang *nyebut Den!

Tuh kan, mangap aja kece banget!
Tuh kan, mangap aja kece banget!

Setelah Up&Up selesai, Chris mengucapkan terima kasih kepada penonton untuk keseruan malam itu. Wah, konser sudah berakhir. Hampir dua jam tidak terasa jejingkrakan (iya, saya ikut jejingkrakan karena ada mbak bule yang mengajak jingkar-jingrak haha), nyanyi, dan merasakan satu ruangan dengan Chris Martin. Saya pikir setelah mereka berpamitan trus ada aksi kembali kepanggung lagi *so old school style banget ya haha. Ternyata tidak. Saya membalikkan badan, menaiki tangga untuk keluar ruangan. Beberapa orang tersenyum pada saya dan mengacungkan jempol. Wah, saya baru sadar, tadi di depan bertingkah apa saja ya sampai diperhatikan :))) Konser selesai jam 11 malam. Eh ternyata suami berinisiatif menjemput saya. Meskipun tidak di Amsterdam, tapi lumayanlah separuh perjalanan lebih cepat kalau dijemput. Di dalam kereta dari Amsterdam ArenA, penontonnnya masih dalam suasana konser. Mereka bernyanyi di dalam kereta. Seru banget. Malam yang tidak terlupakan, bahkan selama beberapa hari setelahnya saya masih terngiang-ngiang suara Chris Martin dan senyum-senyum sendiri di rumah. Suami wes biasa lihat saya seperti itu :))) Trus dia ngomong “andaikan kamu di Indonesia, tidak akan bisa kamu melihat Coldplay seperti malam ini” hahaha omongan saya tentang Bon Jovi sekarang dibalik :)))

Ini ada rekaman ala kadarnya dari konser Coldplay.

Semoga Coldplay hanya cuti sementara saja ya, tidak benar-benar ini adalah konser terakhir mereka. Dan semoga mereka bisa konser di Indonesia sehingga fans mereka yang di Indonesia bisa menikmati konser mereka tanpa harus jauh-jauh melihat ke benua seberang ataupun di negara tetangga. Tulisan ini saya dedikasikan untuk Jo yang tahun lalu sudah menuliskan cerita serunya menonton Bon Jovi. Semoga suatu saat kita bisa bertukar peran ya Jo, aku nonton Bon Jovi, kamu nonton Coldplay.  Tulisan ini juga ditujukan untuk siapapun yang menyukai Coldplay -dan Chris Martin- *kekeuh Chris Martin haha.
Hartelijk bedankt Coldplay. Het was erg de geweldig avond. Thank you Coldplay for an amazing concert!

Yang punya mimpi apapun, tetaplah menabung mimpi. Siapa tahu tanpa kita sadari, semesta dengan tangan-tangan penuh kuasa punya rencana sendiri untuk mewujudkannya. Jika tidak saat ini ataupun nanti, mungkin akan digantikan dengan yang lebih baik sehingga mimpi kalian jadi nyata. Semoga. Jangan lupa sertai juga dengan usaha.


we’re going to get it get it together I know
going to get it get it together and flow
going to get it get it together and go

fixing up a car to drive in it again
when you’re in pain
when you think you’ve had enough
don’t ever give up
don’t ever give up

-Up&Up-

-Den Haag, 24 Agustus 2016-

Semua dokumentasi adalah milik pribadi.

 

Cerita Dibalik Sebuah Nama

http://slideplayer.nl/slide/2827506/

“Apalah arti sebuah nama” – begitu yang sering kita baca. Tentu saja nama sangat berarti, kalau tidak maka calon orang tua tidak akan pusing mencari dan memutar otak untuk padu padan nama calon bayi mereka, bahkan buka primbon serta bertanya pada yang dituakan. Jadi, setiap nama pasti punya arti atau bahkan mungkin peristiwa yang ada dibaliknya. Tulisan ini sebenarnya datang dari kejadian yang akhir-akhir ini saya alami, perihal nama belakang. Tapi sebelum masuk dalam cerita tersebut, saya mau merunut sejenak tentang nama saya dan suami.

Nama Depan

Nama depan sekaligus panggilan saya adalah Deny. Untuk orang Indonesia, nama Deny kebanyakan dipakai untuk nama pria. Tidak lazimlah nama Deny disematkan pada wanita. Kesimpulan tersebut saya tuliskan karena setiap ada yang bertanya atau ketika saya menyebutkan nama, hampir seluruhnya berkomentar “lho kok perempuan namanya Deny?” Dari yang awalnya saya antusias menjelaskan tentang nama Deny sampai akhirnya malas menjawab atau memberi jawaban ala kadarnya “anda orang ke sepuluh ribu sekian yang berkomentar seperti itu.” Kalau menulis email, saya sudah menaruh nama lengkap pun masih sering dipanggil Bapak atau Mas, padahal nama belakang saya jelas untuk perempuan. Kalau sedang malas, maka akan saya biarkan. Kalau sedang rajin akan saya jawab dan menerangkan kalau saya perempuan. Kalau yang tidak saya jelaskan dan kami ada hubungan kerja, lalu melanjutkan komunikasi lewat telepon, mereka akan meminta maaf karena sudah menyebut saya Mas atau Bapak, karena sadar begitu ketemu, yang ditemui adalah perempuan atau ditelepon yang terdengar suara perempuan. Deny adalah nama yang terbentuk dari gabungan nama kedua orangtua. Karena penulisannya seperti “deny” dalam bahasa inggris yang artinya menyangkal, pada saat kerja dulu, beberapa kolega dari Eropa dan Amerika banyak yang salah memanggil saya dengan penyebutan deny dalam bahasa Inggris, yaitu “dinai.” Kalau yang bagian ini jelas perlu saya luruskan. Lagian kan ga enak dipanggil keminggris gitu ya.

Lain permasalahan dengan pelafalan, lain juga dengan penulisan. Saya dari dulu selalu rewel dengan yang namanya penulisan nama. Saya selalu memperhatikan penulisan nama orang lain, jangan sampai ketika menuliskan nama, salah eja ataupun salah huruf karena hal ini yang sering terjadi pada saya. Pada bagian atas blog ini jelas-jelas sudah tertulis besar namanya adalah Deny and Ewald. Walaupun demikian masih saja ada yang menulis : deni, denny, ataupun denni. Tidak itu saja, kalau saya menulis email, pasti akan saya tutup dengan nama saya (kalau email formal pasti dengan nama lengkap, kalau email tidak formal pasti nama deny saja). Sudah ditulis nama saja masih sering yang menjawab email menuliskan nama saya dengan salah. Disitu saya merasa semacam lelah *nyemil ote ote.

Nama depan suami juga untuk orang Indonesia agak susah dalam penulisan maupun  pelafalan. Beberapa sepupu saya memanggil mas Ewald dengan “Ewold” yang seharusnya antara penulisan dan pengucapannya sama. Sudah diberitahu beberapa kali tetap saja salah pengucapannya. Akhirnya suami bilang “biarkan saja, variasi panggilan :D” Penulisan nama Ewald juga begitu, Seringnya ditulis jadi “Edwald” oleh beberapa kenalan orang Indonesia, padahal jelas-jelas dia selalu menuliskan namanya dengan Ewald. Menurut suami, nama “Ewald” sendiri bukanlah nama Belanda. Ewald adalah nama Jerman karena memang dari Papa mertua ada keturunan Jerman, selain itu Papa mertua suka sekali dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Jerman (karena dulu sewaktu kerja sering ditugaskan ke Jerman), karenanya anak-anaknya diberikan nama Jerman.

Nama Belakang

Kalau tadi adalah lika liku seputar nama depan, sekarang giliran nama belakang. Nama saya hanya terdiri dari dua kata, depan dan belakang tanpa nama tengah. Sebenarnya nama belakang saya itu tidak ruwet, cuma sering salah penulisannya. Dan saya hampir selalu mengeja. Ini tidak hanya terjadi di Belanda saja tetapi juga di Indonesia. Kalau di Indonesia seringnya salah dengan penulisan, dan saya selalu mengeja huruf per huruf, untuk orang Belanda rupanya nama belakang saya susah disebutkan (dan dituliskan).

Sejak datang ke Belanda sampai sekarang, saya masih memakai nama asli untuk semua dokumen, jadi tidak mengadopsi nama keluarga dari suami untuk nama belakang. Hanya untuk asuransi kesehatan dan tanda pengenal tertera nama belakang suami. Jadi selama ini untuk urusan apapun, saya masih memakai nama sendiri, termasuk untuk keperluan sehari-hari misalkan menuliskan di media sosial.

Di Belanda, nama lengkap yang tertera pada hampir semua dokumen adalah nama belakang (de achternaam), sedangkan nama depan (de voornaam) dan nama tengah (het tussenvoegsel) hanya satu huruf nama depan (inisial). Jadi misalkan ada seorang perempuan namanya Alfa Beta Gama, maka akan ditulis mevrouw A.B. Gama dan kalau dipanggil ya nama belakangnya yaitu mevrouv Gama (mevrouw artinya kalau bahasa Inggris Mrs. Kalau bahasa Indonesia Ibu atau Nyonya mungkin ya). Pada saat berurusan dengan Bank, kantor pemerintahan, rumah sakit, wawancara kerja, atau mengisi formulir apapun, pada umumnya saya menuliskan nama lengkap hanya untuk nama belakang, sedangkan nama depan hanya inisialnya saja (atau saya menuliskan nama depan juga, nanti mereka yang akan menyingkatnya). Nah, kalau saya mendaftar lewat telepon atau ingin konfirmasi apapun lewat telepon, hampir selalu saya mengeja nama belakang karena mereka kesulitan untuk menuliskannya. Begitu juga misalkan saat di rumah sakit atau praktek dokter, ketika memanggil nama saya, mereka selalu mengeja persuku kata nama saya, karena mungkin agak susah untuk diucapkan. Disitu saya sering senyum-senyum sendiri. Bahkan beberapa waktu lalu saat ada urusan dengan Bank, petugasnya bilang “nama belakangnya unik ya, bagus, tapi saya kesusahan menyebutkannya.” 😀

Adopsi Nama Keluarga Suami

Awal datang ke Belanda, suami sudah menanyakan apakah mau memakai nama belakangnya atau tidak. Saya menjawab tidak, saya mau memakai nama saya saja. Dia bilang kalau memakai nama belakang saya mungkin nanti agak kesusahan untuk melamar kerja. Dia berpikir kalau menggunakan nama belakangnya, setidaknya orang akan tahu bahwa saya menikah dengan dia (WN Belanda) dan itu mungkin akan memudahkan mendapatkan kerja. Saya agak tidak percaya saat itu, “masa iya sih,” begitu pikir saya. Selain itu, di Belanda juga tidak diharuskan untuk meletakkan nama belakang suami baik itu untuk surat menyurat ataupun dokumen lainnya, kecuali pada dua kartu yang saya sebutkan di atas. Karena tidak ada keharusan tersebutlah saya tetap memakai nama sendiri. Akhirnya saya membuktikan bahwa teori suami tentang susah mendapatkan pekerjaan ketika tanpa menggunakan nama belakangnya terbantahkan. Saya beberapa kali mendapatkan panggilan wawancara kerja sampai mendapatkan pekerjaan saat ini. Namun tidak dipungkiri juga ketika wawancara kerja saya mendapatkan pertanyaan kenapa tidak memakai nama belakang suami. Bahkan karena saya memakai nama sendiri, kadang mereka tidak tahu kalau saya sudah menikah, karena memang status tidak pernah ditanyakan pada saat mengisi formulir pada saat melamar kerja. Saya akan menjawab ketika ditanya, tetapi kalau tidak ditanya ya saya tidak jelaskan tentang status.

Nama keluarga suami tidak seperti layaknya nama belakang orang Belanda (tentang nama belakang orang Belanda pernah diulas lengkap oleh Mbak Yoyen disini) karena memang ada keturunan dari Jerman. Karenanya nama belakang yang sama dengan nama belakang suami sangat jarang ditemukan di Belanda.

Alasan saya sampai saat ini tidak memakai nama keluarga suami untuk nama belakang saya karena saya merasa tidak terbiasa (mungkin belum terbiasa) dan masih belum perlu. Saya merasa tidak nyaman menggunakan nama orang lain untuk nama belakang (meskipun dalam konteks ini adalah nama belakang suami), dan merasa aneh kalau nama belakang saya tiba-tiba berubah atau bertambah. Memang sampai saat ini masih belum ada keperluan yang sangat mendesak sampai saya harus membubuhkan nama keluarga suami pada nama belakang saya. Entah nanti kalau memang ada kebutuhan yang medesak dan mengharuskan saya membubuhkan nama keluarga suami pada nama belakang, maka akan saya lakukan. Konsekuensinya saat ini adalah saya akan tetap berurusan dengan pengejaan nama belakang yang agak sulit untuk orang Belanda. Tidak mengapa, lumayan untuk melatih otak juga, mengeja nama sendiri.

Punya cerita unik seputar nama?

Catatan tambahan : Membaca komentar Noni jadi teringat kalau kata Ibu saat saya baru lahir diberikan nama Sayekti (nama pemberian dari Mbah Kakung), tetapi beberapa hari badan saya panas sampai hampir kejang. Akhirnya nama Sayekti diganti menjadi Deny. Percaya tidak percaya, sakit panas jadi hilang.

-Den Haag, 18 Agustus 2016-

Foto dipinjam dari http://slideplayer.nl/slide/2827506/

Temu Blogger di Berlin

Beth, Anggi, Deny, Mindy, Mbak Dian. Foto dari kamera Mbak Dian.

Suatu hari sekitar bulan Juni, tanpa sengaja saya membaca rencana beberapa anggota grup whatsapp yang saya ikuti akan mengadakan pertemuan di Berlin. Maksudnya adalah kopi darat sekalian jalan-jalan menyusuri Berlin. Grup whatsapp yang saya ikuti ini anggotanya adalah mereka yang tinggal di Eropa dan terdaftar sebagai anggota @uploadkompakan cabang Eropa. Jadi saya mengenal mereka berawal dari Instagram, berlanjut ke grup whatsapp. Beberapa dari mereka juga blogger. Banyak hal positif yang saya dapatkan sejak bergabung dengan grup ini lebih dari setahun lalu. Topik pembicaraan di grup ini beragam, tetapi tidak jauh-jauh seputar kehidupan sehari-hari di negara masing-masing di Eropa. Pembicaran pun tidak terlalu sering, hanya pada jam-jam tertentu saja, sama dengan dua grup whatsapp lainnya yang saya ikuti. Iya, saya hanya punya 3 grup whatsapp dan itu sudah lebih dari cukup.

Awalnya saya masih ragu untuk ikut serta ke Berlin karena waktunya dua minggu setelah saya dan suami selesai road trip ke Italia dan saya harus mengatur jadwal kerja kalau senin dan selasa tidak masuk ketika ke Berlin. Tapi saya juga ingin ke Berlin dan bertemu dengan mereka. Kemudian saya mendiskusikan hal ini dengan suami. Dia mendukung sekali rencana ke Berlin ini. Dia bilang akan sangat menyenangkan kalau saya bisa bertemu dengan mereka yang selama ini hanya kenal lewat dunia maya, sekalian jalan-jalan ke Berlin. Karena ini adalah girls trip, artinya para suami dari mereka yang akan bertemu di Berlin tidak ikut serta. Dan ini artinya pertama kali sejak menikah saya akan bepergian sendiri ke luar Belanda. Kalau di Belanda bepergian sendiri sudah biasa. Tapi kalau ke Berlin bepergian sendiri akan menjadi pengalaman pertama setelah menikah.

Setelah saya mengkonfirmasikan akan ikut serta ke Berlin pada Beth (pencetus ide pertemuan di Berlin), maka saya, Anggi, Mbak Dian, dan Beth sendiri mulai mengadakan koordinasi tentang penginapan karena kami akan menginap selama 3 malam di Berlin. Sedangkan Mindy dan Mia yang tidak ikut menginap juga ikut menyumbangkan ide tentang tujuan mana saja yang bisa kami kunjungi. Sebenarnya saya juga tidak terlalu khawatir tentang jalan-jalan ke Berlin ini karena ada Mindy dan Beth yang pernah tinggal lama di Berlin sebelum akhirnya pindah ke kota mereka saat ini, juga ada Mia yang tinggal di Jerman dan pernah beberapa kali ke Berlin. Saya mulai mencari perbandingan antara tiket kereta dan tiket pesawat. Kalau naik pesawat sekitar 1.5 jam. Kalau naik kereta sekitar 5 jam dengan harga tiket tidak terlalu beda jauh dengan pesawat. Akhirnya saya memutuskan naik kereta saja karena lebih suka naik kereta dibandingkan naik pesawat meskipun waktunya lebih lama. Saya suka menikmati pemandangan dari kereta.

Karena ini bukanlah kopdar pertama saya dengan beberapa blogger, jadi deg-degannya tidak terlalu terasa seperti saat pertama kali saya merasakan yang namanya kopdaran dengan para blogger yang tinggal di Belanda (ceritanya disini). Dan juga karena saya sudah beberapa kali pernah ketemu Beth (ini yang ke empat, bahkan saya pernah menginap di rumah Beth) juga pernah bertemu Mindy di Frankfurt. Singkat cerita, saya sudah tidak sabar menantikan hari saat saya naik kereta ke Berlin. Dari Utrecht, saya akan pindah kereta di stasiun Duisburg Hbf untuk kemudian menuju Berlin Hbf. Saya sampai membawa bekal makan siang dari rumah. Jadi ingat sewaktu sering ke Jakarta naik kereta ekonomi pada saat masih kecil bersama seluruh keluarga, Ibu pasti membungkus bekal makan siang untuk mengirit pengeluaran. Jadi ketika saya membawa bekal dan makan di Duisburg Hbf, mengingatkan saya akan kenangan masa kecil tersebut.

Setelah sampai Berlin Hbf, saya langsung tercengang. Itu stasiun besar sekali. Saya seperti orang yang baru datang dari desa kecil sampai terlongo-longo dan celingak celinguk melihat stasiun kereta sebesar itu. Saya langsung teringat Tunjungan Plaza (TP) di Surabaya. Iya, Berlin Hbf nampaknya memang sebesar TP 1 dan 2. Pada saat itu, didepan stasiun sedang ada demonstrasi yang awalnya saya pikir akan ada artis yang akan datang dan mereka para fans sedang menunggu di depan stasiun. Ternyata sedang ada demonstrasi.

Berlin Hbf. Langsung ingat Tunjungan Plaza
Berlin Hbf. Langsung ingat Tunjungan Plaza
Berlin Hbf tampak luar. Besar sekali kan ini stasiunnya
Berlin Hbf tampak luar. Besar sekali kan ini stasiunnya

Setelah membeli tiket di mesin yang penuh dengan drama ditambah  saya tersasar dan salah naik kereta (wes biasa ini cerita nyasar dan salah naik kereta :D, bukan sekali dua kali terjadi) padahal saya sudah membaca dengan seksama petunjuknya, akhirnya sampai juga saya di stasiun Zoologischer Garten kemudian jalan kaki menuju AMC Apartments tempat kami menginap selama 3 malam yang lokasinya tidak jauh dari Kurfßrstendamm. Sesampainya di Apartemen, sudah ada Beth. Senang rasanya bisa ketemu Beth lagi. Kamar yang kami tempati sangat menyenangkan kondisinya, lengkap semua perabotannya dari dapur dan segala peralatannya, tempat tidurnya juga nyaman, hanya pada malam pertama kami merasa agak kepanasan. Tapi secara keseluruhan tempat ini nyaman, letaknya strategis, juga harganya terjangkau untuk dipakai menginap secara beramai-ramai.

Sambil menunggu Anggi dan Mbak Dian datang, saya dan Beth berjalan-jalan disekitar Apartemen. Lumayan bisa melihat beberapa tempat bersejarah seperti gereja Kaiser-Wilhelm Memorial. Pada sore itu juga bertepatan dengan ada lomba lari dan lomba sepatu roda jadinya rame sekali disekitar KurfĂźrstendamm. Sepanjang jalan saya dan Beth bercerita banyak hal. Beth menunjukkan ini dan itu, saya masih ternganga dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Maklum saja, terakhir melihat gedung-gedung tinggi seperti itu sewaktu di Jakarta mengurus visa. Di Belanda mana ada gedung menjulang tinggi sekali. Kami ada sedikit drama juga diruangan bawah tanah stasiun, mencari pintu keluar menuju seberang jalan yang tak kunjung ditemukan. Setelah berbelanja buah dan beberapa keperluan lainnya kami kembali ke Apartemen menunggu Mbak Dian dan Anggi. Saat malam mulai datang, mereka datang. Senang rasanya pada akhirnya bisa bertemu dengan orang yang selama ini dikenal hanya dari dunia maya, mendengar suaranya pun tidak pernah. Saya belajar banyak hal selama ini dari kisah perjuangan Mbak Dian (tinggal di Austria), seorang breast cancer survivor, yang ceritanya pernah ditulis Melly disini. Anggi (tinggal di Edinburgh) pun begitu, banyak hal positif yang dia ceritakan melalui blognya, kegigihan dia dan suaminya untuk mencapai cita-cita mereka. Dan Anggi ini ternyata sepupu dekat dari teman dekat saya. Betapa dunia sempit sekali ya.

Hari pertama kami berencana ke Teufelsberg, tempat wisata baru jadi tidak terlalu banyak turis di sana. Beth yang mempunyai ide ini, saya pun mengaminkan tanpa berusaha mencari informasi sebelumnya tentang tempat apa sebenarnya ini (ketahuan malesnya :D). Setelah Mia datang ke hotel, kamipun bergegegas berangkat. Ini kali pertama saya bertemu Mia. Saya merasa senang karena Mia sangat ramah, banyak senyum, dan dia ternyata teman seangkatan kuliah dari suami sepupu dekat saya. Duh, bener-benar sempit sekali dunia ini :D. Sepanjang jalan menuju Teufelsberg, setelah turun dari kereta, kami tidak ada hentinya antara mengoceh dan mengunyah. Ehm, kayaknya yang mengunyah hanya saya dan Anggi haha! Kami sempat mempertanyakan berkali-kali ke Beth apakah jalan yang kami lalui ini benar adanya karena kok tidak sampai-sampai. Beth yang awalnya yakin sempat goyah juga keyakinannya. Akhirnya dia bertanya pada seorang lelaki yang sedang melintas. Ternyata jalan yang kami lalui sudah benar. Singkat cerita dengan melalui jalan tanjakan, sampailah kami di tempat yang ternyata supeerr kece ini. Banyak graffitinya dan setiap pojokan itu bagus semua. Wajib dikunjungi ini kalau misalkan ada yang berencana ke Berlin dan suka dengan graffiti. Kami tentu saja memanfaatkan ini dengan sebaik-baiknya, maksudnya dengan berpose sebanyak-banyaknya. Di tempat ini kami berkenalan dengan dua pemuda tampan, nampaknya mereka adalah model dari London (setelah ditelusuri dari IG nya-niat!). Awal perkenalan (tsah!) karena minta tolong untuk memfotokan kami. Setelahnya ditempat berbeda mereka meminta tolong untuk mengabdikan kebersamaan mereka. Pada beberapa kesempatan, Mbak Dian, Beth, Anggi sigap sekali manjadi fotografer dadakan mereka. Saya malah tertarik mengabadikan pose 3 orang ini saat menjepret satu pemuda ganteng lainnya. Saya selalu tertawa kalau melihat foto-foto mereka tampak belakang :)))

Dari kiri ke kanan : Mbak Dian, Beth, Anggi, Mia, Deny
Dari kiri ke kanan : Mbak Dian, Beth, Anggi, Mia, Deny. Kalau ini pakai kamera Hp yang disenderkan ke tas dan memakai hitungan waktu :D
Menggemaskan ya.... mobilnya :D
Menggemaskan ya…. mobilnya :D
Salah satu kenalan kami. Mudah-mudahan dia tidak keberatan fotonya ditaruh disini, kan dia model :)
Salah satu kenalan kami. Mudah-mudahan dia tidak keberatan fotonya ditaruh disini, kan dia model :)

Salah satu sudut Teufelsberg
Salah satu sudut Teufelsberg
Teufelsberg dengan model Beth
Teufelsberg dengan model Beth
Teufelsberg
Teufelsberg

Setelah acara bernarsis ria selesai, kami sudah lapar dan membayangkan segala makanan Indonesia karena rencana selanjutnya ke restoran Nusantara sekalian bertemu Mindy. Kami melewati jalan berbeda dengan saat kami datang. Kali ini kami lewat hutan ketika kembali. Pikir kami supaya bisa memotong kompas. Setelah bertanya dan diyakinkan bahwa lewat hutan bisa tembus ke parkiran mobil (dimana ini kami lewati ketika pertama datang), kamipun mengikuti dua orang yang memberitahu tersebut. Sampai pertengahan jalan, tanpa ada papan penunjuk, dan kami kehilangan jejak dua orang tersebut, mulailah kami tebak-tebak buah manggis jalan mana yang bisa dilewati. Dengan sedikit perjuangan karena jalanan kecil yang menurun, mbak Dian di depan sebagai penuntun jalan, ditambah lagi kami yang sudah halusinasi bayangan : soto, tempe mendoan, es cendol, lontong sayur, segala menu yang akan kami makan di restoran Nusantara, sampailah kami pada tempat parkir yang dituju. Saat di hutan tadi, kami sudah membayangkan kemungkinan buruk tersesat. Tapi kami masih berpikir positif tidak akan tersesat karena terdengar suara mobil yang melintas. Setelahnya kami sudah tidak sabar menuju Nusantara.

Foto dari kamera Mbak Dian
Foto dari kamera Mbak Dian
Saat "penjelajahan". Foto dari kamera Mbak Dian
Saat “penjelajahan”. Foto dari kamera Mbak Dian
Kai di Nusantara kalap! pesan mendoan sampai dua porsi. Mia takzim makan bebeknya :D. Foto dari HpMbak Dian
Kami di Nusantara kalap! pesan mendoan sampai dua porsi. Mia takzim makan bebeknya :D. Foto dari HpMbak Dian. Sayang Mindy tidak bisa gabung karena masih dalam perjalanan menuju Berlin

Sampai di Nusantara, kami langsung kalap pesan ini dan itu. Di Nusantara ini juga banyak cerita mengalir. Dari cerita sedih, bahagia, maupun cerita yang biasa saja. Tidak lupa Anggi mengajarkan dengan praktek cara memulas lippenstift (lipstik) pada Beth. Dari Anggi ini pula saya konsultasi cara merawat wajah, apa saja langkah-langkahnya. Pokoknya Anggi ini pakar lipstik dan perawatan wajah.

Hari selanjutnya kami lewati dengan acara masing-masing. Saya, Anggi, dan Mbak Dian mengkuti free walking tour dan boat tour. Mindy yang baru bergabung kemudian jalan bersama Beth ke Mall of Berlin, Mia sudah pulang ke kotanya, Beth malamnya lihat konser Sting. Kami sempat ketemu Mindy sebentar di restoran Mabuhay. Menurut Beth, Mabuhay ini dulunya adalah restoran Filipina (sesuai namanya ya), tetapi setelah jadi restoran Indonesia namanya tidak berubah. Makanan disini super enaknya, benar-benar citarasa makanan rumahan. Kalau di Nusantara kami kalap, di Mabuhay kami kalap kuadrat. Pesan ini itu terus berlanjut. Dan herannya, habis semua. Setelah ditotal, rasanya kami tidak percaya makanan begitu banyaknya dan minum tidak sampai €60 untuk 5 orang. Sebelum makan, kami riuh berbincang, setelah makanan datang seperti mengheningkan cipta, khusyuk dengan piring masing-masing :D. Mabuhay ini benar-benar patut dicoba kalau ke Berlin, rekomendasi Beth memang mantap! Selama 4 hari kami bersama, satu topik yang selalu jadi pembicaraan hangat, yaitu makanan Indonesia. Itu yang namanya ngobrol tentang makanan Indonesia yang kami rindukan memang tidak ada habisnya, sambung menyambung dan saling timpal. Makanan Indonesia memang menjadi perekat sesama perantau.

Mabuhay - Berlin
Mabuhay – Berlin
Pesanan menu ronde pertama. Karenamasih ada pesanan-pesanan selanjutnya. Foto dari kamera Mbak Dian
Pesanan menu ronde pertama. Karenamasih ada pesanan-pesanan selanjutnya. Foto dari kamera Mbak Dian

Setelah dari Mabuhay, kami pergi ke gedung parlemen (Reichstag). Niatnya mencoba keberuntungan untuk mendapatkan tiket naik ke atas tanpa reservasi terlebih dahulu. Tapi ternyata tiket hari itu untuk yang go show sudah tidak ada, yang tersedia tiket keesokan harinya. Akhirnya kami ya hanya berfoto ria di depan gedung parlemen. Selama dua hari pergi rombongan, kami selalu membeli tiket grup untuk naik transportasi umum maksimal 5 orang seharga €17 (kalau tidak salah) yang bisa dipakai satu hari. Itu hitungannya murah sekali per orang.

Beth, Anggi, Deny, Mindy, Mbak Dian. Foto dari kamera Mbak Dian.
Beth, Anggi, Deny, Mindy, Mbak Dian. Foto dari kamera Mbak Dian.

Empat hari kebersamaan yang sangat menyenangkan dan tidak akan terlupakan. Banyak cerita yang mengalir, keseruan penuh tawa, sempat juga menangis terharu. Banyak pelajaran berharga saya dapatkan dari mereka. Tentang perjuangan menjadi perantau di negara orang, cerita dari masing-masing negara yang menjadi tempat tinggal mereka saat ini, tentang kegigihan, kesetiaan, tentang berpikir positif dan tidak gampang nyinyir. Berpikir dan bertindak kritis sangat dianjurkan, tetapi harus dibedakan dengan nyinyir. Tentang manfaat lingkungan yang memberikan aura positif dan lebih baik meninggalkan segala sesuatu yang membawa energi negatif, baik di dunia maya maupun dunia nyata. Mereka, wanita-wanita tangguh dan mandiri dengan ceritanya masing-masing. Saya yang baru 1.5 tahun merantau beda benua dan 2 tahun pernikahan, belajar banyak hal dari mereka. Bersyukur sekali saya memutuskan untuk ke Berlin bertemu dengan mereka.

Mudah-mudahan kami selalu diberikan kesehatan yang baik dan umur yang barakah supaya bisa mewujudkan girls trip selanjutnya, di negara yang lainnya. Terima kasih untuk Anggi, Beth, Mindy, Mbak Dian, dan Mia atas kepercayaannya bercerita segala hal, juga saya pun bisa bercerita banyak hal pada kalian. Semoga pertemanan kita akan selalu baik-baik saja kedepannya.

Cerita seru Beth tentang perjalanan kami bisa dibaca di sini

-Den Haag, 15 Agustus 2016-

Semua foto milik pribadi kecuali yang ada keterangan pinjam.

Two years married!

Deny Ewald were at lake como

Today marks the two year anniversary of our marriage: on August 9th 2014 we tied the knot on that beautiful day in Situbondo, East-Java. Last year it was Deny who wrote on this blog to commemorate this our first year anniversary, this year I will take the opportunity for some reflection.

First of all I feel blessed to have Deny because of her patience with me and her relentless dedication as my wife. I will never think lightly of all the steps Deny made by giving up so much from her life in Indonesia to follow me all the way to the Netherlands.

In our two year marriage, we, like any other couples, experienced so many positive things and sometimes negative things. The sum of these experiences made the bond between us stronger and we still have many things to look out for in life.

Sometimes Deny asks ‘Why don’t we meet each other earlier in life?’. And then I usually have some logical response, like ‘Be glad, we did meet each other…” Of course it would have been wonderful too meet earlier, but maybe in life we open our sensors for love and meeting when we are ultimately ready for the experience so the time we met is the perfect time.

As my late Dad once replied per mail to our congratulations for my parents marriage anniversary: ‘if it is up to us we hope you two will witness many more anniversaries to come’. Sadly for them it turned out to be their last marriage anniversary as my Dad passed away a few months later. Needless to say that Deny and I intend to celebrate many, many more anniversaries and in the meantime enjoy our time in life together…

Deny Ewald were at lake como
Deny and Ewald were at lake como, Italy

-Den Haag, 9 Agustus 2016-

Cerita Akhir Pekan – Kembali ke Dapur

Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.

Sudah lama ya rasanya tidak bercerita tentang kegiatan akhir pekan, kangen juga menuliskan di blog ini. Maklum, akhir pekan kami akhir-akhir ini selalu saja ada kegiatan yang menyita waktu, begitu minggu malam, rasanya ingin leyeh-leyeh saja. Setelah kami road trip ke Italia, minggu lalu saya pergi sendiri ke Berlin untuk kopdaran dengan beberapa blogger yang tinggal di Jerman (Beth, Mia, Mindy), Austria (Mbak Dian), dan Edinburgh (Anggi). Jadi ini semacam girls trip. Kami meninggalkan sejenak para suami di rumah. Cerita lengkapnya menyusul akan saya tuliskan, atau follow saja blog mereka karena nampaknya mereka yang akan terlebih dahulu menceritakan keseruan yang kami lalui di Berlin. Jika punya akun Instagram, bisa melihat foto-foto keseruan kami dengan hastag #mbakyuropdiberlin.

Dari kiri ke kanan : Mbak Dian, Beth, Anggi, Mia, Deny
Dari kiri ke kanan : Mbak Dian, Beth, Anggi, Mia, Deny
Beth, Anggi, Deny, Mindy, Mbak Dian. Foto dari kamera Mbak Dian.
Beth, Anggi, Deny, Mindy, Mbak Dian. Foto dari kamera Mbak Dian.

Akhir pekan ini kami tidak ada acara khusus. Karena sudah lama tidak memasak pada akhir pekan, saya merasa kangen dengan dapur. Rasanya ingin mencoba memasak sesuatu yang baru, tapi yang tidak ruwet. Sabtu pagi suami pergi ke gym setelahnya belanja di supermarket, saya di rumah bersih-bersih kamar. Tiba-tiba saya ingin makan pecel untuk makan siang karena persediaan bumbu pecel masih ada dan di kulkas stok sayuran masih bervariasi karena jumat sepulang kerja saya dan suami pergi belanja sayur dan buah. Akhirnya kami makan siang dengan pecel lauk perkedel tahu panggang. Ini sambel pecelnya sangat pedes, tapi mas Ewald doyan meskipun makannya sambil bercucuran air mata dan ingus keluar dari hidung saking pedesnya dan dia harus berkali-kali membersihkan ingus. Saya bilang kalau kepedesan tidak usah dihabiskan, tapi dia bilang pedasnya masih bisa diterima oleh lidahnya. Level pedes suami rasanya semakin hari semakin meningkat seiring istrinya tega selalu menyajikan makanan dengan rasa pedas 😀

Pecel dan perkedel tahu panggang
Pecel (sayurannya : daun basil, kecambah, sawi, buncis, ketimun, wortel) dan perkedel tahu panggang

Setelah makan siang, saya bersiap untuk membuat kue. Jadi suami malamnya ada acara dengan kerabat. Si empunya acara ini vegan. Setelah mencari resep kue vegan kesana kemari, akhirnya saya cocok dengan resep kue vegan yang ada di youtube ini karena bahannya tidak ruwet dan proses membuatnya tanpa dioven. Bahan kuenya : Tepung Almond (karena saya tidak paham tepung apa yang diterangkan di youtube tersebut, akhirnya saya ganti sendiri dengan tepung almond), air kelapa, kelapa parut, cocoa powder, vanilla extract, kurma (pengganti gula). Ini semua bahannya dicampur menggunakan tangan. Bahan isi dan lapisan luarnya : kurma, air kelapa, avocado, cocoa powder, vanilla extract, dan apel. Untuk takaran bahan-bahannya saya memakai ilmu kira-kira jadi tidak pakai timbangan. Ini baru pertama kali saya membuat kue vegan, dan tanpa di oven. Suami sempat bertanya,”kalau kuenya sudah jadi bisa dimakan?” Wah yo embuh ya mas, ora tau nggawe sebelumnya :D. Dan setelah jadi, taddaaa ternyata kuenya enaaakkk banget. Lembut, tidak terlalu manis, dan yang penting sehat dan tidak ruwet membuatnya. Kue vegan ini setengah loyang dibawa suami ke acara, dan mereka semua suka. Ah senang rasanya baru pertama membuat dan langsung sukses. Sementara suami di rumah berkali-kali buka tutup kulkas untuk makan kue ini. Dia ingin selanjutnya saya membuat kue vegan saja karena menurut dia rasanya lebih enak dibandingkan kue yang biasa saya buat. Saya yang memang tidak terlalu suka jenis kue yang manis, hanya memakan satu kali saja kue vegan coklat tersebut.

Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.
Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.
Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.
Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free. Hiasan seadanya.

Sabtu malam saat suami tidak di rumah, saya tiba-tiba ingin makan Tom Yum. Saya ingat masih punya bumbu Tom Yum di kulkas yang saya buat sendiri. Tapi sayangnya saya tidak punya stok seafood. Akhirnya saya membuat Tom Yum isi sayuran : jamur, sawi, kecambah ditambah irisan cabe rawit. Sabtu malam kencan dengan Tom Yum sambil cekikikan melihat lagi foto-foto di Berlin.

Tom Yum isi kecambah, sawi, jamur.
Tom Yum isi kecambah, sawi, jamur.

Kami memulai minggu pagi seperti biasa dengan olahraga. Saya lari 5km, suami bersepeda 50km plus lari 8 km. Lalu saya sibuk di dapur menyiapkan makan siang, suami membersihkan wc dan kamar mandi. Sehari sebelumnya, saya sudah mencari resep pastel tutup karena memang belum pernah membuat dan masih ada stok kentang. Ternyata membuat pastel tutup itu gampang, tidak seruwet seperti yang saya bayangkan. Isi dari pastel tutup ini : wortel, sawi, buncis, jamur, soun, prei dan brokoli. Tinggal oseng-oseng isinya, masukkan di pinggan tahan panas, tutup dengan kentang rebus yang sudah dihaluskan, masukkan oven 190 derajat selama 22 menit. Setelah dicoba ternyata enaakk rasanya, meskipun kentangnya tidak memakai susu, keju ataupun telur. Kentangnya saya campur dengan sedikit tepung supaya agak merekat. Suami suka dengan pastel tutup ini. Hanya satu kritiknya, kok ga dikasih cabe. Duh mas, lidahmu kok lebih mengIndonesia sekarang, apa-apa harus pedas :p. Sisa adonan kentangnya saya buat perkedel panggang untuk lauk suami makan siang di kantor. Dan inilah penampakan pastel panggang pertama saya. Kami makan 3/4 loyang dan selebihnya saya bagi ke Mama mertua.

Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, prei
Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, prei
Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, prei
Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, brokoli, dan prei

Setelah makan siang dan kekenyangan pastel panggang, suami melanjutkan aktivitas menyapu dan membersihkan karpet sementara saya menjemur baju. Sekitar jam 3 kami pergi ke toko tanaman untuk membeli beberapa bunga karena bunga-bunga yang ada di rumah mati semua selama kami tinggal liburan. Setelah dari toko tanaman kami ke rumah Mama. Saya membawa pastel tutup dan kue vegan coklat. Setelah dicoba Mama, beliau sukaa sekali pastel tutup dan kue vegan coklat tersebut. Wah saya girang bukan kepalang. Mama adalah penikmat masakan saya yang paling jujur. Kalau masakan saya tidak enak, beliau akan bilang tidak enak dan makanan saya selebihnya akan dikembalikan. Untung saja selama ini baru satu kali masakan saya yang dibilang tidak enak dan dikembalikan. Kalau tidak salah semur tempe. Selebihnya beliau suka, bahkan tumis pare pete pedes pun beliau suka. Beliau ini suka makanan pedas. Kalau akhir pekan saya memang memasak agak banyak agar Mama juga bisa ikut makan masakan saya. Kalau saya sedang tidak bisa main ke rumah Mama, maka makanan akan saya titipkan pada suami karena suami setiap minggu pasti ke rumah Mama.

Setelah dari rumah Mama kami mengayuh sepeda diiringi angin yang super kencang, gerimis, dan mendung yang memang menggelayut sejak pagi. Musim panas di Belanda matahari muncul hanya sesekali. Selebihnya tetap mendung, hujan dan angin kencang. Akhir pekan kami tutup dengan berbincang ditemani kerupuk, teh jahe, kue coklat vegan dan mendung. Akhir pekan yang menyenangkan karena saya akhirnya kembali lagi ke dapur. Memasak selalu membuat saya bahagia.

Bagaimana cerita akhir pekan kalian?

-Den Haag, 7 Agustus 2016-

Visit to Berlin (Part 1)

Berlin 1989

Today Deny is on her way to Berlin by train. In Berlin she will meet her friends and spend some days visiting Berlin’s interesting places. This gives me some time to reflect on my own journey to Berlin a long time ago, in 1989 to be precise!

In those days the Wall was still standing, ‘Checkpoint Charlie’ was still operational and not yet a museum. Berlin was separated in a Western and Eastern part of the city, like Germany itself was divided into two countries: West Germany with Bonn as the capital city and East Germany or DDR (Deutsche Demokratische Republik) as the East Germans themselves called it) which was actually a communistic satellite state of the Soviet Union). The eastern part of Berlin was the capital of the DDR and reflected the territory of Berlin that the Soviet Union occupied during World War II.  The western part of Berlin was an enclave and knew a British, American and French sector. This picture will give you an impression of the complex situation of Berlin during that period.

Berlin after 1945
Berlin after 1945 Source: Pinterest

As you can see from this image West Berlin was fully enclosed by East Germany. For me travelling by train from the Netherlands this meant I had to cross West and East Germany before arriving and staying in West Berlin. In those days there was a hostile relationship between the two countries, comparable to the situation nowadays in Korea. This hostility was mainly due to the difficult living situation in East Germany. East Germany was governed by the rule of dictatorship and the economic situation was becoming more and more deplorable.The East German government already feared since a long time that citizens would massively flee to West Germany and East Germany became more and more a fortress and the Berlin Wall, built in the early 60s was obviously the most prominent edifice of this isolation from the West. Travelling through East Germany I immediately felt the impact of this. When the train left the Netherlands into West Germany all doors of the train were automatically sealed, the train only had one destination on the programme: West Berlin. Soldiers and police were on the train and did intensive inspection of the bags that the travellers had with them. I vividly remember the border between West and East Germany: it was build not to let anyone pass it alive without permission.

I must admit that my memories of the West Berlin visit are a bit less clear than my one day visit of East Berlin. In West Berlin I remember visiting Spandau and the Kurfßrstendamm, with its impressive KaDeWe shopping mall. Because of the Wall it was complex to travel from West to East and vice versa, there were however a few spots that would allow you to go from West to East. I think I passed East to West through a checkpoint at the Friedrichstrasse. There was an intensive inspection and you had to exchange money and everything that was left at the end of the day you had to return to the East German border control (of course I could not resist to take some East German money back into West Germany).

I can conclude my East Berlin visit shortly as: depressing yet fascinating. At the border just behind the Wall most houses were empty and guarded by soldiers. I remember visiting the Palast der Republik (Palace of the Republic) where the East German parliament was seated and the Fernsehturm a huge television tower in the city center. The Palast der Republik was dismantled in 2006, but the television tower is still present. Already in those days the tower had the rotating restaurant in the top of the building. The weather that day was dark and foggy so the promised beautiful view was absent. The food served in the restaurant was of terrible quality, which forced me to do a second meal later that night when I arrived back in West Berlin.

It was a strange situation, you could easily see that the East Berliners had a lower living standard than their Western counterparts that only lived a few blocks away on the other side of the Wall. Also the difficult situation of living under a communist dictatorship was a heavy burden for the East Berliners. I can recommend you the movie ‘Live of Others‘ that gives an adequate view on how life was in East Germany.

So at the end of the day I left with mixed feelings East Berlin and went back through the inspection point and walked back to the comfort and luxury of West Berlin. Not long after my visit there would be some dramatic changes in the situation in Berlin and East Germany. Due to upheaval in other communist states like Hungary, the East German people revolted against their government and as a result the Wall was broken down by the end of 1989. By the end of 1990 West and East Germany were reunited and Berlin became the capital for the reunited nations.

I am curious how Berlin is now in 2016 and am sure that Deny will share her experiences soon!

-Den Haag, 31 Juli 2016-

Note:
I am still in search for my pictures from West and East Berlin, but have not traced them yet. If you are curious what Berlin looked like in the late 1980s I can recommend the movie ‘Wings of Freedom‘.